sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Mentari Terakhir Sebelum Badai
Mentari sore menggantung rendah di ufuk barat, melukis langit Istana Veynheart dengan sapuan jingga dan emas. Cahaya itu jatuh membias di atas ujung-ujung pedang kayu yang beradu keras di halaman latihan, menciptakan irama yang sudah akrab di telinga para penghuni istana—irama yang menandakan bahwa Pangeran Kedua sedang berlatih.
Namun sore ini, irama itu berbeda.
Buk!
Bokong Aldric Veynheart menghantam tanah keras. Debu beterbangan. Pedang kayunya terpelanting beberapa langkah dari jangkauan, mendarat tepat di genangan air sisa hujan semalam.
"Astaga," desahnya, mengusap dagu yang memar. Rasanya seperti dipukul palu godam.
Di hadapannya, sesosok tubuh mungil tertawa terbahak-bahak. Lyanna Ashford—adik iparnya yang baru lima belas tahun—berdiri dengan pedang kayu masih teracung, wajahnya berseri-seri oleh kemenangan. Rambut merah pendeknya basah oleh keringat, menempel di pelipis, membuatnya tampak seperti baru saja bertempur sungguhan.
"Kakak ipar payah!" Lyanna menyeringai lebar, memperlihatkan gigi kelinci yang menggemaskan. "Katanya pernah latihan sama Sir Kaelan? Kayaknya Sir Kaelan perlu diperiksa matanya. Atau mungkin kau perlu diperiksa otaknya?"
Aldric menggerutu sambil bangkit. "Kau curang. Kau pakai jurus terlarang."
"Jurus terlarang?" Lyanna mengangkat alis. "Menendang kaki lawan sampai jatuh itu bukan jurus terlarang. Itu jurus dasar. Bahkan anak lima tahun tahu itu."
"Lyanna!" Suara tegas memotong dari serambi halaman.
Mereka berdua menoleh.
Elara Ashford—istri Aldric—berdiri dengan tangan bertumpu di pinggang. Rambut merah apinya tergerai indah terkena cahaya sore, membuatnya tampak seperti dewi api dalam dongeng-dongeng kuno. Gaun biru muda yang dikenannya kontras dengan rambutnya yang menyala, dan untuk kesekian kalinya, Aldric merasa tidak percaya wanita secantik ini adalah miliknya.
"Jangan kasar pada suamimu," kata Elara, meskipun sudut bibirnya bergerak—menahan tawa.
Lyanna menjulurkan lidah. "Dia yang tantang aku. Katanya mau buktikan kalau laki-laki lebih kuat."
"Karena kau bilang perempuan tidak bisa main pedang," gerutu Aldric sambil membersihkan debu dari pakaian latihannya—jubah biru tua dengan sulaman singa khas Keluarga Veynheart, kini penuh tanah. "Ternyata... aku yang tidak bisa main pedang."
Elara tidak bisa menahan tawa lagi. Suaranya pecah, ringan seperti lonceng perak, dan Aldric merasa dadanya hangat mendengarnya. Setelah sebulan menikah, ia masih belum terbiasa dengan kebahagiaan ini.
"Ibu mana?" tanya Lyanna, menancapkan pedang kayunya ke tanah. Pedang itu hampir sebesar lengannya, tapi ia mengangkatnya dengan mudah. Gadis itu memang punya bakat alami dalam pertempuran.
"Di kamar Liana." Senyum Elara sirna, tergantikan ekspresi khawatir. "Liana demam lagi. Cukup tinggi. Ibu menjaganya sepanjang siang."
Aldric langsung merasa bersalah. Ia seharusnya bersama adiknya, bukan jatuh-jatuhan di halaman. "Aku harus—"
"Sudah kulihat tadi." Elara melangkah turun dari serambi, mendekatinya. Jemarinya yang lembut mengusap dagu Aldric yang memar. Lembut, penuh perhatian. "Dokter istana sudah datang. Kata Liana hanya kelelahan. Terlalu banyak bermain di taman kemarin."
"Sakit?"
Elara tersenyum—senyum yang membuat dunia terasa lebih terang. "Tidak, selama kau yang mengobati."
Aldric menangkap tangannya, mencium punggung jari itu. Kulitnya halus, wangi bunga ashford—bunga kesukaannya—masih melekat. "Kalau begitu biarkan aku mengobati sepanjang malam."
