NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

BAB 3: Gema di Lorong Sepi

Malam itu, kepulangan Hana ke kediaman Asuka di Ginza disambut oleh kesunyian yang lebih mencekam daripada badai. Gerbang besi otomatis terbuka dengan suara dengung pelan yang terdengar seperti vonis mati di telinga Hana. Saat ia melangkah melewati pintu utama, ia melihat bayangan ayahnya, Daichi Asuka, terpantul di lantai marmer yang terlalu bersih. Pria itu berdiri di ruang kerja yang pintunya terbuka lebar, memegang sebuah map kulit hitam dengan jemari yang memutih.

"Kau pikir aku tidak tahu?" Suara Daichi rendah, namun setiap suku katanya membawa getaran kemarahan yang tertahan.

Hana berhenti di tengah lobi. Ia tidak melepaskan mantelnya, seolah-olah kain itu adalah satu-satunya perisai yang ia miliki terhadap ayahnya. "Tahu tentang apa, Ayah?"

"Sopirmu. Aku baru saja memecatnya," Daichi melangkah keluar dari ruang kerja, matanya menatap Hana dengan kilat kebencian yang membuat Hana merasa kerdil. "Dia cukup bodoh untuk tidak segera melaporkan bahwa kau kembali ke distrik Ota. Kau pergi ke bengkel kotor itu lagi, bukan? Untuk menemui mekanik jalanan itu?"

Hana mengepalkan tangannya di balik saku mantel. "Dia menyelamatkanku, Ayah. Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasih yang tidak pernah diajarkan di rumah ini."

PLAK!

Tamparan itu tidak keras, namun cukup untuk memalingkan wajah Hana dan meninggalkan rasa panas yang menjalar di pipinya. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa lebih menyakitkan daripada pukulan itu sendiri.

"Jangan pernah bicara tentang apa yang diajarkan di rumah ini," desis Daichi, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Hana. "Rumah ini memberimu martabat. Rumah ini memberimu kekuasaan yang diinginkan jutaan wanita di Jepang. Dan kau mempertaruhkannya demi seorang berandal yang berlumuran oli? Kaito Shimada telah meneleponku tiga kali malam ini. Dia curiga kau menyembunyikan sesuatu. Jika sampai dia tahu tunangannya mengunjungi distrik kumuh demi pria lain, Asuka Group tidak akan bertahan hingga matahari terbit besok."

Hana menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang jatuh. Rasa sakit di pipinya perlahan memudar, digantikan oleh kekosongan yang dingin. "Apakah aku hanya angka di buku besar perusahaanmu, Ayah? Apakah tidak ada bagian dari diriku yang milikku sendiri?"

"Tidak sampai kau memenuhi kewajibanmu," Daichi berbalik, suaranya kembali datar dan profesional, yang justru terasa lebih kejam. "Mulai besok, kau akan dikawal oleh tim keamanan baru yang dipilih langsung oleh keluarga Shimada. Jangan mencoba melarikan diri lagi. Kamarmu akan dikunci dari luar malam ini. Renungkan posisi Anda, Nona Direktur."

Hana berdiri mematung saat ayahnya berlalu. Ia mendengar suara kunci yang berputar di pintu kamarnya beberapa menit kemudian. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Di sana, di lehernya, ia masih merasakan sisa wangi pinus dari sapu tangan Ren yang ia gunakan semalam. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap batangnya terbuat dari emas murni namun tetap saja... itu adalah penjara.

Keesokan harinya, jam istirahat makan siang terasa seperti pelarian yang mendesak. Berkat bantuan salah satu sekretaris lamanya yang merasa iba, Hana berhasil menyelinap keluar melalui pintu darurat gedung kantornya di Marunouchi, meninggalkan pengawal Shimada yang sedang sibuk di lobi utama. Ia tidak peduli dengan konsekuensinya nanti. Ia hanya butuh satu jam. Satu jam di mana ia bukan seorang Asuka.

