"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Rafa berjalan pelan ke dekat
kelas Dara, dia intip dari kaca
jendela tapi ternyata istri kecilnya
itu tidak ada di sana.
Rafa mengangguk dengan
wajah datar saat ada beberapa
murid yang menyapanya. Malu juga
lama-lama berada di sana, akhirnya
dia memutuskan untuk kembali ke
ruang guru saja.
"Kemana dia? Jangan bilang...
dia ketemuan sama Braden atau
Aiden?" Rafa mendadak kesal gara-
gara dugaan dia sendiri.
"Barusan si Bebi itu ada apa
enggak ya?" Rafa akhirnya balik
badan, dia kembali berjalan menuju
kelas XII IPA 2.
"Bapak cari siapa?" tanya Doni.
"Cari Dara?" Kali ini saudara
kembarnya yang bertanya, Dani.
Kabar mengenai kalau Dara adalah
saudara sepupu Rafa pun sudah
menyebar di sekolah.
"Saya cari kalian," jawab Rafa
yang tentunya membuat murid
kembar identik itu bingung.
"Ada apaan ya, Pak?"
"Gak jadi." Rafa berlalu pergi
setelahnya. Dia tidak menemukan
Bebi juga di dalam kelas. Artinya
Dara pergi bersama sahabatnya itu.
"Eh lo liat si Dara, gak? Dia
piket hari ini. Spidol abis!" seru
Renita di dalam kelas yang masih
terdengar oleh Rafa yang belum
terlalu jauh dari sana.
"Gua tadi liatnya dia ke UKS."
"UKS?" batin Rafa.
Tanpa pikir panjang, Rafa
langsung bergegas pergi ke UKS
yang ada di lantai dua dan paling
ujung.
Dengan napas ngos-ngosan,
Rafa sampai dan berdiam diri
terlebih dahulu di depan pintu. Pas
sudah sampai begini, kok dia malah
bingung cari alasan apa pas Bu
Nindi tanya nanti.
Bebi menarik napas dalam-
dalam, mencoba menenangkan
dirinya. "Oke, kita mulai dari
mana?"
Dara berpikir sejenak. Dia
membuka gorden sekat pembatas
yang sejak tadi dia tutup untuk
melihat sekitar. Aman, Bu Nindi
ada tapi di ruangannya dan
kedengeran lagi muter musik
korea.
"Pertama, kita perlu
memastikan kalau HP lo siap untuk
merekam kapan aja. Gue punya
aplikasi yang bagus, gue bantuin lo
buat install dan nyetting-nya."
Bebi memberikan ponselnya
dan Dara mengunduh aplikasi
perekam suara. Dara menunjukkan
cara menyembunyikan aplikasi itu
agar tidak terlihat mencurigakan.
"Gampang kan? Sekarang
tinggal kita cari kesempatan buat
merekam."
Bebi mengangguk. "Iya, tapi
gue harus hati-hati banget. Mereka
tuh selalu waspada."
"Makanya, lo harus tetap
tenang. Jangan tunjukkin kalau lo
lagi ngerekam. Gue yakin kita bisa
ngumpulin bukti yang cukup buat
ngasih tahu papa lo," ujar Dara
dengan penuh keyakinan.
"Lo juga ha-"
"Eh, Pak Rafa. Ada apa ke sini,
Pak?" Suara Bu Nindi terdengar
jelas dan membuat Dara
menghentikan ucapannya.
"Pak Rafa?" batin Dara, sesaat
kemudian matanya melotot dan
Dara langsung mengambil ponsel
yang sejak tadi lupa dia senyap.
[Kamu sengaja godain saya 'kan
tadi?]
[Kenapa gak dibales?]
[Dara, kamu lagi ngapain?]
[Dara, saya cari di kelas, kamu
gak ada!]
[Jangan-jangan... kamu lagi
sama duo curut itu?!] emoji warna
merah bertanduk.
[Panggilan tidak terjawab]
[Panggilan tidak terjawab]
Dara menggigit bibir membaca
rentetan pesan yang dikirimkan
oleh suaminya. Bibirnya bergetar
menahan untuk tidak tertawa.
"Emm, saya mau minta obat
maag," ujar Rafa.
"Oh. Ada, Pak. Bentar ya, sok
duduk dulu."
Rafa mengangguk dia duduk di
kursi depan meja Bu Nindi sambil
mengedarkan pandangan ke area
ruang UKS untuk mencari
keberadaan istri kecilnya.
"Ini, Pak. Mau langsung
dikunyah atau pake air putih?"
tanya Bu Nindi sambil memberikan
satu tablet obat berbentuk bulat dan
warnanya hijau.