"Cih!" Lyanna pura-pura mual, memutar bola mata dramatis. "Kalian menjijikkan. Serius, menjijikkan. Aku pergi cari Ibu. Mending lihat Liana sakit daripada lihat kalian bermesraan."
Gadis kecil itu berlari meninggalkan halaman, rambut merah pendeknya berkibar seperti api kecil. Aldric tersenyum melihatnya. Keluarga barunya—Elara, Lyanna, dan mertuanya yang tinggal di istana atas undangan khusus Raja—adalah anugerah yang tak pernah ia duga.
"Aku beruntung," gumamnya.
"Eh?"
"Tidak." Aldric menarik Elara ke dalam pelukan, membenamkan wajah di rambutnya. Aroma melati dan ashford memenuhi indranya. "Aku hanya... beruntung memilikimu."
Elara diam. Untuk sesaat, tubuhnya menegang. Hanya sesaat, lalu lemas lagi. Tapi Aldric, yang sudah sebulan tidur di sampingnya, merasakannya.
"Kau kenapa?"
Elara menarik diri. Terlalu cepat. Tersenyum. Tapi matanya—mata hijau zamrud itu—menghindar. "Tidak apa-apa. Aku hanya... senang."
Aldric ingin bertanya lebih jauh. Ada sesuatu di mata istrinya yang tidak biasa. Tapi sebelum ia sempat bersuara, langkah kaki berat mengganggu mereka.
"Pangeran Aldric."
Sir Kaelan Vorn berdiri beberapa langkah dari mereka. Tubuhnya yang sebesar beruang tampak lebih besar dari biasanya di bawah bayangan serambi. Luka bakar di lehernya—warisan pertarungan dengan naga api dua dekade lalu—tampak merah menyala di bawah sinar matahari sore. Wajahnya datar seperti batu, tidak terbaca.
"Ada apa, Kan?" Aldric melepaskan pelukannya pada Elara, meskipun enggan.
Mata Sir Kaelan bergerak sekilas ke Elara, lalu kembali ke Aldric. "Raja memanggilmu. Segera."
"Ada urusan penting?"
"Beliau tidak menjelaskan." Sir Kaelan berbalik, lalu berhenti. Tanpa menoleh, ia menambahkan, "Datanglah sendiri, Yang Mulia." Lalu ia pergi, langkahnya sunyi meskipun tubuhnya sebesar itu.
Aldric dan Elara bertukar pandang.
"Aneh," gumam Elara. "Sir Kaelan biasanya tidak sesingkat itu."
Aldric mengangguk, merasa ada yang ganjil. Tapi ia mengenyampingkannya. "Aku pergi dulu. Jaga Liana, jaga dirimu."
Elara mengangguk. Tapi saat Aldric berbalik, ia merasakan tangan Elara meraih pergelangannya.
"Aldric."
"Iya?"
Elara menatapnya. Matanya—untuk pertama kalinya hari itu—benar-benar menatapnya. Ada sesuatu di sana. Kerinduan? Ketakutan? Atau... rasa bersalah?
"Aku... aku mencintaimu," katanya.
Aldric tersenyum, mengecup keningnya. "Aku juga mencintaimu. Nanti kita lanjutkan."
Ia pergi, tidak melihat air mata yang menggenang di sudut mata Elara. Tidak melihat bibir Elara yang bergetar, berusaha menahan sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
Ruang kerja Raja terletak di menara tertinggi Istana Veynheart, menjulang di atas seluruh bangunan seperti penjaga yang waspada. Aldric menaiki anak tangga spiral batu, melewati dua lapis penjaga yang memberi hormat, hingga tiba di depan pintu kayu jati berukir singa.
Ia mengetuk dua kali.
"Masuk."
Suara ayahnya terdengar berat, seperti biasa. Tapi ada nada lain di sana. Nada yang tidak bisa Aldric identifikasi.
Raja Aldous Veynheart duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan peta-peta kuno yang bergelantungan di dinding. Di usianya yang empat puluh delapan tahun, rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, tapi matanya—mata cokelat hangat yang diwarisi Liana—masih tajam.
Namun hari ini, mata itu terlihat lelah. Sangat lelah.
"Ayah?" Aldric menutup pintu di belakangnya. "Ada sesuatu?"
Raja Aldous menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk."
Aldric duduk, merasakan keanehan. Biasanya ayahnya langsung bicara. Tapi hari ini, raja itu diam, menatapnya dengan mata yang—entah mengapa—tampak sedih. Sangat sedih.
