Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audisi
Kalau soal penampilan, Jenna tahu dirinya tidak buruk. Tapi ketampanan Marco adalah jenis yang bahkan wanita paling cantik pun mungkin belum pernah lihat.
Kalau Marco hanya melihat wajahnya lalu ingin bersenang-senang dengannya, itu masih masuk akal. Tapi yang dia katakan adalah: “Nikahi aku.”
Itu justru yang membuat semuanya terasa sangat menakutkan.
“Bukannya kamu suka pria?” Jenna tiba-tiba bertanya.
“Pffff—hahahaha!”
Xander tertawa sampai hampir jatuh. Wajah Marco langsung menghitam seperti dasar panci. Suasana seluruh ruang rawat menjadi suram. Setelah lama tertawa, Xander akhirnya berhenti.
“Kalau kakak aku suka pria, Juju lahir dari mana?”
“Hmm … ibu pengganti? Atau inseminasi buatan?”
“Kalau kakak aku suka pria, kenapa dia mau balas budi pakai tubuhnya ke kamu?”
“Biar nutupin orientasi aslinya?”
“Hahahaha … Kak, kali ini aku benar-benar gak bisa bantu kamu lagi .…”
“Aku juga pernah dengar … katanya kalian berdua…” Jenna menatap kedua saudara itu dengan hati-hati.
“Hukss hukss hukss!” Xander langsung tersedak. “Ngaco! Selera aku gak seberat itu! Walaupun tuan muda ini memang tampan. Aku bisa bikin wanita jatuh cinta, bahkan pria juga—”
Saat itu, seseorang perlahan berdiri dari kursinya. Langkah panjangnya berjalan menuju Jenna.
“Xander, bawa Juju keluar.”
“Hah? Kak, kamu mau ngapain?”
Marco merapikan lengan bajunya dengan santai.
“Buat membuktikan kalau orientasi seksual aku yang sebenarnya normal.”
Melihat ekspresi pria itu menggelap, dengan tatapan seakan ingin menelannya hidup-hidup, Jenna ketakutan sampai jatuh dari ranjang. Ia langsung bersembunyi di belakang Juju, hampir ingin merangkak masuk ke bawah tempat tidur.
“Tuan Alamsyah, ini gak ada hubungannya sama aku! Orang lain yang ngomong begitu, aku cuma ngulang doang! Terus juga, kamu benar-benar gak perlu berterima kasih ke aku. Tapi kalau kamu benar-benar, benar-benar mau aku minta sesuatu, permintaan aku adalah … jangan pernah minta aku buat minta permintaan lagi! Ah, iya! Aku ada audisi yang sangat penting sekarang, jadi aku pergi dulu! Kalau memang ada takdir, kita ketemu lagi nanti!”
Setelah berbicara cepat, Jenna langsung bersiap kabur. Namun baru beberapa langkah berjalan, suara dingin terdengar dari belakang.
“Siapa yang izinin kamu pergi?”
Kaki Jenna langsung gemetar.
Selesai sudah hidupnya.
Beberapa detik kemudian, saat Jenna menatap dengan ekspresi siap mati, Marco malah menyerahkan selembar kertas dan pena padanya. “Bisa minta tolong buat menulis pesan untuk Juju? Supaya dia tidak khawatir saat bangun nanti.”
Cuma … itu?
“Tentu! Tentu gak masalah! Nulis sepuluh ribu kata juga aku sanggup!”
Jenna langsung bernapas lega. Ia mengambil pena dan mulai menulis. Setelah selesai menulis, ia langsung kabur secepat mungkin.
Marco menatap punggungnya yang menjauh. Tatapannya dalam, seperti pemburu yang sedang mengamati mangsa yang sudah masuk dalam jebakan.
Setelah Jenna pergi, Xander mendekat ke kakaknya sambil meloncat-loncat penasaran.
“Kak, aku lagi mimpi ya? kamu beneran suka Jenna? Setelah sekian tahun, bahkan logam tumpul kayak kamu akhirnya bisa diasah jadi jarum. kamu gak pernah tertarik sama wanita sama sekali. Bahkan aku, adik kamu sendiri, sempat curiga kalau kamu—”
Begitu kata “Gey” hampir keluar, kakaknya langsung memotong.
“Diam.”
Xander langsung tercekik oleh kata-katanya.
***
Karena sedang jam sibuk, lalu lintas sangat macet. Saat Jenna tiba, ia sudah terlambat.
Di depan gedung audisi, Luna dan Maoy baru saja keluar. Keduanya tersenyum lebar, dikelilingi orang-orang yang memberi ucapan selamat.
