Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Sinar matahari Berlin musim semi menerobos masuk melalui celah gorden otomatis yang terbuka perlahan, menyapu lantai kayu ek di kamar utama yang luasnya hampir menyamai sebuah apartemen kelas menengah.
Di tengah ranjang king size yang berantakan, Lucky Caleb masih bergelung di balik selimut sutra abu-abunya. Bagi dunia, pria ini adalah sosok dingin yang nyaris tidak tersentuh—pria yang hanya bicara seperlunya di depan pers, dan menatap orang asing dengan sorot mata sedalam palung laut.
Namun, keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki yang ringan, diikuti bunyi denting gelas di atas meja nakas.
"Luc... bangun. Sebentar lagi kita punya jadwal pemotretan untuk Vogue," sebuah suara lembut mengalun, memecah kabut mimpi Lucky.
Lucky tidak bergerak, namun sudut bibirnya berkedut tipis. Ia mengenali suara itu lebih baik daripada melodi lagunya sendiri.
Freya berdiri di sisi tempat tidur. Gadis berusia 21 tahun itu tampak seperti kontradiksi yang indah di tengah kemewahan kamar Lucky yang kaku.
Pagi ini, Freya mengenakan crop top putih yang memperlihatkan sedikit perut ratanya, dipadukan dengan celah jeans kebesaran yang tampak melorot di pinggangnya yang ramping. Jaket hoodie hitam milik Lucky yang ia pinjam semalam tersampir longgar di bahunya, membuat tubuh tingginya—yang sering disebut cocok untuk runway Paris tenggelam dalam kain. Rambutnya diikat asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang tanpa riasan.
"Lima menit lagi, Frey," gumam Lucky, suaranya parau khas orang bangun tidur. Ia malah menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi kepala.
Freya menghela napas, sebuah senyum kecil tersungging. Hanya Freya yang berani menghadapi sikap keras kepala sang bintang. Sejak awal karier Lucky, Freya adalah satu-satunya orang yang dipercaya untuk mengatur hidupnya secara total. Dari memilihkan jas custom untuk malam penghargaan, mengatur jam tidurnya yang berantakan, hingga memastikan Lucky makan tepat waktu meski pria itu sedang mogok bicara pada dunia.
"Tidak ada lima menit lagi, Tuan Besar," canda Freya sambil menarik ujung selimut Lucky. "Manajer branding-mu sudah menelepon tiga kali. Tim make-up sudah menunggu di bawah, meskipun aku sudah bilang aku yang akan mengurus dasarmu sendiri hari ini."
Lucky akhirnya menurunkan selimutnya. Ia menatap Freya dengan mata yang masih setengah tertutup. Jika orang lain melihat Lucky saat ini, mereka akan terkejut. Sosok yang biasanya terlihat angkuh dan dingin itu kini tampak sangat rapuh dan... manja.
"Kepalaku pusing," keluh Lucky, suaranya sengaja dibuat lebih lemah dari biasanya. Ia mengulurkan tangan, meraih ujung jaket hoodie yang dipakai Freya dan menariknya pelan, memaksa gadis itu duduk di tepi ranjang.
"Itu karena kau begadang lagi menatap foto lama, kan?" tebak Freya tepat sasaran. Ia tidak menyebut nama Renata, namun mereka berdua tahu ke mana arah pembicaraan itu. Freya adalah satu-satunya orang yang tahu tentang laci terkunci itu.
Lucky tidak menjawab. Ia malah menyandarkan kepalanya di paha Freya, mencari kenyamanan yang tidak bisa diberikan oleh bantal semahal apapun. "Pakaikan aku hoodie yang nyaman saja hari ini. Aku tidak mau pakai kemeja kaku itu."
Freya tertawa kecil, jemarinya yang lentik mulai menyisir rambut Lucky yang berantakan dengan lembut. "Pemotretan hari ini temanya High Fashion, Luc. Kau tidak bisa datang hanya dengan jaket bertudung. Tapi... aku sudah menyiapkan jaket kulit yang lebih longgar di bagian dalam agar kau tidak merasa tercekik."