"Ayah sakit?" Aldric bertanya cepat, jantungnya berdegup kencang. "Ayah—"
"Tidak, Nak." Raja Aldous tersenyum tipis. "Aku sehat. Hanya... ada yang ingin Ayah bicarakan."
"Tentang apa?"
Raja Aldous menghela napas panjang. Tangannya meraih sebuah dokumen di atas meja, membukanya, membaca sebentar, lalu menutupnya lagi tanpa ekspresi. "Tentang keluarga. Tentang istana ini. Tentang masa depan."
Aldric diam, menunggu.
"Ayah punya firasat buruk, Aldric." Suara raja rendah, hampir berbisik. "Akhir-akhir ini, banyak hal aneh terjadi. Paman Edric terlalu sering mengadakan pertemuan rahasia dengan bangsawan-bangsawan utara. Para prajurit dari provinsi timur mulai berkumpul di perbatasan dengan alasan latihan."
"Kau curiga pada Paman?"
"Ayah tidak ingin curiga pada saudara sendiri." Mata Raja Aldous terlihat sakit. Benar-benar sakit. "Dia adikku. Kami tumbuh bersama, bermain bersama, berlatih bersama. Tapi..." Ia menggeleng. "Ayah adalah raja. Tugas Ayah adalah melindungi keluarga ini, apa pun caranya."
Ia bangkit, berjalan ke jendela. Dari ketinggian menara, istana terlihat seperti mainan. Pasukan berlatih di halaman—begitu kecil dari sini. Pelayan berlalu lalang seperti semut. Dan di kejauhan, kota Nivalen tampak damai di bawah cahaya sore, dengan atap-atap merah dan asap dapur yang mengepul tipis.
"Ayah ingin kau janji padaku, Aldric."
Aldric bangkit, berdiri di samping ayahnya. "Apa pun, Ayah."
Raja Aldous berbalik. Matanya—mata yang lembut itu—sekarang tampak tajam. Tajam dan basah.
"Jika sesuatu terjadi padaku, kau harus melindungi ibumu. Melindungi adikmu. Liana masih kecil, ia tidak mengerti apa-apa." Ia berhenti, menelan ludah. "Dan kau harus pergi."
"Pergi?" Aldric mengerutkan kening. "Ke mana?"
"Ke mana pun kau bisa selamat." Raja Aldous menggenggam bahu putranya. Kuat. Hingga Aldric merasa tulangnya bisa remuk. "Jangan jadi pahlawan, Aldric. Jadi orang yang hidup. Orang mati tidak bisa membalas apa pun. Orang mati tidak bisa melindungi siapa pun."
"Ayah—"
"Aku serius." Genggaman raja menguat. "Mahkota ini tidak seharga nyawamu. Istana ini tidak seharga darahmu. Jika kau harus lari, larilah. Jangan malu. Jangan menyesal. Larilah, selamat, dan suatu hari, jika kau sudah kuat, kembalilah. Tapi jangan—" suaranya serak, "—jangan mati sia-sia."
Aldric menatap ayahnya, tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia mengangguk. "Aku janji, Ayah."
Raja Aldous tersenyum. Senyum yang campur aduk—lega, sedih, dan penuh cinta. Lalu ia menarik Aldric ke dalam pelukan. Pelukan hangat yang mengingatkan Aldric pada masa kecil, saat ia jatuh dari kuda dan ayahnya menggendongnya sepanjang jalan pulang.
"Anakku yang baik," bisik Raja Aldous di telinganya. "Ayah bangga padamu."
Mereka diam untuk waktu yang lama, berdua di menara tertinggi, di bawah langit yang perlahan berubah jingga ke ungu.
Aldric tidak tahu, itu adalah pelukan terakhir dari ayahnya.
Malam turun lebih cepat dari biasanya.
Aldric berjalan kembali ke kamarnya, melewati koridor panjang yang diterangi lilin-lilin di dinding. Pikirannya kacau oleh kata-kata ayahnya. Apa yang ayahnya ketahui? Apa yang terjadi di istana yang tidak ia lihat?
Di ujung koridor, di persimpangan menuju sayap barat, dua sosok berdiri di bawah cahaya lilin yang temaram. Aldric secara naluriah melambat. Sesuatu menyuruhnya untuk tidak terlihat.
Ia bersembunyi di balik pilar marmer, mengintip dari baliknya.
Yang satu adalah Paman Edric. Jubah ungunya mudah dikenali, begitu juga senyumnya yang khas.
Yang lain... seorang wanita.
Elara.
Jantung Aldric berhenti.
