NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan lapisan cat baru, tak peduli seberapa mahal harga pigmennya. Salah satunya adalah harga diri yang diinjak-injak di bawah tumit sepatu bot yang berkilau. Di Aethelgard, kata-kata seringkali lebih tajam daripada pedang eksekusi. Sebuah kata yang diucapkan dengan nada meremehkan dari balkon tinggi bisa menghancurkan hati seseorang yang sedang menengadah di bawahnya, meninggalkan luka yang tidak berdarah, namun membusuk di dalam.

Arlo Valerius duduk di meja kayu jati di ruang bacanya, namun matanya tidak tertuju pada tumpukan laporan wilayah utara yang terbuka di depannya. Pikirannya masih tertinggal di lorong Sayap Barat yang gelap dan berdebu. Ia bisa merasakan sisa kehangatan dari jemari Kalea yang tadi sempat ia genggam secara impulsif. Genggaman yang seharusnya bersifat melindungi, namun bagi gadis itu, mungkin terasa seperti borgol yang tidak diinginkan.

Di seberang ruangan, Putri Helena sedang berdiri di depan rak buku, jemarinya yang mengenakan sarung tangan renda menyisir deretan punggung buku kulit. Ia tampak tenang, seolah-olah ucapannya tentang "tikus-tikus kecil" di Sayap Barat tadi hanyalah komentar ringan tentang cuaca.

"Arlo, kenapa kau diam saja sejak kita kembali dari sana?" Helena berbalik, gaun sutra ungunya berdesir lembut di atas lantai. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di depan meja Arlo tanpa menunggu dipersilakan. "Apakah kau benar-benar merasa terganggu dengan debu itu? Aku sudah bilang pada Lord Cedric agar memerintahkan para pelayan untuk membersihkan area itu lebih teliti. Mereka benar-benar tidak kompeten."

Arlo perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap Helena, memperhatikan bagaimana cahaya lampu minyak memantul di mata biru wanita itu. Tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada empati. Hanya ada tuntutan akan kesempurnaan yang dangkal.

"Mereka bukan tikus, Helena," ucap Arlo, suaranya rendah dan sarat dengan ketegangan yang tertahan.

Helena mengerutkan dahi, seolah-olah Arlo baru saja mengucapkan kata dalam bahasa asing yang tidak ia mengerti. "Maaf?"

"Orang-orang di Sayap Barat. Mereka manusia. Mereka bekerja keras agar kau punya lantai yang cukup bersih untuk kau injak," Arlo menutup buku laporannya dengan suara brak yang cukup keras hingga membuat Helena sedikit tersentak.

Helena tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat merdu namun kosong. "Astaga, Arlo. Kau terlalu serius. Itu hanya kiasan. Mereka dibayar untuk itu, bukan? Jika mereka merasa terhina, mereka bisa berhenti. Tapi mereka tidak akan berhenti karena mereka butuh koin emas kita. Itulah cara dunia bekerja."

"Dunia bekerja dengan cara yang menjijikkan jika kau yang mengaturnya," balas Arlo tajam.

Wajah Helena seketika berubah kaku. Senyumnya menghilang, menyisakan raut wajah yang dingin dan angkuh. Ia berdiri dengan gerakan yang sangat anggun namun penuh ancaman. "Aku datang ke sini untuk membangun aliansi, Arlo. Bukan untuk mendengarkan ceramah moral tentang kaum jelata. Jika kau lebih peduli pada tukang cat daripada calon istrimu, mungkin kau memang tidak pantas memakai mahkota itu."

Tanpa menunggu balasan, Helena berbalik dan melangkah keluar. Pintu ruang baca tertutup dengan suara debuman pelan namun tegas.

Arlo menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Kata-kata Helena tentang "tidak pantas memakai mahkota" adalah ancaman yang sudah biasa ia dengar, namun kali ini, ancaman itu terasa seperti janji yang melegakan.

Ia berdiri, menyambar jaket kulitnya kembali. Ia tahu dia tidak seharusnya kembali ke Sayap Barat hari ini. Ia tahu ayahnya mungkin sedang memerintahkan mata-mata untuk mengawasinya. Tapi bayangan Kalea yang gemetar ketakutan di balik tumpukan kayu terus menghantuinya. Ia tidak bisa membiarkan kata-kata Helena menjadi kalimat terakhir yang didengar gadis itu hari ini.