Dari kejauhan, Maoy melihat Jenna yang berlari menuju gedung dengan wajah penuh keringat. Tatapan yang ia berikan sama seperti lima tahun lalu. Tatapan seorang dewa yang memandang rendah seekor semut.
Maoy dengan angkuh masuk ke dalam mobil van-nya dan pergi, meninggalkan debu di belakang. Begitu melihat Maoy pergi, Jenna langsung berlari masuk ke dalam gedung.
Masih belum terlambat!
Tiba-tiba ia bertabrakan dengan sekelompok orang yang sedang berjalan sambil mengobrol santai.
Mereka adalah para juri audisi FTV Idols.
“Maaf, aku telat!” Jenna membungkuk dalam-dalam.
Karena jalannya terhalang dan pembicaraan mereka terputus, beberapa juri saling bertukar pandang dengan jelas tidak senang.
Tidak ada yang menyukai orang yang datang terlambat.
Asisten sutradara berkata dengan wajah datar, “Audisinya sudah selesai. Buat apa datang terburu-buru sekarang? Anak muda zaman sekarang makin gak bisa diandalkan.”
“Aku bukan datang buat audisi peran utama,” kata Jenna cepat.
“Oh?” Penulis naskah terlihat tertarik. “Kalau bukan peran utama wanita, kamu mau audisi buat apa?”
“Aku mau audisi peran pendukung wanita.” Jenna mengangkat kepala sebelum penulis sempat menjawab. “Sejauh yang aku tahu, audisi sebelumnya belum menemukan aktris yang cocok untuk peran itu.”
Begitu Jenna mengangkat kepala, suasana di sekitar langsung hening beberapa detik.
Asisten sutradara yang sebelumnya tidak ramah langsung terpaku.
Di hadapannya berdiri seorang gadis dengan bibir merah dan gigi putih. Rambut hitam panjangnya terurai sampai pinggang. Ia mengenakan gaun merah menyala.
Warna mencolok itu tidak menutupi kecantikannya. Justru membuat pesonanya semakin menonjol. Ia hanya berdiri tenang di sana, tetapi seakan berada di tengah kabut tipis di hutan.
Ia seperti rubah iblis yang telah berlatih ribuan tahun. Sepasang matanya yang memikat bisa membuat orang lengah dan tenggelam dalam pesonanya hanya dalam sekejap.
Namun di saat yang sama, ia juga seperti peri yang belum pernah menginjak dunia fana. Tatapannya jernih dan dalam.
“Siapa nama kamu?”
Para juri baru tersadar dari lamunan setelah sutradara Mamayo membuka suara.
“Jenna.”
Setelah saling bertukar pandang dengan asisten sutradara, penulis, dan produser, sutradara Mamayo berkata, “Aku ingat sedikit tentang kamu. kamu artis dari Royal, kan? Silakan pulang dan persiapkan diri. Peran pendukung wanita itu milik kamu. Nanti kami kabari kapan syuting dimulai.”
“Terima kasih, sutradara. Aku bakal mempersiapkan diri dengan baik.”
Jenna membungkuk untuk mengucapkan terima kasih. Sejak awal, target Jenna memang peran pendukung wanita.
Selama tiga bulan terakhir ia mempelajari karakter itu dengan sangat serius.
Ia ingin menaklukkan para juri hanya dengan satu tatapan. Meski sempat mengalami banyak rintangan, akhirnya ia berhasil.
Setelah Jenna pergi, Mamayo menghela napas.
“Kita sudah mencari ke mana-mana tapi tidak ketemu. Begitu berhenti mencari, malah muncul yang paling cocok. Kualifikasinya memang rendah meskipun sudah masuk Royal. Dengan riwayat aktingnya, aku bahkan tidak mempertimbangkannya untuk peran utama. Tapi aku tidak menyangka dia jauh lebih cantik daripada di foto.”
Penulis Nadd juga tampak sangat bersemangat.
“Yang paling penting auranya pas. Tatapan tadi benar-benar cocok. Karakter itu awalnya adalah jenderal wanita yang polos, sebelum akhirnya menjadi penyebab runtuhnya sebuah negara. Dia bisa cantik dan menggoda, tapi tetap memiliki hati yang murni. Dia tidak boleh terlihat murahan. Semua aktris yang datang sebelumnya malah memainkan peran seperti pelacur rumah bordil. Aku sampai hampir meledak!”
Sutradara Mamayo tertawa.
“Sudahlah, bukankah kita akhirnya menemukan pemeran yang kita tunggu-tunggu?”