NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Benang Pengkhianat yang Rapuh

​Udara di dalam Kuil Langit mendadak menjadi sangat tipis. Aruna merasa paru-parunya seperti dihimpit oleh kenyataan yang lebih tajam dari belati mana pun. Di depan pintu kuil, Arel berdiri kaku dengan wajah pucat pasi, sementara Mira... pelayan yang selama ini ia anggap sebagai saudara tengah mencengkeram bahu bocah itu dengan tangan yang gemetar hebat. Belati perak di tangan Mira menempel tepat di nadi leher Arel.

​"Mira... apa yang kamu lakukan?" suara Aruna pecah. Ia mencoba melangkah maju, tapi Arvand menahannya dengan lengan yang kuat.

​"Jangan mendekat, Madam! Aku mohon, jangan mendekat!" Mira berteriak histeris. Air mata membanjiri wajahnya, merusak riasan sederhana yang biasa ia pakai. "Barka... dia menyandera suami dan bayiku di kaki bukit. Jika aku tidak membawa Arel padanya, mereka akan dibakar hidup-hidup!"

​Arvand menatap Mira dengan tatapan yang sangat dingin, namun ada kepedihan di sana. "Mira, kau tahu aku selalu menghargai kesetiaanmu. Turunkan belati itu, dan aku berjanji akan menyelamatkan keluargamu."

​"Janji seorang jenderal yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari penjara?" Barka, yang kini menjadi wadah bagi kekuatan sang 'Penulis', tertawa parau. Langkahnya yang berat mengeluarkan bunyi denting logam setiap kali ia bergerak. "Jangan dengarkan dia, Mira. Bawa bocah itu kemari sekarang, atau kau akan mendengar jeritan bayimu dari sini."

​Aruna menatap Barka dengan kebencian yang mendalam. Obsesinya untuk melindungi Arel kini bercampur dengan rasa muak terhadap sosok yang mengaku sebagai pencipta naskah ini. "Kamu bukan penulis! Kamu hanyalah parasit yang haus kekuasaan! Seorang penulis sejati tidak akan menghancurkan karakternya dengan cara sehina ini!"

​Barka tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Di dunia ini, aku adalah Tuhan, Aruna. Dan kau hanyalah kesalahan ketik yang seharusnya sudah kuhapus sejak lama."

​Barka mengangkat tangannya yang sudah berubah menjadi kayu hitam dengan roda gigi yang berputar di pergelangan tangannya. Sebuah gelombang energi ungu melesat ke arah Arvand. Dengan sigap Arvand berhasil menangkisnya, namun kekuatan itu begitu besar hingga Arvand terlempar ke pilar batu, membuat pilar itu retak dan hampir roboh.

​"Arvand!" Aruna berteriak kencang.

​"Urus Mira! Selamatkan Arel!" raung Arvand sambil berusaha bangkit kembali.

​Aruna beralih menatap Mira. Ia harus menggunakan sisi manusianya, bukan sisi Lady Ratri yang kejam. "Mira, lihat aku. Kamu tahu aku bukan Ratri yang dulu. Aku sudah berubah. Aku menyayangimu, aku menyayangi keluargamu. Jika kamu menyerahkan Arel sekarang, Barka tidak akan melepaskan keluargamu. Dia tidak butuh saksi hidup. Dia hanya memanfaatkanmu."

​Tangan Mira semakin gemetar. Mata Arel menatap ibunya dengan penuh harap, meski air mata membasahi pipinya. "Ibu... Arel takut..."

​"Diam, Arel!" Mira terisak, tapi belatinya sedikit menjauh dari leher bocah itu. "Aku tidak punya pilihan, Madam. Aku hanya ingin anakku kembali!"

​"Aku akan membantumu, Mira! Tapi bukan dengan menyerahkan Arel!" Aruna melangkah maju satu langkah lagi secara perlahan. "Ingat saat kita menjahit baju untuk Arel bersama-sama? Ingat saat kamu bilang aku adalah satu-satunya majikan yang memanusiakanmu? Apakah itu semua bohong?"

