NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:118k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemahaman Menuju Pendekar Langit

Boqin Changing tidak langsung berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Sha Nuo, menimbang kata-kata yang hendak ia ucapkan. Beberapa detik berlalu. Lalu ia membuka suara, tenang seperti permukaan danau tanpa riak.

“Masa lalu Paman memang buruk…”

Sha Nuo sedikit tertegun. Kalimat itu datang begitu langsung, tanpa pembungkus. Namun Boqin Changing belum selesai.

“…tapi percayalah. Masa depanmu akan membuat ayahmu bangga padamu.”

Suara itu tidak keras. Bahkan hampir terdengar biasa. Namun setiap kata jatuh tepat di tempat yang tidak pernah disentuh siapa pun sebelumnya.

Sha Nuo membeku. Matanya membesar sedikit. Nafasnya tertahan tanpa ia sadari. Ia menatap Boqin Changing. Perlahan, kilau tipis muncul di matanya. Matanya berkaca-kaca.

Sha Nuo bukan orang yang mudah tersentuh. Hidupnya terlalu panjang, terlalu keras, terlalu penuh pertarungan untuk membuatnya goyah oleh kata-kata sederhana.

Namun saat ini berbeda. Di masa sekarang, mungkin hanya Boqin Changing yang mengetahui masa lalunya. Bukan sekadar mengetahui peristiwa, tetapi memahami beban yang ia pikul selama bertahun-tahun. Perasaan itu… terasa hangat.

Sha Nuo menarik napas perlahan, berusaha menstabilkan dirinya. Ia tidak ingin menunjukkan terlalu banyak emosi, tetapi juga tidak mampu sepenuhnya menyembunyikannya.

“Terima kasih…” gumamnya lirih.

Boqin Changing tidak menatapnya dengan kasihan. Tidak pula dengan simpati berlebihan. Hanya tatapan tenang seorang pendekar yang melihat potensi masa depan. Ia melanjutkan.

“Secara fisik, Paman sebenarnya sudah sangat siap menembus ranah pendekar langit.”

Sha Nuo berkedip.

“Kau memiliki tulang berlian. Lautan qi hampir dua belas ribu lingkar. Meridian sempurna. Fondasi tanpa cacat.”

Nada Boqin Changing datar, seperti sedang menyebut fakta yang tak perlu diperdebatkan.

“Yang kurang hanya satu.”

Sha Nuo menatapnya.

“Pemahaman.”

Sunyi kembali turun. Namun kali ini, sunyi itu tidak berat. Justru terasa seperti pintu yang perlahan terbuka.

Boqin Changing menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Pemahaman bela diri. Dan memahami jalan menuju pendekar langit.”

Sha Nuo mengangguk pelan. Tidak ada bantahan. Tidak ada keraguan. Ia sendiri sudah lama mengetahui kekurangannya itu.

Boqin Changing kemudian menatapnya sedikit lebih serius.

“Kalau begitu… mari kita mulai.”

Sha Nuo mengangkat alis.

“Mulai?”

“Diskusi.”

Boqin Changing tersenyum tipis, sesuatu yang jarang ia lakukan.

“Aku akan bertanya. Paman jawab berdasarkan pemahamanmu.”

Sha Nuo mencondongkan tubuh sedikit, mulai tertarik.

“Jika menurutku benar, kita lanjutkan.”

Tatapan Boqin Changing mengeras sedikit, bukan dingin, melainkan fokus.

“Jika salah, kita luruskan. Kita diskusikan.”

Tidak ada nada menggurui. Tidak ada posisi guru dan murid di sini. Hanya dua pendekar yang duduk di meja makan, membedah jalan bela diri.

Sha Nuo menatapnya lama. Dulu, ia hampir tidak pernah berdiskusi dengan siapa pun soal pemahaman bela dirinya. Bukan karena sombong. Namun karena tidak ada yang bisa ia ajak berdiskusi.

Pemahamannya lahir dari perenungan panjang. Dari luka, dari pertarungan hidup mati, dan dari pengalaman yang tidak tertulis dalam kitab mana pun. Ia belajar bukan dari halaman buku. Melainkan dari darah yang mengalir di tanah.

