Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28—Murid Pindahan Yang Mengejutkan
Pagi hari datang terlalu cepat. Sinar matahari menembus celah tirai kamar Rahmat. Ia membuka mata dengan ekspresi datar, seperti biasa.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Status Harian Host]
Kondisi Fisik: Stabil
Kondisi Mental: Sedikit Terganggu (Relasi Personal)
Pengingat: 4 Hari menuju lonjakan Saham Pt Andalan
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menutupnya dengan satu kedipan. Sejak kapan ada status harian host? Ini baru pertama kali muncul, mungkin sebab kenaikan level sistem.
“Sedikit terganggu apanya…” gumamnya pelan.
Tapi bayangan angka 75% sempat terlintas. Ia berdehem, segera bangkit. Fokus dulu, sekolah tetap sekolah!.
Jam pertama berjalan biasa. Jam kedua juga.
Sampai wali kelas mereka masuk dengan ekspresi sedikit berbeda.
“Ibu mau mengumumkan sesuatu. Mulai hari ini, ada murid pindahan yang akan belajar di kelas kita.”
Kelas langsung berisik. Sangat jarang ada murid pindahan di situasi seperti ini.
“Pindahan?”
“Dari mana?”
“Cowok apa cewek?”
Wali kelas itu terkekeh lalu tersenyum. “Ya, kalian lihat saja. Ini pasti akan mengejutkan.’
“Wih murid pindahan nih, asik. Kira kira cowok apa cewek ya? Gimana menurutmu, mat?” ucap budi—salah satu teman Rahmat yang duduk di belakangnya.
Rahmat tersenyum, berbalik. “Siapa yang tahu … tapi kurasa cewek.”
“Haha, lo sekarang jadi genit … gimana mainnya sama bidadari sekolah? Asik?”
“Eh?” Rahat terkejut. “darimana kamu tahu itu?”
“Semua orang tahu, kok. Habisnya kamu mengajak Alya ke konser, semua pada ribut, sekarang sudah jadi trending topik nomor 1 di sekolah.”
Trending topik ya, Rahmat terkekeh mendengar itu.
Pintu kelas pun segera terbuka, dan seisi ruangan langsung sunyi. Seorang gadis masuk dengan langkah tenang, rambut panjang bergelombang dikuncir dua. wajah yang familiar, terlalu familiar malahan.
Mendadak kelas jadi hening. Semua orang terkejut bukan main.
Itu— Kanaya Arcelia.
Idol yang naik daun akhir-akhir ini dan yang baru saja kemarin malam didatangi oleh Rahmat.
“Perkenalkan diri kamu, Nak,” ujar wali kelas.
Gadis itu tersenyum profesional. “Nama saya Kanaya Arcelia. Mohon kerjasamanya.”
Suasana kelas meledak.
“EH ITU KAN—”
“SERIOUS?!”
“GILA BENERAN KANAYA?!”
Rahmat menyipitkan mata. Apa-apaan ini, sebuah kebetulan? Tidak ini janggal.
Sistem langsung aktif otomatis.
━━━━━━━━━━━━━━━
Nama: Kanaya Arcelia
Usia: 17 Tahun
Status: Idol asal solo yang terkenal
Reputasi : Populer akan bakatnya di usia muda
Nilai Kepribadian: 8.5/10
Tingkat Kepercayaan Diri: sangat tinggi Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 60%
Tingkat kecocokan dengan Host : TINGGI
Potensi masa depan ; Sangat tinggi (sebagai idol dan penyanyi)
Kemungkinan hubungan di masa depan ; Patner kerja 85% calon istri 65%
Kemungkinan Terlibat Jaringan Gelap: 57%
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat terdiam. Kenapa semuanya mendadak tertarik kepada dia bahkan seorang idol?
Tapi yang membuat dia pangling adalah angka 57% ia kemungkinan terlibat jaringan gelap. Angka itu bukan kebetulan kecil.
Kanaya memindai ruangan… dan tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Awalnya Kanaya hanya mengira ini adalah sebuah halusinasi semata, namun ketika ia melihat lebih jelas lagi, ia terkejut.
Sebulan yang lalu terjadi peristiwa di sekolahnya hingga membuat dia pindah sekolah, berkas baru selesai hari ini, siapa sangka ada kebetulan seperti ini, ia bertemu dengan penyelamatnya tadi malam
Ia tersenyum kecil, melambaikan tangan ke arah Rahmat.
Lalu—
Suasana kelas jadi heboh.
“EH TADI DIA TERSENYUM KE ARAH GUE!” Ribut salah satu orang yang salah sangka.
“DIH KEGEERAN ITU KE ARAH GUE!”
“SALAH KALIAN SEMUA, ITU KE ARAHKU!”
Para siswa lelaki ribut bukan main masalah ginian, sementara yang dituju dan disenyumin cuma menyeringai.
Wali kelas berkata, “Kamu bisa duduk di kursi kosong ….” Ia terlihat menoleh, mencari kosong.
Ada dua kursi kosong. Satu di sebelah Ardi, dan satunya di sebelah kanan Rahmat.
“Kamu boleh memilih salah satu dari kedua kursi yang kosong ….”
