NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Rafa berjalan pelan ke dekat

kelas Dara, dia intip dari kaca

jendela tapi ternyata istri kecilnya

itu tidak ada di sana.

Rafa mengangguk dengan

wajah datar saat ada beberapa

murid yang menyapanya. Malu juga

lama-lama berada di sana, akhirnya

dia memutuskan untuk kembali ke

ruang guru saja.

"Kemana dia? Jangan bilang...

dia ketemuan sama Braden atau

Aiden?" Rafa mendadak kesal gara-

gara dugaan dia sendiri.

"Barusan si Bebi itu ada apa

enggak ya?" Rafa akhirnya balik

badan, dia kembali berjalan menuju

kelas XII IPA 2.

"Bapak cari siapa?" tanya Doni.

"Cari Dara?" Kali ini saudara

kembarnya yang bertanya, Dani.

Kabar mengenai kalau Dara adalah

saudara sepupu Rafa pun sudah

menyebar di sekolah.

"Saya cari kalian," jawab Rafa

yang tentunya membuat murid

kembar identik itu bingung.

"Ada apaan ya, Pak?"

"Gak jadi." Rafa berlalu pergi

setelahnya. Dia tidak menemukan

Bebi juga di dalam kelas. Artinya

Dara pergi bersama sahabatnya itu.

"Eh lo liat si Dara, gak? Dia

piket hari ini. Spidol abis!" seru

Renita di dalam kelas yang masih

terdengar oleh Rafa yang belum

terlalu jauh dari sana.

"Gua tadi liatnya dia ke UKS."

"UKS?" batin Rafa.

Tanpa pikir panjang, Rafa

langsung bergegas pergi ke UKS

yang ada di lantai dua dan paling

ujung.

Dengan napas ngos-ngosan,

Rafa sampai dan berdiam diri

terlebih dahulu di depan pintu. Pas

sudah sampai begini, kok dia malah

bingung cari alasan apa pas Bu

Nindi tanya nanti.

Bebi menarik napas dalam-

dalam, mencoba menenangkan

dirinya. "Oke, kita mulai dari

mana?"

Dara berpikir sejenak. Dia

membuka gorden sekat pembatas

yang sejak tadi dia tutup untuk

melihat sekitar. Aman, Bu Nindi

ada tapi di ruangannya dan

kedengeran lagi muter musik

korea.

"Pertama, kita perlu

memastikan kalau HP lo siap untuk

merekam kapan aja. Gue punya

aplikasi yang bagus, gue bantuin lo

buat install dan nyetting-nya."

Bebi memberikan ponselnya

dan Dara mengunduh aplikasi

perekam suara. Dara menunjukkan

cara menyembunyikan aplikasi itu

agar tidak terlihat mencurigakan.

"Gampang kan? Sekarang

tinggal kita cari kesempatan buat

merekam."

Bebi mengangguk. "Iya, tapi

gue harus hati-hati banget. Mereka

tuh selalu waspada."

"Makanya, lo harus tetap

tenang. Jangan tunjukkin kalau lo

lagi ngerekam. Gue yakin kita bisa

ngumpulin bukti yang cukup buat

ngasih tahu papa lo," ujar Dara

dengan penuh keyakinan.

"Lo juga ha-"

"Eh, Pak Rafa. Ada apa ke sini,

Pak?" Suara Bu Nindi terdengar

jelas dan membuat Dara

menghentikan ucapannya.

"Pak Rafa?" batin Dara, sesaat

kemudian matanya melotot dan

Dara langsung mengambil ponsel

yang sejak tadi lupa dia senyap.

[Kamu sengaja godain saya 'kan

tadi?]

[Kenapa gak dibales?]

[Dara, kamu lagi ngapain?]

[Dara, saya cari di kelas, kamu

gak ada!]

[Jangan-jangan... kamu lagi

sama duo curut itu?!] emoji warna

merah bertanduk.

[Panggilan tidak terjawab]

[Panggilan tidak terjawab]

Dara menggigit bibir membaca

rentetan pesan yang dikirimkan

oleh suaminya. Bibirnya bergetar

menahan untuk tidak tertawa.

"Emm, saya mau minta obat

maag," ujar Rafa.

"Oh. Ada, Pak. Bentar ya, sok

duduk dulu."

Rafa mengangguk dia duduk di

kursi depan meja Bu Nindi sambil

mengedarkan pandangan ke area

ruang UKS untuk mencari

keberadaan istri kecilnya.

"Ini, Pak. Mau langsung

dikunyah atau pake air putih?"

tanya Bu Nindi sambil memberikan

satu tablet obat berbentuk bulat dan

warnanya hijau.

