NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 8

Mira tidak menuju lift eksekutif. Ia memilih tangga darurat, butuh ruang untuk bernapas setelah tekanan atmosfer di dalam ruangan tadi hampir membuatnya meledak. Di dalam keheningan tangga beton itu, ia menyandarkan punggungnya ke dinding, memejamkan mata, dan merasakan getaran di tangannya yang baru sekarang berani muncul.

Ia telah menang, tapi ia tahu kemenangan melawan pria seperti Romano Kusuma selalu datang dengan label harga yang tersembunyi.

Saat Mira sampai di lobi utama, ia melihat mobil SUV hitam Romano sudah terparkir tepat di depan pintu masuk. Sang pemilik bersandar di kap mesin, mengabaikan tatapan segan para karyawan yang berlalu-lalang. Romano menunggunya.

"Aku tidak butuh tumpangan," ucap Mira sebelum Romano sempat membuka mulut.

"Aku tidak menawarkan tumpangan. Aku menawarkan perayaan," Romano melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadi Mira dengan aroma maskulinnya yang dominan. Ia menyodorkan sebuah kunci perak dengan gantungan berbentuk emblem Nusantara Group. "Ini kunci kantor barumu di lantai 40. Kau tidak bisa memimpin proyek sebesar Berdikari dari teras rumah yang bocor, Mira."

Mira menatap kunci itu tanpa menyentuhnya. "Aku akan tetap di Sektor Tujuh. Jika aku pindah ke menara ini, warga akan melihatku sebagai pengkhianat lain yang berhasil disuap. Aku akan membangun kantor di sana, di tengah-tengah mereka."

Romano terdiam, tatapannya menajam, menelusuri wajah Mira seolah sedang mencari retakan di sana. "Kau benar-benar ingin bermain peran sebagai pahlawan rakyat sampai akhir?"

"Ini bukan peran, Romano. Ini strategi," balas Mira tenang. "Jika aku tetap di sana, aku punya kontrol penuh atas massa. Jika aku di sini, aku hanya akan menjadi salah satu bidakmu yang bisa kau awasi setiap saat."

Romano tertawa kecil, suara yang terdengar hampir seperti geraman kagum. "Liar. Aku suka bagaimana otakmu bekerja sekarang. Tapi ingat, Mira, musuhmu bukan hanya Arkan yang sudah melarikan diri atau direksi yang kolot. Musuh terbesarmu adalah ekspektasi. Begitu kau gagal memenuhi satu saja janji pada warga itu, mereka akan mencabikmu lebih cepat daripada aku."

"Aku tahu," Mira mengambil kunci itu dari tangan Romano, jemarinya bersentuhan dengan kulit pria itu—sebuah sengatan yang berusaha ia abaikan. "Dan saat itu terjadi, pastikan kau menonton dari barisan paling depan."

Mira berbalik, berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil patroli polisi berhenti di depan lobi. Dua petugas turun, diikuti oleh seseorang yang sangat Mira kenal: Arkan.

Wajah Arkan tampak kacau, matanya merah, namun ia membawa sebuah map biru. "Mira! Tunggu!" teriaknya. "Romano menjebakku! Dia yang memanipulasi foto itu! Dia sengaja membuatku terlihat seperti pengkhianat agar kau tidak punya pilihan selain lari padanya!"

Mira membeku. Ia melirik ke arah Romano yang masih berdiri tenang dengan ekspresi tak terbaca.

"Petugas," Arkan terengah-engah, menunjuk ke arah Romano. "Pria ini melakukan penyuapan terhadap pejabat dinas pertanahan dua tahun lalu untuk mengamankan Sektor Tujuh. Saya punya dokumen aslinya di sini. Jika proyek ini berjalan, seluruh aset Nusantara Group akan dibekukan karena cacat hukum!"

Suasana lobi yang tadinya tenang mendadak mencekam. Para petugas polisi memandang Romano, lalu ke arah Arkan.

Mira merasakan dunianya kembali berguncang. Jika apa yang dikatakan Arkan benar, maka kemenangannya di ruang rapat tadi adalah sebuah bom waktu. Tanah yang diberikan Romano padanya bukan mahar, melainkan racun yang akan menghancurkannya bersama warga Sektor Tujuh.

Romano hanya tersenyum tipis, tangannya masuk ke saku celana. "Arkan, Arkan... kau selalu terlambat satu langkah. Mira, kau ingin tahu siapa yang sebenarnya menandatangani dokumen penyuapan itu atas namaku?"

Mira menelan ludah, firasat buruk menjalar di tengkuknya.

"Periksa lampiran terakhir di map emasmu, Mira," bisik Romano tanpa mengalihkan pandangan dari Arkan yang mulai gemetar. "Nama siapa yang tertera di sana sebagai konsultan hukum yang melegalkan transaksi itu?"

Mira dengan cepat membuka map emasnya, mencari lembar yang ia lewatkan selama ini. Di sana, di atas materai lama, tertera tanda tangan yang sangat ia kenali. Tanda tangan Arkan.

"Kau..." Mira menatap Arkan dengan rasa jijik yang luar biasa. "Kau yang melakukannya, lalu kau menggunakan isu ini untuk memeras Romano?"

Arkan kehilangan kata-kata. Polisi segera memegang lengannya. "Saudara Arkan, Anda ditahan atas dugaan pemerasan dan keterlibatan dalam kasus penyuapan yang Anda laporkan sendiri."

Saat Arkan diseret pergi, Romano mendekati Mira yang masih terpaku. "Sudah kubilang, Sayang. Hanya aku yang bisa mengimbangi liarnya ambisimu. Di dunia ini, tidak ada tangan yang benar-benar bersih. Yang ada hanyalah tangan yang cukup kuat untuk memegang kendali."

Mira menutup map emasnya dengan keras. Ia menatap Romano dengan api yang lebih besar dari sebelumnya. "Tanganmu mungkin kuat, Romano. Tapi tanganku adalah yang akan memutus rantai ini. Aku akan membersihkan nama Sektor Tujuh, dengan atau tanpamu."

Mira melangkah pergi meninggalkan lobi, mengabaikan panggilan Romano. Ia tidak pulang ke rumah. Ia menuju kantor polisi—bukan untuk membela Arkan, tapi untuk memastikan pria itu tidak akan pernah bisa menyentuh Sektor Tujuh lagi.

Mira tidak membuang waktu. Alih-alih tenggelam dalam drama pengkhianatan Arkan, ia langsung menuju kantor Dinas Pertanahan dan ruang arsip hukum Nusantara Group. Ia harus membedah "racun" yang ditinggalkan Romano sebelum bom itu meledak di tengah warga Sektor Tujuh.

Dua hari kemudian, Mira berdiri di sebuah ruangan interogasi yang dingin. Di balik kaca pembatas, Arkan duduk dengan pakaian tahanan, wajahnya yang dulu rapi kini tampak kuyu dan berantakan.

"Kau datang untuk mengejekku?" suara Arkan parau, menggema melalui interkom.

"Aku datang untuk mengambil sisa harga dirimu, Arkan," balas Mira dingin. Ia meletakkan selembar dokumen di atas meja. "Aku sudah tahu skemanya. Kau melegalkan suap itu agar kau punya kartu as untuk memeras Romano di kemudian hari. Tapi kau bodoh. Romano membiarkanmu melakukannya agar dia punya bukti untuk menjebloskanmu jika kau berkhianat."

Arkan tertawa pahit. "Dan kau pikir kau berbeda, Mira? Kau pikir kau tidak sedang digunakan olehnya? Dia memberikan tanah itu padamu karena dia tahu hanya kau yang bisa menenangkan warga. Kau adalah tameng hidupnya."

