Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Malam turun perlahan di atas atap-atap emas Keraton Amarta, membawa serta udara sejuk yang berhembus dari lembah pegunungan yang mengelilingi ibu kota. Di Taman Keputrian yang megah, ribuan lampion sutra mulai dinyalakan oleh para emban, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan kolam-kolam teratai. Suara gemericik air mancur berpadu dengan alunan pelan gamelan dari pendopo utama, menciptakan sebuah simfoni kedamaian yang sanggup meninabobokan siapa pun.
Namun, kedamaian itu sama sekali tidak mampu menyentuh relung hati Dewi Pregiwa.
Sudah tiga hari berlalu sejak penerbangan membelah malam dari Hutan Wanamarta. Tiga hari sejak kakinya kembali menginjak lantai pualam keraton yang dingin. Luka terkilir di pergelangan kakinya telah disembuhkan dengan sempurna oleh tabib istana yang menggunakan ramuan daun sirih dan minyak cendana terbaik. Secara fisik, sang putri telah kembali tanpa cela, secantik dan seanggun sedia kala.
Tetapi secara batin, Pregiwa tahu bahwa separuh jiwanya tidak pernah benar-benar pulang. Separuh jiwanya tertinggal di dasar gua yang lembap, di sela-sela abu perapian yang telah dingin, di atas telapak tangan kapalan seorang senopati raksasa yang menangis dalam diam.
Pregiwa duduk menyendiri di ambang jendela kamarnya yang berukir rumit. Ia mengenakan kain jarik sutra bermotif truntum dan kemben beludru berwarna biru malam yang begitu indah, namun pakaian kebesaran itu terasa mengikat dadanya bagai rantai besi. Angin malam membelai wajahnya, membawa aroma bunga melati dan kantil dari taman di bawah sana. Ironisnya, alih-alih menenangkan, wangi bunga itu justru menyiksa batinnya. Wangi itu terus-menerus menarik ingatannya kembali pada momen ketika ia menyandarkan kepalanya di dada bidang berlapis zirah emas milik Gatotkaca, saat mereka mengudara menembus tirai air terjun perak.
Sejak hari kepulangannya, Pregiwa menolak menerima tamu. Puluhan surat simpati dan bingkisan perhiasan dari para pangeran negeri tetangga yang mendengar kabar penculikannya, menumpuk tak tersentuh di sudut ruangan. Kata-kata manis yang tertulis di atas daun lontar berparfum itu terasa begitu hampa, palsu, dan murahan jika dibandingkan dengan getaran suara bariton Gatotkaca yang terbata-bata menanyakan keadaannya di atas lumpur Hutan Wanamarta.
Bagaimana mungkin ia bisa menatap laki-laki lain, ketika hatinya telah ditawan oleh pria yang bahkan tidak berani menatap matanya?
"Gusti Putri," sebuah suara lembut menyela lamunan Pregiwa. Seorang emban tua yang telah mengasuhnya sejak kecil melangkah masuk dengan kepala menunduk, membawa nampan berisi secangkir teh seduhan bunga krisan. "Gusti Prabu Arjuna memohon izin untuk menemui Gusti Putri malam ini. Beliau sedang menunggu di ruang tamu keputrian."
Jantung Pregiwa berdegup sesaat. Ayahandanya jarang sekali mengunjungi paviliun keputrian di malam hari, kecuali jika ada hal yang sangat mendesak. Apalagi akhir-akhir ini, ketegangan menjelang Baratayuda membuat Arjuna nyaris tidak pernah meninggalkan ruang dewan strategi militer atau tempat meditasinya.
"Persilakan ayahanda masuk, Bi," jawab Pregiwa, berusaha menutupi gurat kelelahan di wajahnya. Ia segera beranjak dari ambang jendela, merapikan letak selendangnya, dan duduk dengan anggun di atas dipan berlapis permadani persia.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang mantap namun terdengar berat memasuki ruangan. Arjuna muncul dari balik tirai sutra pemisah ruangan. Sang ksatria panah penengah Pandawa itu tidak mengenakan zirah perangnya, melainkan jubah kebesaran keraton berbahan sutra putih yang melambangkan kesucian dan kebijaksanaan. Wajahnya yang terkenal tertampan di seluruh Jawadwipa tampak diteduhi awan kelabu. Kantung matanya terlihat menghitam, pertanda kurang tidur yang kronis akibat memikirkan nasib jutaan nyawa rakyat Amarta.
Melihat kondisi ayahandanya yang tampak begitu memikul beban dunia, rasa bakti yang sangat dalam seketika menyelimuti hati Pregiwa. Ia segera bangkit, melangkah maju, dan berlutut menyentuh punggung tangan Arjuna dengan takzim.
