Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suasana di apartemen sewaan Mila mendadak tegang saat sebuah ketukan keras terdengar dari balik pintu.
Andre, yang sedang menyesap kopinya sambil menghitung sisa uang di dompet, melangkah malas untuk membukanya.
Tok! Tok! Tok!
Begitu pintu terbuka, Andre tertegun melihat seorang wanita paruh baya dengan dandanan mencolok namun tampak kusut, didampingi oleh seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip dengan Dery.
"Siapa kalian?" tanya Andre ketus, matanya menyipit penuh curiga.
Tanpa permisi, Ibu Dery dan kakak laki-lakinya menerobos masuk ke dalam ruangan.
Mila yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah sembab langsung terkejut melihat kehadiran mantan mertuanya itu.
Rupanya, mereka telah membuntuti Mila sejak kepulangannya dari perusahaan Jati kemarin.
"Kami tahu Jati sudah sembuh. Kami lihat sendiri dari kejauhan bagaimana dia menggandeng si pelayan itu dengan bangga!" seru Ibu Dery tanpa basa-basi. Suaranya melengking penuh amarah.
Mila menyilangkan tangan di dada, merasa terpojok.
"Lalu apa urusannya dengan kalian datang ke sini?"
"Urusannya adalah posisi kalian tertukar!" Kakak Dery menimpali dengan nada kasar.
"Jati itu milikmu, Mila. Hartanya, perusahaannya, semuanya harusnya jatuh ke tanganmu. Sedangkan si Lintang itu, dia harusnya kembali pada Dery. Dery masih di penjara sekarang karena laporan Jati, dan hidup kami hancur!"
Ibu Dery mendekati Mila, menggenggam tangannya dengan tatapan licik.
"Mila, kamu harus kembali pada Jati. Rebut dia lagi. Biarkan Lintang kembali pada Dery. Dengan begitu, Dery punya alasan untuk keluar dari penjara dan kita bisa menguasai harta mereka lagi."
"Caranya bagaimana? Jati bahkan tidak mau melihat wajahku!" teriak Mila frustrasi.
"Kita culik si Lintang itu," bisik Ibu Dery dengan senyum mengerikan.
"Kita culik dia, bawa ke tempat terpencil, dan kita buat skenario nikah paksa atau sesuatu yang membuatnya terlihat hina di depan Jati. Jika Lintang hancur, Jati pasti akan kembali mencari hiburan padamu."
Mila terdiam sejenak. Bayangan Lintang yang bersinar di lobi kantor kemarin membakar seleranya untuk membalas dendam. Rasa irinya mengalahkan akal sehatnya.
"Baik. Aku setuju," ucap Mila sambil menganggukkan kepalanya mantap.
Andre, yang sejak tadi menyimak di sudut ruangan, segera berdiri. Wajahnya tampak cemas.
"Mila! Jangan gegabah! Jati bukan orang sembarangan sekarang. Dia punya kekuasaan, dia punya pengawal. Kalau rencana ini gagal, kita semua bisa masuk lubang yang sama dengan Dery!"
Namun, Mila seolah sudah tuli. Obsesinya untuk kembali menjadi nyonya besar di perusahaan Jati telah menutup mata hatinya.
Ia menatap Ibu Dery dengan tatapan dingin yang dipenuhi rencana jahat.
Sinar matahari pagi menerobos celah gorden apartemen, menyinari wajah Jati yang tampak begitu tenang dalam tidurnya.
Lintang, yang sudah rapi dengan setelan sederhana namun bersih, duduk di tepi ranjang.
Ia menatap wajah suaminya dengan penuh cinta,
mengingat kembali keajaiban semalam yang menyatukan mereka seutuhnya.
Perlahan, Lintang menunduk dan mengecup bibir Jati dengan sangat lembut.
Kecupan itu membuat Jati sedikit menggeliat, namun matanya tetap terpejam.
"Mas, aku ke pasar dulu ya? Mau beli bahan untuk masak makan siang kesukaan Mas," bisik Lintang di telinga suaminya.
Jati bergumam pelan, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
"Iya, Sayang. Hati-hati. Aku masih mengantuk sekali. Jangan lama-lama ya..."
Lintang tersenyum manis, mengusap rambut Jati sekilas sebelum mengambil tas tangannya.
Dengan langkah ringan, ia keluar dari gedung apartemen dan memanggil taksi daring menuju pasar tradisional yang cukup besar di pusat kota.
Sesampainya di pasar, suasana sangat ramai. Lintang melangkah masuk ke lorong yang agak sepi, berniat mencari bumbu dapur langka yang biasa ia gunakan. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat ia merasa sepasang mata mengintainya dari balik pilar beton.
Belum sempat Lintang berbalik, sebuah bayangan besar menyergapnya dari belakang.
Sebuah tangan kekar membekap mulutnya dengan kain yang sudah dibasahi cairan kimia berbau menyengat.
"MMMMPPHH!!!"
Lintang meronta kuat, kakinya menendang-nendang udara, mencoba melepaskan diri. Namun, aroma tajam itu dengan cepat menyerang saraf kesadarannya.
Dunianya seketika berputar, pandangannya mengabur, dan lemas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dalam hitungan detik, tubuh Lintang lunglai dan jatuh pingsan di pelukan pria bermasker itu.