"Langsing saya kunyah aja."
"Sepi ya, Bu."
Bu Nindi membetulkan posisi
duduknya lalu menyelipkan anak
rambut ke telinga. "Iya, Pak. Sesepi
hati saya ini," ucapnya.
Rafa mengernyit mendengar
jawaban dari Bu Nindi. Belum lagi
tingkah Bu Nindi yang senyum-
senyum sendiri.
Ponselnya bergetar dan dia
langsung merogohnya di saku
celana.
[Anter Bebi lagi sakit. Mas Rafa
sakit maag?]
Rafa menghembuskan napas
lega seketika. Dia kira Dara yang
kenapa-napa.
"Pak Rafa kalau kau rebahan
dulu sambil nunggu bel masuk kelas
bunyi gak apa-apa, lho. Saya
siapin," ujar Bu Nindi.
"Kalau Bapak mau saya temenin
juga gak apa-apa." Bu Nindi tertawa
kecil setelahnya.
Rafa mengusap tengkuknya
yang terasa merinding. "Gak, Bu.
Makasi obatnya, saya permisi
dulu," ucapnya kemudian buru-
buru keluar dari sana.
Rafa memegang dadanya yang
berdebar kencang. Melihat tingkah
Bu Nindi kok dia jadi takut sendiri.
Sesaat kemudian dia
menggelengkan kepala, heran
dengan dirinya sendiri, Dara tidak
langsung membalas pesannya saja
dia sampai kalang kabut begini.
"Kau sudah gila, Rafa."
Dara mengerucutkan bibirnya
sebal. Balasan yang dia kirim sudah
centang biru tapi tidak dibalas lagi.
"Aneh," batinnya.
"Kelas yuk. Bentar lagi bel," ajak
Bebi.
Dara mengangguk, dia
membantu Bebi untuk turun.
Memberikan alat kompres pada Bu
Nindi dan keluar dari sana.
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda pelajaran usai pun
berbunyi, semua murid langsung
langsung memasukkan buku dan peralatan menulis ke dalam tas
masing-masing saat Bu Rina di
depan sana pun melakukan hal
yang sama.
"Braden, anter aku ke salon
dulu, yuk. Aku mau cuci rambut
sama potong dikit," ujar Monica.
"Sorry, aku gak bisa. Aku ada
urusan lain," tolak Braden.
"Ke mana? Sama siapa?"
Braden menghembuskan napas
kasar seraya memutar bola
matanya malas. Monica kembali
bersikap posesif padanya.
"Nganter Mama jenguk
temennya ke rumah sakit," jawab
Braden.
"Kamu gak lagi bohongin aku,
kan?" tanya Monica dengan tatapan
menyelidik.
"Biasanya juga kalau mama
kamu minta anter, kamu lebih
mentingin aku," ujar Monica
setelahnya. Dia masih kesal kepada
ibunya Braden.
Kedua tangan Braden
mengepal. Dia berbalik dan raut
wajahnya menunjukkan kalau dia
sedang marah.
"Lo jangan ngelunjak, Mon. Lo
emang pacar gue, tapi bukan
berarti lo bisa ngatur-ngatur gue!"
bentaknya.
"Jelas gue lebih mentingin
nyokap gue dibanding lo! Lo siapa?
Cuman pacar!"
Monica terperanjat kaget.
Braden kalau sudah mengubah
panggilannya jadi 'lo-gue', artinya
cowok itu bener-bener lagi marah.
Monica memperhatikan
sekitar, murid-murid yang masih
ada di kelas melihat ke arahnya,
bahkan ada yang terdengar bisik-
bisik segala.
"Braden, a-aku... Braden!"
Monica menyusul Braden yang
sudah keluar kelas lebih dulu.
Aiden yang masih ada di sana
merenung, tadi Dara menolak
ajakannya karena katanya mau ke
rumah sakit. Braden juga menolak
ajakan Monica karena mau ke
rumah sakit.
"Apa Dara pergi sama Braden?"
batinnya.
Gegas dia memakai tas
gendongnya lalu buru-buru keluar
dari kelas. Tujuan Aiden tentu
langsung ke parkiran. Dia yakin
kalau Braden masih di sana.
"Braden! Tunggu!" Monica
terus berusaha mengejar Braden.
Tapi cowok itu terus saja ngeloyor
pergi tanpa menghiraukan
panggilannya.
"Apa?" tanya Braden saat sudah
sampai di dekat motor besarnya.
"Kamu marah sama aku?" tanya
Monica.
Braden mendelik. "Lo masih
nanya karena emang gak tau apa
pura-pura gak tau?"
