NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Duda / Romansa / Pengasuh
Popularitas:91.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Raisa Datang Lagi

“Iya, Mak,” jawabnya cepat. “Aku bisa gantiin Mak kerja.”

Bu Rika tersenyum lega. “Alhamdullilah, terima kasih, Nak.”

“Tapi,” Bu Rika menambahkan sambil menatap Raisa lebih serius, “Mak minta ... kamu jaga sikap ya di rumah majikan Mak ya.”

Raisa mengangguk sambil menuang teh. “Iya, Mak.”

“Jangan keras hati, jangan keras kepala,” lanjut Bu Rika. “Dan … jangan cari masalah sama Den Krisna.”

Raisa menghela napas kecil. “Aku nggak niat cari masalah kok, Mak.”

“Kalau bisa, mengalah lah,” kata Bu Rika pelan.

Raisa tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, tapi di dalam hatinya ia tidak berani berjanji. Mengalah itu mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan kalau harga diri yang disentuh.

Tak lama kemudian, Raisa sudah siap berangkat. Rambutnya diikat sederhana, kaos lusuh tapi bersih, celana panjang yang nyaman. Ia mengambil sepedanya dan mulai mengayuh menuju rumah Pak Wijaya.

Pagi itu udara dingin, jalan desa masih sepi.

Begitu sampai di rumah Kades dan masuk lewat pintu samping—

Suara itu langsung menyambutnya.

Rengekan bayi.

Nyaring. Terus-menerus. Seperti tidak lelah.

Raisa berhenti sejenak di ambang pintu dapur. Alisnya mengernyit.

“Kayaknya Ezio lagi rewel banget,” gumamnya pelan.

Bik Sum muncul dari arah dalam, wajahnya tampak sama lelahnya. “Raisa? Kamu datang?”

“Eh iya, Bik,” jawab Raisa. “Mak masih disuruh istirahat sama Mas Krisna.”

Bik Sum mengangguk. “Syukurlah kamu datang. Dari malam anaknya Den Krisna rewel terus. Mending kamu samperin sana."

Raisa melepas sandal, melangkah masuk lebih jauh. Suara rengekan makin jelas. Dari arah ruang keluarga.

Ia berhenti lagi.

Dan entah kenapa, dadanya terasa mengencang.

Di ruang keluarga, Krisna berdiri dengan Ezio di gendongannya. Rambutnya sedikit berantakan, lingkar hitam jelas di bawah matanya. Kemeja yang ia pakai tampak kusut, tidak dikancingkan rapi.

Ia terlihat … kalah.

Ezio menangis di pelukannya, tangannya bergerak gelisah.

Krisna mengangkat wajahnya—dan melihat Raisa berdiri di ambang pintu.

Pandangan mereka bertemu.

Beberapa detik hening.

Tangisan Ezio menjadi satu-satunya suara.

Raisa membuka mulut lebih dulu. “Mas … dedenya kenapa?” Nada suaranya datar, tidak ketus, tidak juga lembut. Netral.

Krisna menghela napas panjang, nyaris terdengar seperti menyerah. “Sejak tengah malam, rewel. Hanya berhenti sebentar.”

Raisa melangkah mendekat tanpa banyak bicara. Ia memperhatikan Ezio, lalu memperhatikan cara Krisna menggendong—posisinya kaku, ayunannya terlalu cepat.

“Kepalanya kurang disangga,” kata Raisa spontan.

Krisna menegang. “Apa?”

Raisa mendekat satu langkah lagi. “Boleh saya gendong dedenya?”

Krisna ragu sepersekian detik.

Lalu ia mengangguk.

Raisa menerima Ezio dengan gerakan yang hampir refleks. Begitu bayi itu berpindah tangan, tangisannya masih ada—tapi nadanya langsung berubah. Tidak lagi melengking. Lebih seperti protes kecil.

Raisa menyesuaikan posisi, satu tangan menopang kepala, satu tangan di punggung. Ia mengayun pelan, ritmenya lambat.

“Ssst ...,” bisiknya. “Dede capek ya?”

