NovelToon NovelToon
Wanita Tangguh

Wanita Tangguh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Di balik sosok wanita seksi yang selalu mencuri perhatian di setiap ruangan, Sasha Wijaya menyimpan rahasia besar—ia adalah agen intelijen yang telah menyamar selama tiga tahun untuk menggali kebenaran di balik jaringan kontrabanda terbesar di Asia Tenggara. Gaun malam yang menempel pada lekukan tubuhnya bukan hanya untuk menarik pandangan, melainkan sebagai selubung untuk menyembunyikan alat-alat khusus yang ia butuhkan dalam setiap misi.

Ketika jaringan itu mulai merencanakan transaksi besar yang mengancam keamanan negara, Sasha diberi tugas untuk mendekati Marcus Vogel—bos tersembunyi dari organisasi tersebut yang baru saja tiba dari luar negeri. Dengan pesona yang tak tertahankan dan kecerdasan yang tajam, ia berhasil meraih kepercayaan sang bos dan masuk ke dalam lingkaran paling dalam jaringan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan dari Belanda

Empat hari setelah kejadian di Gedung Kesenian, Jakarta kembali terlihat ramai seperti biasa. Tapi bagi Sasha dan timnya, suasana tidak pernah sama lagi. Mereka bekerja dari markas tersembunyi di sebuah rumah tua di pinggiran kota—tempat yang dulunya milik kakek Sasha sebelum ia harus meninggalkan identitas aslinya. Rumah berdinding tebal dengan kebun pepaya yang lebat di sekelilingnya menjadi tempat yang cukup aman, jauh dari pandangan mata yang tidak diinginkan.

Pukul 08.30 pagi

Suara mesin cetak berdetak keras di ruangan bawah tanah yang telah diubah menjadi kantor sementara. Lantai yang dipasangi ubin keramik tua ditutupi karpet tipis untuk meredam suara, sedangkan dindingnya dipenuhi dengan peta Jakarta dan peta pelabuhan yang menjadi pusat perhatian. Raden sedang memeriksa salinan dokumen yang berhasil dicuri dari Marcus Vogel, jari jemarnya melintas di atas lembaran kertas yang penuh dengan angka dan nama orang penting. Di sebelahnya, dua anggota tim lainnya—Rina dan Bima—memantau aktivitas daring organisasi kriminal Belanda yang dikenal dengan nama "De Zilveren Leeuw" (Singa Perak).

"Sasha, lihat ini," panggil Raden dengan suara tegang, menunjukkan layar komputer besar di depannya. Layar tersebut menampilkan peta jejaring organisasi yang kompleks, dengan garis-garis yang menghubungkan nama-nama dari Belanda hingga Indonesia. "Organisasi mereka telah mengirim tiga orang ke Jakarta. Semua memiliki latar belakang militer dan intelijen. Nama mereka: Erik van der Berg, Sophie Claessen, dan Jan Harten."

Sasha mendekat, menyeka tangan yang sedikit berkeringat pada celananya. Ia melihat foto-foto wajah yang ditampilkan di layar—wajah-wajah yang dingin dan penuh keseriusan, jelas bukan orang yang bisa dianggap remeh. Rina segera mengklik nama Erik van der Berg, dan sebuah profil panjang muncul di layar.

"Erik adalah mantan komando khusus Belanda, pernah bertugas di Afghanistan dan Mali," jelas Rina, yang mata nya tidak pernah lepas dari layar monitor. "Dia dihormati di organisasi karena keahliannya dalam taktik serangan dan pengambilan target penting. Lulusan akademi militer terbaik tahunnya."

Kemudian ia mengklik nama Sophie Claessen. Foto wanita dengan rambut pirang pendek dan mata hijau tajam muncul. "Sophie ahli dalam teknologi dan penyusupan sistem keamanan. Dulunya bekerja di perusahaan teknologi besar di Belanda sebelum dipecat karena mencoba mencuri data rahasia perusahaan. Sejak itu, dia menjadi ahli keamanan yang bekerja untuk pihak gelap."

