1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMATA YANG TERLUPAKAN
Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah gorden beludru biru di kamar luas kediaman Veyris. Kaelan terbangun dengan napas yang jauh lebih teratur. Tubuh kecilnya yang berusia tiga tahun itu terasa hangat, sisa-sisa Sirkulasi Aether semalam masih berdenyut di sumsum tulangnya. Ia merasa seolah-olah beban berat yang selama ini menghimpit fisiknya telah sedikit terangkat.
Wadah ini... mulai mengeras, batin Kaelan. Ia mengepalkan tangan mungilnya, merasakan sensasi mana yang mengalir tipis namun stabil di bawah kulitnya yang halus.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki yang sangat ringan mendekat ke arah tempat tidur. "Tuan Muda Kaelan? Oh, Anda sudah bangun sendiri? Anda benar-benar anak yang rajin," suara lembut itu menyapa.
Itu Mira. Pengasuh setianya yang selalu tersenyum ramah. Mira membungkuk, wajahnya yang cantik namun sederhana itu mendekat saat ia hendak menggendong Kaelan untuk ritual mandi pagi.
Sekarang, mari kita tes kemampuan analisaku, pikir Kaelan.
Kaelan memfokuskan pandangannya. Ia membiarkan sedikit mana dari ulu hatinya naik menuju saraf optiknya, memicu kemampuan observasi dari Bakat EX miliknya. Di mata dunia, Mira hanyalah pelayan kelas bawah yang baik hati. Namun, saat Kaelan memicingkan mata, dunia di sekitar Mira mendadak berubah secara visual.
Kaelan nyaris tersedak ludahnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang.
Di sekeliling tubuh Mira, aliran mana tidaklah tipis atau redup seperti rakyat jelata pada umumnya. Sebaliknya, ada aura keperakan yang sangat murni, melilit lembut di sekujur tubuhnya seperti benang sutra yang tak kasat mata. Mana itu begitu padat, namun sangat kacau dan tidak terarah—seperti sebuah bendungan raksasa yang airnya meluap namun tidak memiliki pintu keluar.
Analisis Status... gumam Kaelan dalam batinnya.
Nama: Mira
Bakat: Grade S (Legendary)
Atribut: Sihir (Cahaya & Ruang)
Status: Inti Mana Tertidur / Tidak Aktif.
Catatan: Subjek tidak menyadari potensinya. Mana mengalir secara insting tanpa kendali.
Kaelan terpaku. Grade S?!
Ia menatap Mira dengan pandangan yang sulit diartikan. Di tabel yang ia baca semalam, Grade S adalah tingkat legendaris. Orang-orang dengan bakat ini biasanya menjadi Pahlawan Perang atau pemimpin Menara Sihir. Namun, di sini, Mira justru sedang sibuk memeras handuk hangat dengan tangan yang sebenarnya sanggup menghancurkan sebuah kastil jika ia tahu cara menggunakan sihirnya.
"Mira... cantik," gumam Kaelan spontan.
Mira merona tipis, tertawa kecil sambil mengusap pipi Kaelan. "Aduh, Tuan Muda pagi-pagi sudah bisa memuji. Ayo, kita mandi dulu sebelum Count dan Countess menunggu di ruang makan."
Mira benar-benar tidak tahu. Dia bergerak dengan kecerobohan orang biasa, padahal setiap langkahnya memancarkan fluktuasi mana yang sangat murni. Kaelan menyadari satu hal: Mira adalah senjata nuklir yang menganggap dirinya hanyalah korek api kayu.
Setelah mandi, Kaelan dibawa menuju ruang makan utama. Ia duduk di kursi tinggi dengan tumpukan bantal agar kepalanya sejajar dengan meja kayu ek yang megah. Di sana, kedua orang tuanya sudah menunggu.
Count Aldric Veyris duduk di kepala meja dengan wajah tegas namun terlihat letih. Di sampingnya, duduk Countess Elena Veyris. Elena adalah sosok wanita yang anggun dengan rambut pirang pucat dan mata biru yang teduh, namun Kaelan tahu ibunya bukan sekadar hiasan di mansion ini. Elena berasal dari keluarga penyihir barisan bawah, dan indranya terhadap mana cukup peka.
Kaelan mulai memindai orang-orang di ruangan itu.