"Cepat bawa ke mobil! Sebelum ada yang lihat!" perintah sebuah suara wanita yang tak lain adalah Mila, yang mengawasi dari balik mobil van hitam di sudut parkiran yang gelap.
Kakak Dery dengan sigap menggendong tubuh Lintang yang tak berdaya, melemparkannya ke dalam bagasi mobil yang sudah dimodifikasi.
Mobil itu pun melesat pergi, meninggalkan pasar yang bising, membawa Lintang menuju sebuah tempat penyekapan yang sudah mereka siapkan untuk rencana licik mereka.
Sementara itu, di apartemen, Jati terbangun dengan perasaan tidak enak.
Ia melirik jam di dinding. Sudah dua jam berlalu, dan Lintang belum juga kembali.
Jati terbangun dengan sentakan hebat di dadanya.
Perasaan tidak enak yang sedari tadi menghantui tidurnya kini berubah menjadi kepanikan nyata.
Ia meraih ponsel di nakas, mencoba menghubungi Lintang.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”
“Sial!” umpat Jati. Ia tahu Lintang tidak pernah mematikan ponselnya, apalagi saat pergi sendirian.
Tanpa membuang waktu, Jati menggunakan otoritasnya sebagai CEO untuk melacak taksi online yang dipesan Lintang tadi pagi.
Beruntung, sebagai pelanggan VVIP dan koneksinya yang luas, ia mendapatkan data pengemudi dan titik penurunan dalam hitungan menit.
“Pasar induk?” gumam Jati saat melihat lokasi terakhir Lintang.
Ia segera menghubungi kepala keamanannya, mantan perwira elit yang kini memimpin tim security pribadinya.
“Cek CCTV area parkir dan pintu masuk pasar induk sekarang juga! Cari istriku, Lintang. Gunakan semua unit, jangan ada yang terlewat!” perintah Jati dengan suara yang bergetar namun penuh otoritas.
Tak berhenti di situ, Jati langsung menghubungi koneksinya di kepolisian.
Ia tidak peduli dengan prosedur 'tunggu 24 jam'. Baginya, setiap detik adalah nyawa.
“Halo, Komisaris? Istriku diculik. Aku punya bukti lokasi terakhirnya di pasar induk. Aku butuh bantuan unit lapangan sekarang. Aku akan kirimkan data taksinya,” ucap Jati tegas.
Sambil menunggu kabar, Jati segera berganti pakaian. Amarahnya membuncah.
Ia teringat ancaman Mila dan Ibu Dery kemarin. Jika mereka berani menyentuh seujung rambut pun dari Lintang, Jati bersumpah akan menghancurkan mereka hingga tak bersisa.
“Lintang, bertahanlah. Mas datang,” bisik Jati sambil mengencangkan rahangnya, matanya berkilat penuh amarah saat ia melangkah keluar menuju mobilnya yang sudah siap di lobi.
Suasana di pusat kendali keamanan gedung Jati mencekam.
Jati berdiri di depan deretan layar monitor raksasa dengan rahang mengeras.
Matanya yang tajam tidak berkedip saat tim IT memutar ulang rekaman CCTV dari area parkir pasar induk.
"Berhenti di sana!" perintah Jati tegas.
Layar membeku. Terlihat jelas sosok pria kekar bermasker—yang tak lain adalah kakak Dery—menggendong tubuh Lintang yang lunglai dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil van hitam tanpa plat nomor yang jelas.
Hati Jati mencelos melihat istrinya diperlakukan seperti barang tak berharga. Amarahnya kini berada di titik didih.
Tiba-tiba, ponsel Jati bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Jati segera mengangkatnya.
"Siapa ini?" desis Jati dingin.
"Jati, ini Andre," suara di seberang sana terdengar gemetar dan penuh ketakutan.
"Dengarkan aku. Aku tidak mau terlibat dalam kegilaan ini. Mila benar-benar kehilangan akal sehatnya."
Jati mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Di mana istriku, Andre? Katakan sekarang atau aku pastikan kamu membusuk di penjara bersamanya!"
"Mila, dia bersama keluarga Dery. Ibu dan kakak Dery yang merencanakan semuanya. Mereka membawa Lintang ke sebuah gudang tua milik keluarga mereka di pinggiran kota, dekat pelabuhan lama. Mereka ingin memaksa Lintang menandatangani surat cerai dan menikahkannya secara paksa dengan Dery yang baru saja melarikan diri dari tahanan sementara," lapor Andre dengan cepat, seolah ingin segera lepas tangan.
"Gudang pelabuhan lama?" Jati mengulanginya dengan suara rendah yang mematikan.
"Iya. Tapi hati-hati, Jati. Mereka bersenjata dan mereka nekat. Mila merasa tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan," tambah Andre sebelum mematikan sambungan telepon.
Jati langsung berbalik ke arah kepala keamanannya.
"Kalian dengar itu? Gudang pelabuhan lama. Kirim koordinatnya ke tim polisi dan gerakkan semua unit kita sekarang! Aku ingin tempat itu dikepung dalam sepuluh menit!"
Jati melangkah lebar keluar dari ruang kendali. Ia tidak akan membiarkan Lintang menderita sedetik pun lagi.
Jika kemarin ia adalah pria yang hanya bisa pasrah, hari ini ia adalah singa yang siap menerkam siapa pun yang berani mengusik miliknya yang paling berharga.