Namun sekarang…di hadapan orang seperti Boqin Changing, mau tidak mau ia harus merendahkan diri dalam hal itu. Sha Nuo sadar. Pemahamannya mungkin luas, tetapi belum tentu benar sepenuhnya.

Dan Boqin Changing… Sha Nuo menatap wajah pemuda di depannya. Secara tampilan, ia sangat muda. Bahkan terlalu muda.

Namun kekuatannya mengerikan. Pengetahuannya luas. Teknik-tekniknya aneh dan tidak biasa. Banyak diantaranya bahkan belum pernah Sha Nuo lihat sepanjang hidupnya.

Itu bukan sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang baru menapaki dunia persilatan. Kemampuan seperti itu…seharusnya hanya dimiliki oleh orang yang telah menjalani banyak asam pahit kehidupan.

Pikiran itu muncul begitu saja. Sha Nuo bahkan sempat bertanya dalam hati. Mungkinkah… Boqin Changing lebih tua darinya?

Ia sendiri hampir tersenyum memikirkan kemungkinan itu. Namun tentu saja, ia tidak berani bertanya. Beberapa pertanyaan lebih baik tetap menjadi pertanyaan.

Boqin Changing mengetukkan jari ke meja ringan, menarik Sha Nuo kembali dari lamunannya.

“Pertanyaan pertama.”

Sha Nuo menegakkan tubuhnya.

“Menurut Paman, apa perbedaan mendasar antara pendekar bumi dan pendekar langit?”

Sha Nuo tidak langsung menjawab. Ia menutup mata. Beberapa detik. Ratusan tahun pengalaman bertarung berkelebat di benaknya.

Saat ia membuka mata kembali, tatapannya telah berubah. Lebih dalam. Lebih tajam.

“Pendekar bumi menguasai qi.”

Suaranya tenang.

“Pendekar langit… menjadi bagian yang lebih tinggi.”

Boqin Changing tidak langsung merespons. Namun sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Menarik. Mari kita berdiskusi.”

...******...

Diskusi di antara keduanya terus berlangsung. Awalnya hanya satu hari. Namun hari itu berubah menjadi dua, lalu tiga, hingga tanpa terasa hari demi hari berlalu.

Setiap pagi Sha Nuo mengajak berdiskusi. Setiap malam ia selesai dengan pikiran yang terasa lebih ringan, tetapi juga lebih penuh.

Boqin Changing menanyakan sesuatu. Pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi ketika dipikirkan lebih dalam, selalu menyentuh inti pemahaman bela diri. Tentang hakikat qi. Tentang hubungan tubuh dan langit. Tentang makna “jalan” bagi seorang pendekar.

Sha Nuo menjawab apa yang ia ketahui. Sebagian jawaban lahir dari kitab yang pernah ia baca. Sebagian lagi dari pengalaman bertarung puluhan tahun dan sebagian berasal dari intuisi yang selama ini ia percayai tanpa pernah ia uji.

Boqin Changing mendengarkan semuanya tanpa menyela. Jika jawaban itu tepat, ia hanya mengangguk tipis, lalu mengajukan pertanyaan lanjutan yang lebih dalam. Namun jika ada bagian yang kurang pas, ia akan mengoreksi. Bukan dengan nada menyalahkan. Melainkan dengan cara membongkar logika di balik pemahaman itu.

Kadang ia menggambar di kertas dengan pena. Kadang ia menggunakan cangkir teh sebagai perumpamaan. Kadang ia meminta Sha Nuo menutup mata dan merasakan aliran qi di dalam tubuhnya sendiri.

Diskusi itu tidak pernah terasa seperti pelajaran. Lebih seperti perjalanan. Bahkan tidak lama kemudian, Sha Nuo mulai balik banyak bertanya. Tentang teknik pernapasan. Tentang batasan tubuh manusia. Tentang mengapa beberapa pendekar berhenti berkembang meski fondasi mereka sempurna.

Semua jawaban dari Boqin Changing benar-benar sangat bagus dan bisa diterima. Ia tidak menjawab dengan teori kosong. Setiap penjelasan selalu memiliki dasar yang jelas.

Terkadang, untuk mendukung perkataannya, Boqin Changing langsung menunjukkan contoh. Ia memperagakan cara menghemat qi dalam pertarungan. Bahkan beberapa kali ia langsung mempraktikkannya di depan Sha Nuo.

Gerakannya sederhana. Namun setiap demonstrasi terasa seperti membuka jendela baru.

Sha Nuo mulai menyadari sesuatu. Ilmu yang ia dapat dari diskusi dengan Boqin Changing bahkan jauh lebih baik daripada isi kitab-kitab yang pernah ia baca sepanjang hidupnya.

Kitab menjelaskan teknik. Kitab menjelaskan metode. Namun Boqin Changing menjelaskan alasan di balik semuanya.

Ia tidak mengajari “apa yang harus dilakukan.” Ia mengajari “mengapa sesuatu terjadi.” Perbedaan itu… seperti bumi dan langit.

Beberapa hari kemudian, kesadaran itu berubah menjadi perasaan yang lebih dalam. Sha Nuo bahkan merasa kini ia seperti murid sebuah sekte yang sedang mendapatkan pencerahan dari patriak sektenya.

Perasaan itu aneh. Sedikit memalukan bagi seseorang seusianya. Namun juga tidak bisa ia bantah.

Setiap kali duduk berhadapan dengan Boqin Changing, ia merasa seperti seorang pendekar muda yang baru memahami jalan bela diri yang sebenarnya untuk pertama kalinya.

Tidak ada tekanan. Tidak ada kewajiban. Hanya rasa haus yang terus tumbuh. Dan Boqin Changing… tidak pernah pelit. Ia membuka pemahamannya tanpa menahan apa pun.

Hari demi hari berlalu. Diskusi mereka semakin dalam. Semakin abstrak. Semakin menyentuh wilayah yang bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Hingga akhirnya…semua yang mengganjal di hati Sha Nuo perlahan terurai. Keraguan lama yang ia pendam bertahun-tahun mendapatkan jawabannya. Pemahaman bela diri yang sebelumnya terasa kabur mulai menemukan bentuknya. Kesalahan kecil yang selama ini ia abaikan kini tampak jelas seperti noda di kain putih.

Sha Nuo duduk diam di kursinya. Hari ini terasa berbeda. Tidak ada pertanyaan baru. Tidak ada perdebatan. Hanya keheningan panjang.

Ia menutup mata. Qi di dalam tubuhnya bergerak perlahan. Tenang dan stabil.

Namun untuk pertama kalinya… terasa selaras. Selaras dengan napasnya. Selaras dengan kesadarannya. Samar-samar… bahkan selaras dengan sesuatu yang jauh lebih luas.

Sha Nuo membuka mata. Tatapannya bergetar halus. Ia menatap Boqin Changing yang duduk di depannya dengan tenang, seolah sudah mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Sha Nuo menarik napas panjang. Dadanya terasa lapang. Pikirannya jernih dan hatinya… ringan. Perlahan, ia berdiri. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar.

Ia telah mendapatkan pencerahan. Bukan kekuatan baru. Bukan teknik baru. Melainkan arah. Arah menuju pendekar langit.

Sha Nuo menatap Boqin Changing dengan mata yang kini dipenuhi keyakinan yang belum pernah muncul sebelumnya.

“Aku mengerti…” gumamnya pelan.

Suaranya hampir berbisik, tetapi mengandung getaran yang berbeda. Sha Nuo akhirnya memahami. Ia telah mendapatkan pencerahan untuk naik ke ranah pendekar langit.

1
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
Eko
selamat paman Nuo sudah jadi pendekar langit 👍👍😄😄😄
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍 semangat Thor 💪💪
andi widya
oke lanjutkan
hanim ahmad
katanya sudah berada di ranah bumi puncak,swlangkah ke ranah lpendakar lagi,loh kok Masih naiki ranah bumi puncak...gimana thor?
Pandeka Garang: iya pernah di beberapa chapter sebelumnya bahwa boqin changing sudah di pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!