"Kau memang yang terbaik, Frey," bisik Lucky. Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Freya di rambutnya. Hanya pada gadis ini Lucky bisa bersikap hangat. Hanya pada Freya, dinding es yang ia bangun selama tiga tahun terakhir mencair sepenuhnya.
Freya bangkit untuk mengambil segelas air mineral dan vitamin yang sudah ia siapkan. "Ayo, minum ini dulu. Setelah itu mandi. Aku sudah menyiapkan pakaianmu di walk-in closet. Biru gelap, warna favoritmu kalau sedang malas bicara pada orang."
Lucky menghela napas panjang, akhirnya duduk di tepi ranjang dengan enggan. Ia menatap Freya yang sedang sibuk merapikan jadwal di tabletnya. Gadis itu sangat efisien. Banyak agensi model yang mengejarnya, menawarkan kontrak jutaan Euro karena tinggi badan dan wajahnya yang memiliki karakter kuat, namun Freya selalu menolak. Ia lebih memilih menjadi asisten pribadi Lucky—menjadi bayangan di balik kesuksesan pria itu.
"Kenapa kau masih mau melakukan ini, Frey?" tanya Lucky tiba-tiba, menatap Freya dengan intensitas yang berbeda. "Kau bisa jadi bintang sendiri di luar sana. Kau tidak perlu mengatur jadwal makanku atau mencuci kuas make-up ku setiap hari."
Freya berhenti sejenak, lalu menoleh. Ia menatap Lucky dengan mata cokelatnya yang jernih. "Karena bintang besar sepertimu butuh seseorang yang tidak akan silau oleh cahayanya, Luc. Dan aku suka di sini. Mengaturmu itu seperti menyusun puzzle yang sulit, tapi menyenangkan saat semuanya tepat pada tempatnya."
Lucky mendengus pelan, sebuah tawa langka keluar dari bibirnya. "Aku bukan puzzle, aku bencana."
"Nah, itu kau sadar," sahut Freya cepat sambil melemparkan handuk ke arah Lucky. "Sekarang mandi. Sepuluh menit, atau aku akan menyuruh kru foto masuk ke kamar ini."
Lucky menangkap handuk itu, namun sebelum ia melangkah ke kamar mandi, ia menarik lengan Freya sebentar. "Frey... kau tidak akan pergi ke mana-mana, kan? Maksudku, seperti yang lain."
Sentuhan itu terasa sedikit gemetar di mata Freya. Ia tahu Lucky sedang membicarakan luka lamanya tanpa menyebutkan namanya. Luka tentang seseorang yang memilih mundur saat segalanya menjadi terlalu rumit.
Freya tersenyum lembut, senyum yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Lucky. Ia mendekat, merapikan kerah kaus dalam Lucky dengan gerakan yang sangat akrab. "Siapa lagi yang akan tahan dengan sifat manjamu kalau bukan aku? Aku di sini, Luc. Selama kau butuh seseorang untuk mengikatkan tali sepatumu, aku tidak akan ke mana-mana."
Lucky menatap Freya lama, seolah mencari kepastian di wajah gadis itu. Di mata dunia, Freya hanyalah asisten. Namun bagi Lucky, Freya adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak hanyut terbawa arus popularitas yang gila.
"Janji?"
"Janji," jawab Freya mantap. "Sekarang mandi! Atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke bawah!"
Lucky akhirnya melangkah menuju kamar mandi dengan senyum yang lebih cerah dari biasanya. Di luar sana, ribuan penggemar menantinya, menuntutnya menjadi sosok sempurna yang dingin dan misterius. Namun di dalam sini, dalam pengawasan lembut seorang gadis bernama Freya, Lucky Caleb merasa ia bisa menjadi dirinya sendiri—seorang pria muda yang hanya ingin dimengerti, di tengah riuhnya dunia yang tak pernah berhenti menuntut.
Freya menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu beralih pada foto Renata di atas meja yang tadi sempat dilihatnya sekilas. Ia kemudian berbalik, mengambil jaket kebesarannya, dan kembali sibuk dengan ponselnya. Jadwal hari ini sangat padat, dan ia harus memastikan Lucky Caleb tetap bersinar, meski hati pria itu masih tertinggal.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt