NovelToon NovelToon
DARI LAWAN HATI MENJADI CINTA SEJATI

DARI LAWAN HATI MENJADI CINTA SEJATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.

Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.

Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menembus Batas Rasa Sakit

Lantai semen lapangan final itu terasa membara, memantulkan sisa panas matahari sore yang kian meredup. Ribuan pasang mata kini tertuju pada satu sosok: Kenzo Dirgantara, yang berjalan tertatih namun tetap tegak, seolah-olah rasa sakit di lutut kirinya hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.

Reina berdiri di garis tepi, jemarinya terkunci rapat satu sama lain hingga memutih. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu lebih kencang daripada riuh rendah penonton di tribun.

Pertandingan Final – Pukul 16.30 WIB

Lawan mereka di final adalah "The Titans", tim bentukan mahasiswa fakultas olahraga yang terkenal dengan pertahanan sekuat tembok. Sejak peluit pertama dibunyikan, Kenzo menjadi sasaran empuk. Ia dijepit oleh dua pemain besar, dipaksa melakukan manuver yang menyiksa sendi lututnya.

"Ken! Oper ke sini!" teriak rekannya, Bimo.

Kenzo mencoba melakukan pivot, namun rasa nyeri yang menusuk membuat keseimbangannya goyah. Bola hampir lepas, tapi dengan refleks yang luar biasa, ia kembali mendekap bola itu erat-hare. Keringat bercampur darah dari luka di lututnya mulai merembes keluar dari balik perban putih yang dililitkan Reina.

Aris berdiri di barisan paling depan penonton, melipat tangan di dada dengan raut wajah yang sulit dibaca. Ia melihat bagaimana Reina terus meneriakkan instruksi, bagaimana gadis kaku itu kini berteriak lantang memberikan semangat, seolah seluruh jiwanya ada di lapangan bersama Kenzo.

Detik-Detik Penentuan – Skor 20-20

Turnamen 3-on-3 berakhir di angka 21. Siapa pun yang mencetak angka terakhir, dialah pemenangnya. Suasana mendadak hening. Kenzo memegang bola di luar garis three-point. Ia menatap ring, lalu melirik ke arah Reina.

Reina membeku. Ia melihat Kenzo memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam seolah mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang ia miliki.

"JANGAN LOMPAT, KEN! JANGAN PAKSA!" teriak Reina, menyadari Kenzo hendak melakukan tembakan jarak jauh yang membutuhkan tolakan kaki yang sangat kuat.

Namun, Kenzo sudah membulatkan tekad. Ia menekuk lututnya yang bengkak, menahan teriakan kesakitan di tenggorokannya, dan melompat setinggi yang ia bisa. Di udara, waktu seolah melambat. Kenzo melepaskan bola dengan putaran yang sempurna tepat saat bek lawan menghantam tubuhnya hingga ia terjatuh keras ke aspal.

SWISH!

Bola masuk dengan mulus tanpa menyentuh bibir ring. Lapangan pecah dalam sorakan histeris. Tim Lawan Hati Menang!

Kemenangan yang Berdarah

Kenzo tidak bangun. Ia terkapar di atas semen, memegangi lututnya dengan napas yang terputus-putus. Reina berlari secepat kilat, menerjang kerumunan, dan langsung bersimpuh di samping Kenzo.

"Ken! Ken, bangun! Kita menang! Kita menang!" Reina menangis sesenggukan, memeluk kepala Kenzo dan meletakkannya di pangkuannya.

Kenzo membuka matanya perlahan, tersenyum miring meski wajahnya pucat pasi. "Sepuluh juta... buat panggungmu, Rein. Jangan nangis... jelek."

Aris melangkah mendekat, hendak mengatakan sesuatu, namun langkahnya terhenti saat melihat Reina mencium kening Kenzo di depan semua orang—sebuah pengakuan tanpa kata yang meruntuhkan segala martabat Aris sebagai "calon ideal". Aris berbalik, meninggalkan stadion dengan tangan terkepal di saku jasnya. Dia kalah, bukan oleh skor, tapi oleh ketulusan yang tidak bisa ia beli.

UKS Sekolah – Dua Jam Kemudian

Setelah melalui pemeriksaan medis darurat, Kenzo dibawa kembali ke sekolah (karena ia menolak dibawa ke rumah sakit ayahnya). Ia berbaring di UKS dengan kaki yang digips sementara.

Reina duduk di sampingnya, memegang cek kemenangan senilai sepuluh juta rupiah. Namun, matanya tidak melihat uang itu. Ia menatap Kenzo yang tertidur karena pengaruh obat pereda nyeri.

Tiba-tiba, pintu UKS terbuka. Pak Bramantyo, ayah Kenzo, berdiri di sana. Wajahnya yang kaku tampak goyah melihat kondisi putranya.

"Apa yang dilakukan anak bodoh ini?" tanya Bramantyo dingin, namun ada nada getar di suaranya.

Reina berdiri, menatap pria berkuasa itu tanpa rasa takut. "Dia memenangkan harga dirinya, Pak. Sesuatu yang Bapak tidak pernah ajarkan di ruang rapat Bapak."

Reina menyerahkan cek sepuluh juta itu ke hadapan Pak Bramantyo. "Ini hasil keringat Kenzo. Dia melakukan ini semua agar saya tidak perlu memohon pada orang lain. Jika Bapak ingin menghukumnya lagi, hukumlah saya juga. Karena mulai hari ini, saya tidak akan membiarkan dia berjuang sendirian."

Pak Bramantyo terdiam, menatap putranya yang terlelap, lalu menatap Reina. Untuk pertama kalinya, sang penguasa logistik itu tidak punya kata-kata untuk membantah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!