"Braden, aku minta maaf. Aku
gak bermaksud buat-"
"Dara!" seru Braden tanpa
mendengarkan Monica yang masih
bicara.
Dara yang sedang berjalan
bersama Bebi pun menoleh. Dia
berdecak malas namun tetap
berhenti, ingin tahu Braden mau
apa padanya.
"Braden, kamu-aaaaargh!"
Monica menghentakkan kakinya
kesal. Braden malah pergi
menghampiri cewek yang dia benci
dari kecil itu.
"Lo mau ke rumah sakit lagi?
Gue anter," tawar Braden.
"Gak usah!" tolak Dara dengan
judes.
"Kenapa? Daripada naik ojol,
mending sama gue aja." Braden
seolah tebal kulit mukanya. Minta
maaf ke Dara enggak, yang ada dia
malah bersikap biasa-biasa aja
kayak sekarang.
Monica yang mendengarnya
pun menganga, tadi Braden
bilangnya mau anter mama nya
kan? Kok sekarang malah jadi
ngajak Dara. Cowok itu nawarin
diri buat nganter Dara.
"Dara, gue duluan ya. Papa
udah di depan," ucap Bebi dan Dara
pun mengangguk.
"Inget yang tadi gue omongin,"
kata Dara.
Bebi mengangguk. Dia pergi
duluan ke gerbang dan saat hendak
membuka pintu depan, ternyata
sudah ada Renita di sana.
"Sayang, kamu di belakang gak
apa-apa duduknya? Renita katanya
suka agak pusing kalau duduk di
belakang," ucap papa nya Bebi.
Bebi menghela napas dan
mengangguk. "Iya, gak apa-apa, Pa."
Renita tersenyum puas, mulai
dari hal kecil, dia bakal ngerebut
semua kasih sayang dan perhatian
papa sambungnya itu.
"Sama gue aja yuk!" Aiden
datang dan sudah naik ke motor
besarnya.
Makin kesal lah Monica
melihat Dara diperebutkan oleh dua
cowok yang bisa dibilang populer
di sekolah. Terlebih Braden sendiri
adalah kekasihnya. Braden
menolak ajakannya dan kini malah
menawarkan diri mengantar Dara
ke rumah sakit.
"Dia mau pergi sama gue," ucap
Braden.
"Bukannya dia udah bilang gak
usah? Mending lo anter cewek lo aja
sana!" sahut Aiden.
"Lo siapa ngatur-ngatur gue?!"
geram Braden. Tadi Monica,
sekarang Aiden.
Dara diam memperhatikan dua
cowok di depannya yang lagi
berebut buat nganterin dia. Dia
diem bukan karena suka jadi
rebutan, hanya saja, dia masih
nikmatin ekspresi kesal Monica.
"Lo milih sama gue, 'kan?"
tanya Braden.
"Gak, lo sama gue aja. Braden
udah punya cewek." Aiden tidak
mau kalah.
"Dara pergi sama saya!" celetuk
Rafa yang kini sudah berdiri di
dekat Dara. "Ayo masuk!" ajaknya
setelah membuka pintu mobil
untuk Dara.
"Gue duluan," ucap Dara lalu
masuk ke dalam mobil. Meninggal
dua cowok yang kini saling
melempar tatapan tajam.
"Ini semua gara-gara lo! Kalau
lo gak datang, dia pasti bakal mau
pergi sama gue!" sentak Braden.
"Gak usah pede dulu! Lo
harusnya mikir, lo udah punya
cewek. Lo lupa apa yang udah
cewek lo lakuin ke Dara?"
Braden diam. Dia ingin kembali
pada Dara tapi gak mau juga
lepasin Monica sebelum bener-
bener bisa dapetin Dara lagi.
"Seneng?" tanya Rafa dengan
nada menyindir.
"Seneng kenapa?" Dara
menatap bingung.
"Seneng direbutin sama dua
cowok kayak barusan?"
"Ck. Enggak."
Rafa berdecih dan itu membuat
Dara tersenyum simpul. Gadis
cantik itu menyerongkan posisi
duduknya, dia menatap wajah
tampan suaminya dengan lekat
sambil senyum-senyum.
"Kenapa?" tanya Rafa melirik
sebentar lalu fokus lagi ke depan.
"Mas Rafa cemburu?" goda
Dara.
Rafa tergelak. "Saya?
Cemburu?"
Dara mengangguk, kini
menopak dagu dengan sebelah
tangannya.
Rafa berdehem pelan. "Iya. Saya
cemburu, kamu mau apa?"
"Gak apa-apa, pengen tau aja,"
jawab Dara.
"Kamu ngapain tadi nunjukkin
dua jari digabung gitu pas di kelas?"
tanya Rafa.
Dara tertawa kecil. Entahlah,
dia juga gak tau tadi kenapa. Tiba-
tiba aja kepikiran buat godain
suaminya itu pas lagi ngajar. Gak
taunya Rafa langsung salah
tingkah.
"Awas aja kalau kamu centil
begitu sama cowok lain!" peringat
Rafa.
Mereka sampai di rumah sakit
dan langsung menuju kamar rawat
inap. Tidak lama, sore juga sudah
pulang lagi karena Ayah Aldi yang
minta. Katanya takut Dara
kecapean karena harus
mengerjakan tugas sekolah juga.
Melihat keadaan sang ayah
yang sudah jauh lebih baik, tentu itu
membuat perasaan Dara jadi
tenang. Dia hanya kasian kepada
ibunya yang harus menemani sang
ayah sendirian.
Malamnya, Rafa mondar
mandir di kamarnya sendiri. Ingin
mengajak Dara untuk tidur
bersama lagi tapi dia masih gengsi.
Kebetulan saja malam itu juga Dara
yang minta.
Ucapan Oma Atira juga terus
menggema di telinganya. Ucapan
yang lebih seperti peringatan kalau
dia harus bisa menahan diri karena
Dara masih sekolah.
"Memangnya tidur bersama
harus selalu menjurus ke hal itu?"
gumamnya bertanya-tanya.
"Lempar kecoa aja gitu ya ke
kamarnya?" Tiba-tiba ide itu
melintas di kepalanya.
Rafa juga heran, kenapa dia jadi
seperti ini. Sejak di sekolah tadi
tingkahnya sudah aneh, sekarang
keinginannya juga aneh. Sudah
seperti orang ngidam saja.
"Udah seharusnya pasangan
suami istri tidur bersama, 'kan?"
Rafa mengangguk, dia keluar
dari kamarnya dan langsung
berjalan menuju kamar Dara yang
ada di depannya.
Masa bodo dengan rasa
gengsinya. Kalau lapar juga gak
akan kenyang dengan kata gengsi,
apalagi rindu.
Tok! Tok! Tok!
Dara yang baru selesai
mengerjakan tugas sekolah pun
menoleh ke arah pintu, sudah jam 9
malam tapi ada yang mengetuk
pintu kamarnya.
Saat pintu kamar sudah dia
buka, alangkah terkejutnya dia
karena Rafa langsung nyelonong
masuk begitu saja.
"Mas Rafa mau ngapain?" tanya
Dara.
Rafa langsung merebahkan
tubuhnya di ranjang. Tidak sebesar
ranjang di kamar miliknya, tapi
ranjang milik Dara tentu muat
kalau hanya untuk dua orang saja.
"Saya mau tidur," jawab Rafa
dengan santainya.
"I-iya. Tapi... kenapa di sini?"
Dara buru-buru menutup pintunya.
Takut ada Bi Inem atau Suster Tiara
yang mendengar atau melihat Rafa
di kamarnya.
Oma Atira sudah mengatakan
kalau mereka harus pisah kamar
setidaknya sampai dia lulus
sekolah.
"Memangnya kenapa? Ada
larangan buat saya tidur di sini?"
"Ada, Oma yang bilang."
"Tapi saya suami kamu. Gak
baik pasangan suami istri tidur
terpisah."
Rafa menepuk sampingnya
yang masih kosong. "Sini. Udah
malem, tidur."
"Gak mau!"
"Ke sini sendiri atau saya
gendong?"
Wajah Dara berubah masam.
Dia sebenarnya tidak suka kalau
Rafa masih bicara dengan kata
'saya'. Kesannya mereka kayak
orang asing.
"Mas Rafa kok ngomongnya
masih pake kata 'saya' sih?" tanya
Dara.
Rafa yang semula terlentang
pun langsung memiringkan
tubuhnya, menyangga kepala
dengan tangan kanannya.
Memperhatikan Dara yang kini
duduk di kursi meja belajar.
"Kesannya tuh kita masih kayak
orang asing kalau Mas Rafa terus
bilang saya."
"Oke, maaf. Aku ganti kalau
kayak gitu," ucap Rafa.
"Sini. Tidur denganku," ajak
Rafa lagi.
"Enggak. Mas Rafa tidur di
kamar Mas Rafa aja sana."
Dara jadi parno. Rafa itu pria
dewasa, dia hanya takut kalau nanti
suaminya itu khilaf dan berakhir
ya... seperti itulah.