Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya
Pagi datang dengan bau aneh.
Raka membuka mata, refleks mencium sesuatu yang salah. Ia berdiri dengan susah payah, mengikuti bau itu ke teras kecil di depan rumah. Lidah mertua Kinan—lima pot berjejer rapi di rak kayu—kini layu. Kuning. Coklat di ujung-ujung. Beberapa daun sudah berguguran, mengeriput di tanah.
Raka berlutut di depan mereka. Menatap kehancuran yang terjadi di depan matanya, sementara ia terlalu sibuk dengan kehancurannya sendiri.
"Maaf," bisiknya. "Maaf, Nan. Mas gagal, mas gagal jagain mereka. Mas gagal... gagal segalanya."
Ia mengambil gelas dari dapur, mengisi air, kembali ke teras. Menyiram tanaman pertama dengan takaran yang berlebihan—air mengalir, membuat tanah menjadi lumpur. Ia tidak tahu cara yang tepat. Tidak pernah tahu. Tidak pernah peduli untuk tahu.
"Nggak boleh kebanyakan air, Mas" suara Kinan di kepalanya. "Harus pas."
Pas. Kata yang tidak pernah Raka mengerti.
"Lo ngomong sama tanaman?"
Suara dari belakang. Lembut, hampir tertahan, seperti pemiliknya takut mengganggu momen pribadi. Raka menoleh. Maya berdiri di gerbang, tubuhnya setengah tersembunyi oleh daun pohon trembesi yang menjulang dari pekarangan tetangga.
Maya. Sahabat Kinan sejak SMP kini datang lagi, selalu, dengan keranjang sayur dan muka khawatir yang sudah menjadi ekspresi default di hadapannya.
Raka melihatnya—benar-benar melihatnya, mungkin pertama kalinya sejak Kinan pergi. Maya yang selama ini hanya "ada," hanya "teman," hanya bagian dari latar belakang duka yang lebih besar.
Ia tidak tinggi—mungkin 158 cm, lebih pendek dari Kinan yang 162 cm. Tubuhnya kecil, mungil, dengan bahu terlihat seperti akan patah dari beban yang ia pikul. Ramping—terlalu ramping sekarang, karena ia juga kehilangan nafsu makan sejak Kinan pergi, karena ia juga berduka meski tidak pernah mengeluh.
Rambutnya hitam, lurus, diikat kuda-kuda sederhana dengan karet hitam yang sudah melonggar. Tidak pernah dicat, tidak pernah diikat dengan gaya, tidak pernah menjadi fokus—tapi kini Raka melihatnya, melihat helai-helai yang lepas di pelipis, melihat kilau minyak alami dari rambut yang tidak sering dicuci karena terlalu sibuk menemani orang lain berduka.
Wajahnya—bulat, seperti Kinan, tapi dengan struktur tulang yang berbeda. Kinan memiliki tulang pipi yang tinggi, yang membuatnya terlihat anggun meski sedang sakit. Maya memiliki wajah yang lebih "biasa," lebih dekat dengan orang-orang yang ditemui di pasar atau di terminal. Tidak mencolok. Tidak akan menarik perhatian di keramaian.
Tapi matanya. Besar, coklat, dengan kelopak yang selalu sedikit bengkak sekarang—karena menangis, karena kurang tidur, karena terlalu sering menatap penderitaan orang lain. Mata yang kini menatap Raka dengan campuran khawatir dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang Raka belum sanggup identifikasi.
Kulitnya sawo matang, tidak seputih Kinan yang selalu waspada dengan sinar matahari. Ada bekas jerawat di dagu, bekas goresan kecil di pipi kiri—bekas kucing yang dulu ia pelihara, yang Kinan selalu ejek sebagai "anak haram" karena tidak pernah disuntik vaksin.
Ia mengenakan gamis abu-abu yang sudah kusut, dipakai berkali-kali tanpa dicuci—bukan karena malas, tapi karena tidak punya energi untuk memikirkan penampilan. Sandal jepit warna pink yang pudar, dengan tali yang hampir putus. Tas kain yang Kinan beri lima tahun lalu, dengan benang rajutan yang sudah melonggar di beberapa tempat.
"Kinan suka," Raka menjawab pertanyaan Maya, tidak malu. "Dia suka ngomong sama mereka. Dia bilang... dia bilang mereka denger."
Maya mengangguk. Bibirnya—tipis, tidak sefull Kinan, dengan warna alami yang pucat sekarang—menggambar senyum yang tidak sampai ke mata.
"Gue bawain pupuk," ia mengangkat kantong plastik kecil. Tangan kecilnya—jari-jari pendek, kuku yang tidak dipernis, dengan bekas goresan di jempol kanan dari kerjaan rumah yang terlalu banyak. "Yang organik. Kinan dulu suka."
Raka menatap kantong itu. Kemudian menatap Maya—benar-benar menatap, melihat kelelahan di sudut-sudut matanya, melihat tulang selangka yang menonjol dari leher gamis yang longgar, melihat perempuan yang juga hancur tapi terus berdiri.
