Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Loki Minta Maaf
Kalau kultivasi turun, berarti melukai fondasi, dan jika turun level, biasanya siluman tak bisa berubah wujud, dia akan berbentuk hewan dalam kurun waktu tertentu, sampai fondasi sembuh.
Itu memang benar, jika saja Loki tidak disembuhkan Liya, maka dia akan berwujud rubah cukup lama. Tadi, saat Liya mengobati dirinya, dia berada dalam wujud rubah mungil, masih meronta-ronta dan menendang-nendang Liya dengan kaki kecilnya saat sulur tanaman Liya mengobati.
"Maaf Liya." Loki kembali bicara. Liya diam saja, dia masih mengumpulkan nyawa karena baru sadar dari pingsan. Tenaganya terkuras habis karena menyembuhkan dua jantan level tinggi sekaligus.
Loki lebih mendekat. Harumnya! Itulah yang ada di kepala Loki sekarang. Dulu, Liya ini bau sekali, berbicara dengan dirinya sambil menggaruk kepala, kutu bahkan lengket di kukunya.
"Liya," panggil Loki lagi. "Maaf." Wajahnya begitu muram. Dia salah paham dan keras kepala selama ini, karena benci dengan perjodohan yang di atur oleh dewa hewan, semua kebenaran tentang Liya pun di buta kan. Tatapan Loki kali ini penuh bersalah.
Selama Liya pingsan, Pidi, Bayu dan Abyysal telah membuka otaknya agar berpikir jernih! Abyssal juga menjelaskan dan menceritakan perihal dirinya. Obat birahi yang ditujukan kepada dirinya, pasti juga ulah seseorang, jadi mereka kini tengah mencari tahu siapa pelakunya!
Apalagi sekarang? Liya sampai pingsan demi menyembuhkan dirinya dengan elemen kayu, sulur tanaman milik Liya terasa dingin, sejuk, sehingga rasa sakit menghilang, bekas luka pun juga samar, perlahan sampai benar-benar sembuh total. Liya benar-benar baik pada dirinya.
"Sebagai pasangan kamu, pasangan yang dijodohkan oleh dewa hewan, aku malah tidak percaya dengan perkataan kamu. Aku egois, aku hanya percaya dengan apa yang ada di kepalaku dan omongan orang sekitar. Bahkan, aku terus menyerang kamu dengan kata-kata, mengabaikan kamu, maafkan aku Liya. Maaf .... "
Liya bangkit dari ranjang. "Aku merasa sangat dicurangi! Aku akan membuat keadilan. Aku pasti akan menemukan dalangnya!"
"Kami percaya dan akan membantu kamu Liya," ucap Pidi dan Bayu serempak.
"Aku juga Liya, aku akan bantu kamu," sambung Abyssal memasang wajah penuh menyedihkan, di ujung matanya mengkilat cairan bening seperti air mata yang akan jatuh. Seolah, dia adalah duyung jantan lemah yang hanya bisa diintimidasi dan harus dilindungi oleh Liya.
Pidi dan Bayu sama-sama menoleh. 'Cih, memasang tampang wajah menyedihkan, pura-pura lemah di depan betina, dasar duyung kepala air!' Mereka berdua kesal dalam hati.
"A-aku akan bertanggung-jawab juga untuk itu, karena ini salahku Liya." Loki tidak lagi bicara tinggi hati, dia merendah kali ini.
"Ya sudah, sekarang aku sudah dalam keadaan baik. Kalian bisa kembali pulang!" kata Liya.
"Aku?" Pidi menunjuk dirinya.
"Kamu juga pulang!" balas Liya.
Di usir Liya, Telinga harimau Pidi terkulai. Dia menggeleng, memilih meringkuk diujung ranjang dengan wujud harimau seutuhnya, dia memperkecil wujudnya setengah bentuk. Tak lagi berani naik ke atas ranjang Liya, takut Liya marah dan mengusir dirinya.
Pidi berkata pelan. "Aku kan sudah berjanji padamu, aku akan menjaga kamu malam ini. Aku jantan yang menepati perkataan, bukan ingkar janji!"
'Lihat tiga jantan itu, sekarang berusaha mencari simpati dan mencuri hati Liya. Aku tidak akan mengizinkan! Dasar duyung kepala air, rubah licik, dan ular rakus!'
