di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Darah Iblis Melawan Raja Asura
Angin berbau amis darah menyapu alun-alun Sekte Pedang Surgawi.
Li Feng, yang kini lebih mirip monster daripada manusia, meraung ke langit. Kulitnya merah melepuh, otot-ototnya membengkak hingga merobek sisa jubah sutranya. Aura hitam kemerahan meledak dari tubuhnya, menciptakan gelombang tekanan yang membuat murid-murid di barisan depan terhuyung mundur.
Ini adalah kekuatan Setengah Langkah Pembentukan Fondasi yang dipaksakan. Meskipun tidak stabil, kekuatannya cukup untuk meremukkan batu granit menjadi debu hanya dengan aura saja.
"YE YUAN!" Li Feng berteriak, suaranya ganda dan parau. "MATILAH!"
BOOM!
Li Feng menghilang dari tempatnya berdiri. Lantai batu di bawah kakinya meledak menjadi kawah kecil.
Kecepatannya mengerikan. Bahkan mata Ye Yuan yang tajam hampir tidak bisa mengikuti gerakannya.
Insting bahaya Ye Yuan menjerit. Dia secara refleks mengangkat pedang patahnya untuk melindungi dada.
BAM!
Hantaman itu datang seperti kereta kuda yang lepas kendali.
Ye Yuan merasakan tulang lengannya berderit. Tubuhnya terlempar ke belakang, meluncur sejauh sepuluh meter, kakinya menorehkan dua parit dalam di lantai batu saat dia berusaha menahan momentum itu.
"Hahahaha! Lemah! Kau terlalu lambat!"
Li Feng tidak memberi jeda. Dia muncul lagi di samping Ye Yuan, pedang Angin Hijau-nya kini diselimuti api darah.
Sreeet!
Sebuah tebasan menyilang mendarat di punggung Ye Yuan. Darah menyembur. Ye Yuan mengertakkan gigi menahan perih, memutar tubuhnya, dan menyabetkan pedang patahnya ke arah leher Li Feng.
Namun, Li Feng menunduk dengan kecepatan tidak wajar, lalu menendang perut Ye Yuan.
DUAGH!
Ye Yuan terpental lagi, menabrak pilar batu di sudut panggung hingga retak. Dia jatuh berlutut, memuntahkan segumpal darah segar.
"Bagaimana rasanya?!" Li Feng berjalan mendekat, setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki hangus di lantai. "Bagaimana rasanya diinjak-injak oleh kekuatan mutlak? Kau pikir teknik anehmu bisa melawan pil terlarang ini? Pil Darah Iblis membakar umurku sepuluh tahun untuk kekuatan ini! Kau tidak punya harapan!"
Di tribun VIP, Tetua Li tersenyum kejam melihat putranya mendominasi. Sementara itu, di atas awan, Peri Pedang Mu mengerutkan kening.
"Energi iblis itu terlalu liar," gumam Mu Bingyun. "Jika bocah itu tidak punya kartu as, dia akan mati dalam tiga jurus lagi."
Di atas panggung yang hancur, Ye Yuan menyeka darah di mulutnya. Dia tertawa pelan.
"Membakar umur sepuluh tahun hanya untuk mengalahkanku?" Ye Yuan berdiri perlahan, meski tubuhnya gemetar. "Menyedihkan. Kau benar-benar sampah, Li Feng."
"Masih berani bicara?!" Li Feng murka.
Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Energi darah berkumpul di ujung pedangnya, membentuk bayangan pedang raksasa sepanjang lima meter yang terbuat dari cahaya merah pekat.
[Teknik Terlarang: Penebas Bulan Berdarah!]
"Lenyaplah jadi debu!"
Li Feng mengayunkan pedang raksasa itu ke bawah. Udara terbelah dengan suara ciuuut yang menyakitkan telinga.
Ye Yuan mendongak menatap kematian yang datang padanya.
Di saat kritis itu, waktu seolah melambat bagi Ye Yuan. Dia bisa merasakan aliran darah di tubuhnya. Dia bisa mendengar detak jantung pedang patah di tangannya.
Dug... Dug...
Pedang itu lapar. Sangat lapar.
Bagi pedang biasa, energi "Darah Iblis" milik Li Feng adalah racun yang korosif. Tapi bagi Pedang Asura? Itu adalah hidangan utama. Asura adalah dewa perang yang hidup dari pembantaian dan energi negatif.
"Kau ingin memakannya?" bisik Ye Yuan pada pedangnya.
Pedang itu berdengung keras, getarannya merambat hingga ke tulang bahu Ye Yuan. Karat di permukaannya rontok lagi, memperlihatkan lebih banyak logam hitam kelam yang dihiasi ukiran merah kuno.
Ye Yuan memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lebar-lebar. Pupil matanya kini sepenuhnya ungu.
Dia tidak menghindar. Dia tidak bertahan.