"Langsing saya kunyah aja."

"Sepi ya, Bu."

Bu Nindi membetulkan posisi

duduknya lalu menyelipkan anak

rambut ke telinga. "Iya, Pak. Sesepi

hati saya ini," ucapnya.

Rafa mengernyit mendengar

jawaban dari Bu Nindi. Belum lagi

tingkah Bu Nindi yang senyum-

senyum sendiri.

Ponselnya bergetar dan dia

langsung merogohnya di saku

celana.

[Anter Bebi lagi sakit. Mas Rafa

sakit maag?]

Rafa menghembuskan napas

lega seketika. Dia kira Dara yang

kenapa-napa.

"Pak Rafa kalau kau rebahan

dulu sambil nunggu bel masuk kelas

bunyi gak apa-apa, lho. Saya

siapin," ujar Bu Nindi.

"Kalau Bapak mau saya temenin

juga gak apa-apa." Bu Nindi tertawa

kecil setelahnya.

Rafa mengusap tengkuknya

yang terasa merinding. "Gak, Bu.

Makasi obatnya, saya permisi

dulu," ucapnya kemudian buru-

buru keluar dari sana.

Rafa memegang dadanya yang

berdebar kencang. Melihat tingkah

Bu Nindi kok dia jadi takut sendiri.

Sesaat kemudian dia

menggelengkan kepala, heran

dengan dirinya sendiri, Dara tidak

langsung membalas pesannya saja

dia sampai kalang kabut begini.

 

"Kau sudah gila, Rafa."

Dara mengerucutkan bibirnya

sebal. Balasan yang dia kirim sudah

centang biru tapi tidak dibalas lagi.

"Aneh," batinnya.

"Kelas yuk. Bentar lagi bel," ajak

Bebi.

Dara mengangguk, dia

membantu Bebi untuk turun.

Memberikan alat kompres pada Bu

Nindi dan keluar dari sana.

 

Teng! Teng! Teng!

Bel tanda pelajaran usai pun

berbunyi, semua murid langsung

langsung memasukkan buku dan peralatan menulis ke dalam tas

masing-masing saat Bu Rina di

depan sana pun melakukan hal

yang sama.

"Braden, anter aku ke salon

dulu, yuk. Aku mau cuci rambut

sama potong dikit," ujar Monica.

"Sorry, aku gak bisa. Aku ada

urusan lain," tolak Braden.

"Ke mana? Sama siapa?"

Braden menghembuskan napas

kasar seraya memutar bola

matanya malas. Monica kembali

bersikap posesif padanya.

"Nganter Mama jenguk

temennya ke rumah sakit," jawab

Braden.

"Kamu gak lagi bohongin aku,

kan?" tanya Monica dengan tatapan

menyelidik.

"Biasanya juga kalau mama

kamu minta anter, kamu lebih

mentingin aku," ujar Monica

setelahnya. Dia masih kesal kepada

ibunya Braden.

Kedua tangan Braden

mengepal. Dia berbalik dan raut

wajahnya menunjukkan kalau dia

sedang marah.

"Lo jangan ngelunjak, Mon. Lo

emang pacar gue, tapi bukan

berarti lo bisa ngatur-ngatur gue!"

bentaknya.

"Jelas gue lebih mentingin

nyokap gue dibanding lo! Lo siapa?

Cuman pacar!"

Monica terperanjat kaget.

Braden kalau sudah mengubah

panggilannya jadi 'lo-gue', artinya

cowok itu bener-bener lagi marah.

Monica memperhatikan

sekitar, murid-murid yang masih

ada di kelas melihat ke arahnya,

bahkan ada yang terdengar bisik-

bisik segala.

"Braden, a-aku... Braden!"

Monica menyusul Braden yang

sudah keluar kelas lebih dulu.

Aiden yang masih ada di sana

merenung, tadi Dara menolak

ajakannya karena katanya mau ke

rumah sakit. Braden juga menolak

ajakan Monica karena mau ke

rumah sakit.

"Apa Dara pergi sama Braden?"

batinnya.

Gegas dia memakai tas

gendongnya lalu buru-buru keluar

dari kelas. Tujuan Aiden tentu

langsung ke parkiran. Dia yakin

kalau Braden masih di sana.

"Braden! Tunggu!" Monica

terus berusaha mengejar Braden.

Tapi cowok itu terus saja ngeloyor

pergi tanpa menghiraukan

panggilannya.

"Apa?" tanya Braden saat sudah

sampai di dekat motor besarnya.

"Kamu marah sama aku?" tanya

Monica.