Terakhir, layar menampilkan wajah pria bertubuh besar dengan bekas luka di pipi kirinya—Jan Harten. "Dan Jan..." ucap Bima dengan nada yang lebih rendah, "dia dikenal sebagai pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal dalam misinya. Sudah lebih dari dua puluh kasus pembunuhan yang dikaitkan dengannya, tapi tidak pernah ada bukti yang cukup untuk menangkapnya."

Sebelum mereka bisa membahas lebih lanjut, pintu rumah terdengar diketuk dengan pola khusus—tiga ketukan cepat, satu lama, dua ketukan cepat. Raden segera mengambil senjata yang tersembunyi di bawah meja, sementara Sasha bergerak perlahan menuju pintu, tangannya menyentuh kunci kecil yang ada di dalam gelang tangannya. Rina dan Bima juga siap, masing-masing mengambil alat komunikasi dan senjata kecil yang tersedia.

"Dia seorang teman," bisik Sasha setelah mengenali pola ketukan yang hanya mereka dan beberapa kontak terpercaya yang tahu. Ia membuka pintu dan melihat seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan dengan rambut hitam terikat rapi dan mengenakan jas hitam yang sedikit kusut akibat perjalanan. Wajahnya tampak lelah tapi tetap waspada. "Bu Lina?"

Wanita itu memasuki rumah dengan cepat dan menutup pintu dengan hati-hati, bahkan mengecek kunci dua kali untuk memastikan pintu terkunci rapat. Ia adalah agen intelijen yang telah membantu Sasha dalam beberapa misi sebelumnya, dan selalu menjadi salah satu orang yang bisa dipercaya dalam situasi sulit.

"Saya punya informasi penting," ujar Bu Lina dengan suara rendah, menanggapi senyuman Sasha sebelum duduk di kursi kayu tua yang disediakan. Ia menarik napas dalam-dalam seolah sedang menenangkan diri. "De Zilveren Leeuw tidak hanya ingin mengambil alih proyek pelabuhan seperti yang kita duga sebelumnya. Mereka memiliki rencana yang jauh lebih besar."

Sasha duduk bersamanya, sambil memberi gelas air putih yang dingin. "Apa yang mereka rencanakan?"

"Proyek pelabuhan hanya menjadi sarana untuk mencuci uang hasil kejahatan mereka yang berasal dari perdagangan senjata dan barang terlarang," jelas Bu Lina, mengambil amplop kecil dari dalam kantong jasnya. "Selain itu, mereka juga berencana untuk membunuh semua orang yang mengetahui tentang aktivitas gelap Marcus—termasuk kamu dan timmu. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka telah menyusup ke dalam sistem pemerintah lokal dan beberapa perusahaan besar di sini, bahkan ada yang bekerja di kantor kejaksaan yang menangani kasus Marcus."

Sasha mengerutkan kening, matanya menunjukkan ketidakpercayaan tapi juga kesadaran bahwa informasi ini mungkin benar. "Berapa lama mereka sudah berada di sini? Bagaimana bisa mereka menyusup dengan begitu cepat?"

"Sembilan hari yang lalu—bahkan sebelum Marcus ditangkap," jawab Bu Lina sambil memberikan amplop kecil kepada Sasha. "Mereka sudah merencanakan segalanya jauh sebelum kita mengambil tindakan terhadap Marcus. Di dalam amplop ada lokasi tempat mereka berkumpul—sebuah gudang tua di pelabuhan Tanjung Priok, tepat di belakang area penyimpanan kontainer nomor 78 dan 79. Mereka sedang menyusun rencana untuk menyerang kantor penyelidikan yang sedang menangani kasus Marcus besok malam pukul 22.00. Tujuan mereka adalah menghancurkan semua bukti dan membunuh jaksa yang menangani kasus tersebut."

"Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi," kata Raden dengan tegas, sudah berdiri di belakang mereka. "Tetapi jika kita menyerang dulu tanpa bukti yang jelas, kita akan dianggap sebagai penjahat oleh polisi reguler yang tidak tahu tentang kasus ini. Kita perlu bukti yang konkrit tentang rencana mereka agar pihak berwenang bisa bertindak."

