Indira berprofesi sebagai pengacara, ia dijuluki pendekar ulung karena selalu memenangkan kasus yang dia tangani. karena kesibukannya dia lupa akan statusnya sebagai kaum jomblo sejati hingga membuat mamanya turun tangan untuk mencarikannya jodoh. hingga akhirnya dia dijodohkan dengan anak temannya yang bernama Gibran (pemilik PT Murni alam) yang berstatus duda anak 3. setelah menikah Indira dihadapkan dengan konflik keluarga hingga akhirnya dia menemukan titik kebahagian nya dengan suaminya Gibran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisy Puppy 1412, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengacara Indira, istri baru papaku
...Selesai mengantar Maurin, Indira menuju kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Di lobby kantor Indira dicegat oleh Tejo Wicaksono, “Indira terimalah cintaku” dia dengan percaya diri berlutut di hadapan Indira dengan membawa buket bunga dan cincin. Indira yang menahan malu bingung harus bagaimana, “ini orang gak malu apa ya mana banyak orang disini”. Maya sekertaris Indira mendekatinya berkata bahwa Tejo sudah menunggunya dari tadi, sudah di usir oleh security juga tidak mempan....
...“Aku gak bisa terima cinta anda pak Tejo, saya dan anda hanya sebatas klien dan pengacara”...
...“Tapi kenapa? Apa kurang nya aku?”...
...Indira yang bingung menjawabnya hanya terdiam sambil menutup muka dengan tangannya karena malu....
...“Kurangnya anda telat” tiba-tiba Gibran datang dibelakang Indira, Indira yang terkejut menoleh kebelakang dan benar saja suaminya ada di kantornya....
...Gibran dengan percaya diri merangkul Indira, memegang pinggang ramping indira “kok kamu datang” bisik Indira....
...“Berani sekali kamu meluk-meluk Bu Indira” Tejo berdiri memarahi Gibran....
...“Kenapa gak? Jangankan peluk aku cium aja itu saya punya hak” sanggah Gibran dengan santai....
...“Kamu…..” Tejo menunjuk muka Gibran....
...“Heeee udah udah, pak Tejo lebih baik anda sekarang pergi jangan buat keributan disini” Indira mencoba melerai....
...“Gak bisa pokoknya hari ini saya mau cinta saya diterima kalau gak saya gak akan pergi”...
...“Maksa banget” ucap Indira dalam hati....
...“Jangan berharap karena anda gak akan dapat cintanya istri saya” tegas Gibran dengan gayanya (tangan kiri merangkul Indira tangan kanan nya masuk ke saku celana)....
...“Haaa istri?” Tejo dengan ekspresi terkejut nya....
...“Iya pak Tejo, Bu Indira sudah punya suami sudah menikah” sahut Maya berbicara....
...Tejo yang hilang arah duduk selonjor menangis manja tanpa mengeluarkan air mata seperti anak kecil yang sedang merajuk “gak mungkin, gak mungkin… gantengan juga aku masak aku kalah sama dia. Indira oh Indira”....
...Maya menyenggol lengan security untuk mengurusi Tejo sedangkan Indira dan Gibran pergi ke ruang kerja....
...Di Ruang kerja Gibran menutup pintu dan langsung menyahut pinggang Indira untuk duduk di mejanya, mata mereka saling bertatapan dengan sangat dekat “bisa kamu jelaskan”....
...“Apanya?”...
...“Dia” Gibran menyentuh bibir Indira dengan tangannya lembut....
...“Kamu cemburu” Indira tertawa....
...“Menurutmu aja” Gibran membalikkan badan berdiri di dekat jendela kaca. Dari belakang Indira memeluk Gibran “dia itu dulu klien aku, entah setan apa yang merasukinya sampai dia ngebet banget ngejar aku”....
...“Tapi aku selalu tolak kok”....
...Indira berjinjit mencium bibir Gibran pelan....
...Gibran terkejut apa yang dilakukan istrinya, saat Indira berpaling Gibran langsung memeluk Indira dan mencium bibirnya berulang kali hingga lipstik yang berada di bibirnya belepotan tak karuan....
...Di kantor Radit menelpon seseorang, “saya transfer 100 juta, saya minta kamu pergi dari kota ini sejauh mungkin dan jangan sampai ada orang tahu keberadaan kamu sekalipun keluargamu sendiri”, dengan perasaan marah Radit membanting ponselnya....
...“Kerja gak becus”....
...Radit membuka laci meja lalu melihat selembar foto yang sedikit usang, “seharusnya kamu jadi milik aku bukan dia”....
...Istri Radit (Sinta) tiba-tiba datang membawa bekal untuk Radit namun sayang suasana Radit yang sedang kacau membuatnya khilaf mata, Radit menampar istrinya “bisa gak kamu gak usah kesini, bikin orang gak mood aja” teriak Radit....
...“Apa salah aku sih mas? Kamu sampai nampar aku kayak gini”...
...“Salah kamu adalah kamu jadi istriku, pergi” teriak Radit kembali hingga dia menarik tangan istrinya mendorongnya keluar ruangan kerjanya....
...Sinta berlari ke arah toilet, matanya sembab karena air mata terus keluar. Tangannya memegang pipinya yang ditampar oleh Radit, Sinta dengan pelan membuka ponselnya dia mengetik nomor yang tertera di kartu nama “hallo”....
...Sinta menelpon Indira ingin mengajaknya ketemu, Sinta berkonsultasi dengan temannya mengenai pengacara yang bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya....