NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Germany

“Permisi pak, minuman apa yang anda inginkan?”. Tawar seorang pramugari cantik, aku hanya menggeleng tanpa menatapnya, jujur aku tidak ada nafsu untuk makan apapun, lima jam perjalanan cukup lama, tubuhku sudah ngilu, keringat bercucuran sudah sejak di mansion keluarga Bumantara. Lelah, yang lebih menyebalkan adalah aku belum mandi sejak pagi tadi, memakai parfum saja tidak.

“Hoah!”. Aku menguap sembari meregangkan otot agar lebih rileks, mata ini rasanya ingin tertutup, tapi tahan dulu aku harus terjaga mengingat hanya aku harapan keluarga. Aku mencari cara untuk menghilangkan ngantuk, kulihat siapa yang duduk di sampingku tepatnya di samping jendela pesawat, saat kutoleh aku terbelalak. Pakah dewi fortuna berpihak kepadaku?.

“Hai”. Kusapa penumpang itu yang ternyata gadis yang selama ini kupikirkan, namun aku tak mengetahui siapa namanya.

“Kau lagi”. Dia terkejut bertemu dengan pria yang pernah menanyakan nama di koridor kampus, itulah aku. Aku menggidikkan bahu membalas keterkejutannya, tapi ini kesempata untukku bertanya lagi siapa namanya.

“Belum kau jawab pertanyaanku waktu itu”. Ucapku yang hanya dilirik sekilas olehnya, cukup lama aku menunggu jawaban dengan menatapnya terus.

“Apa gunanya namaku?, dan jangan menatapku seperti itu”. Pertanyaannya mengandung sarkasme.

“Mungkin kamu akan ada urusan denganku”. Timpalku seadanya.

“Elisia”. Jawaban singkat yang mampu membuatku tersenyum secara paksa sekaligus geram.

“Ujungnya kamu berurusan denganku”. Sahutku, dia menatapku dengan mengangkat sebelah alisnya. “Apa?”.

“Aku Kaisar Pradipta Bumantara, ketua Invesment Club”. Dia termangu menatapku dalam-dalam. Sialnya, aku tidak kuat dengan tatapan itu, aih dia sedikit membuatku gugup.

“Jadi kau, aih dasar sialan”. Ia membanting punggungnya pasrah pada kursi, ia tidak berkenan untuk berbicara denganku lagi. Aku menahan senyum sedikit usai mengetahui nama gadis di acara saat itu.

***

Ricuh di pesawat membuatku terbangundari tidur, aku melihat ke arah Elisia, dia juga masih tertidur. Aku menatap ke sekililing dalam pesawat, semua penumpang disana tampak panik, sebenarnya ada apa ketika aku tertidur.

‘BRAKK!’

Sudah kuduga akan terjadi seperti ini, aku beranjak dari kursiku dan mengamati kembali setiap penumpang yang ada disana, tidak ada yang mencurigakan sama sekali diantara sekian banyaknya penumpang, namun ada seorang pria paruh baya terus menatapku atau memang hanya perasaanku saja.Tatkala aku lengah dan kurang terjaga, sebilah pisau melayang ke arahku. Sial, aku belum ada persiapan, dan aku hanya menghindar dari serangan itu. Oh, ternyata pria paruh baya itu pelakunya, dia berlari ke arahku, gila ini jelas sekali pembajakan pesawat, banyak serangan namun hanya kuhindari sampai tangan pria tua itu kuraih. Kemudian aku mengeluarkan pistolku dari saku celana. Tatkal pesawat mengalami turbulensi, ini kesempatan untukku kutarik pelatuk dan menembak tepat di jantungnya, pria paruh baya itu ambruk dengan pistol yang sengaja ku genggamkan di tangannya.

“Help me”. Aku berpura-pura tersakiti.

“Oh sir, anda tidak apa-apa kan”. Ucap seorang pramugari sembari menuntunku menuju kursi penumpangku. Setidaknya mereka mengira aku melawan pria tadi dengan tangan kosong.

“Ada apa?”. Tanya Elisia ketika mendapati aku dituntun oleh pramugari.

“Ada kamu”. Jawabku asal, responnya hanya berdecih sembari memutar bola mata malas. Aku menggigit bibir bawahku, bingung topik apalagi yang kugunakan untuk berbicara lagi dengan Elisia.

