Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMUNAN
Belinda dilihatnya seperti anak kecil yang sedang merajuk meminta dibelikan permen pada ayahnya lalu memaksa meminta membuka pintu mobil.
Dia melihat sekilas lagi, baju Belinda tersingkap, gaunnya naik ke atas paha, kulit pahanya yang putih menggoda imannya. Bram berusaha menutupnya.
Sekalipun ia pembunuh berdarah dingin, ia tidak akan sebejat itu, tidak pernah terbersit di pikirannya akan memakan tawanannya, apalagi anak-anak seperti Belinda.
Belinda akhirnya letih sendiri.
Dia lantas terdiam,
Belinda melirik ke arah Bram.
"Kamu siapa?" - Belinda
Bram dia tidak bergeming.
"Kamu kenapa tega membunuh orang-orang di sana?" -Belinda
Akhirnya Bram melihat ke arah Belinda.
"Diamlah! Sebentar lagi kamu kuantar pulang." - Bram
"Bohong kamu, Paman!!!!" - Belinda
Bram menatap sinis pada Belinda. Gadis itu sangat berisik baginya.
"Aku akan kamu bunuh bukan? Paman apa salahku?" - Belinda
Lagi-lagi Bram tidak mengabaikannya
"Mengapa kamu bunuh teman-temanku?" - Belinda
Bram diam dingin tidak bergeming.
Belinda menangis, dia tidak hentinya menangis tersedu-sedu. Dia merasa tak lama lagi dia akan mati di tangan lelaki di sebelahnya ini.
"Kembalikan aku pada Daddy!" - Belinda
"Hei diamlah!" - Bram
"huuuuhuuu,,,,mommy!!!!!" - Belinda
Belinda berteriak ke arah kaca.
"mommy!!!!" - Belinda
Dari kaca, kaki tangan Bram melihat ke arah belakang. Dia tersenyum melihat adegan itu. Baru kali ini bosnya menghadapi anak kecil yang berisiknya minta ampun.
Biasanya bosnya akan memukul tawanan atau sanderanya. Tapi kali ini tuannya kelihatannya hanya diam tidak bergeming.
...
(14 Tahun Lalu)
"Adik kecil siapa nama kamu?" Bram remaja
Bram mengekor seorang gadis kecil yang sendirian.
"Mengapa kamu berlari-larian di sini? Ini jalanan berbahaya!" - Bram remaja
Beberapa blok di sana adalah jalanan berbahaya karena banyak pencopetan, bahkan pembunuhan atau pemerkosaan terjadi di sana.
Bram, remaja 17 tahun itu melihat ke arah anak kecil berumur 4 tahun yang sedang berlari mengikuti seekor kucing. Ia tertawa kegirangan melihat kucing itu mengeong-ngeong di bawah kakinya.
"Kakak, lihat kucing itu menyukaiku." - gadis kecil
"Di mana rumahmu?" - Bram remaja
"Di sana!" - gadis kecil
Bram lalu melihat arah telunjuk gadis itu. Gadis itu menunjuk sebuah kapal yang terlihat jauh yang merapat di dermaga.
Gadis kecil itu tertawa bahagia. Miris sekali dengan Bram yang tidak tahu lagi bagaimana caranya tertawa saking banyaknya penderitaan yang dialaminya.
"Kakak maukah kamu jadi temanku?" - gadis kecil
"Ya anak manis, mari aku antar pulang." - Bram remaja
"wah, ada kupu-kupu!" - gadis kecil
Lamunannya buyar, saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan dermaga. Ia turun segera, sementara Belinda di gotong kaki tangan 2 ke atas kapal. Semua kaki tangan naik ke kapal.
***
Di dalam kapal Belinda meringkuk terdiam, tenaganya sudah habis. Dia diam membisu. Sementara Bram duduk di sebelah nahkoda yang mengendalikan laju kapal. Angin laut agak kencang malam itu.
Sesampainya di hotel, Bram masuk ke dalam kamar dan menyuruh pengawal memasukkan Belinda ke dalam kamar itu juga.
"Serius bos?" - Kaki tangan 3
"Lakukan kataku!" - Bram
"Siap bos!" - Kaki tangan 3
Belinda diangkat masuk ke dalam kamar itu, dia didudukan di atas tempat tidur.
"Keluarlah!" - Bram
"Siap Bos!" - Kaki tangan 2
"Aku ingin sendiri!" - Bram
"Siap Bos!" - Kaki tangan 3
kaki tangannya keluar.
Bram duduk di sofa tempat biasa dia melepas lelah. Kali ini entah kenapa Bram ingin seruangan dengan tawanan itu.
Gadis itu tertidur di atas tempat tidur yang biasa ditidurinya.
Biasanya tawanan ditempatkan di kamar di lantai paling atas, tapi entah kenapa ia ingin tawanan itu ada di kamarnya kali ini.
Ia meneguk soda yang sedari tadi dipegangnya.
Dua hari ini dia harus menyandera gadis ini sebagai ancaman agar Presiden dan Jendral Gondesh menjadi ciut dan bisa membuat presiden negara Belva mau tanda tangani perjanjian.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