"Ayahanda," sapa Pregiwa lembut. "Malam bergulir terlampau larut bagi Ayahanda untuk memikirkan urusan keraton. Apakah Ayahanda tidak beristirahat?"
Arjuna tersenyum getir. Ia membelai puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu menuntun Pregiwa untuk kembali duduk di atas dipan. Sang ayah kemudian duduk di hadapannya, menatap wajah putrinya lekat-lekat dengan sorot mata yang dipenuhi kebanggaan, namun juga duka yang berusaha disembunyikan.
"Bagaimana aku bisa beristirahat, Putriku, ketika angin dari utara membawa bau anyir darah setiap harinya?" ucap Arjuna parau, memulai percakapan yang terasa luar biasa berat. "Kurawa tidak akan berhenti. Lesmana Mandrakumara mungkin melarikan diri dari Wanamarta bagai anjing ketakutan berkat Senopati Gatotkaca, namun ayahandanya, Suyudana, tidak akan tinggal diam. Mereka sedang mengumpulkan sekutu dari seluruh penjuru mata angin untuk menghancurkan kita di Tegal Kurusetra."
Pregiwa mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama. Tumbuh sebagai putri jenderal perang membuatnya memahami konstelasi politik keraton dengan sangat baik. "Hamba mengerti, Ayahanda. Doa hamba senantiasa menyertai langkah panji-panji Amarta. Keadilan pasti akan menemukan jalannya."
"Keadilan tidak akan datang dengan sendirinya, Pregiwa. Keadilan harus direbut, dan sering kali... harus dibayar dengan harga yang teramat mahal."
Kata-kata Arjuna itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam kamar yang wangi itu. Arjuna menatap putrinya semakin dalam, seolah sedang merekam setiap jengkal wajah cantik itu ke dalam ingatannya.
"Amarta membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar doa, Anakku," lanjut Arjuna, suaranya kini mulai bergetar samar. "Kita kalah jumlah. Astina memiliki pasukan gajah dan jutaan prajurit bayaran. Jika kita memaksakan diri berperang besok lusa dengan jumlah pasukan yang ada, kemenangan kita akan berdiri di atas gunung mayat rakyat kita sendiri. Aku... aku tidak sanggup melihat para ibu di Amarta menangisi putra-putra mereka yang terbantai di medan perang."
Dada Pregiwa mendadak terasa sesak. Firasat buruk yang teramat pekat menyergap ulu hatinya. Ia meremas ujung selendangnya kuat-kuat. Ia mengenal nada bicara ayahandanya ini. Ini bukanlah nada seorang ayah yang sedang berkeluh kesah. Ini adalah nada seorang raja yang sedang mempersiapkan algojo.
"Apa yang harus Amarta lakukan, Ayahanda?" tanya Pregiwa, suaranya nyaris menyerupai bisikan. "Apakah... apakah ada sesuatu yang bisa hamba lakukan untuk meringankan beban Ayahanda?"
Arjuna memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang yang terdengar seperti sebuah rintihan putus asa. Saat ia kembali membuka matanya, sorot ketegasan sebagai seorang ksatria yang harus mengorbankan segalanya demi negara, telah menggantikan kelembutan seorang ayah.
"Kita mendapatkan tawaran aliansi mutlak dari Kerajaan Swantipura, di dataran tinggi pegunungan selatan," ucap Arjuna perlahan, menimbang setiap kata agar tidak terlalu melukai putrinya. "Prabu Dirgantara memiliki lima puluh ribu kavaleri lapis baja yang tidak tertembus panah. Pasukan itu adalah kunci kemenangan kita, Pregiwa. Dengan kavaleri itu, kita bisa membelah formasi gajah Astina seperti membelah lautan. Kita bisa menyelamatkan ribuan nyawa rakyat Amarta. Kita bisa memastikan paman-pamanmu kembali pulang dengan selamat."
"Dan apa harga untuk lima puluh ribu pasukan itu, Ayahanda?" Pregiwa memotong kalimat Arjuna. Matanya yang bulat kini memerah, menahan air mata yang mulai menggenang. Logikanya telah mendahului ucapan sang ayah. Di dunia di mana ia hidup, wanita dari kasta tertinggilah yang selalu menjadi mata uang paling mahal dalam transaksi politik peperangan.
Arjuna menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap mata putrinya. "Prabu Dirgantara meminta... seorang permaisuri untuk putra mahkotanya. Ia meminta ikatan darah keraton Amarta. Ia memintamu, Pregiwa."
BUM.
