NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Lorong rumah sakit malam itu terasa lebih lengang dari biasanya. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya dingin yang membuat suasana terasa sunyi dan sedikit menegangkan. Bau antiseptik bercampur dengan aroma obat-obatan memenuhi udara, seolah mengingatkan semua orang bahwa tempat ini adalah garis tipis antara hidup dan mati.

Di ruang perawatan sementara, pria asing yang tadi dibawa Evelyn masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Dadanya bergerak naik turun perlahan, napasnya stabil berkat tindakan cepat yang dilakukan Evelyn beberapa waktu lalu. Luka tusuk di bagian perutnya sudah dibersihkan dan dijahit, sementara selang infus menggantung di sisi ranjang, menyalurkan cairan untuk menggantikan darah yang hilang.

Evelyn berdiri di samping tempat tidur itu dengan tangan bersedekap. Matanya menatap pria tersebut dengan ekspresi berpikir.

Tiba-tiba salah satu perawat yang sejak tadi membantu prosedur medis mendekat.

“Dok, kita butuh data pasien,” ucap perawat itu dengan nada hati-hati.

Perawat lain yang berdiri di belakangnya ikut mengangguk. Prosedur rumah sakit memang jelas, setiap pasien harus memiliki identitas yang tercatat. Tidak peduli dia datang sendiri, diantar keluarga, atau bahkan seperti pria ini yang muncul secara misterius.

Evelyn menghela napas pelan.

“Iya juga…” gumamnya.

Tangannya terangkat menggaruk bagian belakang kepalanya, ekspresinya terlihat bingung.

“Coba kalian cari dompetnya di saku celananya ada atau tidak. Soalnya saya tidak tahu siapa namanya,” ucap Evelyn akhirnya.

Perawat itu mengangguk cepat.

“Baik, dok.”

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ranjang tempat pria itu terbaring. Evelyn ikut berdiri di sisi ranjang sambil memperhatikan. Ia sebenarnya merasa sedikit tidak enak hati karena harus menggeledah barang pribadi seseorang tanpa izin, tapi situasinya tidak memberi banyak pilihan.

Perawat pertama dengan hati-hati meraba saku jas hitam pria itu.

“Tidak ada apa-apa di sini, dok,” katanya.

Perawat lain kemudian mencoba memeriksa saku celana panjang yang dikenakan pria tersebut.

Beberapa detik berlalu.

Tiba-tiba wajah perawat itu berubah sedikit cerah.

“Ketemu dok,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam yang terlihat cukup mahal.

Tidak hanya itu, sebuah ponsel juga ikut keluar dari saku jasnya yang tergeletak.

Perawat itu menyerahkan keduanya pada Evelyn.

Evelyn menerima dompet tersebut, memutar-mutarnya sebentar di tangannya. Dompet itu terlihat elegan dan sederhana, namun jelas bukan barang murah.

“Coba buka,” kata Evelyn.

Perawat di sampingnya langsung membuka dompet itu.

Di dalamnya terdapat beberapa kartu, uang tunai dalam jumlah tidak terlalu banyak, serta sebuah kartu identitas.

Perawat itu mengambil kartu tersebut dan membacanya keras-keras.

“Enzo Belucci.”

Suasana ruangan mendadak hening beberapa detik.

Evelyn mengerutkan dahinya. “Nama yang aneh,” gumamnya pelan.

Nama itu terdengar asing di telinganya. Tidak seperti nama orang Indonesia pada umumnya. Bahkan terdengar seperti nama orang Eropa.

“Sepertinya orang luar negeri ya dok?” kata salah satu perawat sambil ikut mengintip kartu identitas itu.

Evelyn mengangkat bahu. “Mungkin.”

Ia kemudian mengambil kartu itu dari tangan perawat dan memperhatikannya lebih dekat.

Foto pria itu jelas sama dengan orang yang sedang terbaring di ranjang. Garis wajah tegas, rahang kuat, dan tatapan tajam bahkan dari foto kecil sekalipun.

“Masukkan saja datanya ke sistem,” kata Evelyn akhirnya.

“Baik dok.”

Perawat itu segera mencatatnya.

Evelyn lalu melirik ponsel yang tadi ditemukan bersama dompetnya.

“Ponselnya nyala?” tanyanya.

Perawat itu mencoba menekan tombol di sisi ponsel.

Layar menyala.

Namun beberapa detik kemudian mereka sama-sama menghela napas.

“Terkunci dok,” jawab perawat itu.

Evelyn mengangguk kecil.

“Ya sudah. Simpan saja dulu.”

Ia tidak berniat mengutak-atik lebih jauh. Lagipula, pria itu sudah berada dalam kondisi stabil sekarang. Yang terpenting adalah dia selamat.

Evelyn kembali menatap wajah pria tersebut. Sekarang, setelah semuanya sedikit lebih tenang, ia baru menyadari satu hal. Pria ini benar-benar orang asing baginya.

Tiba-tiba saja masuk ke mobilnya, memintanya pergi ke rumah sakit, lalu pingsan dengan luka tusuk yang cukup parah.

Pikiran Evelyn dipenuhi banyak pertanyaan. Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia bisa terluka seperti itu? Dan yang paling penting…Apa dia sedang dikejar seseorang?

“Dok?” panggil salah satu perawat.

Evelyn tersadar dari lamunannya.

“Iya?”

“Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat sementara.”

Evelyn mengangguk.

“Lakukan saja. Tapi awasi kondisinya dengan ketat malam ini. Dia baru saja kehilangan cukup banyak darah.”

“Baik dok.”

Beberapa saat kemudian, para perawat mendorong ranjang pasien keluar dari ruangan menuju kamar perawatan yang lebih tenang.

Evelyn berdiri di lorong sambil memperhatikan mereka pergi.

Jam di tangannya menunjukkan hampir pukul satu dini hari.

Ia sebenarnya sudah sangat lelah. Seharusnya sejak tadi ia sudah berada di rumah, mandi air hangat, lalu tidur dengan nyaman di kasurnya.

Namun entah kenapa…

Langkah kakinya justru bergerak kembali menuju ruang perawatan tempat pria itu dipindahkan.

Beberapa menit kemudian Evelyn berdiri di depan pintu kamar pasien.

Ceklek....

Ia membuka pintu perlahan.

Ruangan itu tenang. Enzo masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang.

Evelyn berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. Matanya memperhatikan layar monitor. Detak jantung stabil. Tekanan darah mulai membaik. Kondisinya cukup aman.

Evelyn menghela napas lega. “Syukurlah…” gumamnya pelan.

Ia kemudian melirik jam tangannya lagi. Evelyn mengusap wajahnya yang mulai terasa lelah.

Ia sempat berpikir untuk pulang. Namun bayangan pria ini yang tiba-tiba masuk ke mobilnya kembali muncul di pikirannya.

Kalau sampai terjadi sesuatu malam ini… Evelyn pasti tidak akan bisa tidur dengan tenang di rumah.

Akhirnya ia menghela napas panjang.

“Sepertinya aku harus menginap di sini malam ini,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Ia keluar dari ruangan itu sebentar menuju ruang dokter. Di sana ia mengambil jas putihnya yang tadi dilepas, lalu menaruh tasnya di atas meja.

Evelyn kemudian menuliskan catatan medis tambahan untuk pasien bernama Enzo Belucci.

Setelah semuanya selesai, ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.

“Tidak jadi pulang,” katanya pelan sambil tersenyum tipis pada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian Evelyn kembali ke kamar pasien. Ia menarik kursi di dekat ranjang, lalu duduk di sana.

Lampu kamar diredupkan sedikit agar suasana lebih nyaman.

Evelyn menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya masih sesekali melirik layar monitor yang menampilkan detak jantung pria itu.

Perlahan rasa lelah mulai mengambil alih tubuhnya.

Tanpa sadar kelopak matanya mulai berat.

Di tengah suara mesin monitor yang berdetak stabil…

Evelyn akhirnya memejamkan mata.

Malam itu, dokter muda tersebut memutuskan tidur di rumah sakit—menjaga seorang pria asing bernama Enzo Belucci yang bahkan belum sempat membuka matanya.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!