Mereka berdiri berhadapan, terlalu dekat untuk sekadar percakapan biasa. Paman Edric memegang siku Elara. Terlalu lama. Terlalu akrab. Dan Elara—Elara, istrinya—tidak menarik diri. Ia hanya menunduk, mengangguk-angguk mendengar sesuatu yang dikatakan Paman Edric.
Aldric tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Suara mereka terlalu pelan, hanya bisik-bisik samar. Tapi bahasa tubuhnya... bahasa tubuhnya seperti dua orang yang berbagi rahasia. Rahasia besar.
Lalu Paman Edric membungkuk, mengecup pipi Elara. Ciuman perpisahan yang akrab. Terlalu akrab untuk paman dan keponakan ipar.
Elara berbalik, berjalan cepat meninggalkan Paman Edric. Wajahnya tertunduk, tidak melihat ke kiri atau kanan.
Paman Edric menoleh. Langsung ke arah pilar tempat Aldric bersembunyi.
Mata mereka bertemu.
Paman Edric tersenyum. Senyum yang sama seperti biasa—ramah, hangat, seperti paman yang baik. Tapi kali ini, di balik senyum itu, Aldric melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang... puas.
Paman Edric mengangguk sedikit, lalu berbalik dan pergi ke arah berlawanan, jubah ungunya berkibar di belakangnya.
Aldric berdiri di balik pilar, lama setelah mereka pergi. Dadanya sesak. Napasnya pendek-pendek. Pikirannya kacau balau.
Tidak. Pasti ada penjelasan masuk akal. Mungkin urusan kerajaan. Mungkin Paman Edric menitipkan pesan untuk ayah. Mungkin—
"Kak!"
Suara kecil memotong lamunannya. Suara yang paling ia cintai setelah suara Elara.
Liana.
Adiknya yang berusia enam tahun berlari kecil menghampiri, boneka kelinci lusuh di tangan—pemberian Aldric dua tahun lalu saat ia sakit. Wajahnya masih pucat karena demam, matanya sembab, tapi senyumnya lebar begitu melihat kakaknya.
"Kak! Kata Ibu, Kakak di sini!"
Aldric segera berlutut, membuka tangan. Liana melompat ke pelukannya, tubuh kecilnya hangat meskipun demam.
"Liana? Kau bangun? Harusnya istirahat."
"Aku mimpi buruk." Liana merengek, meraih leher Aldric erat-erat. "Mimpi ada monster. Monster besar. Dia mau makan Liana."
"Itu hanya mimpi, Sayang." Aldric menggendongnya, merasakan hangat tubuh kecil itu. Untuk sesaat, semua kecurigaan, semua kegelisahan tentang Elara dan Paman Edric, sirna. Yang ada hanya adiknya yang perlu dilindungi.
"Temenin Liana, Kak. Sampai Liana tidur."
Aldric tersenyum, mencium puncak kepala adiknya. Wangi lavender dari kamarnya masih melekat. "Iya, Kakak temenin. Sampai Liana tidur nyenyak."
"Janji?"
"Janji."
Liana tersenyum, merebahkan kepala di bahu kakaknya. Matanya mulai terpejam. "Kak, Liana sayang Kakak. Sayang banget."
Aldric mengecup keningnya. "Kakak juga sayang Liana. Selamanya."
Ia membawa adiknya kembali ke kamar, membacakan dongeng tentang ksatria yang membunuh naga—dongeng favorit Liana—sampai adiknya benar-benar terlelap. Boneka kelinci itu ia selipkan di sampingnya.
Aldric duduk di samping tempat tidur Liana untuk waktu yang lama, menatap wajah tenang adiknya. Di sinilah, di kamar yang hangat ini, dunia terasa aman. Terasa baik-baik saja.
Ia tidak tahu, ini adalah dongeng terakhir yang pernah ia bacakan untuk Liana.
Saat Aldric kembali ke kamarnya, Elara sudah di tempat tidur.
Atau pura-pura tidur.
Punggungnya membelakangi pintu, napasnya teratur—terlalu teratur. Selimut sutra merah menutupi tubuhnya, hanya rambut api yang tumpah di bantal.
Aldric berdiri di ambang pintu, lama. Sangat lama.
Ia ingin bertanya. Ingin menghadapkan istrinya. Ingin berteriak, Siapa Paman Edric bagimu? Mengapa kau biarkan dia menyentuhmu? Mengapa kau tidak bilang padaku?
Tapi lidahnya kelu.