Braden mendelik. "Lo masih

nanya karena emang gak tau apa

pura-pura gak tau?"

"Braden, aku minta maaf. Aku

gak bermaksud buat-"

"Dara!" seru Braden tanpa

mendengarkan Monica yang masih

bicara.

Dara yang sedang berjalan

bersama Bebi pun menoleh. Dia

berdecak malas namun tetap

berhenti, ingin tahu Braden mau

apa padanya.

"Braden, kamu-aaaaargh!"

Monica menghentakkan kakinya

kesal. Braden malah pergi

menghampiri cewek yang dia benci

dari kecil itu.

"Lo mau ke rumah sakit lagi?

Gue anter," tawar Braden.

"Gak usah!" tolak Dara dengan

judes.

"Kenapa? Daripada naik ojol,

mending sama gue aja." Braden

seolah tebal kulit mukanya. Minta

maaf ke Dara enggak, yang ada dia

malah bersikap biasa-biasa aja

kayak sekarang.

Monica yang mendengarnya

pun menganga, tadi Braden

bilangnya mau anter mama nya

kan? Kok sekarang malah jadi

ngajak Dara. Cowok itu nawarin

diri buat nganter Dara.

"Dara, gue duluan ya. Papa

udah di depan," ucap Bebi dan Dara

pun mengangguk.

"Inget yang tadi gue omongin,"

kata Dara.

Bebi mengangguk. Dia pergi

duluan ke gerbang dan saat hendak

membuka pintu depan, ternyata

sudah ada Renita di sana.

"Sayang, kamu di belakang gak

apa-apa duduknya? Renita katanya

suka agak pusing kalau duduk di

belakang," ucap papa nya Bebi.

Bebi menghela napas dan

mengangguk. "Iya, gak apa-apa, Pa."

Renita tersenyum puas, mulai

dari hal kecil, dia bakal ngerebut

semua kasih sayang dan perhatian

papa sambungnya itu.

"Sama gue aja yuk!" Aiden

datang dan sudah naik ke motor

besarnya.

Makin kesal lah Monica

melihat Dara diperebutkan oleh dua

cowok yang bisa dibilang populer

di sekolah. Terlebih Braden sendiri

adalah kekasihnya. Braden

menolak ajakannya dan kini malah

menawarkan diri mengantar Dara

ke rumah sakit.

"Dia mau pergi sama gue," ucap

Braden.

"Bukannya dia udah bilang gak

usah? Mending lo anter cewek lo aja

sana!" sahut Aiden.

"Lo siapa ngatur-ngatur gue?!"

geram Braden. Tadi Monica,

sekarang Aiden.

Dara diam memperhatikan dua

cowok di depannya yang lagi

berebut buat nganterin dia. Dia

diem bukan karena suka jadi

rebutan, hanya saja, dia masih

nikmatin ekspresi kesal Monica.

"Lo milih sama gue, 'kan?"

tanya Braden.

"Gak, lo sama gue aja. Braden

udah punya cewek." Aiden tidak

mau kalah.

"Dara pergi sama saya!" celetuk

Rafa yang kini sudah berdiri di

dekat Dara. "Ayo masuk!" ajaknya

setelah membuka pintu mobil

untuk Dara.

"Gue duluan," ucap Dara lalu

masuk ke dalam mobil. Meninggal

dua cowok yang kini saling

melempar tatapan tajam.

"Ini semua gara-gara lo! Kalau

lo gak datang, dia pasti bakal mau

pergi sama gue!" sentak Braden.

"Gak usah pede dulu! Lo

harusnya mikir, lo udah punya

cewek. Lo lupa apa yang udah

cewek lo lakuin ke Dara?"

Braden diam. Dia ingin kembali

pada Dara tapi gak mau juga

lepasin Monica sebelum bener-

bener bisa dapetin Dara lagi.

 

"Seneng?" tanya Rafa dengan

nada menyindir.

"Seneng kenapa?" Dara

menatap bingung.

"Seneng direbutin sama dua

cowok kayak barusan?"

"Ck. Enggak."

Rafa berdecih dan itu membuat

Dara tersenyum simpul. Gadis

cantik itu menyerongkan posisi

duduknya, dia menatap wajah

tampan suaminya dengan lekat

sambil senyum-senyum.

"Kenapa?" tanya Rafa melirik

sebentar lalu fokus lagi ke depan.

"Mas Rafa cemburu?" goda

Dara.

Rafa tergelak. "Saya?

Cemburu?"

Dara mengangguk, kini

menopak dagu dengan sebelah

tangannya.

Rafa berdehem pelan. "Iya. Saya

cemburu, kamu mau apa?"

