NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pantai pribadi Klan Obsidian sore itu menjadi saksi bisu pemandangan yang tak akan pernah dipercayai oleh anggota mafia mana pun.

"Anya! Jangan hancurkan menara utamaku! Kau tahu betapa sulitnya membentuk lengkungan simetris ini?!" jerit Milo dengan nada melengking, memegangi sekop plastik berwarna kuning cerah. Kemeja sutra hot pink-nya kini basah kuyup dan dipenuhi bercak pasir, tapi ia tidak peduli.

Anya tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Itu bukan menara, Milo! Itu lebih mirip topi penyihir yang penyok! Lihat istanaku, ini namanya benteng pertahanan anti-peluru!"

Milo menatap gundukan pasir tak berbentuk milik Anya dengan wajah ngeri yang didramatisir. "Itu cuma gundukan tanah kuburan, Anya! Estetikanya nol besar! Oh, astaga, kuku hitammu sampai penuh pasir, kemari biar kubersihkan!"

Milo merangkak mendekati Anya, mencipratkan air laut dari ember kecil ke tangan gadis tomboy itu. Alih-alih menurut, Anya malah menendang air laut ke arah wajah Milo, memicu perang cipratan air yang heboh. Suara tawa keduanya mengalahkan suara debur ombak.

Dari kejauhan, berdiri di bawah bayangan kanopi teras vila, Ragas hanya mengamati. Tangan keriput pelayan tua itu memegang nampan berisi dua gelas limun dingin yang esnya sudah mulai mencair. Ragas tidak berniat menyela.

Sebuah senyum lega yang sangat tulus terukir di wajah rentanya. Matanya sedikit berkaca-kaca. Selama dua puluh tahun, tubuh kekar Kaelan selalu memikul beban penderitaan, darah, dan kekejaman. Namun sore ini, melihat tubuh itu berlarian bebas, tertawa lepas, dan bermain pasir seperti anak kecil bersama seorang gadis yang menerimanya apa adanya... Ragas merasa beban di pundaknya sendiri ikut terangkat.

"Nyonya Besar... putra Anda akhirnya menemukan seseorang yang bisa melindunginya," bisik Ragas pelan ke arah angin laut.

Matahari mulai turun ke ufuk barat, melukis langit dengan semburat jingga, ungu, dan merah muda—warna favorit Milo.

Namun, seiring dengan tenggelamnya matahari, energi fisik tubuh Kaelan yang terkuras habis karena berlarian seharian mulai menuntut haknya. Milo, yang sedang duduk di kursi malas (sunbed) di bawah payung pantai, tiba-tiba menguap lebar.

"Anya..." gumam Milo, suaranya terdengar jauh lebih pelan dan serak, kehilangan nada cerianya. Kepalanya terkantuk-kantuk. "Kenapa... tubuhku rasanya berat sekali, ya? Sepertinya otot-otot si Kaku ini kelelahan karena aku terlalu banyak melompat tadi."

Anya, yang sedang duduk bersila di atas pasir sambil membersihkan sisa pasir di celananya, menoleh. Ia melihat kelopak mata pria itu mulai menutup perlahan.

"Tidurlah, Milo," ucap Anya lembut, bangkit dan mengambil handuk bersih dari kursi sebelah, lalu menyelimutkannya ke tubuh besar yang mengenakan kemeja pink basah itu. "Kau sudah bermain seharian."

Milo tersenyum tipis dengan mata terpejam. "Kau sahabat terbaikku, Anya. Aku... aku menyayangimu. Tolong... jangan tinggalkan si Kaku yang bodoh itu, ya. Dia sebenarnya sangat kesepian..."

Kata-kata itu memudar menjadi embusan napas yang teratur. Milo telah tertidur.

Anya terdiam. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di sebelah pria itu. Angin sore meniup pelan rambut wolf-cut Anya yang kini diselipi bunga kembang sepatu merah pemberian Milo. Gadis tomboy itu menopang dagu, menatap wajah lelap di hadapannya.

Wajah Kaelan saat tidur terlihat sangat damai. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada ketegangan di rahangnya. Hanya seorang pria yang kelelahan. Preman pasar itu secara refleks mengulurkan tangannya, menyibakkan helaian rambut hitam Kaelan yang menutupi mata pria itu, sentuhan yang sangat hati-hati agar tak membangunkannya.

Namun, hanya berselang lima belas menit... keheningan itu pecah.

Napas teratur pria itu mendadak tersentak. Alisnya yang tadinya rileks, kini berkerut tajam. Jari-jarinya yang menyembul dari balik handuk mengepal erat secara refleks.

Anya menarik tangannya dengan cepat, menahan napas.

Perlahan, mata itu terbuka.

Tidak ada lagi kilau jenaka yang hangat dan binar polos ala anak anjing. Mata yang kini menatap langit jingga itu segelap malam, tajam bagai silet, dan memancarkan aura dominasi yang mematikan. Suhu di sekitar mereka seolah turun sepuluh derajat.

Sang Bos Es telah kembali.

Kaelan mengerjap beberapa kali, mengumpulkan kesadarannya. Ia merasakan embusan angin laut, aroma garam, dan... sesuatu yang basah menempel ketat di tubuhnya.

Dengan kening berkerut dalam, Kaelan menunduk menatap tubuhnya sendiri. Matanya melebar perlahan, menatap horor pada kemeja sutra berwarna hot pink yang kancingnya terbuka lebar, mengekspos dadanya yang penuh bercak pasir. Ia menoleh ke tangan kirinya yang terasa lengket, dan menemukan sekop plastik berwarna kuning cerah masih berada dalam genggamannya.

"Apa... apa-apaan ini?" suara Kaelan keluar sangat berat, serak, dan penuh dengan kepanikan yang tertahan.

Kaelan membuang sekop itu seolah benda itu beracun, lalu buru-buru duduk. Kepalanya berdenyut, tapi tidak separah semalam. Ingatannya kosong. Ia ingat berada di ruang makan, kepalanya sakit luar biasa, dan... kegelapan.

"Sial. Sialan!" Kaelan mengumpat pelan, meremas rambutnya frustrasi. Ia sadar apa yang terjadi. Alter ego-nya, sisi yang paling ia sembunyikan dari seluruh dunia, telah mengambil alih tubuhnya seharian penuh. Dan celakanya... Anya ada di sini.

Dengan gerakan kaku bagai robot, Kaelan perlahan menoleh ke samping.

Anya sedang duduk menatapnya. Gadis itu tidak tertawa. Tidak mengejeknya. Tidak juga terlihat ketakutan seperti pelayan-pelayan baru yang tidak sengaja melihat perubahan Kaelan.

Anya justru menatap Kaelan dengan senyum tipis yang hangat, senyum yang belum pernah Kaelan lihat terukir di bibir preman pasar yang biasanya tengil itu. Bunga kembang sepatu merah masih terselip manis di telinga Anya, dan kuku gadis itu dicat warna hitam pekat yang sedikit berantakan.

"Hai, Bos Es," sapa Anya santai, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tidurmu nyenyak?"

Kaelan menelan ludah dengan susah payah. Jantung mafia tak kenal takut itu kini berdetak gila-gilaan karena rasa malu dan panik.

"Anya..." Kaelan menggeram rendah, rahangnya mengeras. Ia menutupi dada kemeja pink-nya dengan handuk, wajahnya memerah samar hingga ke telinga. "Berapa lama aku 'tertidur'?"

"Dari pagi sampai matahari terbenam," jawab Anya jujur.

"Dan... apa saja yang 'dia' lakukan?"

Anya bersedekap, pura-pura berpikir sambil menatap langit. "Hmm, mari kita lihat. Dia menceramahiku soal pentingnya skincare, memaksaku pakai masker wajah rasa teh hijau, memuji kulitku glowing, mengecat kukuku jadi hitam edgy ini, memakaikan bunga di rambutku, dan... oh ya, kita berdebat soal siapa yang bikin istana pasir paling bagus."

Kaelan memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran kursi malas hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ada lubang hitam di pantai ini, Kaelan rela melompat ke dalamnya sekarang juga. Harga dirinya sebagai Ketua Klan Obsidian hancur lebur tak bersisa di depan istrinya sendiri.

"Lupakan semuanya," desis Kaelan, matanya menatap tajam ke arah Anya dengan kilat putus asa. "Anggap hari ini tidak pernah terjadi. Kalau kau membocorkan rahasia ini pada Arthur atau siapa pun, aku bersumpah aku akan—"

"Akan apa? Membunuhku? Melempar ke kolam buaya?" potong Anya cepat, nada suaranya berubah lembut, sama sekali tidak terintimidasi.

Anya bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Kaelan yang masih terduduk dengan kemeja pink konyolnya. Tanpa aba-aba, tangan mungil Anya terulur, menangkup sebelah pipi Kaelan yang kasar oleh rahang yang mulai ditumbuhi sedikit cambang.

Tubuh Kaelan menegang seketika mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Napasnya tercekat.

"Dengar, Kaelan Obsidian," bisik Anya, matanya menatap lurus menembus benteng pertahanan pria itu. "Aku sudah tahu semuanya dari Ragas. Tentang kejadian dua puluh tahun lalu. Tentang ibumu. Tentang kenapa kau menciptakan Milo."

Mata Kaelan terbelalak, kilat kemarahan dan rasa rapuh bertabrakan di dalam sana.

Namun sebelum Kaelan bisa menepis tangannya, Anya mengusap pipi pria itu perlahan dengan ibu jarinya. "Kau tidak perlu bersembunyi dariku. Bos mafia yang kejam, atau pria cerewet berbaju pink... bagiku, kalian berdua sama saja. Kalian sama-sama pria yang mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku kemarin sore."

Gadis tomboy itu tersenyum manis, senyum yang membuat dunia Kaelan yang gelap mendadak dipenuhi cahaya.

"Jadi, berhenti bersikap menyebalkan, Suamiku," goda Anya, menarik tangannya dan menepuk bahu Kaelan pelan. "Ayo masuk ke dalam dan mandi. Kemeja pink itu benar-benar tidak cocok dipadukan dengan wajah premanmu."

Anya berbalik dan berjalan menuju vila dengan langkah ringan, meninggalkan Kaelan yang masih terpaku di kursi pantai, dadanya bergemuruh hebat, dan menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa, dan tidak akan pernah mau, melepaskan gadis tomboy itu dari hidupnya.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!