​Mira tertegun. Kenangan-kenangan itu tampak menghantamnya. Di saat Mira lengah, Seraphina yang sejak tadi bersembunyi di balik bayangan langit-langit kuil, meluncur turun seperti elang.

​Srak!

​Kipas besi Seraphina menghantam pergelangan tangan Mira, membuat belati itu jatuh berdenting di lantai batu. Seraphina dengan cepat menarik Arel ke arah Aruna.

​"Bawa dia lari!" perintah Seraphina.

​"Pengkhianat sialan!" Barka meraung. Ia menghentakkan kakinya, dan lantai kuil mulai merekah, mengeluarkan akar-akar kayu hitam yang mencoba melilit kaki Seraphina dan Aruna.

​Arvand menerjang kembali, menebas akar-akar itu dengan gerakan membabi buta. "Pergi dari sini, Aruna! Bawa Arel ke tempat Kaisar tua!"

​Aruna memeluk Arel, hendak berlari keluar, namun Barka melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia tidak mengincar Arel, melainkan mengarahkan telapak tangan kayunya langsung ke perut Aruna.

​"Jika aku tidak bisa mendapatkan darah murni bocah itu, maka janin di rahimmu sudah cukup untuk membuka pintu pulangku!"

​Sebuah cahaya ungu pekat melesat lebih cepat dari kilat. Aruna tidak sempat menghindar. Ia memejamkan mata, bersiap merasakan hantaman yang akan menghancurkan segalanya.

​Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

​Aruna membuka matanya dan terbelalak. Mira berdiri di depannya. Tubuh kecil pelayan itu tertembus oleh energi ungu tepat di bagian dada. Mira terlempar ke belakang, jatuh tepat di pelukan Aruna.

​"Mira!" Aruna menjerit, ia duduk di lantai, memangku kepala Mira yang mulai terkulai.

​"Madam..." Mira tersenyum lemah, darah merah segar mengalir dari mulutnya. "Maafkan... aku... Jaga... bayimu..."

​Napas Mira berhenti di sana. Pelayan yang sempat goyah itu memilih untuk menebus dosanya dengan nyawanya sendiri. Amarah yang luar biasa meledak di dalam dada Aruna. Ia merasakan janin di perutnya berdenyut kencang, seolah-olah memberikan kekuatan tambahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Kau... kau membunuhnya!" Aruna berdiri, suaranya kini bukan lagi suara wanita yang ketakutan. Suaranya terdengar seperti otoritas mutlak.

​Cincin perak yang sudah menyatu di pergelangan tangan Aruna bersinar sangat terang, memancarkan cahaya putih yang murni, menelan cahaya ungu di dalam kuil. Seraphina dan Arvand terpaku melihat transformasi itu.

​"Apa yang terjadi?" gumam Seraphina.

​Aruna melangkah menuju Barka. Setiap langkahnya membuat lantai kuil yang retak kembali menyatu. "Kau bilang kau adalah penulis? Maka aku adalah pembaca yang memutuskan untuk menutup bukumu!"

​Aruna tidak menggunakan pedang. Ia hanya mengangkat tangannya. Cahaya dari pergelangan tangannya membentuk garis-garis teks yang melayang di udara, mengelilingi tubuh Barka. Kalimat-kalimat itu adalah semua dosa yang telah ditulis sang 'Penulis' di dunia ini.

​"Kembalilah ke kehampaan, karakter tanpa jiwa!"

​Cahaya putih itu meledak, menghancurkan tubuh kayu Barka menjadi serpihan debu. Suara raungan sang 'Penulis' terdengar memekik telinga sebelum akhirnya hilang sepenuhnya bersama angin malam yang masuk lewat jendela kuil.

​Barka jatuh tersungkur. Sosoknya kembali menjadi manusia biasa, namun napasnya sudah hampir habis. Roh jahat itu sudah pergi, meninggalkan sisa-sisa raga yang hancur.