Sasha mengambil amplop dan membuka isinya—terdapat peta lokasi gudang yang digambar dengan tangan, lengkap dengan posisi pintu masuk, jendela, dan area di mana mereka kemungkinan akan berkumpul. Selain itu ada catatan tentang jadwal pertemuan mereka: malam ini pukul 19.00, tepat tiga jam sebelum rencana serangan mereka. Ia berpikir sejenak, melihat ke arah semua anggota timnya yang sedang menunggu keputusannya.

"Kita akan melakukan penyusupan malam ini," ujarnya dengan suara yang penuh keyakinan, berdiri dan mulai mengatur rencana. "Saya akan masuk sebagai pekerja bersih yang sedang membersihkan gudang—saya sudah punya identitas samaran dan pakaian yang sesuai. Raden dan Bima akan berada di luar, di dalam mobil pantau yang dilengkapi dengan alat pengawas jarak jauh. Rina akan berada di markas untuk memantau sistem keamanan gudang dan memberikan informasi secara real-time."

Ia melihat ke arah Bu Lina. "Bu Lina, tolong hubungi pihak berwenang yang dapat dipercaya—jaksa yang menangani kasus Marcus dan kepala divisi khusus polisi yang kamu percayai. Beritahu mereka untuk siap mengamankan lokasi saat kita mendapatkan bukti yang dibutuhkan. Kita akan memberikan sinyal ketika sudah waktunya mereka datang."

Bu Lina mengangguk. "Saya akan melakukannya segera. Tapi hati-hati ya, Sasha—mereka tidak akan mudah ditaklukkan. Mereka pasti telah memasang sistem keamanan yang ketat di gudang itu."

 

Pukul 18.30 malam

Sasha sudah siap dengan pakaian pekerja bersih—baju biru tua dengan sablon nama "Siti" di dada, celana panjang yang sedikit lebar, dan sepatu kerja kasar. Ia membawa ember plastik berisi air dan sabun cuci lantai, serta sapu dan pel yang terlihat biasa saja. Namun di dalam ember tersebut tersembunyi kamera mikro yang terhubung ke perangkat komunikasi kecil di dalam saku bajunya. Selain itu, gelang tangan peraknya yang selalu ia kenakan kini dilengkapi dengan alat pemantau getaran dan sensor gerak yang bisa mendeteksi keberadaan orang di sekitarnya.

Mobil yang dikemudikan Raden melaju perlahan menuju pelabuhan Tanjung Priok. Malam itu, langit sedang berawan dan hujan mulai turun dengan pelan, membuat jalanan menjadi licin dan membuat pandangan menjadi terbatas—keadaan yang justru menguntungkan untuk misi mereka.

"Kita sudah sampai di lokasi," bisik Raden melalui radio yang tersembunyi di dalam telinga Sasha. "Gudang berada tepat di depanmu, sekitar 50 meter ke kanan. Tidak ada pengawal yang terlihat di luar, tapi pastikan kamu waspada di dalamnya."

Sasha mengangguk tanpa menjawab, membuka pintu mobil dan berjalan dengan langkah yang santai ke arah gudang. Ia menyapa beberapa pekerja pelabuhan yang sedang menyelesaikan tugas mereka, dengan senyuman ramah yang telah ia latih dengan baik. Saat sampai di depan pintu gudang yang besar dan berkarat, ia melihat sebuah papan tulis yang bertuliskan "Dilarang Masuk - Dalam Perbaikan".

Tanpa ragu, ia membuka pintu dengan perlahan dan memasuki gudang. Udara di dalamnya berbau laut, minyak mesin, dan kayu lapuk. Beberapa kontainer besar tersebar di sekeliling ruangan, sementara beberapa rak baja tua penuh dengan barang-barang tak dikenal menempati sudut-sudut gudang. Cahaya hanya datang dari beberapa lampu neon yang berkedip-kedip dan sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela tinggi.

Sasha mulai bekerja dengan lambat, menyapu lantai dan sesekali menyeka bagian dinding yang tampak kotor. Ia mengikuti jalur yang telah direncanakan berdasarkan peta dari Bu Lina, bergerak perlahan menuju sudut paling dalam gudang yang diduga menjadi tempat pertemuan Erik, Sophie, dan Jan.