"Kenapa lo baik banget sama gue, May?" tanya Raka, bukan tuduhan, hanya kebingungan.
Maya berdiri di ambang pintu, keranjang sayur masih di tangan kirinya—tangan kanan menggenggam kantong pupuk, jari-jari putih dari tekanan. Matahari pagi menerangi setengah wajahnya, membuat bayangan yang aneh—setengah terang, setengah gelap, seperti dua sisi kehidupan yang kini ia jalani.
"Gue nggak tahu," jawabnya, jujur. "Gue cuma... gue nggak bisa diam aja."
Ia masuk. Dapur. Meletakkan keranjang. Membunyikan peralatan dengan cara yang terlalu keras—sengaja, Raka sadari, untuk membuatnya diperhatikan. Tubuh kecilnya bergerak cepat, efisien, dengan gerakan yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah orang lain.
Raka mengikutinya dengan mata. Melihat cara rambutnya terayun saat membungkuk, melihat tulang punggung yang menonjol di bawah kain gamis, melihat kaki kurus yang berjalan tanpa suara di lantai keramik.
Maya bukan Kinan. Tidak akan pernah menjadi Kinan. Tidak seanggun, tidak secantik, tidak sehidup. Tapi ia ada. Ia di sini. Ia berusaha, dengan tubuh kecilnya yang juga lelah, dengan hatinya yang juga hancur, dengan cara yang tidak meminta pengakuan atau balasan.
"Ini," Maya keluar dari dapur dengan piring nasi uduk. Ditaruh di meja teras, di sebelah Raka yang masih berlutut di depan tanaman. "Sekarang. Atau gue siram pake air tanaman."
Raka menoleh. Melihat Maya yang berdiri di sana, dengan tangan di pinggang—pose yang mencoba terlihat tegas, tapi hanya memperlihatkan betapa kecilnya ia, betapa rapuhnya ia, betapa banyaknya yang ia tahan sendirian.
"Lo nggak tidur?" tanya Raka.
Maya terdiam. Sejenak. Lalu duduk di kursi teras, di seberang meja—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ia menatap tanaman, menatap langit, menatap apa pun kecuali mata Raka yang bisa melihat kebohongan.
"Gue tidur," jawabnya, tapi suaranya salah. Terlalu cepat, terlalu ringan. "Cuma... cuma nggak nyenyak."
Raka berdiri. Perlahan, lututnya kaku. Ia duduk di kursi, di seberang Maya, menghadapinya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat—melihat perempuan kecil yang juga berduka, yang juga kehilangan, yang mencoba menemani meski ia sendiri tidak sanggup.
Maya membantunya. Menunjukkan cara menggunakan pupuk—tangan kecilnya menyatu dengan tangan Raka yang besar dan kasar, membimbing, mengajari. Cara memotong daun mati dengan gunting yang Kinan simpan di laci teras. Cara mengecek kelembaban tanah dengan menyentuh.
Raka mengikuti. Merasakan kehangatan tangan Maya yang tidak sengaja bersentuhan dengan tangannya. Melihat kilatan di mata Maya saat berhasil—kilatan yang sama yang dulu Kinan miliki saat mengajarinya sesuatu.
Tapi berbeda. Tentu saja berbeda. Kinan adalah Kinan. Maya adalah Maya. Dan Raka—Raka masih hancur, masih milik Kinan, masih tidak sanggup memberi apa pun pada siapa pun.
Maya pergi setelah memasak. Raka duduk di teras, sendirian, dengan tanaman-tanaman yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Ia berbicara pada mereka. Tidak peduli jika tetangga mendengar, jika dianggap gila.
"Kinan pergi," katanya, suaranya pelan. "Dia pergi dan gue nggak bisa ikut. Gue nggak tahu kenapa. Gue nggak tahu apa salah gue. Gue cuma... gue cuma di sini. Dan kalian juga di sini. Jadi kita... kita temenan aja, ya? Sampai... sampai gue tahu cara lanjut."
Tanaman tidak menjawab. Tapi Raka tersenyum—tipis, pertama kalinya sejak lama—pada tanaman yang layu yang ia coba selamatkan.
Di kejauhan, azan maghrib berkumandang. Raka berdiri, lututnya kaku, punggungnya nyeri. Ia masuk rumah, shalat, makan, berbaring di ranjang.
Tapi sebelum tidur, ia kembali ke teras. Melihat tanaman yang masih ada, masih hidup, masih memberinya alasan untuk bangun besok.
"Pagi, anak-anak. Hari ini panas ya. Minum banyak ya."
Kata-kata yang sama yang Kinan ucapkan. Dan untuk sekejap, Raka merasa Kinan ada di sampingnya. Merasakan tangan kecilnya di punggungnya, mendengar suaranya—"Iya, Mas Gitu caranya. Pelan-pelan."
Lalu hilang. Tapi bekasnya tetap. Hangat di punggung, ringan di dada, alasan untuk hari ini.
mampir 🤭