"Mungkin," Mira memajukan tubuhnya. "Tapi tameng ini punya duri. Aku sudah mengajukan permohonan Self-Disclosure ke KPK dan Dinas Pertanahan atas nama Nusantara Group. Aku melaporkan cacat hukum itu secara sukarela sebelum orang lain melakukannya."

Arkan terbelalak. "Kau gila? Itu akan membekukan proyekmu! Kau akan menghancurkan Sektor Tujuh!"

"Tidak. Aku sudah menegosiasikan denda administratif dan restrukturisasi lahan sebagai bentuk penebusan dosa perusahaan. Nusantara Group akan membayar denda besar, dan sebagai gantinya, status tanah Sektor Tujuh akan dikonversi menjadi 'Lahan Kolektif Terpadu' milik warga sepenuhnya. Romano kehilangan kepemilikan mutlak, dan kau... kau kehilangan kekuatan untuk mengancam kami."

Mira berdiri, memutus sambungan interkom sebelum Arkan sempat memaki. Saat ia keluar dari gedung kepolisian, ia menemukan Romano sudah menunggunya, bersandar di pintu mobilnya dengan tangan bersedekap. Kali ini, tidak ada senyum miring di wajahnya.

"Kau baru saja membuang ratusan miliar untuk denda administratif, Mira. Kau merampok keuntungan perusahaan yang baru saja kau bangun," suara Romano berat, ada amarah yang tertahan di sana.

"Aku tidak membuang uang, Romano. Aku membeli kemerdekaan," Mira berjalan mendekat, menatap pria itu tepat di matanya. "Sekarang, Sektor Tujuh bersih. Tidak ada lagi celah hukum yang bisa kau gunakan untuk menekan mereka, atau menekanku."

Romano melangkah maju, memperpendek jarak hingga Mira bisa merasakan deru napasnya. "Kau menghancurkan rantai yang kugunakan untuk melindungimu. Sekarang, jika direksi marah karena kehilangan profit, aku tidak akan campur tangan saat mereka menyerangmu."

"Aku tidak butuh perlindunganmu dari badai yang kau ciptakan sendiri," balas Mira, tangannya menyentuh dada Romano, bukan untuk mendorong, melainkan untuk menekankan setiap kata. "Kau bilang kau menginginkan api di mataku. Inilah apinya, Romano. Api yang membakar semua permainan kotor yang kau ajarkan."

Romano terdiam lama, menatap Mira dengan intensitas yang hampir menyakitkan. Perlahan, tangannya bergerak naik, bukan ke leher Mira seperti sebelumnya, melainkan menyentuh helai rambut Mira yang tertiup angin.

"Ratu yang berbahaya," gumam Romano, suaranya kini melunak, hampir terdengar seperti bisikan pengakuan. "Kau baru saja memenangkan babak ini, Mira. Tapi ingat, di setiap kerajaan yang berdiri tegak, akan selalu ada raja yang menunggu di bayang-bayang. Aku tidak akan menyerangmu, tapi aku akan menunggu sampai kau menyadari bahwa memimpin sendirian itu jauh lebih dingin daripada yang kau bayangkan."

"Kalau begitu, biarkan aku membeku," Mira melepaskan tangan Romano dari rambutnya dan masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.

Dari balik kaca belakang, ia melihat Romano tetap berdiri di sana, sendirian di bawah lampu jalan yang mulai menyala. Mira tahu perjuangannya baru saja dimulai. Ia harus menghadapi direksi yang murka dan warga yang menanti bukti nyata. Namun saat ia melihat ke arah ponselnya dan melihat pesan dari ayahnya—"Pasar mulai dibangun kembali hari ini"—Mira tahu ia telah mengambil langkah yang benar.

Ia bukan lagi tawanan dalam sangkar emas, dan ia bukan lagi bidak di papan catur orang lain. Ia adalah pemainnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!