update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman
Hari-hari setelah pendaftaran magang berjalan lebih lambat dari biasanya bagi Lin Yinjia. Ia tetap menjalani rutinitas seperti biasa—kuliah pagi, mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan, lalu pergi ke rumah sakit setelah kelas selesai. Tapi setiap kali membuka ponsel, pikirannya selalu kembali ke satu hal yang sama.
Pengumuman magang. Perusahaan mengatakan hasil seleksi dokumen akan keluar dalam waktu beberapa hari. Tapi bagi Yinjia, beberapa hari itu terasa seperti menunggu sesuatu yang bisa mengubah arah hidupnya sedikit demi sedikit.
Pagi itu ia duduk di ruang kuliah sebelum dosen datang. Beberapa mahasiswa sudah berada di dalam kelas, sebagian masih mengobrol santai, sebagian lagi sibuk dengan ponsel masing-masing.
Yinjia duduk di baris tengah dekat jendela. Laptopnya terbuka, tapi layar hanya menampilkan halaman kosong. Tangannya memegang ponsel di bawah meja.
Ia membuka emailnya lagi. Tidak ada pesan baru. Ia menarik napas pelan dan meletakkan ponsel kembali di meja. Sejak pagi ia sudah memeriksa emailnya hampir sepuluh kali.
Di kursi sebelahnya, Xu Yara memperhatikan. “Kamu menunggu sesuatu?” Nada suaranya terdengar santai.
Yinjia tersenyum kecil. “Pengumuman magang.”
Yara mengangguk. “Oh, yang di perusahaan ekspor impor itu?”
“Iya.”
Beberapa detik Yara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membuka buku catatannya dan membalik beberapa halaman. “Pasti banyak yang daftar.”
“Iya.”
“Kalau tidak lolos juga tidak apa-apa.” Kalimat itu terdengar seperti penghiburan, tapi entah kenapa Yinjia merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya tulus. Namun ia tidak terlalu memikirkannya.
Ia hanya mengangguk kecil. “Aku tahu.”
Kelas pagi berjalan seperti biasa. Dosen menjelaskan materi tentang perdagangan internasional selama hampir dua jam. Yinjia mencoba fokus mencatat, tapi pikirannya tetap terpecah.
Ketika kelas akhirnya selesai, mahasiswa mulai keluar dari ruangan. Chen Luo muncul di pintu kelas beberapa detik kemudian. Ia bersandar di kusen pintu dengan ekspresi santai seperti biasa. “Kamu selesai?”
Yinjia mengangguk sambil memasukkan buku ke tas. “Kamu tidak ada kelas?”
“Ada nanti siang.” Chen Luo berjalan masuk dan duduk di kursi depan mejanya. “Sudah ada kabar magang?”
“Belum.” Ia menghela napas kecil. “Mungkin sore.”
Chen Luo menatapnya beberapa detik. “Kamu terlihat lebih gugup dari hari ujian.”
Yinjia tertawa pelan. “Mungkin karena ini terasa lebih nyata.”
Bagi Yinjia, nilai ujian hanya mempengaruhi nilai semester. Tapi pekerjaan—bahkan sekadar magang—berarti sesuatu yang berbeda. Itu berarti dunia luar. Dunia orang dewasa. Dunia yang sedikit lebih dekat dengan kenyataan hidup keluarganya.
Chen Luo memperhatikan wajahnya yang sedikit tegang. “Kamu pasti lolos.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena aku percaya.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat Yinjia sedikit lebih tenang. Mereka keluar dari gedung fakultas bersama.
Siang itu kampus cukup ramai. Banyak mahasiswa berjalan di jalur utama menuju kantin atau perpustakaan. Beberapa klub mahasiswa memasang poster kegiatan di papan pengumuman.
Ketika mereka hampir sampai di tangga gedung perpustakaan, ponsel Yinjia bergetar di tangannya. Refleks ia langsung melihat layar. Sebuah email baru.
Pengirimnya:
HR Department – Guo International Trade Group
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Chen Luo melihat perubahan ekspresinya. “Ada apa?”
Yinjia tidak langsung menjawab. Ia membuka email itu dengan tangan sedikit gemetar. Beberapa detik ia hanya membaca layar tanpa bicara. Lalu matanya melebar sedikit.
Chen Luo berdiri lebih tegak. “Kamu lolos?”
Yinjia akhirnya mengangkat kepala. Ada sesuatu di wajahnya yang jarang terlihat—campuran antara tidak percaya dan kegembiraan yang tertahan. “Aku… diterima tahap wawancara.”
