NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:95k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Atau Aku?

Langkah Shanum terasa berat saat melewati pintu kaca otomatis toko busana muslimah tersebut, aroma parfum ruangan yang mewah dan deretan manekin dengan pakaian yang tampak begitu berkelas membuatnya refleks merapatkan letak tas selempang lamanya. Di matanya, pakaian-pakaian yang digantung itu bukan sekadar kain, melainkan simbol dunia yang sangat jauh dari jangkauannya.

​"Mas, ponsel tadi sudah lebih dari cukup. Aku masih punya baju di apartemen," bisik Shanum, suaranya nyaris tenggelam oleh musik instrumen yang mengalun lembut di dalam toko.

​Abi tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru memberi isyarat kepada seorang pramuniaga yang segera datang mendekat.

"Tolong carikan beberapa set pakaian yang nyaman untuk istri saya, pilihkan bahan yang tidak panas, tapi tetap elegan. Saya ingin beberapa two-piece sets dengan potongan rok A-line dan atasan yang sopan," ucap Abi dengan nada yang tidak menerima penolakan.

​Shanum hanya bisa berdiri mematung saat pramuniaga itu mulai mengambilkan beberapa potong pakaian, salah satunya adalah setelan berwarna dusty rose dengan aksen brokat halus di bagian dada dan potongan kerah tegak yang manis.

​"Cobalah, Shanum. Saya ingin melihat apakah ukurannya pas," ujar Abi sembari duduk di sofa tunggu yang empuk.

​Dengan ragu, Shanum masuk ke dalam fitting room. Di dalam sana, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar, tangannya gemetar saat menyentuh tekstur kain yang begitu lembut di kulitnya dan sangat berbeda dengan daster katun atau baju pasar yang biasa ia kenakan.

​Sepuluh menit kemudian, pintu fitting room terbuka. Shanum keluar dengan perlahan dan kepalanya tertunduk malu, setelan itu jatuh dengan sempurna di tubuh rampingnya. Rok A-line yang lebar membuatnya tampak anggun, sementara warna dusty rose itu seolah menghidupkan rona alami di wajahnya yang polos.

​Abi tertegun, ia meletakkan ponselnya dan berdiri perlahan. "Angkat kepalamu, Shanum," pinta Abi lembut.

​Saat Shanum mendongak, Abi merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Istrinya itu tidak perlu riasan tebal untuk terlihat menarik bagi Abi, kesederhanaan dan binar malu-malu di matanya justru memberikan daya tarik yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita sosialita yang biasa Abi temui.

​"Sangat cantik, kita ambil yang ini dan pilih tiga warna lainnya," ucap Abi.

​"Mas, jangan banyak-banyak...," cegah Shanum cepat. Namun, Abi sudah beralih ke rak lain dan memilihkan beberapa pashmina sutra yang senada.

​Setelah menyelesaikan pembayaran yang nominalnya kembali membuat Shanum pusing, mereka berjalan menuju parkiran. Di tangan Abi, beberapa kantong belanjaan bermerek terjinjing rapi, Shanum merasa seperti sedang bermimpi.

​Di dalam mobil perjalanan pulang, suasana menjadi lebih tenang. Sinar matahari senja yang berwarna jingga masuk melalui jendela mobil, menyinari wajah Shanum yang tampak kelelahan namun menyimpan buncah rasa syukur yang tertahan.

​"Mas Abi," panggil Shanum pelan.

​"Ya?" tanya Abi.

"Terima kasih," ucap Shanum.

"Untuk?" tanya Abi.

"Karena Mas Abi sudah membelikan banyak barang untuk aku," jawab Shanum.

"Ini semua sudah kewajibanku, dan kamu tidak perlu berterima kasih, aku juga senang melakukannya," ucap Abi.

Mobil terus melaju tenang, membelah kemacetan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu jalanan. Di dalam kabin yang sejuk itu, keheningan sempat tercipta sejenak sebelum suara tawa kecil Shanum memecah suasana. Ia menutup mulutnya dengan ujung jari, namun matanya yang menyipit karena senyum tak bisa menyembunyikan rasa geli yang ia rasakan.

​Abi melirik sekilas dari balik kemudi, alisnya bertaut heran. "Kenapa lamu senyum kayak gitu? Ada yang lucu di wajah saya?" tanya Abi sembari meraba dagunya dan memastikan tidak ada sisa makanan atau noda yang tertinggal.

​Shanum menggeleng pelan, namun senyumnya justru semakin lebar. "Bukan, Mas. Bukan di wajah Mas Abi," jawab Shanum.

​"Terus?" tanya Abi, dengan memelankan kecepatan mobilnya dan rasa penasaran mulai mengusiknya.

​"Mas Abi sadar nggak?" ucap Shanum dan memutar tubuhnya sedikit menghadap ke arah suaminya.

"Selama nikah, Mas Abi itu... panggilannya ganti-ganti terus," lanjut Shanum.

Abi mengernyitkan dahi dan mencoba mengingat-ingat kalimatnya sejak di gerai ponsel tadi.

"Ganti-ganti bagaimana?" tanya Abi.

"Pas awal nikah, Mas Abi manggilnya saya, terus ganti kamu. Nggak sampai satu hari, ganti saya lagi, eh tadi ganti aku," ucap Shanum dan tersenyum geli ketika mengingatnya.

Wajah pria yang biasanya datar dan penuh wibawa itu kini perlahan memerah di bagian telinga, ia tidak menyangka jika Shanum akan memperhatikannya sampai sedetail itu.

"Sa-saya belum terbiasa saja," ucap Abi gugup.