Melihat itu, Liya tak masalah, dia memilih memunggungi Pidi dan lainnya yang masih berdiri di sekitar ranjangnya.
"Baiklah, aku akan tidur di pohon dekat tungku memasak, Liya." Bayu beranjak, tahu kalau Liya tak mau diganggu lagi, dia butuh istirahat.
"Aku juga akan berjaga di pintu depan gua, Liya." Abyysal juga menimpali, cukup sadar diri.
Sementara Loki, tak berani berkata apapun. Kata maaf dia saja tak disahuti betinanya. Sedih, tapi dia memang sangat kasar selama ini.
'Aku pasti akan menguliti orang yang telah memberikan aku obat itu!' lalu Loki menghilang dengan cepat, entah kemana. Liya memilih memejamkan mata, tak peduli dengan empat jantan itu. Badannya lelah sekali, dia butuh waktu untuk memulihkan kembali energinya yang terkuras.
Hari ini kepala suku pulang dari tukar barang dengan suku dari klan lain, karena suku-suku antar klan serigala buas milik Ibunya Liya ini tidak punya stok garam dan madu lagi.
Ayahnya, Duckiz Srimpi ketua suku angsa putih adalah jantan tampan dan memiliki level tertinggi di semua sukunya. Dulunya, banyak betina yang menaruh hati padanya, tapi dia suka pada ketua klan, suku serigala, ibunya Liya. Hanya punya satu anak saja, karena Ibu Liya memiliki banyak suami, jarang sekali mengunjungi dan memanjakan dirinya.
Duckiz, sebenarnya sangat sayang pada putri satu-satunya Liya. Hanya saja, Liya sedikit nakal, jorok dan bodoh, sering melakukan tindakan-tindakan yang membuat para angsa lain marah. Entah bagaimana mulanya, anaknya yang cantik itu semakin hari semakin jelek, gendut dan tak terurus.
Para angsa menyuruh Duckiz mengusirnya, sehingga dengan terpaksa dia meletakkan Liya tinggal jauh dari semua suku di klan, di arah paling selatan tanah suku angsa, berbatas bukit-bukit dari suku lain antar klan.
Baru juga dia datang, sudah dapat laporan jika Liya membuat masalah, membuat bukit-bukit di sekitar berguncang.
"Panggil Liya kemari!" pintanya kepada asistennya.
Saat asisten ayahnya sampai, Liya tengah mandi di sumur, Abyysal menyambut asisten itu dengan ramah.
"Pagi Paman Rurux, ada apa, tumben berkunjung pagi ke mari?"
"Saya ingin bertemu Liya."
"Liya sedang mandi. Katakan saja padaku, nanti akan aku sampaikan," jawab Abyysal.
"Kepala suku meminta Liya datang ke aula pertemuan suku, ada yang ingin beliau tanyakan."
"Baik, saya akan segera menyampaikan pada Liya setelah dia mandi Paman."
Pidi dan Bayu datang mendekat ke arah Abyysal setelah asisten ayahnya pergi.
"Kenapa paman Rurux kemari, ada apa?" tanya Bayu.
"Menyuruh Liya menghadap ke aula angsa. Kurasa pasti karena masalah semalam!" Abyysal menatap Pidi.
"Menurut aku juga. Semalam Loki tidak normal, bahaya sekali. Itu pun, aku sudah membawa dia jauh di bukit sana!" tunjuk Pidi di tempat mereka bertarung semalam.
"Bukit itu berguncang hebat, bahkan sampai ke lereng dekat danau ku, ke sungai terasa tidak semalam?" Abyysal menatap Bayu.
"Hm, entah."
"Dasar bodoh! Masa kamu gak terasa sih!" Abyysal berdecak kesal.
"Aku kan berenang di sungai, jadi tak terasa, antara aku berenang sama sungai bergoyang, sama saja!" jawab Bayu.
"Ya, sudah. Aku akan temani Liya menghadap ketua suku nanti, menghadap ayah mertua!"
"Aku akan ikut!" kata Pidi.
"Aku pun, aku ikut juga!" sahut Bayu tak mau kalah.
Usai mandi, Liya pun bersiap pergi ke aula angsa, namun di perjalanan malah bertemu biang masalah!