Ia naik taksi biasa, hatinya berdebar kencang setiap kali melihat mobil hitam besar di belakangnya, khawatir itu adalah anak buah Kaito. Saat taksi itu berhenti di depan Kuroda Motor, Hana merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.

Bengkel itu tampak tenang seperti biasa. Suara musik klasik—Moonlight Sonata milik Beethoven—terdengar samar dari dalam, sebuah pilihan musik yang sangat aneh untuk sebuah bengkel motor. Hana masuk dan menemukan Ren sedang berdiri di depan meja kerja, punggungnya menghadap pintu. Kali ini ia mengenakan kaus hitam ketat yang menonjolkan setiap lekuk otot di punggung dan lengannya yang terlatih. Rambut wolf cut-nya tampak sedikit basah, mungkin ia baru saja membasuh wajahnya.

Ren tidak berbalik, namun suaranya yang lembut dan sedingin es kembali menyapa. "Anda kembali lebih cepat dari yang saya perkirakan, Nona Asuka. Dan kali ini, Anda membawa aroma kemarahan yang cukup pekat."

Hana terhenti di langkah ketiga. "Bagaimana kau selalu tahu itu aku?"

Ren berbalik perlahan, meletakkan obeng kecil yang sedang ia gunakan. Matanya menyapu wajah Hana, dan untuk sesaat, tatapannya terpaku pada bekas kemerahan yang samar di pipi kiri Hana—bekas tamparan ayahnya yang coba ia tutupi dengan bedak tebal.

Rahang Ren mengeras sesaat, sebuah gerakan yang sangat halus namun tidak luput dari perhatian Hana. "Aroma parfum Anda terlalu mahal untuk tempat ini. Dan hanya sedikit orang yang berani masuk ke sini tanpa mengetuk pintu."

Ren melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang biasanya ia jaga. Ia berhenti tepat di depan Hana, menunduk sedikit untuk menatap mata wanita itu. "Siapa yang melakukannya?"

Suara Ren sangat tenang. Terlalu tenang. Namun, Hana bisa merasakan aura yang sangat kuat memancar dari pria ini—sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada preman di gang malam itu. Ini adalah otoritas seorang pria yang terbiasa memberi perintah pada dunia.

"Bukan apa-apa," Hana memalingkan wajahnya. "Hanya perselisihan kecil di rumah."

"Perselisihan kecil tidak meninggalkan memar di kulit sehalus milik Anda," tutur kata Ren tetap sopan, namun ada nada tuntutan di sana. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Hana, namun ia berhenti di udara dan mengepalkan jemarinya kembali. "Duduklah. Saya akan mengambilkan es."

Hana duduk di kursi kayu favoritnya. Ia memperhatikan Ren berjalan ke arah kulkas kecil di pojok ruangan. Di dalam kegelapan kantor belakang, ia bisa mendengar bisikan-bisikan halus.

"Julian, lihat itu! Kak Ren marah besar," bisik Elara dari balik celah pintu kantor. "Aku belum pernah melihat aura 'Aurelius' keluar sekuat itu hanya karena satu memar kecil."

"Ssst! Elara, suaramu bisa terdengar," Julian menjawab sambil sibuk dengan tabletnya. "Aku sedang melacak siapa yang mengikuti Nona Asuka. Ada dua mobil hitam yang berhenti tiga blok dari sini. Sepertinya pengawal Shimada menyadari dia hilang."

Ren kembali dengan kain bersih berisi es batu. Ia memberikannya kepada Hana dengan gerakan yang sangat lembut. "Tempelkan ini. Jangan biarkan memarnya membiru."

"Terima kasih, Ren-san," Hana menekan es itu ke pipinya, merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. "Maaf aku selalu merepotkanmu. Aku hanya... aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Di kantor, di rumah, semua orang menatapku seperti aku adalah tumpukan uang kertas. Hanya di sini aku merasa seperti manusia."