Setelah beberapa menit bergerak, ia mendengar suara bicara dari kejauhan—suara pria yang sedang menjelaskan sesuatu dengan logat asing yang jelas. Ia segera mencari tempat persembunyian di balik sebuah kontainer besar yang bertuliskan nama perusahaan pelayaran Belanda. Dari sana, ia bisa melihat dengan jelas kelompok tiga orang yang berkumpul di sekitar meja besar yang diletakkan di tengah ruangan.

Di atas meja terdapat peta besar proyek pelabuhan, beberapa lembar kertas yang penuh dengan catatan, dan sebuah laptop yang sedang dinyalakan. Erik van der Berg berdiri di depan meja, gestur tangannya yang kuat menunjukkan bahwa ia sedang memimpin rapat. Sophie Claessen duduk di depan laptop, jarinya cepat mengetik sesuatu sambil sesekali memberikan komentar. Jan Harten berdiri di sisi kanan meja, tangannya selalu berada di dekat pinggangnya seolah siap mengambil sesuatu kapan saja.

Sasha segera mengaktifkan kamera mikro di dalam embernya, menunjukkannya ke arah kelompok mereka. Ia juga mengaktifkan perekam suara yang akan menangkap setiap kata yang mereka ucapkan.

"...jadi serangan akan berjalan seperti ini," ujar Erik dengan suara yang rendah namun jelas terdengar. "Jan dan dua orang lainnya akan menyerang dari depan, sementara saya akan masuk dari belakang untuk mengambil target utama. Sophie akan menyusup ke sistem keamanan kantor untuk mematikan semua kamera dan alarm lima menit sebelum serangan dimulai."

"Apakah kita sudah memastikan tidak ada orang yang akan mengganggu?" tanya Sophie tanpa melihat dari layar laptopnya. "Saya sudah memeriksa jadwal patroli polisi di sekitar area tersebut, tapi mereka mungkin akan mengubahnya jika ada yang curiga."

"Jangan khawatir," jawab Jan dengan suara yang kasar dan penuh keyakinan. "Kita sudah menyewa beberapa orang lokal untuk membuat keributan di area lain saat serangan berlangsung. Polisi akan sibuk menangani itu dan tidak akan punya waktu untuk datang ke kantor kejaksaan."

Sasha terus merekam semua percakapan dan gambar di layar laptop mereka. Di layar tersebut terlihat rencana serangan yang rinci, termasuk posisi setiap orang di tim serangan, waktu yang dibutuhkan untuk setiap tahapan, dan rute pelarian yang akan digunakan. Selain itu, ada juga daftar nama orang-orang yang bekerja dengan mereka di dalam pemerintah dan perusahaan lokal—nama-nama yang cukup mengejutkan bahkan bagi Sasha yang sudah terbiasa dengan kasus-kasus korupsi.

Namun saat ia ingin sedikit menggeser posisinya untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas dari layar laptop, sepatunya menyentuh sekumpulan besi kecil yang terletak di belakang kontainer. Bunyi klink yang cukup keras terdengar di dalam gudang yang sepi.

"Anda seharusnya tidak berada di sini, mbak bersih," ujar Jan dengan suara yang rendah dan penuh ancaman, sudah berdiri di depan Sasha dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia tahu siapa yang sedang dihadapinya. Tangannya sudah mulai meraih sesuatu di belakang pinggangnya—kemungkinan besar senjata.

Sasha tetap tenang, mengangkat tangan dengan ember di dalamnya sebagai tanda bahwa ia tidak berbahaya. "Maaf Pak, saya pikir gudang ini sudah tidak digunakan dan perlu dibersihkan. Saya tidak sengaja masuk ke sini. Saya akan segera pergi dan tidak akan memberitahu siapapun tentang apa yang saya lihat."

Namun Jan hanya tersenyum sinis, membuka senyumnya untuk menunjukkan gigi yang sedikit belang. "Saya tahu siapa kamu sebenarnya, Sasha Wijaya... atau mungkin saya harus menyebutkan nama asli kamu—Cici? De Zilveren Leeuw tidak pernah membiarkan orang yang mengetahui rahasia kita hidup lama. Kamu seharusnya tidak campur tangan dalam urusan kita."