Arlo keluar melalui jalur rahasia, bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Begitu ia sampai di aula Sayap Barat, suasana sudah jauh lebih sepi. Para tukang kayu sudah pulang, menyisakan keheningan yang dibungkus aroma tajam cat yang belum kering.

Lampu minyak kecil masih menyala di atas lantai. Di sana, Kalea sedang duduk di atas lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Ia tidak lagi memegang kuas. Sikat pembersihnya tergeletak begitu saja di dalam ember air yang kini sudah menghitam.

Langkah kaki Arlo menggema pelan. Kalea tidak menoleh. Ia hanya menundukkan kepala lebih dalam.

"Kalea," panggil Arlo lirih.

Gadis itu bergerak sedikit, namun ia tetap tidak mengangkat wajahnya. "Pergilah, Yang Mulia. Tempat ini sudah cukup bersih untuk standar Anda."

Arlo berlutut di depan Kalea, tidak peduli pada debu yang kembali mengotori celana mahalnya. "Aku minta maaf atas apa yang dikatakan Helena. Dia tidak seharusnya bicara seperti itu."

Kalea mendengus, tawa kering keluar dari bibirnya yang pucat. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap Arlo dengan mata yang merah dan sembap. Tidak ada lagi percikan api kemarahan di sana, yang ada hanyalah kelelahan yang sangat dalam.

"Kenapa Anda minta maaf?" tanya Kalea, suaranya serak. "Dia benar. Di mata orang-orang seperti Anda, saya memang tikus. Saya merayap di dinding, mencari sisa-sisa koin yang jatuh dari kantong Anda, dan segera bersembunyi saat kalian lewat agar tidak merusak pemandangan."

"Aku tidak melihatmu seperti itu," Arlo mencoba meraih tangan Kalea, namun gadis itu segera menarik tangannya menjauh.

"Jangan!" Kalea berseru, suaranya sedikit meninggi. "Jangan berpura-pura seolah-olah Anda berbeda, Arlo. Anda memberikan saya maaf hari ini, tapi besok Anda akan berdiri di sampingnya di atas balkon, melambai pada rakyat seolah-olah Anda adalah penyelamat kami. Anda menikmati kemewahan yang dibangun dari keringat orang-orang yang Anda sebut 'manusia' ini."

Kalea berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia menunjuk ke arah pilar-pilar megah di sekeliling mereka. "Anda tahu apa yang paling menyakitkan? Saya bangga dengan pekerjaan saya. Saya bangga saat melihat dinding ini menjadi indah karena tangan saya. Tapi hanya dalam satu detik, wanita itu membuat semua kebanggaan saya terasa seperti sampah. Dia membuat saya merasa bahwa keberadaan saya di dunia ini hanyalah sebuah gangguan."

Arlo berdiri, menatap Kalea dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada. "Dia tidak punya hak untuk membuatmu merasa begitu."

"Tapi dia punya kekuasaan untuk melakukannya!" Kalea melangkah maju, dadanya naik turun karena emosi yang meluap. "Itulah masalahnya. Anda punya kekuasaan untuk meminta maaf, tapi Anda tidak punya keberanian untuk menghentikannya. Anda adalah pengecut yang dibungkus sutra."

Arlo terdiam. Kalimat itu menghantamnya tepat di ulu hati. Pengecut yang dibungkus sutra. Ia ingin membantah, ia ingin mengatakan bahwa dia sedang berjuang dengan caranya sendiri, namun ia tahu itu hanyalah alasan yang lemah.

"Kau benar," ucap Arlo pelan. "Aku pengecut."

Kalea tertegun mendengar pengakuan itu. Ia mengira Arlo akan marah, atau setidaknya menunjukkan keangkuhannya sebagai pangeran. Namun pria di depannya ini justru terlihat hancur.

"Lalu kenapa Anda masih di sini?" bisik Kalea. "Kenapa Anda tidak kembali ke pesta Anda?"

"Karena aku merasa lebih hidup saat kau menghinaku daripada saat Helena memujiku," jawab Arlo jujur. Ia menatap mata Kalea dengan intensitas yang membuat gadis itu terkesiap. "Saat kau marah, kau melihatku sebagai Arlo. Bukan sebagai Putra Mahkota, bukan sebagai calon suami pilihan kerajaan. Kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak memberiku naskah untuk dibaca."

Kalea menelan ludah. Ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih tajam dan berbahaya. Aroma cat yang menyengat seolah menghilang, digantikan oleh tarikan gravitasi yang membuat mereka sulit untuk berpaling.

"Itu egois," ucap Kalea lirih.

"Memang," Arlo melangkah satu tindak lebih dekat. "Aku memang egois karena ingin memilikimu setidaknya satu jam dalam sehari di mana aku tidak perlu berpura-pura."

Kalea tertawa sedih. Ia menyeka air mata yang tersisa di pipinya dengan punggung tangannya yang masih ternoda kapur. "Satu jam dalam sehari tidak akan mengubah kenyataan bahwa tembok ini tetap akan memisahkan kita, Arlo. Anda akan menikah, dan saya tetap akan menjadi tukang cat yang harus membersihkan jejak kaki Anda."

Kalea membungkuk, mengambil ember air hitamnya. "Pulanglah. Hari ini sudah cukup melelahkan bagi kita berdua."

"Besok aku akan kembali," ucap Arlo sebelum Kalea melangkah menjauh.

Kalea berhenti sejenak, namun ia tidak menoleh. "Jangan. Besok saya akan bekerja di bagian sayap utara yang terbuka. Terlalu banyak orang di sana. Kehadiran Anda hanya akan membawa masalah bagi saya."

Arlo hanya diam memperhatikan punggung Kalea yang perlahan menghilang ke kegelapan lorong. Ia berdiri sendirian di tengah aula yang megah namun terasa sangat hampa. Di atas lantai, lampu minyak yang ditinggalkan Kalea mulai berkedip-kedip sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan Arlo dalam kegelapan yang pekat.

Malam itu, Arlo tidak kembali ke kamarnya. Ia berjalan menuju puncak menara pengawas, menatap lampu-lampu kota Aethelgard yang berkelap-kelip di kejauhan. Di bawah sana, ribuan rakyatnya sedang tidur, mungkin beberapa dari mereka sedang bermimpi tentang keajaiban yang akan dibawa oleh calon raja mereka.

Namun Arlo hanya bisa memikirkan satu hal: Bagaimana ia bisa menghapus noda penghinaan di wajah Kalea jika ia sendiri masih menjadi bagian dari sistem yang menciptakan noda itu?

Keesokan paginya, istana Aethelgard sudah heboh dengan persiapan pesta berburu. Ini adalah tradisi untuk menyambut tamu dari kerajaan lain. Arlo dipaksa mengenakan pakaian berburu dari kulit rusa yang kaku, memegang busur yang dihiasi ukiran emas.

Helena muncul dengan pakaian berburu yang terlihat terlalu mewah untuk sekadar masuk ke hutan—gaun pendek khusus berburu berwarna hijau zamrud dengan topi kecil berbulu burung merak. Ia tampak sangat puas dengan dirinya sendiri, seolah-olah ketegangan semalam tidak pernah terjadi.

"Siap untuk menunjukkan keahlianmu, Arlo?" tanya Helena sambil mengelus kuda putihnya yang gagah.

Arlo hanya mengangguk singkat. Pikirannya tidak ada pada hutan atau buruan. Ia terus melirik ke arah Sayap Utara istana, di mana ia tahu Kalea sedang berdiri di atas tangga yang bergoyang, bertaruh dengan nyawa dan harga dirinya demi menutupi retakan yang tidak akan pernah benar-benar hilang.

Dan di tengah keriuhan terompet yang menandakan dimulainya perburuan, Arlo Valerius membuat sebuah keputusan. Jika dunia ini memang sebuah panggung sandiwara, maka ia akan menjadi aktor pertama yang merobek naskahnya.

Ia akan memburu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seekor rusa. Ia akan memburu kebenaran di balik tembok-tembok yang ia pimpin. Dan jika itu berarti ia harus kehilangan mahkotanya, maka biarlah ia menjadi pangeran pertama yang jatuh demi seorang gadis yang memiliki noda cat di wajahnya.

Sebab bagi Arlo, satu menit kejujuran di depan Kalea jauh lebih berharga daripada seribu tahun kebohongan di atas tahta Aethelgard.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!