Chen Luo langsung tersenyum lebar. “Lihat? Aku bilang apa.”
Yinjia membaca email itu sekali lagi untuk memastikan ia tidak salah mengerti. Perusahaan itu memang hanya mengumumkan tahap wawancara, bukan penerimaan akhir. Tapi bagi Yinjia, itu sudah jauh lebih baik dari yang ia harapkan.
Setidaknya mereka melihat dokumennya. Setidaknya ia punya kesempatan. Chen Luo menepuk ringan bahunya.
“Kita harus merayakan.”
“Ini baru tahap pertama.”
“Justru itu.”
Yinjia tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, bahunya terasa sedikit lebih ringan.
Di sisi lain kampus, Xu Yara duduk sendirian di bangku taman. Ia juga memegang ponsel. Di layar ponselnya ada satu pesan baru yang baru saja ia kirim. Kepada seseorang yang sudah beberapa kali berbicara dengannya dalam beberapa minggu terakhir.
Gu Zhenrui.
Pesannya pendek. “Dia lolos tahap wawancara di perusahaan pamanku.”
Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar. Balasan datang. “Bagus.”
Yara menatap layar itu beberapa detik. Ia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi satu hal yang ia tahu dengan jelas—
hidup Lin Yinjia akan semakin dekat dengan dunia keluarga Gu. Dan dunia itu jauh lebih rumit dari yang dipikirkan Yinjia.
Setelah membaca email itu beberapa kali, Lin Yinjia masih merasa semuanya belum sepenuhnya nyata. Ia dan Chen Luo berpisah di depan perpustakaan karena Chen Luo harus menghadiri kelas siang. Yinjia sendiri tidak langsung pulang ke asrama atau kembali ke kelas. Kakinya membawa dirinya menuju halte bus di depan kampus.
Tujuannya jelas. Rumah sakit. Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu hampir empat puluh menit. Selama duduk di bus, Yinjia memegang ponselnya di pangkuan, sesekali membuka kembali email dari perusahaan itu. Kalimatnya sederhana.
Anda lolos tahap seleksi dokumen. Silakan menghadiri wawancara magang pada hari Senin pukul 09.00 di kantor pusat Guo International Trade Group. Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada janji. Hanya kesempatan. Namun bagi Yinjia, kesempatan itu terasa sangat berarti.
Bus berhenti di depan rumah sakit kota Shanghai yang sudah sangat ia kenal. Gedung itu besar dan selalu sibuk. Orang-orang datang dan pergi dengan ekspresi berbeda-beda—ada yang cemas, ada yang lelah, ada juga yang hanya duduk diam menunggu.
Yinjia berjalan masuk melewati pintu otomatis. Aroma antiseptik langsung menyambutnya. Ia sudah terbiasa dengan bau itu.
Langkahnya otomatis menuju lantai tiga, ke ruang perawatan tempat adiknya dirawat sejak kecelakaan itu terjadi beberapa bulan lalu.
Di depan kamar, ia melihat ayahnya duduk di kursi lorong. Lin Wei terlihat lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu. Rambutnya yang mulai memutih tampak sedikit berantakan, tapi ketika melihat Yinjia datang, wajahnya tetap mencoba tersenyum. “Kamu sudah selesai kuliah?”
Yinjia mengangguk. “Iya.” Ia duduk di kursi sebelah ayahnya. “Kondisi Yichen bagaimana hari ini?”
“Masih sama.” Jawaban itu tidak mengejutkan. Hampir setiap hari jawabannya selalu sama.
Masih sama. Tidak memburuk, tapi juga belum membaik. Yinjia berdiri dan masuk ke dalam kamar. Lin Yichen berbaring di ranjang dengan tubuh yang tampak terlalu tenang untuk anak laki-laki berusia tujuh belas tahun. Mesin di samping tempat tidur mengeluarkan suara ritmis yang pelan.
Melihat adiknya seperti ini selalu membuat dada Yinjia terasa berat. Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang. “Yichen.” Tentu saja tidak ada jawaban. Namun Yinjia tetap berbicara seperti biasa. “Aku dapat kabar hari ini.”
Ia menatap wajah adiknya. “Aku lolos tahap wawancara magang.” Kalimat itu keluar dengan suara pelan, hampir seperti rahasia kecil yang ia bagi hanya kepada adiknya.