Ezio merengek sebentar ... lalu berhenti.

Bukan langsung tidur. Tapi diam.

Krisna berdiri terpaku.

Bu Lita muncul dari arah kamar, tertegun melihat pemandangan itu. “Ya Allah ....”

Raisa mengusap punggung Ezio pelan, nyaris tanpa suara. “Sepertinya dede cuma kebingungan. Banyak yang berubah, makanya agak rewel.”

Ezio menempel nyaman, matanya setengah terpejam.

Raisa tidak menatap Krisna. Tapi Krisna menatapnya lama. Dan di wajahnya, untuk pertama kalinya sejak malam yang melelahkan itu, ada sesuatu yang sangat mirip dengan rasa … lega.

Sementara di dalam diri Krisna, satu kenyataan mulai sulit disangkal:

Bukan Ezio yang bermasalah.

Tapi mungkin, ia yang belum tahu caranya meminta bantuan dengan rendah hati.

***

Bu Lita mengembuskan napas panjang—lega.

Sungguh lega.

Ia berdiri di dekat sofa ruang keluarga, menatap cucunya yang kini kembali terlelap di gendongan Raisa. Tangisan yang sejak tengah malam seperti tidak mengenal lelah itu akhirnya berhenti, berganti dengan napas kecil yang teratur.

“Alhamdulillah,” lirih Bu Lita sambil menepuk dadanya sendiri. “Ibu sampai takut Ezio kenapa-napa.”

Raisa tetap berdiri tenang, tubuhnya sedikit condong agar Ezio nyaman. “Kayaknya cuma kecapekan, Bu. Bayi itu kan masih peka sama suasana sekelilingnya.”

Bu Lita mengangguk berkali-kali. “Iya. Benar.”

Raisa melirik Bu Lita, lalu berkata pelan tapi jelas, “Saya ke sini lagi hari ini buat gantiin ibu saya, Bu. Mak saya masih disuruh istirahat sama Mas Krisna.”

Bu Lita tersenyum lebar, kali ini tanpa ragu. “Syukurlah kamu datang, Raisa.”

Nada suaranya hangat—bukan sekadar ramah pada anak ART, melainkan pada seseorang yang benar-benar ia butuhkan.

“Kamu urus Ezio saja hari ini,” lanjut Bu Lita. “Tidak usah pegang kerjaan rumah. Biar yang lain saja yang mengerjakannya.”

Raisa mengangguk cepat. “Baik, Bu.”

Ia tidak membantah. Tidak juga merasa sungkan. Sejujurnya, mengurus bayi terasa jauh lebih mudah baginya daripada harus lalu-lalang di rumah besar ini dengan perasaan serba salah.

Raisa melirik ke arah tangga yang menuju lantai atas—arah kamar Krisna. Bulu kuduknya langsung merinding tanpa sebab yang jelas.

“Bu,” katanya ragu, “boleh Ezionya di kamar tamu saja?”

Bu Lita menoleh. “Kenapa?”

Raisa menelan ludah. “Saya … kurang enak kalau harus masuk kamar Mas Krisna.”

Ia menggaruk pelan lengannya sendiri, sedikit canggung. “Maksud saya … ya gimana gitu, Bu. Mas Krisna kan duda. Sedangkan saya anak gadis.”

Kalimat itu keluar polos, tanpa maksud menyinggung—justru jujur dari kegelisahan yang ia rasakan.

Bu Lita sempat terdiam, lalu tersenyum kecil. “Kamu benar.”

Ia mengangguk mantap. “Kamar tamu saja.”

Lalu Bu Lita menoleh ke arah Krisna yang masih berdiri di dekat jendela, wajahnya kusam, matanya merah karena kurang tidur.

“Krisna,” panggilnya lembut tapi tegas.

Krisna mengangkat wajah. “Iya, Bu?”

“Tolong ambilkan baju ganti, susu, sama perlengkapan Ezio. Kita pindahkan sementara ke kamar tamu.”

Krisna tidak langsung menjawab. Ia terlihat seperti perlu waktu setengah detik untuk mencerna kalimat itu.

