NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: DUA TAHUN YANG BERAT

Waktu berlalu seperti kilat yang dilepaskan Serena dari ujung jemarinya. Tak terasa, dua tahun sudah ia menduduki takhta emas Kekaisaran Ser. Wilayah seluas 2.001.103 Km^2 itu perlahan mulai bernapas kembali, meski napasnya masih tersengal. Serena yang kini berusia 29 tahun, tidak lagi hanya dikenal sebagai ninja bayangan, melainkan sebagai kaisar wanita yang memimpin dengan "Tangan Besi dan Hati Emas".

Di dalam ruang kerja istana yang dipenuhi tumpukan gulungan laporan, Serena sedang berdebat sengit dengan Dewan Penasihat yang baru.

"Yang Mulia, kebijakan Anda untuk memotong upah para pejabat tinggi hingga lima puluh persen telah memicu kegelisahan," ujar Menteri Barata, seorang pria tua yang sebenarnya setia namun sangat konservatif. "Mereka merasa jasa mereka tidak dihargai. Beberapa gubernur di wilayah Timur bahkan mulai mengabaikan instruksi pusat."

Serena tidak mengangkat kepalanya dari dokumen yang ia tanda tangani. "Biarkan mereka gelisah, Barata. Kegelisahan mereka adalah bukti bahwa uang yang selama ini mereka makan sebenarnya milik rakyat. Jika mereka merasa jasa mereka tidak dihargai dengan upah yang sekarang, silakan mengundurkan diri. Saya punya daftar ribuan anak muda cerdas dari sekolah umum yang siap menggantikan mereka."

"Tapi Yang Mulia, stabilitas politik—"

"Stabilitas politik tidak dibangun di atas perut pejabat yang buncit, Barata," Serena memotong, suaranya dingin namun tenang. Ia akhirnya mengangkat wajahnya, mata peraknya berkilat di bawah cahaya lampu minyak. "Stabilitas itu ada ketika petani di pelosok tidak perlu takut tanahnya dirampas, dan anak-anak kuli di Arrinra bisa makan tiga kali sehari. Apakah laporan kemiskinan di Provinsi Barat sudah turun?"

"Sudah, Yang Mulia. Turun lima belas persen dalam enam bulan terakhir berkat pembukaan lahan subsidi," jawab Barata sambil menunduk.

"Bagus. Fokuslah pada itu. Jika gubernur Timur membangkang, kirim Paman Bram dan pasukan kecilnya. Bukan untuk berperang, tapi untuk melakukan audit publik di depan rakyat mereka sendiri. Biarkan rakyat mereka yang menghakimi jika ditemukan korupsi."

Barata menarik napas panjang. Ia tahu, berdebat dengan Serena adalah seperti mencoba menahan badai dengan payung kertas. "Baik, Yang Mulia. Namun... ada satu hal lagi yang jauh lebih mendesak daripada urusan administratif."

Serena meletakkan penanya. "Katakan."

"Teror di desa-desa perbatasan Utara dan Selatan. Laporan yang masuk bukan lagi tentang perampokan biasa. Rakyat ketakutan. Mereka bilang, ternak mati tanpa luka, hanya kering kerontang. Dan beberapa penduduk hilang saat bulan purnama, lalu ditemukan dalam keadaan... tidak manusiawi."

Dahi Serena berkerut. "Maksudmu ilmu hitam?"

"Saya khawatir begitu. Para mantan bangsawan yang kita usir dan jenderal-jenderal yang melarikan diri ke hutan-hutan terlarang kabarnya telah bersekutu dengan para penganut aliran sesat. Mereka menggunakan Ilmu Teluh Banaspati dan makhluk-makhluk kutukan untuk menciptakan teror horor. Mereka ingin membuktikan bahwa kepemimpinan Anda dikutuk oleh alam."

Serena berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah kota Arrinra yang mulai bercahaya oleh lampu-lampu jalan. "Mereka mencoba bermain dengan ketakutan karena mereka tahu mereka tidak bisa menang dalam pertempuran fisik. Horor adalah senjata bagi pengecut."

Teror yang Merayap

Malam itu, Serena memutuskan untuk melakukan inspeksi mendadak ke salah satu desa terdekat yang dilaporkan terkena teror, Desa Karang Hitam. Ia tidak pergi dengan iring-iringan kaisar. Ia kembali mengenakan pakaian ninja hitamnya, bergerak dalam bayangan bersama Paman Bram.