Ren bersandar pada mesin motor kustomnya, melipat lengannya di dada. Matanya tidak lepas dari Hana. "Dunia luar memang kejam bagi mereka yang memiliki segalanya namun tidak memiliki kebebasan. Tapi Nona, tempat ini bukan tempat perlindungan yang abadi. Semakin sering Anda ke sini, semakin besar risiko yang Anda bawa untuk diri Anda sendiri... dan untuk saya."

Hana menunduk. "Aku tahu. Kaito Shimada sedang mencarimu. Maksudku, dia mencari 'Aurelius Renzo'. Dia tidak tahu bahwa pria yang dia cari mungkin adalah mekanik yang berdiri di depanku ini."

Ren tetap diam, wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Kedinginan di matanya justru semakin dalam. "Siapa yang Anda bicarakan? Saya tidak kenal nama itu."

"Tentu saja kau tidak kenal," Hana tertawa kecil, sebuah tawa yang getir. "Aurelius Renzo adalah monster bisnis. Dia dingin, tidak berperasaan, dan kabarnya dia memimpin dunia dari balik bayangan. Kaito sangat terobsesi dengannya. Dia ingin menjatuhkannya." Hana menatap Ren dengan tulus. "Aku bersyukur kau hanya Ren. Seorang mekanik yang sopan dan dingin. Jika kau adalah Aurelius, aku mungkin tidak akan berani duduk di sini."

Ren merasakan sebuah tikaman aneh di dadanya mendengar kata-kata Hana. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya, namun ia tahu itu akan menghancurkan satu-satunya tempat di mana Hana merasa aman. Baginya, menjadi "Ren Kuroda" adalah satu-satunya cara ia bisa berhubungan dengan Hana sebagai manusia, bukan sebagai transaksi bisnis.

Tiba-tiba, suara deru mobil yang berhenti dengan kasar terdengar dari depan bengkel. Tiga mobil hitam mengkilap menutup jalan kecil di depan pintu besi. Sembilan pria berjas hitam keluar, dipimpin oleh seorang pria yang sangat dikenal Hana: kepala keamanan keluarga Shimada.

Hana tersentak berdiri, es batu di tangannya terjatuh ke lantai. "Mereka menemukanku..."

Ren tidak bergerak. Ia tetap bersandar pada motornya, namun matanya menatap ke arah pintu dengan ketenangan yang mematikan. "Julian, Elara, tetap di dalam. Jangan keluar apa pun yang terjadi," perintahnya melalui mikrofon kecil yang tersembunyi di kerah kaosnya.

Para pengawal itu masuk ke dalam bengkel dengan angkuh. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan luka parut di alisnya, menatap sekeliling dengan jijik. "Nona Asuka, Tuan Kaito sangat khawatir. Anda harus ikut kami sekarang."

Hana melangkah maju, mencoba menutupi kegemetarannya. "Aku akan ikut, tapi jangan buat keributan di sini. Ini bukan urusan pria ini."

Si pemimpin pengawal mengalihkan tatapannya pada Ren. Ia melihat kaos hitam Ren yang bernoda oli dan wajahnya yang tampan. "Jadi ini tikus bengkel yang membuat Nona Direktur betah? Tuan Kaito memberikan instruksi khusus jika kami menemukan pria ini."

Dua pengawal melangkah mendekati Ren dengan tangan di balik jas mereka, kemungkinan memegang senjata. Ren berdiri tegak, tangannya tergantung santai di samping tubuhnya, namun setiap ototnya sudah siap untuk meledak.

"Tuan-tuan yang terhormat," suara Ren terdengar sangat rendah dan sangat sopan, seperti seorang pelayan istana yang sedang menyapa tamu, namun setiap katanya membawa ancaman yang nyata. "Saya sarankan Anda menarik kembali langkah Anda. Bengkel ini adalah milik pribadi. Dan saya tidak menerima tamu yang tidak memiliki tata krama."

Si pemimpin pengawal tertawa. "Sopan sekali. Mari kita lihat seberapa sopan kau saat tulang rusukmu patah."

Tepat saat pengawal itu mengayunkan tangannya untuk mencengkeram kerah Ren, Ren bergerak. Gerakannya begitu cepat sehingga mata manusia biasa nyaris tidak bisa menangkapnya. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya dengan sudut yang mustahil, dan dalam satu gerakan mengalir, ia menggunakan berat tubuh pria itu untuk membantingnya ke meja kerja logam.

BRAAAKKK!

Peralatan mekanik berjatuhan ke lantai. Si pengawal mengerang hebat. Delapan pengawal lainnya tertegun. Mereka adalah petarung profesional, namun pria di depan mereka bergerak dengan teknik yang hanya diajarkan di unit elit militer atau keluarga bangsawan yang sangat tua.

"Satu langkah lagi," ucap Ren, suaranya tetap lembut, namun kini ada otoritas yang begitu besar sehingga ruangan itu seolah-olah menjadi lebih dingin sepuluh derajat. "Dan saya pastikan tidak ada satu pun dari Anda yang bisa berjalan keluar dari distrik Ota hari ini."

"Ren, berhenti!" Hana berteriak, air mata mulai mengalir di wajahnya. "Aku akan pergi! Tolong, jangan sakiti dia!"

Ren menatap Hana. Kedinginan di matanya sedikit luluh saat melihat ketakutan wanita itu. Ia melepaskan cengkeramannya pada si pemimpin pengawal yang kini terengah-engah memegangi lengannya yang mungkin patah.

"Bawa dia pergi," ucap Ren kepada pengawal lainnya. "Dan sampaikan pesan ini pada tuan kalian: Jika dia tidak bisa menjaga wanitanya dengan kelembutan, maka dia tidak pantas memiliki apa pun."

Para pengawal itu, yang kini tampak ketakutan, segera memapah pemimpin mereka dan mengawal Hana keluar. Hana sempat menoleh sekali lagi ke arah Ren. Pria itu berdiri di tengah bengkelnya yang berantakan, bayangannya memanjang di lantai debu. Ia terlihat begitu kesepian, namun begitu berkuasa di saat yang bersamaan.

Setelah mobil-mobil itu pergi, Elara dan Julian keluar dari kantor belakang. Wajah mereka pucat.

"Kak, itu tadi sangat berbahaya," ucap Julian sambil gemetar. "Kaito Shimada tidak akan tinggal diam. Dia akan menyelidiki siapa kau. Aku sudah mencoba menghapus rekaman CCTV di sekitar sini, tapi mereka pasti sudah melihat wajahmu."

Ren tidak menjawab. Ia berjalan ke arah es batu yang terjatuh di lantai, mengambilnya, dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia menatap tangannya yang sedikit bergetar—bukan karena takut, tapi karena amarah yang nyaris tidak bisa ia kendalikan.

"Julian," suara Ren terdengar sangat dingin, lebih dingin daripada biasanya.

"Ya, Kak?"

"Aktifkan protokol 'Ice-Wall'. Hubungi bank sentral di Swiss. Aku ingin melihat semua aset keluarga Shimada yang terhubung dengan Hohenzollern Group. Jika mereka berani menyentuh Hana lagi... aku akan membuat keluarga itu bangkrut sebelum fajar menyingsing."

Elara menelan ludah. "Kak, kau akan mengungkap identitasmu hanya untuk wanita itu?"

Ren menatap ke arah pintu keluar, seolah-olah ia bisa melihat Hana yang sedang menangis di dalam mobil mewah tersebut. "Dia memberikan cokelat dan rasa terima kasih yang tulus. Di dunia kita, Elara, itu adalah mata uang yang paling mahal. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merampasnya dari dia."

Ren kembali duduk di kursi kayunya, mengambil bukunya, namun ia tidak membacanya. Ia hanya menatap inisial A.R. di sapu tangannya yang tertinggal di atas meja. Rahasia Tuan Kuroda mungkin sudah mulai terkuak, namun monster yang sebenarnya—Aurelius Renzo—baru saja terbangun dari tidurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!