Saat itu, lampu gudang tiba-tiba padam total. Gelap gulita menyelimuti seluruh ruangan, hanya diterangi sedikit sinar bulan dari jendela. Bunyi peluit kecil terdengar dari luar—sinyal bahwa Raden dan Bima telah siap bertindak. Tanpa berpikir dua kali, Sasha segera menjatuhkan ember ke arah Jan, yang dengan cepat menghindar namun cukup terganggu untuk memberi kesempatan padanya untuk berlari.

Ia berlari dengan cepat melalui lorong antara kontainer-kontainer besar, mengikuti jalur keluar yang telah ia ingat dengan baik. Dari kejauhan terdengar suara benturan, teriakan, dan suara benda yang jatuh ke lantai. Sasha tahu bahwa Raden dan Bima sedang menangani Jan dan mungkin juga Erik yang mengejarnya.

Saat ia hampir mencapai pintu keluar, ia melihat Sophie Claessen sedang mencoba keluar melalui jendela kecil di sisi gudang, membawa laptopnya dengan erat. Sasha segera berlari ke arahnya dan menyelipkan kaki di antara tubuh Sophie dan jendela, membuatnya terjatuh ke lantai. Laptopnya terlepas dari tangannya dan jatuh di dekat kaki Sasha.

"Saya akan mengambil ini," bisik Sasha sambil mengambil laptop dan segera berlari keluar dari gudang. Di luar, ia melihat Raden dan Bima sedang berjuang melawan Jan yang sangat kuat. Namun suara sirene sudah mulai terdengar dari kejauhan—Bu Lina telah berhasil menghubungi pihak berwenang dan mereka sedang dalam perjalanan ke lokasi.

"Sekarang kita harus pergi!" teriak Raden saat berhasil memberikan pukulan pada wajah Jan dan membuka jalan keluar. Mereka berlari bersama melewati pelabuhan yang sepi, menghindari area yang terang dan menggunakan kegelapan untuk menyembunyikan diri. Setelah beberapa menit berlari, mereka sampai di tempat di mana mobil mereka diparkir dan segera masuk ke dalamnya.

Raden mengemudi dengan cepat menjauh dari pelabuhan, sementara Bima memeriksa kondisi tubuhnya yang memiliki beberapa bekas luka kecil akibat benturan dengan Jan. Sasha duduk di kursi belakang, membuka laptop Sophie dan melihat isi yang tersimpan di dalamnya.

Ada rencana lengkap serangan ke kantor kejaksaan, data lengkap semua anggota De Zilveren Leeuw di seluruh dunia beserta kontak mereka, bukti kolusi dengan beberapa orang penting di Indonesia, dan bahkan catatan tentang rencana mereka untuk menguasai pasar perdagangan ilegal di kawasan Asia Tenggara. Semua itu adalah bukti yang sangat berharga untuk menghancurkan organisasi mereka sepenuhnya.

"Kita punya bukti yang cukup untuk menghancurkan organisasi mereka," ujar Sasha dengan lega, menatap layar laptop yang penuh dengan informasi penting. Tapi kemudian ia melihat sebuah pesan pop-up yang baru saja masuk ke dalam sistem laptop—pesan yang ditulis dalam bahasa Belanda namun dengan cepat diterjemahkan oleh perangkat lunak yang ada di dalam laptop.

"Kita tahu di mana kamu tinggal, Cici. Semua akan berakhir malam ini. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu atau orang-orang yang kamu cintai."

Di bawah pesan tersebut terdapat sebuah gambar—foto rumah tua milik kakek Sasha yang menjadi markas mereka saat ini, diambil dari jarak jauh tapi cukup jelas untuk dikenali.

...di sudut gambar terlihat sosok seseorang yang sedang mengambil foto dengan kamera jarak jauh.

Mata Sasha menyipit, tubuhnya menjadi tegang. Mereka telah mendapatkan bukti yang sangat berharga, tapi ancaman belum selesai—bahkan mungkin semakin dekat dari yang mereka kira.