Ksatria Kiri: Sword Warrior (Level 2), Grade D. Biasa saja.
Ksatria Kanan: Aura Knight (Level 4), Grade C. Lumayan.
Lalu, matanya beralih pada ayahnya. Aura biru tua yang berkobar menyelimuti Aldric, melambangkan elemen air yang dikompresi menjadi pedang es.
Status: High Aura Knight (Level 5). Bakat: Grade A.
Namun, saat Kaelan melihat lebih dalam ke arah dada ayahnya, ia melihat urat-urat berwarna ungu gelap yang berdenyut di jalur meridian mana Aldric. Itu racun mana korosif dari Drakmor... Ayah terluka parah dan menahannya setiap detik.
Terakhir, ia menatap ibunya, Elena.
Status: Mage (Level 2). Bakat: Grade C.
Atribut: Air.
Ibunya memiliki bakat sihir standar, cukup untuk mendeteksi fluktuasi mana yang kasar. Itulah sebabnya Kaelan harus sangat berhati-hati dalam melakukan Sirkulasi Aether di dekat ibunya.
"Kaelan, makanlah buburmu. Kenapa menatap Papa dan Mama seperti itu?" tegur Elena dengan suara lembut, jemarinya yang halus mengusap rambut Kaelan.
Kaelan menyuap buburnya dengan patuh. "Papa hebat, Mama cantik," ucapnya dengan nada cadel yang dibuat-buat.
Aldric tertawa kecil, sedikit melupakan rasa sakit di dadanya. "Anak ini benar-benar tahu cara mengambil hati orang tuanya."
Elena tersenyum, namun matanya yang jeli menatap Kaelan dengan heran. "Aldric, tidakkah kau merasa Kaelan terlihat lebih... segar pagi ini? Kulitnya terlihat lebih cerah, dan sorot matanya tampak begitu jernih."
Jantung Kaelan berdegup kencang. Sial, insting ibu memang tajam.
"Mungkin karena dia tidur lebih awal semalam," jawab Aldric santai sambil memotong daging asapnya.
"Papa..." panggil Kaelan cepat untuk mengalihkan pembicaraan. "Kaelan mau ke pasar. Mau liat... kuda besar! Liat pedang!"
Elena mengerutkan kening. "Pasar? Tapi sayang, pasar sedang sangat ramai. Banyak orang asing yang masuk ke kota belakangan ini."
"Boleh ya, Ma? Mira temenin..." Kaelan memberikan tatapan paling memelas yang bisa ia berikan.
Aldric dan Elena saling berpandangan. Elena akhirnya menghela napas. "Baiklah. Tapi Mira, bawa dua ksatria tambahan. Tetaplah di area perdagangan utama. Jangan ke distrik bawah, banyak pengungsi dari perbatasan yang berkumpul di sana, suasananya bisa menjadi sangat kacau."
"Siap, Countess. Saya akan menjaga Tuan Muda dengan nyawa saya," jawab Mira sambil membungkuk.
Kereta kuda kecil yang membawa Kaelan berangkat meninggalkan gerbang mansion. Di sepanjang jalan, Kaelan menempelkan wajahnya ke jendela kereta. Matanya terus bekerja melakukan Scanning Massal.
Setiap orang yang ia lewati di jalanan kota Veyris dipindai secara instan.
Grade F... Grade E... Grade F...
Rata-rata penduduk adalah orang biasa. Hingga akhirnya, kereta mereka memasuki area pasar pusat yang riuh. Kerumunan orang terlihat jauh lebih padat dari biasanya karena arus pengungsi akibat gesekan dengan militer Drakmor di perbatasan.
"Tuan Muda, tolong pegang tangan saya yang erat ya," ucap Mira saat mereka turun dari kereta. Dua ksatria pengawal berjalan di belakang mereka dengan tangan waspada di gagang pedang.
Kaelan berjalan sambil menggandeng tangan Mira. Ia sengaja mengarahkan langkahnya menuju area yang lebih kumuh, tempat para pedagang barang bekas dan pasar tenaga kerja kasar berkumpul. Ia butuh "mutiara" yang terbuang.
Tiba-tiba, indra mana Kaelan menangkap sebuah getaran yang sangat kasar dan liar dari arah sebuah gang sempit di dekat pelelangan budak ilegal. Itu bukan mana yang tenang, melainkan mana yang meledak-ledak seperti gunung berapi yang hendak meletus.