Kata-kata itu menghantam Pregiwa layaknya hantaman gada Bima. Seluruh dunia di sekelilingnya seketika berhenti berputar. Suara gamelan dari pendopo tiba-tiba lenyap, digantikan oleh dengingan panjang yang memekakkan telinga. Dinding-dinding kamarnya yang berhiaskan ukiran emas terasa menyusut, menjepit tubuhnya hingga ia tidak bisa bernapas.
Dijodohkan. Dipertukarkan. Dikirim ke negeri pegunungan es yang jauh, untuk bersanding dengan seorang pangeran yang tidak pernah ia kenal, tidak pernah ia cintai, demi lima puluh ribu ekor kuda lapis baja.
Wajah Gatotkaca yang menangis di hadapan api unggun seketika melintas di benaknya, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Rencana masa depan semu yang diam-diam mulai ia rajut di dalam hatinya—harapan konyol bahwa suatu hari nanti ia bisa menembus benteng kasta dan menyentuh raksasa penjaga awannya itu lagi—kini dibakar habis hingga menjadi abu.
Air mata akhirnya menetes membasahi pipi pualam Pregiwa. Ia tidak menjerit. Ia tidak membuang barang-barang di sekitarnya. Tatanan keraton telah melatihnya untuk menderita dalam keheningan yang elegan.
"Ayahanda..." suara Pregiwa bergetar hebat, nyaris tak terdengar. "Apakah... apakah ini sebuah titah?"
Arjuna menggeser duduknya, meraih kedua tangan putrinya yang kini sedingin es, dan menggenggamnya erat-erat. Air mata juga mulai menggenang di pelupuk mata sang ksatria agung itu. "Ini adalah permohonan seorang ayah yang kehabisan jalan, Anakku. Demi paman-pamanmu. Demi rakyat yang berlindung di bawah panji Pandawa. Jika kau menolaknya, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menolak aliansi itu, dan kita akan menyongsong kehancuran di Tegal Kurusetra dengan apa yang kita miliki."
Itu adalah manipulasi psikologis yang paling sempurna, sekaligus paling menyakitkan. Arjuna tidak memberikan titah mutlak, melainkan membebankan nasib jutaan nyawa di atas pundak rapuh putrinya. Jika Pregiwa menolak demi mengejar ego dan perasaannya sendiri, maka darah setiap prajurit Amarta yang gugur besok lusa akan melumuri tangannya selamanya.
Pregiwa tahu ia telah kalah. Sangkarnya telah dikunci rapat, dan kunci itu telah dilemparkan ke dasar lautan.
Ia dilahirkan sebagai putri Pandawa. Darma (kewajiban suci) adalah napasnya. Tidak ada ruang bagi cinta pribadi di tengah palagan yang menyangkut keselamatan dunia.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan dari dasar keputusasaannya, Pregiwa menarik napas panjang. Ia menegakkan punggungnya, menghapus air matanya dengan ujung selendang, dan menatap ayahandanya dengan sorot mata yang kosong, namun teguh.
"Jika memang itu harga yang harus dibayar untuk kemenangan Amarta, maka hamba menerimanya, Ayahanda," ucap Pregiwa datar, seolah jiwanya telah tercabut dari raganya. "Hamba akan pergi ke Swantipura. Hamba akan menjadi alat tukar diplomasi Amarta. Hamba akan melaksanakan darma hamba sebagai putri Arjuna."
Arjuna menghela napas lega yang luar biasa, berbaur dengan isakan tertahan. Ia menarik putrinya ke dalam pelukan yang sangat erat. "Terima kasih, Anakku. Pengorbananmu tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah. Kau adalah pahlawan yang sesungguhnya bagi negeri ini."
Di dalam pelukan ayahnya, Pregiwa hanya diam membatu. Matanya menatap lurus menembus dinding kamar. Pahlawan? Ia tidak merasa seperti pahlawan. Ia merasa seperti domba kurban yang sedang dirias sebelum diantarkan ke altar penyembelihan.
"Perjalanan ke Swantipura akan memakan waktu dua minggu melintasi jalur pegunungan," Arjuna melepaskan pelukannya, mencoba mengatur kembali ketenangannya. "Jalur itu berbahaya, rentan terhadap pencegatan pasukan Astina yang mungkin akan mencoba menyabotase aliansi ini. Karena itu, aku tidak akan mengirimmu dengan pengawalan prajurit biasa."
Pregiwa tidak peduli. Ia bahkan tidak peduli jika keretanya diserang oleh raksasa sekalipun di tengah jalan. Kehidupannya sudah berakhir malam ini.