Karena di dalam hatinya yang paling dalam, ia takut mendengar jawabannya.
Akhirnya, ia merebahkan diri di sisi lain tempat tidur, membelakangi Elara. Jarak di antara mereka hanya beberapa inci, tapi terasa seperti lautan. Jurang.
"Aldric?" Suara Elara lirih. Tidak tidur.
"Ya."
"... Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa." Aldric menatap dinding. "Capek."
Diam. Lama.
"Aku mencintaimu," bisik Elara. Suaranya bergetar.
Aldric tidak menjawab.
Di luar jendela, bulan bersembunyi di balik awan hitam. Angin malam berhembus dingin, menerbangkan dedaunan kering di halaman. Dan dari kejauhan, samar-samar, terdengar lolongan serigala.
Atau mungkin bukan serigala.
Mungkin itu pertanda.
Di luar tembok istana, ribuan pasukan bergerak sunyi di bawah gelap malam.
Mereka tidak membawa obor, tidak bersuara. Hanya suara samar langkah kaki di tanah becek, dan kilatan logam di bawah cahaya bulan yang sesekali muncul dari balik awan.
Baju besi mereka hitam, tidak memantulkan cahaya. Pedang mereka terhunus, siap menebas. Wajah-wajah di balik helm tidak terbaca—hanya mata-mata yang dingin, fokus pada satu tujuan.
Di barisan terdepan, seekor kuda hitam besar berhenti. Penunggangnya—seorang pria tinggi kurus dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya—menatap ke arah istana yang megah di kejauhan. Cahaya bulan menyorot topeng perak yang menutupi separuh wajahnya.
"Kapan kita mulai?" bisik seorang perwira di sampingnya, suaranya hampir tidak terdengar.
Pria bertopeng itu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—sebuah botol kecil berisi cairan bening. Racun murni. Tidak berbau, tidak berwarna, tidak meninggalkan jejak. Hadiah dari Shadow Council, organisasi rahasia yang selama ini bersembunyi di bayang-bayang takhta.
"Tunggu sampai tengah malam," jawabnya, suaranya serak seperti batu bergesekan. "Saat para penjaga paling lelah. Saat para pangeran paling lelap. Saat Raja—" ia tersenyum di balik topeng, "—sedang menikmati anggur malamnya."
"Dan keluarga kerajaan?"
Pria bertopeng itu memasukkan kembali botol racun ke dalam jubahnya. Matanya berbinar di balik lubang topeng—binar kegilaan, binar ambisi.
"Pangeran pertama biarkan hidup. Untuk sementara. Kita butuh pewaris boneka." Ia menatap istana. "Pangeran kedua? Buang ke Jurang Maut. Biarkan monster di bawah yang memakannya."
"Dan Ratu? Putri kecil?"
Pria itu terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, nada suaranya berubah. Menjadi lebih pelan. Lebih... pribadi.
"Ratu dan putrinya? Jangan sakiti." Ia berhenti. "Aku punya rencana sendiri untuk mereka."
Perwira itu mengangguk, meskipun ada keraguan di matanya. Ia tidak bertanya lebih lanjut.
Pria bertopeng itu menatap istana sekali lagi. Matanya—hanya matanya yang terlihat—menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Kerinduan? Kebencian? Atau keduanya?
"Aldous," bisiknya, suaranya hampir hilang tertiup angin. "Maaf, Saudaraku. Tapi takhta ini terlalu berharga untuk orang baik sepertimu. Dan istri serta putrimu... akan lebih bahagia di bawah lindunganku."
Ia menarik kendali, kuda hitamnya berbalik.
"Tunggu sinyal," katanya. "Tengah malam. Tidak lebih, tidak kurang."
Ia pergi, menghilang dalam gelap, meninggalkan ribuan pasukan yang diam menanti.
Di atas, bulan keluar sebentar dari balik awan, menyoroti puncak menara Istana Veynheart. Di menara itu, Raja Aldous duduk sendirian, menatapi api di perapian, tidak tahu bahwa maut sedang merayap mendekat.
Di kamar anaknya, Liana bermimpi tentang monster yang ingin memakannya.
Di kamar pengantin baru, Aldric dan Elara tidur membelakangi satu sama lain, dengan jurang di antara mereka yang tidak terlihat tapi nyata.
Malam masih panjang.
Tapi fajar tidak akan pernah datang.
Yang akan datang hanyalah api, darah, dan tangis.
Yang akan datang hanyalah akhir dari dunia yang mereka kenal.