"Gak apa-apa, pengen tau aja,"

jawab Dara.

"Kamu ngapain tadi nunjukkin

dua jari digabung gitu pas di kelas?"

tanya Rafa.

Dara tertawa kecil. Entahlah,

dia juga gak tau tadi kenapa. Tiba-

tiba aja kepikiran buat godain

suaminya itu pas lagi ngajar. Gak

taunya Rafa langsung salah

tingkah.

"Awas aja kalau kamu centil

begitu sama cowok lain!" peringat

Rafa.

Mereka sampai di rumah sakit

dan langsung menuju kamar rawat

inap. Tidak lama, sore juga sudah

pulang lagi karena Ayah Aldi yang

minta. Katanya takut Dara

kecapean karena harus

mengerjakan tugas sekolah juga.

Melihat keadaan sang ayah

yang sudah jauh lebih baik, tentu itu

membuat perasaan Dara jadi

tenang. Dia hanya kasian kepada

ibunya yang harus menemani sang

ayah sendirian.

Malamnya, Rafa mondar

mandir di kamarnya sendiri. Ingin

mengajak Dara untuk tidur

bersama lagi tapi dia masih gengsi.

Kebetulan saja malam itu juga Dara

yang minta.

Ucapan Oma Atira juga terus

menggema di telinganya. Ucapan

yang lebih seperti peringatan kalau

dia harus bisa menahan diri karena

Dara masih sekolah.

"Memangnya tidur bersama

harus selalu menjurus ke hal itu?"

gumamnya bertanya-tanya.

"Lempar kecoa aja gitu ya ke

kamarnya?" Tiba-tiba ide itu

melintas di kepalanya.

Rafa juga heran, kenapa dia jadi

seperti ini. Sejak di sekolah tadi

tingkahnya sudah aneh, sekarang

keinginannya juga aneh. Sudah

seperti orang ngidam saja.

"Udah seharusnya pasangan

suami istri tidur bersama, 'kan?"

Rafa mengangguk, dia keluar

dari kamarnya dan langsung

berjalan menuju kamar Dara yang

ada di depannya.

Masa bodo dengan rasa

gengsinya. Kalau lapar juga gak

akan kenyang dengan kata gengsi,

apalagi rindu.

Tok! Tok! Tok!

Dara yang baru selesai

mengerjakan tugas sekolah pun

menoleh ke arah pintu, sudah jam 9

malam tapi ada yang mengetuk

pintu kamarnya.

Saat pintu kamar sudah dia

buka, alangkah terkejutnya dia

karena Rafa langsung nyelonong

masuk begitu saja.

"Mas Rafa mau ngapain?" tanya

Dara.

Rafa langsung merebahkan

tubuhnya di ranjang. Tidak sebesar

ranjang di kamar miliknya, tapi

ranjang milik Dara tentu muat

kalau hanya untuk dua orang saja.

"Saya mau tidur," jawab Rafa

dengan santainya.

"I-iya. Tapi... kenapa di sini?"

Dara buru-buru menutup pintunya.

Takut ada Bi Inem atau Suster Tiara

yang mendengar atau melihat Rafa

di kamarnya.

Oma Atira sudah mengatakan

kalau mereka harus pisah kamar

setidaknya sampai dia lulus

sekolah.

"Memangnya kenapa? Ada

larangan buat saya tidur di sini?"

"Ada, Oma yang bilang."

"Tapi saya suami kamu. Gak

baik pasangan suami istri tidur

terpisah."

Rafa menepuk sampingnya

yang masih kosong. "Sini. Udah

malem, tidur."

"Gak mau!"

"Ke sini sendiri atau saya

gendong?"

Wajah Dara berubah masam.

Dia sebenarnya tidak suka kalau

Rafa masih bicara dengan kata

'saya'. Kesannya mereka kayak

orang asing.

"Mas Rafa kok ngomongnya

masih pake kata 'saya' sih?" tanya

Dara.

Rafa yang semula terlentang

pun langsung memiringkan

tubuhnya, menyangga kepala

dengan tangan kanannya.

Memperhatikan Dara yang kini

duduk di kursi meja belajar.

"Kesannya tuh kita masih kayak

orang asing kalau Mas Rafa terus

bilang saya."

"Oke, maaf. Aku ganti kalau

kayak gitu," ucap Rafa.

"Sini. Tidur denganku," ajak

Rafa lagi.

"Enggak. Mas Rafa tidur di

kamar Mas Rafa aja sana."

Dara jadi parno. Rafa itu pria

dewasa, dia hanya takut kalau nanti

suaminya itu khilaf dan berakhir

ya... seperti itulah.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!