Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Lia melempar tasnya ke atas sofa dengan asal, namun tangannya tak bisa berhenti bergerak. Ia meraih ponsel di saku mantelnya dengan jemari yang masih bergetar hebat. Ada dorongan menyakitkan yang memaksanya untuk membuktikan bahwa asumsinya benar—bahwa luka yang ia rasakan bukan sekadar imajinasi.
Dengan napas yang tersenggal, ia membuka mesin pencari. Jari-jarinya menari di atas layar, mengetikkan kata kunci yang selama lima tahun ini selalu ia hindari: "Pernikahan Regas Adhitama".
Layar ponselnya berkedip sejenak sebelum menampilkan deretan hasil pencarian. Di baris paling atas, sebuah artikel dari portal berita bisnis dan gaya hidup muncul dengan judul yang mencolok:
"Penyatuan Dua Dinasti: Putra Mahkota Adhitama Group Resmi Mempersunting Elena Clarissa dalam Pesta Mewah."
Lia merasa dunianya seolah runtuh menimpa pundaknya. Ia menggeser layar ke bawah, melihat tanggal pemuatan berita tersebut. Tepat empat bulan setelah keberangkatannya ke London.
Foto-foto di artikel itu terpampang nyata. Regas terlihat sangat gagah dalam balutan setelan jas berwarna hitam pekat, berdiri di samping Elena yang tampak sangat cantik dengan gaun pengantin bertabur mutiara. Di foto itu, Regas tidak tersenyum lebar, namun ia berdiri tegak di samping Elena di depan orang tuanya—orang tua yang dulu menolak Lia mentah-mentah.
"Empat bulan..." bisik Lia dengan suara yang pecah. "Hanya butuh empat bulan baginya untuk menyerah dan menuruti kemauan orang tuanya."
Lia tertawa getir, tawa yang lebih mirip dengan isakan. Jadi, semua perhatian kecil, janji-janji untuk bertahan, dan usaha Regas mendatangi apartemennya dulu hanya bertahan selama seratus dua puluh hari setelah ia pergi? Begitu mudahnya ia digantikan oleh sosok yang "selevel" di mata keluarga Adhitama.
Ia teringat kembali wajah Elena yang sedang hamil tadi pagi. Wanita itu bukan sekadar istri di atas kertas; dia adalah masa depan Regas yang nyata, yang sedang membawa ahli waris keluarga tersebut.
Lia mematikan ponselnya dan melempar benda itu ke kasur. Ia berjalan menuju cermin besar di kamarnya, menatap bayangannya sendiri—seorang wanita sukses yang ternyata masih menyimpan harapan bodoh pada laki-laki yang bahkan tidak butuh waktu setengah tahun untuk melupakannya.
"Kamu benar-benar sendirian, Azzalia," ucapnya pada pantulan dirinya di cermin. "Gelar ini, apartemen ini... semuanya tidak ada artinya karena kamu masih membiarkan dirimu kalah oleh masa lalu yang sudah mengkhianatimu sejak lama."
Malam itu, Lia tidak tidur. Ia menghabiskan waktu dengan mengemasi buku-buku sastra di atas mejanya, berniat untuk meminta pindah tugas ke cabang sekolah lain atau bahkan keluar sekalian. Ia tidak sanggup lagi jika harus melihat wajah Ghea, karena kini setiap kali ia melihat anak itu, ia hanya akan teringat betapa cepatnya Regas berpaling.
Lia melepaskan genggamannya pada tumpukan buku itu. Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen mendinginkan kepalanya yang panas.
"Tidak," bisiknya tegas. "Kalau aku pergi sekarang, aku hanya akan membuktikan bahwa dia masih punya kuasa untuk menghancurkan hidupku. Aku bukan lagi mahasiswi penerima beasiswa yang bisa diusir dengan tatapan rendah. Aku adalah Azzalia, seorang pendidik."
Ia teringat perjuangannya di London. Malam-malam tanpa tidur, bekerja paruh waktu di perpustakaan kota yang dingin, hingga tangisannya yang pecah saat berhasil meraih predikat Summa Cum Laude. Semua itu ia lakukan untuk menjadi wanita yang mandiri, bukan untuk menjadi pengecut yang melarikan diri hanya karena seorang laki-laki dari masa lalu.
Lia berjalan menuju meja rias, menatap bayangannya di cermin dengan sorot mata yang berbeda. Kali ini, tidak ada lagi air mata.
"Jika Regas bisa melupakan semuanya dalam empat bulan, maka aku harus bisa menghadapinya setiap hari tanpa rasa sakit," gumamnya. "Ghea tidak bersalah. Dia muridku yang berbakat, dan dia berhak mendapatkan guru terbaik, bukan guru yang melarikan diri karena urusan pribadi."
Ia merapikan kembali buku-buku yang sempat ia kemas. Ia memutuskan untuk tetap bertahan. Ia akan berdiri tegak di depan kelas, menjelaskan diksi dan metafora dengan kepala terangkat tinggi, bahkan jika Regas berdiri di ambang pintu setiap pagi. Ia akan menunjukkan pada keluarga Adhitama bahwa mahasiswi sastra yang mereka remehkan dulu kini telah tumbuh menjadi wanita yang tidak bisa lagi mereka sentuh dengan uang atau harga diri.
Pagi harinya, Lia datang lebih awal. Ia mengenakan setelan kerja berwarna navy yang elegan dengan polesan lipstik merah yang berani—sebuah perlindungan mental yang ia bangun sendiri.