Melihat kegugupan sang suami, Shanum pun semakin tersenyum geli. "Jadi, Mas Abi mau pakai saya atau aku?" tanya Shanum.

"A-aku," jawab Abi.

Mendengar jawaban singkat itu, Shanum tak bisa lagi menahan tawa kecilnya. Suara tawa yang renyah dan tulus itu memenuhi kabin mobil, membuat suasana yang tadinya kaku menjadi terasa begitu cair.

Abi yang biasanya ditakuti oleh mahasiswanya karena ketegasan dan tatapan matanya yang tajam, kini justru merasa seperti remaja yang tertangkap basah sedang melakukan kesalahan konyol.

​"Kenapa ketawa terus? Ada yang salah?" tanya Abi dan mencoba mengembalikan wibawanya meski sudut bibirnya ikut berkedut menahan senyum.

​Shanum menggeleng, jemarinya menghapus sedikit air mata di sudut mata karena terlalu banyak tertawa. "Enggak, Mas. Lucu saja, Mas Abi yang biasanya tegas dan kaku, ternyata bisa gugup juga cuma gara-gara urusan panggilan," jawab Shanum.

Tawa Shanum perlahan mereda, namun sisa binar geli masih menari-nari di sepasang matanya. Di bawah remang lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu dan Abi mematikan mesin mobil, keheningan tiba-tiba menyergap, hanya menyisakan deru pelan AC yang terasa sejuk di kulit.

​Abi memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Shanum, tatapannya yang tadi tampak kikuk kini berubah menjadi intens, sebuah tatapan yang sanggup membuat jantung Shanum berdegup dua kali lebih cepat.

​"Menertawakan suami itu ada hukumannya, Shanum," bisik Abi dengan suara rendah yang serak.

​Shanum mengerjap, baru saja ia hendak membuka mulut untuk membela diri, tangan besar Abi sudah menangkup pipinya dengan lembut namun posesif. Tanpa aba-aba Abi mendekat, kecupan pertama mendarat di bibir Shanum, singkat, namun penuh penekanan.

​"Itu karena sudah meledekku," ucap Abi tepat di depan wajah Shanum.

​Belum sempat Shanum menarik napas, Abi kembali mengecupnya. Kali ini lebih lama, sebuah c**m*n yang menuntut kepatuhan sekaligus menyalurkan rasa sayang yang selama ini sulit ia rangkai dengan kata-kata.

​"Itu karena tertawa terlalu keras," bisik Abi lagi, sudut bibirnya kini ikut terangkat membentuk senyum tipis yang nakal.

Wajah Shanum memanas sempurna, merah padam hingga ke leher. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang Abi, namun pria itu justru menangkap kedua tangannya dan menguncinya.

Abi kembali menghujani wajah Shanum dengan kecupan-kecupan kecil, di dahi, di kedua pipi dan kembali lagi ke bibir yang membuat Shanum akhirnya hanya bisa memejamkan mata dengan napas yang mulai tidak beraturan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Ladyicha Haruna
Buatlah Shanum berani membela dirinya banyak banyak..jangan jadi manja jadi perempuan
Yuliana Tunru: smoga s3jua badai akan berlalu ..pandu mana ya apa dia tdk cari2 ibu x lagi atau jg sdh tqu kejahatan ihu x pd ahanum diva jg gmn kabar x apa tdk hadir saat sukuran rmh dan kandungan shanum
total 1 replies
Nasiati
mendingan keluar dr rumah shanum
Ha Liyah
kenapa akhir-akhir ini updatenya cuma 1 episode doang thor?
Rea
b
Rea
weslah num, num gemes, mbok yao jangan terus jadi beban suami, kali kali dibuat pinter lah Thor, setidaknya jadi perempuan kuat, untuk dirinya.
Putri Anghita Tera Vita
please lah ko shanum kee cewek lemah banget
Yuliana Tunru
astaga ketemu gea lagi ,yg mukut x kyk racun ayo abi ini kecoak2 yg hrs kaku basmi buat shanum
Ladyicha Haruna
jangan terlalu gambar kan shanum wanita lemah...pantas memang ditindas .dan rasanya enak memang menindas dia..tidak ada perlawanan hanya andalkan orang...bagaimana mau besarkan anak di kejamnya persekolahan🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulut Gea minta di tabok pake bakiak nih ..😡
𝐈𝐬𝐭𝐲
dia bilang anak durhaka dia gak sadar kalo dirinya adalah ibu yg durhaka dan biadab👿
𝐈𝐬𝐭𝐲
kenapa kemarin yg mati bapak nya bukan ibunya saja thor...
bikin emosi aja nih ibunya shanum👿👿
Eva Tigan
mati ketabrak aja nya maunya ibu nya si Shanum ini..dia yg ibu durhaka
Nur Syamsi
Siapa tau udah selesai buku nikahnya diurus SMA Mas Abinya cuma lupa dikasi tau Shanumnya,
Nur Syamsi
Alhamdulillah Shanum ngidam mama dan papa mertua 🤲🤲menilai
Nur Syamsi
😂😂😂
Indra Reza Zulkifli
udah baca sampe bab ini,,kurang suka karakter shanum,, 🙏 🤭
Nur Syamsi
Buah dr kesabaranmu Shanum, waktu belum nikah di hina terus Krn miskin dan belum nikah bahkan ibumu sendiri menghinamu ....yg ternyata matre ...
Retno Harningsih
lanjut
Nur Syamsi
Adakah suami yg sebijaksana Abi di dunia nyata ya thor.
Nur Syamsi
😭😭😭😭😭 sabar Shanum ini adalah ujian kehidupan dan rumah tangga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!