“Kalau aku benar-benar diterima, mungkin aku bisa membantu ayah dan ibu sedikit.” Tangannya meraih tangan Yichen yang terasa hangat tapi tidak bergerak. “Kamu harus cepat bangun, oke? Kamu belum lihat aku bekerja.” Ia tersenyum kecil meskipun matanya terasa sedikit panas.
Setelah beberapa menit di dalam kamar, ia keluar lagi ke lorong. Ibunya, Mei Lan, baru saja datang membawa dua kantong makanan dari luar rumah sakit. “Kamu sudah datang?” Yinjia langsung membantu mengambil salah satu kantong. “Iya, Bu.”
Mereka duduk bersama di kursi lorong kecil itu. Suasana rumah sakit tidak pernah benar-benar tenang, tapi bagi keluarga Yinjia, tempat ini sudah terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika mereka mulai makan, Yinjia akhirnya berkata, “Aku dapat kabar magang hari ini.”
Ayahnya langsung menoleh. “Kabar apa?”
“Aku lolos tahap wawancara.” Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lalu wajah ayahnya perlahan berubah cerah. “Itu bagus.”
Ibunya juga tersenyum. “Kapan wawancaranya?”
“Senin.”
Mei Lan mengangguk pelan. “Kamu pasti bisa.”
Yinjia tahu orang tuanya selalu mencoba mengatakan hal-hal yang membuatnya tenang, tapi kali ini ia benar-benar ingin percaya bahwa mereka mungkin benar.
Beberapa hari berikutnya berjalan lebih cepat. Yinjia mempersiapkan wawancara itu dengan serius. Ia membaca kembali materi kuliah tentang perdagangan internasional, mempelajari profil perusahaan Guo International Trade Group, bahkan berlatih menjawab beberapa pertanyaan umum yang mungkin ditanyakan HR.
Hari Senin datang lebih cepat dari yang ia kira. Gedung kantor Guo International Trade Group berdiri tinggi di pusat distrik bisnis Shanghai. Bangunannya modern, dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya kota.
Yinjia berdiri di depan gedung itu selama beberapa detik sebelum masuk. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam yang rapi. Rambutnya diikat rendah di belakang kepala. Penampilannya tidak terlalu mencolok, tapi bersih dan profesional.
Di dalam lobi, beberapa kandidat magang lain sudah menunggu. Suasana terasa formal. Resepsionis meminta mereka menunggu di ruang tamu perusahaan.
Yinjia duduk di kursi dengan tangan yang saling menggenggam di pangkuan. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas perlahan. Ini hanya wawancara. Tidak ada yang perlu ditakuti.
Satu per satu kandidat dipanggil masuk ke ruang wawancara. Ketika akhirnya namanya disebut, jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
“Lin Yinjia.”
Ia berdiri dan mengikuti staf HR menuju ruang wawancara. Di dalam ruangan itu duduk dua orang staf HR dan satu pria yang tampak lebih tua.
Pria itu adalah Song Jian, manajer senior yang menangani beberapa divisi perusahaan. Wawancara berjalan sekitar dua puluh menit.
Mereka menanyakan tentang studinya, tentang alasan ia memilih perusahaan ini, dan bagaimana ia menghadapi tekanan dalam pekerjaan. Yinjia menjawab sejujur mungkin. Ia tidak mencoba terlihat terlalu hebat. Ia hanya menjelaskan bahwa ia ingin belajar dan bekerja dengan serius.
Ketika wawancara selesai, Song Jian menutup berkas di depannya dan mengangguk kecil. “Kami akan memberi kabar dalam beberapa hari.”
Yinjia membungkuk sedikit. “Terima kasih atas kesempatan ini.” Ia keluar dari ruangan dengan napas yang terasa sedikit lebih ringan.
Di lantai atas gedung itu, di ruang kantor yang jauh lebih besar dan lebih sunyi, seorang pria berdiri di depan jendela kaca yang menghadap kota Shanghai.
Guo Linghe.
Di mejanya ada beberapa dokumen yang baru saja dikirim oleh departemen HR. Salah satunya adalah daftar kandidat magang yang baru saja menjalani wawancara hari itu.
Linghe tidak terlalu tertarik pada program magang perusahaan. Biasanya ia membiarkan departemen HR menanganinya sepesebenta Namun kali ini ia membuka berkas itu sebentar. Matanya bergerak cepat membaca beberapa nama. Lalu berhenti pada satu nama.
Lin Yinjia.
Nama itu terasa sedikit familiar. Linghe memikirkan sejenak. Beberapa detik kemudian ia menutup berkas itu kembali tanpa berkata apa-apa.