Dia menyambut serangan itu.
Ye Yuan mengalirkan seluruh Qi-nya, seluruh kekuatan fisiknya, dan seluruh niat membunuhnya ke dalam pedang patah itu.
[Sutra Hati Pedang Asura - Bentuk Kedua: Taring Naga Penelan Langit]
Ini bukan teknik pertahanan. Ini adalah teknik counter-attack yang brutal. Konsepnya sederhana: Jika kau ingin memakan aku, aku akan memakanmu lebih dulu.
Ye Yuan menusukkan pedang patahnya lurus ke depan, tepat ke inti gelombang energi merah yang datang.
BLAAAARRR!
Ledakan energi mengguncang seluruh puncak gunung. Debu dan kerikil beterbangan menutupi pandangan penonton. Gelombang kejut membuat murid-murid di barisan depan terjungkal.
"Apakah dia mati?" teriak seseorang.
"Pasti hancur berkeping-keping! Serangan tadi setara dengan Pembentukan Fondasi!"
Tetua Li sudah siap tertawa kemenangan. Namun, tawanya tersangkut di tenggorokan saat debu mulai menipis.
Di tengah kawah panggung, Ye Yuan masih berdiri.
Pakaian atasnya hancur total, memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka bakar dan goresan. Namun, dia berdiri tegak seperti tombak yang tak bisa dipatahkan.
Pedang patahnya menancap... menembus pedang energi raksasa milik Li Feng.
Dan sesuatu yang mengerikan terjadi.
Pedang energi merah itu tidak meledak. Ia menyusut. Seolah-olah ada pusaran air hitam di ujung pedang Ye Yuan yang menyedot seluruh energi jahat itu.
"Tidak... A-apa yang terjadi?!" Li Feng terbelalak horor. Dia merasa Qi di dalam tubuhnya ditarik keluar secara paksa. "Lepaskan! LEPASKAN!"
Pedang patah Ye Yuan bersinar merah menyala, lalu berubah menjadi hitam pekat kembali. Ia telah menelan teknik terlarang Li Feng!
Ye Yuan mengangkat wajahnya. Senyum iblis terukir di bibirnya.
"Terima kasih atas makanannya."
Ye Yuan menghentakkan kakinya.
Boom!
Dia melesat menembus sisa-sisa energi yang memudar. Li Feng, yang kini kehabisan tenaga karena teknik terlarangnya dimakan, berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Efek samping pil mulai menyerang; tubuhnya terasa kosong dan sakit luar biasa.
"Jangan..." Li Feng mundur selangkah, menjatuhkan pedangnya.
Ye Yuan sudah ada di depannya.
Dia tidak menebas leher Li Feng. Itu terlalu mudah.
Ye Yuan memutar pedangnya, menggunakan gagang besi yang berat itu untuk menghantam Dantian (pusat energi) di perut bawah Li Feng.
KRAK!
Suara sesuatu yang pecah terdengar jelas di keheningan arena.
"UWAAAAAAGHHHH!"
Li Feng menjerit dengan suara yang bukan manusia lagi. Matanya melotot, urat-urat di lehernya putus. Dantian-nya, fondasi kultivasi seorang pendekar, hancur berkeping-keping.
Dia terlempar ke belakang seperti boneka rusak, mendarat di kaki panggung dengan posisi aneh.
Ye Yuan berdiri di sana, napasnya memburu. Uap panas mengepul dari tubuhnya.
Dia menang.
Tapi dia belum selesai.
Ye Yuan berjalan tertatih-tatih ke pinggir panggung, menatap Li Feng yang kini menggeliat kesakitan di tanah, air liur dan darah bercampur di wajahnya.
"Kau..." Li Feng menatap Ye Yuan dengan pandangan kosong. "Kultivasiku... Kau menghancurkan kultivasiku..."
Bagi seorang kultivator, Dantian yang hancur lebih buruk daripada kematian. Dia sekarang adalah orang cacat. Sampah yang sesungguhnya.
Ye Yuan menancapkan pedang patahnya ke lantai panggung, lalu menatap dingin.
"Kau berutang tiga tahun penderitaan padaku," kata Ye Yuan datar. "Sekarang, kau punya sisa hidupmu untuk membayarnya. Rasakan bagaimana rasanya menjadi sampah yang kau hina setiap hari."
"BERANINYA KAU!!!"
Sebuah auman kemarahan meledak dari tribun. Tetua Li melompat turun, wajahnya bengis seperti setan.
"Kau menghancurkan masa depan putraku! Aku akan mengulitimu hidup-hidup!"
Tetua Li tidak peduli lagi dengan aturan, tidak peduli dengan Peri Mu. Putranya sudah cacat. Harapannya hancur. Dia ingin darah Ye Yuan sekarang juga.
Sebuah telapak tangan raksasa yang terbuat dari Qi Emas murni turun dari langit, menekan Ye Yuan dengan niat membunuh mutlak. Tekanannya sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya.
Ye Yuan tidak bisa bergerak. Tulang kakinya retak karena tekanan itu. Dia menatap telapak tangan raksasa itu dengan mata yang tidak mau menyerah.
Apakah aku akan mati di sini? Setelah menang?
Tidak! Pedangku tidak setuju!
Ye Yuan hendak membakar darah jiwanya untuk melawan, ketika tiba-tiba...
TING!
Sebuah suara dentingan halus terdengar, seperti es yang pecah.
Bunga-bunga es kristal bermunculan di udara, membekukan telapak tangan emas raksasa milik Tetua Li dalam sekejap mata. Serangan mematikan itu hancur menjadi serpihan salju yang tidak berbahaya.
Suhu di alun-alun turun drastis hingga napas para murid mengeluarkan uap putih.
Peri Pedang Mu turun perlahan dari langit, mendarat tepat di depan Ye Yuan. Punggungnya yang ramping menjadi dinding yang tak bisa ditembus oleh amarah Tetua Li.
"Tetua Li," suara Mu Bingyun tenang, tapi setiap orang bisa merasakan bahaya di dalamnya. "Kau melanggar sumpah Turnamen Hidup-Mati. Di atas panggung, nasib ada di tangan langit. Putra Anda kalah. Dia menggunakan pil terlarang dan tetap kalah. Itu adalah aibnya sendiri."
"Minggir, Mu Bingyun!" Tetua Li meraung, air mata kemarahan mengalir di wajahnya. "Dia menghancurkan Dantian Feng'er! Dia iblis! Aku harus membunuhnya demi keadilan sekte!"
"Keadilan?" Mu Bingyun tertawa dingin. "Keadilan macam apa yang membiarkan seorang Tetua menyerang murid luar yang menang secara sah?"
Mu Bingyun mengangkat tangannya. Pedang Bilah Beku-nya melayang keluar, mengarah ke leher Tetua Li.
"Langkah satu inci lagi, dan aku akan menganggapmu sebagai pengkhianat sekte yang menyerang sesama anggota. Aku memiliki wewenang untuk mengeksekusimu di tempat."
Tetua Li membeku. Dia tahu Mu Bingyun tidak menggertak. Wanita ini dikenal dingin dan taat aturan. Melawannya berarti mati konyol.
Tetua Li mengepalkan tangannya hingga berdarah. Dia menatap Ye Yuan dengan tatapan penuh dendam kesumat.
"Baik... Baik!" Tetua Li mengambil tubuh putranya yang pingsan dengan kasar. "Hari ini kau selamat karena rok wanita ini, Ye Yuan. Tapi ingat... Sekte ini luas. Dunia ini luas. Kau tidak akan bisa bersembunyi selamanya."
Dengan satu hentakan, Tetua Li terbang pergi membawa putranya yang cacat, meninggalkan alun-alun dalam keheningan yang mencekam.
Ye Yuan akhirnya merosot jatuh. Kakinya tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya.
Dia menatap punggung Mu Bingyun.
"Kenapa..." suara Ye Yuan lemah.
Mu Bingyun berbalik. Wajah cantiknya yang dingin menatap Ye Yuan. Tidak ada senyum, hanya penilaian yang tajam.
"Kau punya bakat. Dan kau punya nyali," kata Mu Bingyun. "Tapi nyali tanpa kekuatan hanya akan membawamu ke kuburan lebih cepat."
Mu Bingyun melemparkan sebuah token giok berwarna biru ke pangkuan Ye Yuan.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi murid luar. Kau dipromosikan menjadi Murid Pelataran Dalam di Puncak Awan Biru milikku."
Kerumunan tersentak kaget. Puncak Awan Biru?! Itu adalah puncak yang hanya menerima murid perempuan selama lima puluh tahun terakhir! Ye Yuan akan menjadi satu-satunya murid laki-laki di sana?
Mu Bingyun melanjutkan, tidak peduli dengan reaksi orang lain.
"Jangan senang dulu. Puncakku memiliki standar tertinggi. Jika dalam tiga bulan kau tidak bisa menembus Tingkat Sembilan... aku sendiri yang akan menendangmu keluar dari gunung."
Setelah berkata demikian, Mu Bingyun menghilang dalam kilatan cahaya putih.
Ye Yuan menggenggam token giok yang dingin itu. Dia menatap pedang patah di tangannya yang kini kembali tenang, seolah tidur kekenyangan.
Dia menang. Dia selamat. Dan dia baru saja melangkah masuk ke dunia yang jauh lebih besar—dan lebih berbahaya.
Ye Yuan tersenyum tipis sebelum kesadarannya memudar dan dia jatuh pingsan di atas panggung kemenangannya.
[Bersambung ke Bab 8]