Kaelan menarik tangan Mira. "Mila! Sana! Ada... kucing putih!"
"Eh? Tuan Muda, tunggu! Jangan lari!" Mira terkejut saat Kaelan berlari kecil menuju gang tersebut.
Kedua ksatria pengawal segera mengikuti dengan sigap. Begitu mereka sampai di ujung gang, sebuah pemandangan brutal tersaji. Tiga orang pria berbadan besar, pemburu budak rendahan, sedang menendangi seonggok tubuh kecil yang meringkuk di tanah.
"Anak haram! Kau berani menggigit tanganku?!" teriak salah satu pria sambil menghunuskan cambuk kulit.
Anak yang meringkuk itu terlihat berusia sekitar tujuh atau delapan tahun.
Rambutnya putih kusam karena debu, bajunya compang-camping, namun saat ia mendongak, matanya yang berwarna merah menyala memancarkan kebencian yang murni. Tidak ada rasa takut, hanya keinginan untuk menghancurkan segalanya.
Kaelan segera memindai anak itu.
Nama: ??? (Budak)
Bakat: Grade SS (Ancient Potential)
Atribut: Destruction (Kehancuran) & Sword Soul
Kondisi: Inti Mana tidak stabil. Akan meledak dalam 24 jam.
Kaelan menahan napas. Grade SS?!
Ini bahkan lebih gila dari Mira. Anak ini memiliki atribut Destruction, elemen yang dianggap mitos. Namun, karena tubuhnya yang kurang gizi tidak sanggup menampung kekuatan sebesar itu, mananya berbalik menyerang organ dalamnya.
"Berhenti!" teriak Kaelan dengan suara cemprengnya.
Ketiga pria itu menoleh, awalnya dengan marah, namun kemarahan mereka langsung berganti dengan pucat pasi saat melihat lambang keluarga Veyris di pakaian Kaelan.
"T-Tuan Muda?" salah satu dari mereka gemetar.
Kaelan tidak memedulikan mereka. Ia berjalan mendekat ke arah anak berambut putih itu. Mira mencoba menahan Kaelan karena takut anak itu berbahaya, namun Kaelan melepaskan diri.
Kaelan berjongkok di depan anak itu. Mata merah si bocah menatap Kaelan dengan tajam.
"Namamu siapa?" tanya Kaelan lembut.
Anak itu hanya menggeram rendah, seperti serigala kecil yang terluka.
Kaelan mendekatkan wajahnya, lalu berbisik sangat pelan, hanya untuk didengar oleh si bocah. "Ikut denganku, atau kau akan mati meledak malam ini. Aku tahu dadamu panas, kan? Aku bisa menyelamatkanmu. Aku bisa memberimu kekuatan untuk membalas dendam pada semua orang ini."
Mata anak itu membelalak. Bagaimana mungkin seorang balita bangsawan tahu tentang rasa terbakar di dadanya?
Kaelan berdiri kembali, lalu menoleh pada para ksatria pengawalnya dengan wajah tanpa ekspresi. "Dia... temanku. Bawa dia ke mansion. Sekarang."
"Tapi Tuan Muda, dia adalah budak kotor, Count pasti akan marah besar—"
"Aku bilang bawa," potong Kaelan. Kali ini, suaranya tidak terdengar seperti bayi. Ada nada otoritas dingin yang membuat kedua ksatria itu bergidik.
Mira menatap anak itu dengan bingung. "Tuan Muda, dia terlihat sangat sakit... ada hawa yang tidak enak darinya." Sebagai pemegang Bakat Grade S yang pasif, Mira merasakan ketidaknyamanan dari mana destruktif anak itu.
"Mila, bawa dia ya? Kasihan..." Kaelan kembali berakting, memasang wajah sedih.
Mira menghela napas. "Baiklah. Saya yang akan bicara pada Countess nanti. Ksatria, tolong bawa anak ini."
Kaelan tersenyum dalam hati. Rencananya berjalan sempurna. Ia telah menemukan seorang pengasuh yang sebenarnya adalah penyihir Grade S, dan sekarang ia mendapatkan seorang calon "Pedang Kehancuran" Grade SS.