Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Tembok Tinggi di Kelas Sebelas
Pagi berikutnya, suasana di depan gerbang SMA Garuda Kencana terasa berbeda. Rio datang bersama motor besarnya, namun kali ini ia tidak langsung memarkirkan kendaraannya di tempat biasa. Matanya mencari sosok gadis kecil yang biasanya berangkat menggunakan angkutan umum. Saat ia melihat Sarah turun dari ojek di kejauhan, Rio sempat ragu untuk mendekat. Namun, bayangan Karline yang memarahinya habis-habisan di rumah kemarin sore terus membayangi pikirannya.
Saat Sarah berjalan melewati parkiran dengan wajah yang masih sedikit pucat sisa demam kemarin, Rio mencoba memanggilnya.
"Sar," panggil Rio pelan.
Sarah tersentak. Ia menoleh dengan tatapan takut, seolah-olah ia sedang menunggu kakaknya akan membentaknya karena insiden Karline menjenguk ke rumah. "I..iya, Rio?"
Rio berdehem, mencoba menetralkan kegugupannya di depan teman-temannya yang mulai memperhatikan. "Nanti... kalau mau pulang, bareng gue aja."
Sarah tertegun. Bukannya senang, ia justru merasa bingung dan curiga. Namun, belum sempat Sarah menjawab, Karline sudah muncul dari balik mobilnya yang baru saja terparkir. Ia melangkah dengan anggun, mengenakan kacamata hitam yang membuatnya tampak sangat berkelas.
"Tidak usah berpura-pura, Rio," ucap Karline ketus saat ia berdiri di samping Sarah. "Jangan mendadak peduli padanya di sekolah hanya karena kamu malu dilihat orang lain. Jika di rumah saja kamu tidak memedulikannya saat dia menggigil kedinginan, tidak perlu berakting jadi abang yang baik di sini. Itu terlihat sangat palsu."
Rio terdiam membisu. Ia ingin membela diri, tapi lidahnya kelu. Karline benar-benar tahu titik terlemahnya sekarang. Tanpa memedulikan Rio lagi, Karline merangkul bahu Sarah dan membawanya masuk ke dalam gedung sekolah.
"Ayo, Sar. Jangan biarkan orang asing mengganggu pagi kita," sindir Karline telak.
Di jam istirahat pertama, Dean tampak tidak tenang di ruang OSIS yang kini sudah bukan lagi kekuasaannya. Ia berkali-kali membuka dan menutup ponselnya. Ia ingin menghubungi Karline, tapi ia sadar ia bahkan tidak memiliki nomor telepon gadis itu. Satu-satunya cara adalah mencarinya melalui jalur internal.
Dean melangkah menuju kelas XI-IPA 2. Saat ia sampai di depan pintu kelas, langkahnya terhenti. Seluruh siswa yang tadinya sedang asyik mengobrol langsung terdiam. Mereka menatap Dean dengan tatapan bermusuhan yang sangat nyata. Jika di kelas lain Dean dipuja-puja sebagai dewa voli, di kelas ini ia tak lebih dari sekadar pengganggu.
"Ada apa lagi, Kak?" tanya Bimo yang sedang duduk di atas meja dekat pintu. Suaranya tidak ramah sedikit pun.
"Gue mau cari Andi," jawab Dean sesingkat mungkin.
Andi, sang ketua kelas, yang sedang mencatat sesuatu di papan tulis, menoleh perlahan. Ia meletakkan spidolnya dan berjalan mendekati Dean dengan wajah datar. "Ada perlu apa, Kak Dean?"
Dean berdehem, mencoba menurunkan egonya sedikit. "Gue... gue mau minta nomor telepon Karline. Ada urusan penting soal... lomba Kimia kemarin."
Andi menatap Dean dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyunggingkan senyum sinis yang membuat Dean merasa sangat kecil.
"Itu bukan urusanku, Kak," sahut Andi dingin. "Kami di kelas ini sudah sepakat untuk melindungi privasi Karline, terutama dari orang-orang yang pernah menyakitinya. Kalau Kakak merasa punya urusan penting, minta saja langsung padanya. Itu kalau Kakak punya keberanian untuk bicara di depan wajahnya."
Dean gelagapan. Ia merasa seolah-olah sedang berdiri di depan tembok tinggi yang tidak bisa dipanjat. "Gue cuma butuh nomornya, Andi. Gue nggak bakal macam-macam."
"Maaf, Kak. Jawabanku tetap tidak," Andi menegaskan posisinya. "Satu hal yang perlu Kakak tahu; di sekolah ini mungkin ribuan orang memuji Kakak, tapi bagi satu kelas ini, Kakak hanyalah pria yang tidak punya hati nurani. Kami lebih menghargai Karline daripada reputasi Kakak."
Beberapa siswa di dalam kelas mulai bersorak pelan, mendukung ucapan ketua kelas mereka. Dean merasakan telinganya memanas. Ia tidak pernah merasa sehina ini sebelumnya. Ia melihat ke arah meja Karline di pojok belakang. Gadis itu sedang asyik tertawa dengan Sarah dan Widia, sama sekali tidak menoleh ke arah pintu seolah kehadiran Dean hanyalah debu yang tidak terlihat.
Dean akhirnya memutar tubuhnya dan pergi dari sana dengan langkah cepat. Raka dan Rio yang menunggunya di koridor langsung mendekat.
"Gimana? Dapet?" tanya Raka penasaran.
Dean menggeleng gusar. "Kelas itu gila. Mereka semua kayak pengawal pribadinya Karline. Andi bahkan berani nolak permintaan gue mentah-mentah."
Rio menunduk. Ia bisa merasakan atmosfer yang sama. Sejak Karline melabraknya kemarin, ia merasa status "keren" yang ia miliki perlahan runtuh. Ia merasa tidak lagi punya hak untuk sombong.
"Gue rasa Karline bener, Dean," ucap Rio tiba-tiba, suaranya terdengar sangat parau. "Kita emang bajingan. Gue liat Sarah tadi... dia beneran takut sama gue. Bukan hormat, tapi takut. Dan itu sakit banget rasanya."
Dean tidak menjawab. Ia menatap ke arah lapangan sekolah yang luas. Ia baru sadar bahwa kekuasaan dan popularitas ternyata sangat rapuh di hadapan kejujuran dan keberanian seorang gadis seperti Karline. Di saat semua orang memujinya, penolakan dari satu kelas kecil itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kekalahan di pertandingan mana pun.
Karline telah berhasil melakukan sesuatu yang lebih hebat daripada sekadar membalas dendam; ia berhasil membangun sebuah benteng kesetiaan yang tak tergoyahkan, sementara Dean hanya memiliki sisa-sisa kesombongan yang mulai retak.