"Suasananya sangat tidak enak, Putri," bisik Bram saat mereka tiba di perbatasan desa. Bau bangkai yang aneh menusuk hidung. Tidak ada suara jangkrik atau burung malam. Hening yang mati.

"Paman, tetaplah di sini. Jaga jalan keluar. Aku merasakan aura dingin yang sangat pekat di tengah desa," perintah Serena.

Serena melesat secepat cahaya, mendarat di atas atap sebuah lumbung padi yang kosong. Di bawahnya, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya berdesir. Di tengah lapangan desa, sebuah lingkaran darah segar digambar di tanah. Tiga orang berpakaian jubah merah sedang merapalkan mantra dalam bahasa yang sudah punah.

"Bangkitlah, wahai utusan kegelapan! Tunjukkan pada wanita sombong di istana itu bahwa takhtanya berdiri di atas tanah yang haus akan nyawa!" teriak salah satu pemuja itu.

Tiba-tiba, tanah di tengah lingkaran itu terbelah. Seekor makhluk dengan bentuk menyerupai manusia namun berkulit pucat pasi dengan kuku-kuku panjang dan mata merah menyala merangkak keluar. Suaranya melengking, memecah kesunyian malam.

"Horor yang murahan," gumam Serena.

Ia melompat turun. Zrakkk! Listrik biru meledak di sekelilingnya saat ia mendarat. Para pemuja itu tersentak kaget.

"Kaisar Wanita!" teriak salah satu dari mereka. "Kau berani datang sendiri ke sarang kematian?"

"Satu-satunya kematian yang aku lihat di sini adalah kematian akal sehat kalian," sahut Serena. Ia mencabut pedang Raijin. Bilahnya bergetar, merespons energi negatif di sekitarnya. "Siapa yang mengirim kalian? Mantan Menteri Tejo? Atau sisa-sisa keluarga Karsa?"

"Nama tidak penting! Yang penting adalah Arrinra akan jatuh dalam kegelapan!"

Dukun itu mengarahkan tongkatnya ke arah Serena. Makhluk pucat tadi melesat dengan kecepatan tinggi. Gerakannya patah-patah namun sangat cepat. Serena menghindar dengan salto ke belakang, namun makhluk itu terus mengejar, meninggalkan bekas cakaran hitam di tanah yang mengeluarkan asap beracun.

"Ini bukan makhluk biasa... ini adalah Mayat Hidup Sungsang," batin Serena. Ia tahu pedang biasa tidak akan mempan. Ia harus menggunakan energi petir murni untuk menghanguskan inti energinya.

Jurus Petir Langit: Penjara Guntur!

Serena menancapkan pedangnya ke tanah. Empat pilar listrik muncul mengelilingi makhluk itu, menguncinya di satu titik. Makhluk itu melolong kesakitan saat kulitnya bersentuhan dengan dinding listrik.

"Selesaikan ini, Serena!" teriak seorang pria dari balik semak-semak.

Serena terkejut mendengar suara itu. Ia menoleh sejenak dan melihat seorang pemuda berpakaian lusuh—Anton—sedang memegang sebuah obor besar dan sebotol minyak tanah.

"Anton?! Apa yang kau lakukan di sini?" teriak Serena panik.

"Membantu! Makhluk ini takut api, aku melihatnya tadi di pinggir desa!" Anton berlari maju tanpa rasa takut dan melemparkan botol minyak tanah ke arah makhluk yang terkurung itu, disusul dengan obornya.

BOOM!

Kombinasi antara ledakan listrik Serena dan api dari Anton menciptakan reaksi yang dahsyat. Makhluk itu terbakar hebat dan berubah menjadi abu dalam hitungan detik. Para pemuja jubah merah yang melihat pemimpin spiritual mereka musnah, segera mencoba melarikan diri, namun Paman Bram sudah menunggu mereka di kegelapan dengan pasukan panahnya.

Dialog di Bawah Rembulan

Setelah keadaan tenang, Serena mendekati Anton. Wajahnya yang biasa tegas kini tampak cemas sekaligus marah.

"Kau gila, Anton! Ini bukan urusan kuli bangunan! Kau bisa mati tadi!" Serena membentak, meski tangannya gemetar.

Anton menyeka debu di wajahnya, ia tersenyum tipis—senyum yang sama yang Serena lihat dua tahun lalu. "Saya dengar ada 'setan' yang mengganggu pembangunan jalan di sini, Yang Mulia. Saya tidak bisa diam saja melihat proyek rakyat dirusak. Lagipula, saya tidak bisa membiarkan Kaisar saya bertarung sendirian di tengah malam."

Serena terdiam. Ia menatap pemuda di depannya. Dalam dua tahun ini, Anton telah berubah. Ia kini bukan sekadar kuli biasa, melainkan kepala mandor yang dihormati. Tubuhnya lebih tegap, dan binar matanya menunjukkan kecerdasan yang selama ini terpendam di bawah tekanan kemiskinan.

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Serena lebih lembut.

"Saya mengenali kilatan biru itu dari jarak tiga kilometer, Yang Mulia. Tidak ada orang lain di Kekaisaran Ser yang punya 'lampu' seindah itu," canda Anton.

Serena mendengus, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Kau terlalu berani bicara, Anton. Ingat posisimu."

"Posisi saya adalah rakyat Anda, dan posisi Anda adalah pelindung saya. Bukankah itu yang Anda katakan saat penobatan?" Anton mendekat sedikit. Bau keringat dan debu semen darinya terasa sangat manusiawi bagi Serena yang selama ini hanya dikelilingi bau dupa istana dan parfum para menteri. "Anda terlihat lelah, Serena. Takhta itu sepertinya sangat berat."

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seseorang memanggil namanya tanpa gelar. Serena merasakan sebuah beban terangkat dari pundaknya hanya dengan mendengar namanya disebut seperti itu.

"Dua tahun ini memang berat, Anton," aku Serena, suaranya nyaris berbisik. "Politik lebih kotor daripada lumpur di proyekmu. Dan sekarang, mereka menggunakan horor untuk menakutiku."

"Mereka hanya takut pada perubahan yang Anda bawa," kata Anton sungguh-sungguh. "Jangan menyerah. Rakyat di belakang Anda. Kami lebih takut kembali ke zaman dulu daripada takut pada hantu-hantu kiriman itu."

Serena menatap Anton lama. Ada sebuah koneksi yang tak terjelaskan. Namun, suara deheman Paman Bram memecah suasana.

"Ehem... Yang Mulia, para tawanan sudah diamankan. Kita harus segera kembali sebelum fajar, atau gosip akan menyebar bahwa Kaisar menghilang di tengah malam."

Serena mengangguk. Ia menatap Anton untuk terakhir kalinya malam itu. "Kembalilah ke tempat perkemahanmu, Anton. Dan berjanjilah... jangan melakukan hal nekat seperti ini lagi tanpa pengawalan."

"Saya tidak janji, Yang Mulia. Jika kilat itu muncul lagi, saya akan selalu ada di sana untuk membawa obor," jawab Anton sambil memberikan hormat rakyat biasa.

Bayangan yang Belum Usai

Kembali di istana, Serena tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon, memikirkan kata-kata Anton. Kekaisaran Ser memang luas, tapi ia merasa sangat kesepian di atas takhta itu.

Namun, kedamaian itu hanya sesaat. Di sudut gelap ruangan, sebuah bayangan hitam bergerak. Bukan bayangan ninja, melainkan asap yang menggumpal membentuk wajah yang menyeramkan.

"Ini hanya permulaan, Serena Arrinra..." suara parau tanpa wujud itu bergema. "Kau mungkin menang melawan mayat hidup, tapi kau tidak bisa menang melawan kutukan yang tertanam di darah tanah ini. Arrinra akan runtuh dari dalam..."

Serena segera menghunus pedangnya, melepaskan gelombang listrik ke arah asap itu hingga buyar. Namun tawanya masih terngiang.

Ia menyadari bahwa dua tahun pertamanya hanyalah pemanasan. Musuh-musuhnya kini mulai menyasar titik terlemahnya: rakyat jelata dan pembangunan yang sedang ia rintis. Dan lebih dari itu, ia mulai menyadari bahwa musuh-musuh politiknya akan segera mengetahui tentang "keakrabannya" dengan seorang kuli bangunan bernama Anton.

"Jika mereka ingin menyerangku lewat rakyatku, maka aku akan menjadikan rakyatku sebagai benteng yang tak terkalahkan," gumam Serena.

Ia mengambil peta kekaisaran, menandai proyek-proyek jembatan yang sedang dikerjakan Anton. Ia tahu, di sana bukan hanya masa depan ekonomi Ser yang sedang dibangun, tapi mungkin juga sesuatu yang lebih personal bagi hatinya.

Dua tahun yang berat telah membentuk Serena menjadi pemimpin yang tangguh. Namun, tantangan sesungguhnya baru akan datang saat ia harus memilih antara tradisi kekaisaran yang kaku dan cinta yang mulai tumbuh di antara debu konstruksi.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!