"Raden, kecepatan maksimal!" teriak Sasha sambil menunjukkan layar laptop kepada Raden. "Mereka tahu di mana markas kita berada. Kita harus segera kembali dan mengingatkan semua orang di sana."

Raden menginjak pedal gas lebih dalam, mobil melesat melalui jalan-jalan sepi pinggiran kota. Hujan mulai turun dengan deras, membuat jalanan semakin licin dan memperlambat kecepatan mereka sedikit. Bima segera mengambil radio komunikasi untuk menghubungi Rina yang masih berada di markas.

"Rina, kamu masih ada di sana? Dengar dengan baik—De Zilveren Leeuw tahu lokasi kita. Mereka akan datang ke rumah itu. Segera keluar dari sana dan cari tempat persembunyian yang aman. Jangan tinggal di sana satu detik lagi!" ucap Bima dengan suara yang penuh ketegangan.

Setelah beberapa detik jeda, suara Rina terdengar dari radio. "Saya sedang keluar sekarang. Tapi saya melihat beberapa mobil tidak dikenal sedang mendekat dari arah utara. Mereka sudah dekat!"

Sasha mengambil radio dari tangan Bima. "Rina, jangan ke lokasi bertemu yang sudah kita sepakati. Pergi ke tempat kedua—kafe kecil di belakang pasar tradisional Cikapundung. Kamu tahu di mana itu kan? Tunggu kita di sana."

"Iya, saya tahu. Hati-hati kalian juga ya," jawab Rina sebelum sinyal radio terputus.

Saat mobil mereka semakin dekat dengan rumah tua, mereka bisa melihat beberapa mobil hitam besar yang sudah berada di depan kebun pepaya. Beberapa orang dengan pakaian gelap sedang keluar dari mobil tersebut, salah satunya adalah Erik van der Berg yang wajahnya tampak marah karena rencana mereka terbongkar. Di sebelahnya berdiri Sophie Claessen, sedang memegang perangkat elektronik kecil yang kemungkinan digunakan untuk mematikan sistem keamanan apa pun yang ada di rumah.

"Kita tidak bisa masuk dari depan," bisik Raden sambil memarkir mobil di balik pepohonan yang lebat beberapa ratus meter dari rumah. "Mereka sudah mengelilingi area depan dan samping kanan."

Sasha melihat sekeliling dengan cermat, mencari celah yang bisa mereka manfaatkan. "Ada jalan kecil di belakang rumah yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Kita bisa masuk dari sana dan mencari cara untuk mengeluarkan apa yang masih penting dari dalam rumah sebelum mereka menghancurkannya."

Tanpa menunggu tanggapan, Sasha membuka pintu mobil dan berlari ke arah jalan kecil yang ia sebutkan, dengan Raden dan Bima mengikutinya dari belakang. Hujan deras membuat mereka basah kuyup dalam waktu singkat, tapi mereka tidak peduli—yang penting adalah menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan dan memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal di dalam rumah.

Mereka sampai di belakang rumah dalam waktu lima menit. Jendela belakang rumah masih tertutup rapat, dan sepertinya belum ada yang memasuki rumah dari sisi ini. Sasha mengambil kunci kecil dari gelang tangannya dan membuka jendela dengan cepat dan senyap.

Di dalam rumah, suasana sangat tenang. Lampu masih menyala karena Rina tidak punya waktu untuk mematikannya saat keluar. Sasha segera berlari ke ruangan bawah tanah yang menjadi kantor sementara mereka, mengambil hard disk eksternal yang berisi semua salinan dokumen penting dan beberapa alat komunikasi yang tidak bisa ditinggalkan. Raden dan Bima juga mengambil beberapa senjata kecil dan perlengkapan darurat yang tersimpan di lemari rahasia.

"Sudah siap?" tanya Sasha setelah semua yang penting sudah dikumpulkan.

"Siap!" jawab Raden dan Bima bersamaan.

Sebelum mereka bisa keluar melalui jendela belakang, suara pintu depan rumah terdengar terbuka dengan kuat. Erik berteriak dengan bahasa Belanda yang kasar, menyuruh orang-orangnya untuk mencari setiap sudut rumah dan menghancurkan apa pun yang mereka temukan.