“Untuk apa kamu pergi ke Jerman?”. Aku berdoa dalam hati agar ia mau untuk menjawab, dia hanya menatap jengah diriku.

“Nama panjang kamu siapa?, ini untuk validasi data”. Ucapku sembari membuka catatan di ponsel. “CK”.

Sialan, tidak ada jawaban darinya, sampai akhirnya aku pasrah dan menghela nafas gusar.

Beberapa saat kemudian pesawat akan landing sebentar lagi, suara pramugari yang mengintruksi sudah terdengar, aku melirik Elisia yang mulai bersiap untuk turun dari pesawat, beralih menatap diriku yang tak membawa apapun selain ponsel. Kemudian kutatap keluar jendela, pada akhirnya aku bertindak seperti ayahku.

“Untukmu”. Tidak ada petir, badai ataupun hujan tiba-tiba Elisia memberiku sepotong roti bungkus, tentu aku menatapnya heran, tersirat di tatapanku itu penuh tanya.

“Aku tahu kamu belum makan, terima saja”. Aku menerima sepotong roti bungkus itu, namun aku masih termangu melihat kelakuannya yang secara tiba-tiba. Kemudian Elisia melenggang pergi dari sini, aku pun juga beranjak turun dari pesawat.

***

Kubelokkan mobil yang kusewa ini di perpustakaan Staatsbibliothek zu Berlin yang merupakan perpustakaan terbesar di Jerman bagian Berlin, dan Jerman saat ini tengah musim dingin.

‘TING’

Notifikasi datang dari ponselku, saat kulihat ternyata nomor yang tak dikenal.

‘+49...... IN ROOM CHAT

+49... : Kaisar

+49... : I said how cool it is that you came directly to Germany

Aku : who are you?

+49... : I am your uncle, I got your number in Germany from your father's assistant.

Kulihat lagi nomor paman ini diawali empat puluh sembilan, sepertinya dia memang ada di Jerman.

“Dia disini”.

Aku : send the address that takes the thousand dragon sword

+49... :

Tanpa pikir panjang aku langsung menuju Kota Munchen, kulajukan kendaraan di jalanan Kota Berlin, sampai suatu ketika kubelokkan mobil sewa ini di salah satu cafe di Kota Berlin. Mobil terparkir tepat di depan cafe, sebelum aku turun aku menatap sekeliling, sekilas terlintas di benakku, apakah dewi fortuna mau mempertemukanku dengan dia?.

Kurogoh saku celanaku, kuraih ponsel tersebut. Ada tiga panggilan tak terjawab dari papa, tidak, tidak mungkin aku menelfonnya kembali.

‘TING’

Lagi-lagi suara notifikasi pesan dari benda pipih ini, sepertinya aku harus segera menyelesaikan masalah ini.

‘KADEK IN ROOM CHAT’

Kadek : tuan muda segeralah kembali, akhir-akhir ini mansion sedang tidak baik-baik saja.

Aku membaca pesan dari Kadek, sempat berpikir dengan apa yang kulihat di mansion Bumantara.

Aku : Kadek lihatlah cctv ruang tamu mansion Bumantara

Aku : seingatku di meja ada permainan sudoku

Lima menit kemudian aku menunggu balasan dari Kadek sampai ia mengirim link kepadaku.

Kadek : https://www.vivint.com/display/other/security.

Kadek : rekaman sudah dihapus dan link itu adalah cctv hari ini di mansion Bumantara

Aku : aku meminta kepadamu cctv saat itu, bukan hari ini

Kadek : permainan sudoku yang tuan muda maksud masih tergeletak disana

Aku : apa mungkin tidak bisa diretas?

Kadek : sedang dalam proses karena cctv ini tersambung ke perangkat asing

Sudahlah bicara dengan Kadek itu sama seperti bicara dengan papa, tak ada ujungnya. Kulihat rekaman cctv tersebut, aku berpikir keras apa maksud dari sudoku ini. Usai berpikir lama aku mengurungkan niat untuk ke cafe Kota Berlin itu, kulajukan kembali mobil ini. Dan sepertinya aku mengetahui sesuatu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!