“Iya,” katanya akhirnya.

Ia berbalik, melangkah naik tangga dengan langkah berat. Bahunya turun, punggungnya sedikit membungkuk—postur seseorang yang benar-benar kehabisan energi.

Beberapa menit kemudian, Krisna turun lagi membawa tas kecil perlengkapan bayi, baju ganti, dan satu botol susu. Rambutnya semakin berantakan, rahangnya mengeras menahan kantuk dan sakit kepala yang berdenyut samar.

Ia meletakkan semua itu di kursi dekat ranjang kecil di kamar tamu.

Raisa sudah duduk di sana, mengayun Ezio pelan. Bayi itu sama sekali tidak terganggu oleh perpindahan tempat. Justru tampak makin tenggelam dalam tidurnya.

“Kalau ada yang kurang,” kata Krisna datar sambil mengusap pelipisnya, “kamu panggil saja saya di kamar.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Saya mau istirahat dulu. Dari semalam kurang tidur.”

Raisa mengangguk, tanpa menatap wajahnya. “Iya, Mas.”

 

Bersambung .... ✍️

1
Herman Lim
akhir nya ezio py ibu asuh yg tulus
Sugiharti Rusli
beruntung bu Lita mengambil langkah tegas mau si Krisna protes atau tidak, toh kenyataannya sang cucu langsung anteng saat di tangan Raisa,,,
Sugiharti Rusli
sudah jelas saat bersama Raisa selama dua hari, anaknya tenang dan happy dalam pengasuhannya dan tidak rewel,,,
Sugiharti Rusli
ini mah hanya langsung si bapak yang putuskan hanya berdasarkan pengalaman yang belum pernah dia lihat,,,
Sugiharti Rusli
di mana" yah kalo cari buat pengasuh anak tuh seharusnya diperkenalkan kepada bayi nya si objek yang akan diasuh,,,
Sugiharti Rusli
kamu tuh sebenarnya cari pengasuh buat putra kamu atau buat siapa sih Kris sedari awal juga,,,
K4RL4
pawang dede ezio dtng 👍👍👍.
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊
mama
abis sholat terawih tak tengok kok blm up thor🤭..
Teh Euis Tea
alhamdulilah ezio udah tensng di tangan raisa dan untuk lena tdnya aku kasian sm km tp ternyata sikap polosmu hanya bohong belaka
astr.id_est 🌻
diam distuuuuu 😅😅😅
astr.id_est 🌻
raisa seperti ibu peri sungguh ajaib, seketika ezio lngsg tenang
astr.id_est 🌻
kocak lena 🤣🤣
Elizabeth Zulfa
udah kebuka blm kris mata kamu... zg br pengalaman blm tentu memberikan rasa nyaman tpi klo rasa aman sudah didapat pengalaman akan ikut menyertainya... sampai sini paham kan ya abang duda... 😜😜😜klo msih mentingin ego brrti fix kamu tega sama dedek Ezio
astr.id_est 🌻
👍👍👍👍
kaylla salsabella
alhamdulillah dedek udah tenang
@Arliey🌪️🌪️
pawang nya ezio nich senggol dong🤣🤣🤣
kaylla salsabella
semoga habis ini dedek sembuh
RiriChiew🌺
nahkan pada akhirnya kalau pawang ezio hadirr dari tdi pasti udh sunyii gak akan nangis sepanjang hari . bapaknye ngeyell si pengasuh juga bermuka dua mana mau bayi nempel
@alfaton🤴
jangan nangis lagi ya de Zio..... momy Raisa udah dipelukanmu.... sekarang istirahat...... dan kamu Lena......masih mau berdebat tentang Ezio..... pengalaman jadi baby sitter mu mengalahkan Raisa yang suka dengan anak kecil..... karena tugasmu itu memang kewajiban dan tanggung jawab sebagai ibu dari anakmu ... paham lena😅😅😅😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
coba dr awal begini ga cape bayangin bayi sekecil ezio nangis2 sampe demam 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!