Sasha memberi isyarat kepada Raden dan Bima untuk tetap diam di balik meja besar di ruangan bawah tanah. Mereka bisa mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengan ruangan mereka, disertai suara barang-barang yang dihancurkan di atas lantai.

"Sini! Ada sesuatu di sini!" teriak salah satu orang dengan suara lokal, mungkin adalah orang yang mereka sewa untuk membantu serangan kali ini.

Saat langkah kaki semakin dekat dengan tangga yang mengarah ke ruangan bawah tanah, Sasha mengambil sepotong kayu kecil dari lantai dan melemparkannya ke arah sudut lain ruangan. Bunyi tumpak yang jelas terdengar membuat orang yang akan turun ke ruangan bawah tanah berhenti dan berbalik ke arah sumber suara.

"Ini kesempatan kita," bisik Sasha dengan cepat. Mereka berlari keluar dari ruangan bawah tanah dan melalui koridor belakang, keluar melalui jendela yang sudah mereka buka sebelumnya. Saat mereka keluar, mereka melihat beberapa orang sedang berlari ke arah ruangan di mana Sasha melemparkan kayu tersebut.

Mereka berlari dengan cepat melalui kebun pepaya yang lebat, menghindari jalan utama dan menggunakan jalan kecil yang hanya dikenal oleh penduduk lokal. Setelah berlari selama sekitar sepuluh menit, mereka melihat mobil mereka masih berada di tempat yang sama, tidak terganggu.

Tanpa berlama-lama, mereka masuk ke dalam mobil dan mengemudi menjauh dari rumah tua tersebut. Saat mereka menjauh, mereka bisa melihat nyala api kecil muncul dari arah rumah—Erik dan kelompoknya sudah mulai membakar apa yang tersisa di dalamnya.

"Saya tidak percaya mereka benar-benar melakukan itu," ujar Bima dengan suara penuh kemarahan. "Rumah itu adalah satu-satunya kenangan saya tentang kakek."

Sasha menepuk bahu Bima dengan lembut. "Rumah hanya sebuah tempat, tapi kita masih ada dan kita punya bukti yang bisa menghancurkan mereka. Itu yang paling penting."

Setelah beberapa waktu berkendara, mereka sampai di kafe kecil di belakang pasar tradisional Cikapundung. Tempat ini ramai dengan orang-orang yang sedang makan malam, membuatnya menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi. Rina sudah berada di sana, duduk di sudut paling dalam kafe dengan wajah yang khawatir.

"Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Rina saat Sasha dan dua temannya duduk di mejanya.

"Kita baik-baik saja," jawab Sasha sambil memesan makanan dan minuman untuk semua orang. "Tapi rumah kita sudah tidak bisa digunakan lagi. Kita perlu mencari tempat baru dan segera menyerahkan bukti yang kita punya kepada pihak berwenang sebelum mereka menemukan kita lagi."

Raden mengangguk. "Bu Lina sudah menghubungi saya saat kamu sedang mengambil barang dari rumah. Dia bilang pihak kejaksaan dan polisi khusus sudah siap menerima bukti kita besok pagi pukul 09.00 di kantor kejaksaan tinggi Jakarta. Mereka akan memberikan perlindungan bagi kita selama proses penyelidikan berlangsung."

Sasha menghela napas lega mendengarnya. "Baiklah, itu adalah berita baik. Kita akan beristirahat sebentar di sini, kemudian mencari tempat menginap yang aman untuk malam ini. Besok kita akan menyelesaikan semua ini."

Namun saat mereka mulai menikmati makanan yang datang, Sasha melihat seorang wanita dengan rambut pirang pendek yang sedang memasuki kafe—Sophie Claessen. Wanita itu melihat langsung ke arah mereka dengan senyum sinis, lalu mengambil telepon genggamnya dan mengetik sesuatu.

"Saya rasa kita tidak bisa beristirahat lama-lama," bisik Sasha dengan suara rendah, memberi isyarat kepada teman-temannya untuk bersiap. "Tampaknya mereka tidak mau menyerah begitu saja."

Di luar kafe, beberapa mobil hitam mulai berhenti di depan pintu...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!