​Arvand berlari memeluk Aruna dan Arel. Mereka bertiga terdiam di tengah kuil yang kini sunyi, hanya suara isak tangis Arel yang terdengar. Seraphina mendekati mayat Mira, menutup mata pelayan itu dengan lembut.

​"Semuanya sudah berakhir?" tanya Arvand pelan, suaranya penuh kelelahan.

​"Untuk saat ini," jawab Seraphina. Namun, matanya menatap ke arah luar kuil, ke arah langit yang kini berwarna merah darah meski fajar baru saja menyingsing. "Tapi kehancuran Barka telah merobek batas dimensi lebih lebar dari yang kita duga."

​Aruna merasakan perutnya kembali mual, tapi kali ini disertai rasa sakit yang tajam. Ia memegang perutnya dan meringis. "Arvand... sakit..."

​Arvand panik. Ia melihat ke bawah dan menemukan bercak darah di gaun putih Aruna. "Ratri! Bertahanlah!"

​Tiba-tiba, dari langit yang berwarna merah itu, muncul sebuah pusaran raksasa yang tidak berwarna ungu, melainkan berwarna putih perak. Dari dalam pusaran itu, turun ribuan helai kertas kosong yang beterbangan seperti salju.

​Sesosok pria dengan pakaian sangat modern, jas rapi dan jam tangan mewah berjalan turun dari udara seolah-olah ada tangga tak kasat mata di sana. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Arvand, tapi versi yang lebih dingin dan tanpa cacat.

​"Permainan yang bagus, Aruna," ujar pria itu. Suaranya bergema di seluruh lembah, membuat semua orang di sana membeku, tidak bisa bergerak. "Kalian berhasil mengusir editor amatir itu. Tapi sekarang, pemilik sah dari hak cipta dunia ini telah datang untuk menagih royaltinya."

​Pria itu menjentikkan jarinya, dan seketika Arvand serta Arel menghilang dari pandangan Aruna, seolah-olah mereka hanya dihapus oleh penghapus raksasa.

​"Arvand! Arel!" Aruna berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya tidak keluar.

​Pria berbaju jas itu mendekati Aruna, ia berlutut dan menyentuh perut Aruna yang sedang kesakitan. "Anak ini... dia tidak boleh lahir di dunia yang cacat ini. Dia harus menjadi tokoh utama di dunia yang baru."

​"Siapa... kamu?" Aruna berhasil membisikkan satu pertanyaan.

​Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mengerikan. "Aku adalah orang yang kamu panggil 'Bos' di penerbitanmu dulu. Dan aku tidak suka karyaku berjalan tanpa seizinku."

​Tepat saat itu, cahaya putih perak menelan Aruna sepenuhnya. Saat ia kembali membuka mata, ia tidak lagi berada di Kuil Langit. Ia berada di sebuah ruangan serba putih yang sangat steril, terbaring di atas meja operasi, dengan lampu sorot yang menyilaukan matanya.

​Seorang perawat dengan masker menatapnya. "Selamat pagi, Bu Aruna. Operasi pengangkatan tumor otak Anda akan segera dimulai. Silakan berhitung mundur dari sepuluh."

​Aruna terbelalak. Tumor otak? Jadi semua kejadian di NovelToon, Arvand, Arel... semuanya hanya halusinasi sebelum operasi?

​Namun, saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia merasakan sesuatu yang keras di pergelangan tangannya. Ia melirik sedikit, dan di sana, masih ada tanda lahir berbentuk cincin perak yang bersinar redup.

​"Sepuluh... sembilan..." suara perawat itu semakin menjauh.

​Di pojok ruangan, ia melihat bayangan Arvand yang sedang memegang pedang patah, menatapnya dengan air mata di mata tajamnya. "Jangan lupakan kami, Ratri..."

​Apakah semua petualangan Aruna hanya mimpi akibat sakit di otaknya, ataukah sang 'Bos' sedang melakukan manipulasi memori untuk menariknya kembali? Dan apa arti tanda lahir yang masih bersinar di dunia nyata itu?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!