“Disini aja, neng!” Ardi sang penguasa kelas berseru lantang. Ia terlihat garang dan menunjukan aura kepercayaan diri.
Kelas yang barusan berebut masalah siapa yang duduk berdampingan dengan Kanaya menjadi kikuk. Tidak ada yang berani kalau Ardi sudah berkata demikian.
Ardi berdiri perlahan dari kursinya.
Seragamnya rapi, jam tangan mahal berkilau di pergelangan tangannya. Sorot matanya percaya diri—atau lebih tepatnya, merasa paling berkuasa.
“Duduk di sini aja,” ucapnya santai, tapi nadanya seperti perintah. “Paling aman.”
Beberapa siswa langsung menunduk. Tidak ada yang berani menyahut.
Ardi melirik sekeliling kelas dengan senyum tipis. “Kalau ada yang ganggu kamu… bilang ke gue. Di sekolah ini, nggak ada yang berani macem-macem.”
Nada bicaranya terdengar seperti penawaran, tapi terasa seperti pamer kekuasaan. “Lagipula,” lanjutnya, menatap Rahmat sekilas, “duduk di tempat yang tepat itu penting. Salah pilih teman… bisa bikin repot.”
Sunyi. Bahkan wali kelas terdiam. Semua orang tahu—Ardi adalah anak dari salah satu donatur terbesar sekolah. Setiap acara besar, namanya selalu tercantum di spanduk sponsor.
Tak ada yang berani menegur. Kanaya berdiri di depan kelas, wajahnya tetap tersenyum. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Tidak lagi senyum panggung.
Ia menatap Ardi beberapa detik.
Lalu berkata lembut, “Terima kasih tawarannya.”
Kelas menahan napas. “Tapi… aku sudah mengenal seseorang yang membuatku aman.”
Ardi mengernyit. “Maksudnya?”
Kanaya melangkah, bukan ke arah Ardi, melainkan ke arah Rahmat, seorang siswa yang dulu diremehkan, tapi sekarang naik daun. Tidak ada yang menyangkal bahwa Rahmat sekarang tampil berbeda, terlihat lebih tampan, bahkan lebih kuat dari Ardi (karena sempat ia bantai)
Bahkan cewek di kelasnya sebenarnya ingin mendekatinya.
“Kalau boleh… aku duduk di sini.”
Suasana kelas seperti membeku.
Beberapa siswa bahkan refleks berdiri.
“HAH?!”
“Serius?!”
“Dia nolak Ardi?!”
Ardi masih berdiri. Senyum tipisnya menghilang perlahan.
Rahmat sendiri hanya menghela napas kecil. Dalam hati ia sudah bisa menebak akan seperti ini.
“Silahkan, Kana,” ucapnya lembut.
Kana? Tadi dia menyebut kanaya dengan Kana? Sebuah panggilan singkat, seolah - olah mereka akrab, apa bahkan mereka pernah bertemu.
Kanaya duduk dengan tenang, menata tasnya, lalu berbisik pelan tanpa menoleh. “Permisi… penyelamatku.”
Rahmat melirik sekilas. “berlebihan sekali. Omong-omong ini kebetulan yang sangat aneh,”
“Kebetulan?” Kanaya tersenyum kecil. “Aku nggak terlalu percaya kebetulan. Mungkin takdir.”
Mata itu, bukan mata tertarik biasa dan rahmat tahu.
“kenapa kamu bisa sampai ke sini?”
“Mengenai itu akan kubahas nanti, bersama kak Anisa … ini menyangkut masalah serius soalnya.”
Dengan kak Anisa ya? Dia memang anak polisi, itu artinya ini akan jadi serius.
Di depan, wali kelas akhirnya berdehem canggung. “Baik… kalau begitu kita lanjut pelajaran.”
Tapi tak ada yang benar-benar fokus belajar.
Semua mata diam-diam tertuju pada dua orang itu.
Ardi perlahan duduk kembali. Tangannya mengepal di bawah meja.
Rahmat lagi. Sejak hari itu semua menjadi berubah, ia dipermainkan dan dikalahkan oleh sampah sepertinya! Tidak hanya itu, ia juga merebut pujaan hatinya Alya, sekarang idol nasional duduk di sampingnya dan tampak tertarik denganya!
Sorot mata Ardi berubah dingin. Ia menatap Rahmat tanpa berkedip. Ia tidak akan mengampuni ini..
Sistem di sudut pandang Rahmat tiba-tiba berkedip ringan.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Deteksi Emosi Negatif Tinggi]
Target: Ardi
Tingkat Permusuhan terhadap Host: 72% (Meningkat)
Potensi Konflik: Sedang → Tinggi
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat tersenyum tipis. “Mulai lagi…” gumamnya pelan.
Di sampingnya, Kanaya membuka buku dengan santai.
A/N : Jangan lupa like dan subscribe gays, haha. kalau suka karya ini juga boleh vote dan kirim gift ya, terimakasih sudah membaca
Btw Menurut kalian sampai 30 bab lebih novel ini gimana? termasuk bertele-tele atau udah cukup cepet plotnya.
Tolong kalau boleh minta pendapatnya, buat kedepan soalnya aku merasa kaya mulai agak slow atau cuma perasaanku🙏