"Mulai lusa," lanjut Arjuna, tidak menyadari bahwa kata-katanya selanjutnya akan menjadi pukulan paling mematikan bagi kewarasan putrinya. "Panglima Tertinggi Keamanan Amarta sendiri yang akan memimpin seribu prajurit elit untuk mengawalmu. Aku telah memberikan mandat mutlak kepada keponakanku untuk menjagamu. Senopati Gatotkaca yang akan mengantarkanmu dengan selamat hingga ke gerbang istana Swantipura."
Waktu benar-benar berhenti berdetak di dalam dada Dewi Pregiwa.
*Gatotkaca.*
Nama itu kembali diucapkan. Namun kali ini, bukan sebagai penyelamatnya di kegelapan malam, melainkan sebagai algojo yang ditugaskan untuk mengantarkannya ke ranjang pria lain.
Rasa sakit yang sebelumnya merobek dadanya, kini meledak menghancurkan seluruh saraf di tubuhnya. Ironi ini terlalu kejam. Terlalu biadab. Para dewa di kahyangan pasti sedang tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan ini. Pria yang telah meruntuhkan pertahanan hatinya, pria yang air matanya ia usap dengan tangannya sendiri, kini diperintahkan oleh ayahnya untuk berdiri di depan keretanya, memastikan ia menikah dengan pangeran Swantipura.
Pregiwa merasa mual yang luar biasa. Dunianya berputar.
"T-tentu, Ayahanda," Pregiwa memaksakan kalimat itu keluar dari tenggorokannya yang seolah tercekik kawat berduri. "Gusti Senopati Gatotkaca... adalah pilihan yang... sangat tepat."
Melihat putrinya yang tampak semakin pucat dan kelelahan, Arjuna memutuskan untuk menyudahi kunjungannya. Ia mengecup kening Pregiwa dengan lembut. "Beristirahatlah, Putriku. Besok siang, para penjahit keraton akan datang untuk mempersiapkan gaun keberangkatanmu."
Begitu Arjuna membalikkan badan dan menghilang di balik tirai sutra pemisah ruangan, pertahanan Dewi Pregiwa runtuh sepenuhnya.
Ia tidak lagi bisa berpura-pura menjadi putri yang tegar. Ia meluncur turun dari dipan, berlutut di atas lantai pualam yang dingin. Kedua tangannya meremas dadanya sendiri dengan kuat, berusaha menahan rasa sakit gaib yang terasa seolah jantungnya sedang dicabik-cabik oleh cakar besi. Tangisnya meledak tanpa suara. Air matanya mengalir deras bagai anak sungai, merusak riasan wajahnya, membasahi kain kemben beludrunya.
Ia mengutuk takdirnya. Ia mengutuk gelar keratonnya. Ia mengutuk lima puluh ribu kuda lapis baja yang telah membeli kebebasannya.
Dalam keputusasaan yang memuncak, Pregiwa merangkak mendekati jendela kamarnya yang terbuka. Ia mendongakkan kepalanya yang berantakan, menatap langit malam Amarta yang gelap, mencari-cari satu-satunya siluet yang menjadi alasan detak jantungnya.
Dan ia melihatnya.
Jauh di angkasa sana, melayang diam di antara batas awan dan cahaya bulan, ada sebuah bayangan hitam raksasa yang pekat. Sosok itu tidak sedang berpatroli berkeliling. Sosok itu hanya melayang diam, membeku di udara, memancarkan aura kesedihan yang begitu pekat hingga Pregiwa bisa merasakannya dari jarak ribuan kaki di bawah. Gatotkaca sedang mengawasinya. Sang ksatria penjaga langit itu pasti telah mengetahui semuanya dari balairung agung hari ini.
Dari atas sana, menembus jarak yang tak terjangkau oleh keputusasaan, Gatotkaca menatap lurus ke arah jendela kamar Pregiwa. Ia tidak turun. Ia tidak mendekat. Karena ia tahu, jika ia turun malam ini dan melihat air mata wanita itu secara langsung, ia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia akan menghancurkan Keraton Amarta malam ini juga, menculik Pregiwa, dan membawanya lari ke ujung dunia di mana tidak ada satu dewa pun yang bisa menemukan mereka.
Namun ia tertahan oleh sumpah ksatrianya.
Di bawah rembulan malam itu, dua anak manusia yang saling mencintai, saling menatap dari jarak yang memisahkan bumi dan langit. Tidak ada kata yang terucap. Tidak ada sentuhan tangan yang menyembuhkan. Hanya ada sebuah ikrar kesedihan tanpa suara yang mengalir di antara mereka, mengukirkan janji luka yang akan mereka bawa hingga ke atas kereta perjalanan menuju Swantipura lusa nanti. Perjalanan yang akan menjadi siksaan terpanjang bagi keduanya.