Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30--Rapat Pemilik Saham
`Senyum Rahmat tidak hilang bahkan setelah layar ponselnya mati. Tommy sudah bergerak. Bagus.
Ia melangkah keluar dari ruang OSIS seolah tak terjadi apa-apa. Kanaya kembali ke kelas lebih dulu. Anisa menatapnya sekilas, seperti tahu ada sesuatu yang belum selesai.
Beberapa jam kemudian. Rahmat baru saja hendak pulang ketika notifikasi lain tiba-tiba muncul, mungkin berkat update level 2, ia mendapatkan penambahan yang biasanya tidak ada
━━━━━━━━━━━━━━━
[Pengingat Sistem]
4 Hari menuju lonjakan Saham PT Andalan
Agenda Tambahan: Rapat Pemegang Saham – Hari Ini 16.00
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat berhenti melangkah. Memorinya kembali teringat atas undangan dari PT andalan setelah dia membeli saham di sana.
“Oh iya…”
Rapat pemegang saham. Ia hampir lupa. PT Andalan Sentosa Finance Mengadakan pertemuan internal triwulan. Pemegang saham di atas 5% diundang hadir langsung. Dan ia membeli alias memegang 7% sekarang.
“Lumayan juga,” gumamnya pelan. Ini juga sekalian menemui tommy.
Gedung PT Andalan berdiri tinggi dan modern. Lobby marmer. Satpam berseragam lengkap.
Rahmat datang dengan kemeja hitam polos dan celana jins, dengan kalung yang ada di lehernya. Rambutnya rapi, tapi tetap terlihat seperti anak SMA pada umumnya. Dari wajah sudah terlihat dia terlalu muda untuk berada di tempat seperti ini.
Ia berjalan santai menuju meja resepsionis. “Saya datang untuk rapat pemegang saham.”
Resepsionis itu mengangkat alis. “Dek, orang tua kamu mana?”
Rahmat terdiam beberapa detik. Dek? Ia disangka anak hilang sekarang, lucu sekali. Rahmat pun menjelaskan. “Saya sendiri pemegang sahamnya.”
Satpam di samping langsung mendekat. Mana mungkin seorang pemuda yang terlihat seperti anak SMA memegang saham perusahaan. “Maaf, nak. Ini bukan tempat main-main.”
Rahmat menghela napas, tampaknya tidak ada pilihan lain. Ia mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi sekuritas dan memperlihatkan bukti kepemilikan resmi — 7% saham PT Andalan, atas namanya. Rahmat Pratama
Ruangan mendadak menjadi sunyi, resepsionis menelan ludah, satpam saling pandang. Kemudian ia menundukkan kepala karena merasa tidak sopan.
“Maaf atas tindakan lancang tadi, pak!” Ucapnya grogi.
“Ah, aku tidak masalah. Karena aku adalah pebisnis terlalu muda, aku biasa mengalami ini.”
Resepsionis sekali lagi menundukkan kepala, mengatakan bahwa ia sangat merasa bersalah. “Mohon tunggu sebentar, pak.”
Beberapa menit kemudian, seorang staf keuangan turun tergesa-gesa, wajahnya tegang karena mengetahui pemuda ini adalah pemegang saham sebesar 7% tentu bukan angka yang sedikit untuk usianya yang terlihat masih seperti anak SMA, maka dari itu dia jadi sedikit grogi
“Silahkan, Tuan Rahmat.”
Nada suaranya berubah total.
Rahmat hanya tersenyum tipis dan mengikuti mereka masuk ke ruang rapat lantai atas.
Ruang rapat besar. Meja panjang mengkilap. Belasan pria dan wanita berjas mahal sudah duduk.
Dan di salah satu kursi… Tommy. Pria itu sedang berbicara pelan dengan seseorang ketika pintu terbuka.
Semua mata menoleh.
Tommy ikut melihat.
Lalu wajahnya membeku.
“…Kamu?” bagaikan ia melihat setan, Tomy terkejut bukan main. Kenapa bocah bisa sampai kesini.
“Halo, permisi semuanya,” ucap dia sopan.
Rahmat berjalan santai menuju kursi kosong yang sudah disiapkan. Kursi dengan papan nama kecil bertuliskan: R. PRATAMA – 7%
Ruangan juga masih hening seketika rahmat masuk, pemuda ini adalah salah satu pemegang saham? Tentu semuanya agak sulit dipercaya.
“ Lama nggak ketemu, Bang Tommy.” Begitulah sapa dia ke arah tommy saat tatapan mata mereka bertemu.
Tomy tahu itu adalah kode untuk panggilan, ia pun datang ke meja Rahmat.
“Halo, bang lama gak jumpa!” Ucapnya dengan nada jenaka.
“L-lo kok bisa sampai sini?”
“Kok terkejut, bukankah dirimu yang memanggil untuk ketemuan.”
Beberapa direktur tampak bingung.
Tommy menelan ludah. Tidak mungkin ada random yang bisa asal masuk ke ruangan rapat ini, jadi jawabannya simpel. Bocah yang dulu ia remehkan, yang dulu ia injak-injak, tiba-tiba menjadi orang penting di perusahaan ini, bahkan kini memegang saham pt andalan.
Lalu ia teringat akan kejadian tempo hari … ah, ia paham. Jadi benar. Pembeli anonim yang menyapu saham 7% secara diam-diam beberapa lalu, menggunakan akun anonim adalah bocah ini. Pantas saja ia mengetahui semua data-data laporan uang kas saat dia menggunakan untuk bukti kejahatan tommy.
Rapat pun dimulai.
Direktur utama berdiri, memaparkan laporan kinerja perusahaan. Proyeksi kuartal berikutnya. Rencana ekspansi. Pergerakan harga saham.
Rahmat duduk tenang.
Sistem aktif perlahan.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Analisis Dokumen: Laporan Keuangan PT Andalan Sentosa Finance]
Ketidaksesuaian Data: 12%
Margin Operasional Dilaporkan: 18%
Margin Riil Estimasi: 11%
Kemungkinan Manipulasi: 64%
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menyipitkan mata. Menarik. Slide berganti. Grafik laba meningkat tajam.
Sistem kembali bergetar.
[Anomali Arus Dana Terdeteksi]
Transfer Tidak Wajar – 3 Entitas Eksternal
Risiko Hukum: Tinggi
Kemungkinan Terkait Organisasi Gelap: 41%
Rahmat bersandar. Organisasi gelap? Black spider? Belum pasti, tapi ada bau busuk di sni.
Direktur keuangan selesai memaparkan. “Demikian laporan kami.”
Beberapa pemegang saham mengangguk puas.
Rahmat mengangkat tangan. Ruangan sedikit terdiam.
Seorang pria tua berambut perak memandangnya. “Ya? Silakan.”
Rahmat tersenyum tipis. “Saya cuma ingin bertanya sedikit.”
Semua mata kini benar-benar tertuju padanya. “Margin operasional dilaporkan 18%,” lanjutnya santai. “Tapi kalau dihitung dari arus kas riil dan biaya distribusi aktual, seharusnya berada di kisaran sebelas sampai dua belas persen.”
Hening.
Direktur keuangan membeku sepersekian detik. Ia tidak menyangka akan ada yang menyadari mengenai hal itu.
Rahmat melanjutkan tanpa nada menyerang, hanya datar.
“Lalu tiga transfer eksternal bulan lalu. Nilainya besar. Tapi tidak tercatat detail proyeknya di laporan ini.”
Beberapa kepala mulai saling menoleh.
Tommy menatap Rahmat dengan mata menyempit.
Anak ini… Bukan cuma beli saham.
Dia membaca sampai sedetail itu? Sejak kapan dia jadi sepintar ini?
Direktur keuangan tersenyum kaku. “Mungkin ada kesalahpahaman. Itu proyek ekspansi kecil—”
Rahmat memotong pelan. “Ekspansi kecil biasanya tidak menggunakan rekening cangkang.”
Ruangan benar-benar sunyi sekarang.
Sistem kembali memberi notifikasi kecil.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Tingkat Ketegangan Ruangan: Meningkat]
Individu dengan Risiko Tertinggi:
– Direktur Keuangan
– Komisaris Independen (Kursi 4)
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menatap langsung pria berkursi empat itu.
“Kalau boleh tahu,” katanya ringan, “perusahaan bekerja sama dengan pihak mana untuk proyek itu?”
Pria itu terdiam setengah detik terlalu lama.
Dan Rahmat tahu.
Ia baru saja menemukan benang pertama.
Black Spider mungkin tidak berdiri sendiri.
Mereka bersembunyi di balik perusahaan legal.
Dan PT Andalan… Bisa jadi salah satu pintunya. Serta pria kursi nomer 4 besar kemungkinan tersangka.