"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aku berjalan menjauh dari Kaila dan Alif, mengabaikan panggilan pelan Kaila yang terdengar serak. Langkahku membawaku ke sebuah bangku semen di depan toko kelontong yang sudah mulai sepi. Aku duduk di sana, bukan untuk menikmati udara malam, melainkan untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak tadi siang.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku. Layarnya yang retak di sudut seolah mencerminkan kondisiku saat ini. Dengan jari yang sedikit gemetar namun mantap, aku membuka daftar kontak.
Nama pertama: Fita.
Aku menatap nama itu selama beberapa detik. Sahabat yang dulu berbagi rahasia, yang sering meminjamkan bahunya saat aku menangis, ternyata adalah orang yang paling bersemangat menusukku dari belakang. Tanpa ragu, aku menekan tombol Hapus. Hilang. Satu beban terangkat.
Nama kedua: Guntur.
Laki-laki yang sempat membuatku merasa istimewa, yang diamnya kupikir adalah sebuah ketulusan, ternyata hanya menjadikan aku cadangan saat Fita tidak ada. Aku tidak butuh penjelasan soal konsernya di Jogja, atau alasan kenapa dia ada di kostan itu. Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan, tak peduli seberapa manis bumbunya. Hapus.
Lalu, aku beralih ke grup obrolan kelas dan grup bermain kami. Satu per satu aku keluar dari sana. Ayu, Kaila, Alif... semua yang tahu tapi memilih diam, semua yang menonton kehancuranku seperti sebuah pertunjukan sirkus, aku tinggalkan. Aku tidak butuh penonton yang hanya datang saat aku berdarah-darah.
Terakhir, aku mengganti nomor ponselku. Aku ingin benar-benar menghilang dari radar mereka. Biarkan mereka saling mencari alasan, biarkan mereka terjebak dalam drama yang mereka buat sendiri. Aku sudah selesai menjadi badut.
Saat aku memasukkan kembali ponsel ke saku, suasana malam terasa sedikit lebih ringan. Toko kelontong ini remang-remang, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa pandanganku lebih jernih. Aku memang kehilangan teman-teman lama, tapi setidaknya aku tidak lagi memelihara ular di dalam rumahku sendiri.
Aku berdiri, membeli sebotol air mineral dan roti seadanya, lalu berjalan pulang dengan kepala tegak. Di antara semua kehancuran ini, setidaknya aku masih memiliki diriku sendiri—dan mungkin satu orang yang tadi menungguku di taman tanpa banyak bicara.
Pagi itu, udara sekolah terasa berbeda. Bukan karena cuacanya, tapi karena caraku memandang koridor yang biasanya terasa akrab ini. Aku berjalan dengan langkah konstan, tidak terburu-buru, namun juga tidak memberikan ruang bagi siapa pun untuk menghentikanku. Seragamku rapi, rambutku terikat kencang, dan yang paling penting: telingaku tersumpal earphone meski tidak ada musik yang berputar. Itu adalah benteng pertamaku.
Aku tidak lagi mencari sosok Guntur di parkiran, atau menunggu lambaian tangan Fita di depan mading. Mereka tidak ada lagi dalam radarku.
Begitu memasuki kelas, suasana mendadak sunyi. Beberapa teman yang sedang bergosip langsung menoleh, lalu berbisik-bisik saat aku melintas. Aku bisa merasakan tatapan Ayu yang serba salah dan Kaila yang tampak ingin mendekat dari bangkunya. Namun, aku hanya menatap lurus ke depan, menuju mejaku di barisan belakang.
"Fis..." Suara lembut Fita terdengar dari arah samping. Dia berdiri di sana, mencoba memasang wajah sedih yang biasanya selalu berhasil membuatku luluh. "Fis, lo kok keluar dari grup? Nomor lo juga nggak aktif. Kita perlu bicara soal yang kemarin—"
Aku meletakkan tas di atas meja dengan suara dentum yang cukup keras hingga ia tersentak. Aku menoleh perlahan, menatapnya dengan pandangan paling datar yang pernah kumiliki. Tidak ada kemarahan, tidak ada air mata. Hanya kekosongan.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan, Fit," kataku tenang, suaranya nyaris tak berekspresi. "Anggap saja aku sudah selesai menonton sirkus kalian. Sekarang, tolong kembali ke kelas Lo. gue mau fokus belajar."
Fita mematung, wajahnya memucat karena aku menyebut namanya tanpa embel-embel keakraban seperti biasanya. Di pojok kelas, aku bisa melihat Guntur memperhatikanku dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara bersalah dan tidak percaya bahwa aku bisa sedingin ini.
Aku duduk, membuka buku pelajaran, dan benar-benar menutup dunia di sekitarku. Aku bukan lagi gadis bodoh yang bisa mereka jadikan bahan tertawaan. Jika mereka menginginkan drama, silakan cari pemeran utama yang baru, karena aku sudah resmi mengundurkan diri.
Tiba-tiba, sebuah botol minuman dingin diletakkan di sudut mejaku. Aku mendongak dan menemukan Bintang berdiri di sana. Dia tidak tersenyum lebar, hanya mengangguk kecil seolah memberikan dukungan tanpa suara, lalu berjalan pergi menuju kelasnya sendiri tanpa sepatah kata pun.
Setidaknya, di tengah gurun salju yang kubuat sendiri, ada satu titik hangat yang tersisa.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2