Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Setelah selesai, ia keluar dan seperti biasa bahwa pakaian gantinya telah siap. Kevin mengenakannya lalu menyusul sang istri yang berada diruang makan
Kevin duduk, sementara Raina mengisi piring sang suami dengan nasi dan berbagai macam lauk
"Ini kamu yang masak?" Tanya Kevin, keduanya mulai sering bicara
Kevin merasa jika Raina bisa dijadikan teman yang baik, dia bisa mengerti dan yang paling penting gadis ini mau membantunya
"Lain kali kamu makan lebih dulu! Kalau aku gak pulang pasti kamu kelaparan!" Ujar Kevin pada sang istri
"Tidak masalah, aku suka melakukannya" Keduanya menikmati makan malam ini bersama. Ya, walaupun diisi dengan kesunyian
"Ini enak, ini masakan kamu?" Tanya Kevin, makanan ini memang terasa berbeda dari masakan pelayan dan sangat cocok di lidahnya
Alanna juga pandai memasak, tapi masakan Raina jauh lebih enak. Astaga, ada apa dengannya? Ia malah membandingkan masakan Alanna dan Raina
"Aku memang terbiasa masak, Ayah lebih suka masakan aku" Kata Raina "Emm, mas"
"Hmm"
"Apa aku boleh minta izin?" Disela-sela kegiatan makannya, Kevin menatap sang istri
"Izin apa?"
"Aku mau ke toko, kasian Maryam kalau ngehandle semuanya sendiri"
"Kamu punya toko? Toko apa?" Tanya Kevin, selama ini ia tak pernah bicara pada wanita ini hingga Kevin tak tahu apa kegiatan istrinya sebelum keduanya menikah
"Hanya toko pakaian muslim, tokonya juga kecil. Aku sama Maryam juga punya brand hijab sendiri" Jawab Raina
"Waah itu hebat"
"Terima kasih, jadi gimana? Boleh kan?" Sebagai seorang istri jelas ia harus melakukan apapun atas izin sang suami
Kevin mengangguk "Boleh, kamu juga tidak perlu izin"
"Kamu itu suamiku, sudah seharusnya aku minta izin lebih dulu"
"Baiklah, kamu boleh melakukan apapun"
"Terima kasih mas"
Untuk pertama kalinya keduanya saling bicara, walaupun masih ada kecanggungan yang tercipta diantara mereka
Seperti biasa, Kevin akan bangun di jam seperti biasa. Melihat sekeliling kamar dan ruangan itu telah kosong, pasti Raina tengah membuat sarapan
Diatas tempat tidur juga telah siap stelan jas berwarna navy. Kevin melenggang masuk kedalam kamar mandi, hari ini ia memiliki banyak pekerjaan
Sesampainya diruang makan, beberapa menu telah tersaji dan kedua orang tuanya juga telah berada disana
"Selamat pagi Mah, Pah" Sapa Kevin pada kedua orang tuanya lalu pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah menyiapkan sarapan
"Kamu rapi banget sayang, mau kemana?" Tanya Cynthia pada menantunya. Memang biasa melihat Raina dengan pakaian seperti ini dirumah, tapi hari ini gadis itu merias sedikit wajahnya
"Hari ini aku mau ke toko, mas Kevin udah izinin" Jawab Raina
Cynthia mengangguk "Itu bagus, jangan sampai kamu ngerasa terkurung dirumah karena suami kamu"
"Aku gak ngerasa gitu kok Mah, Raina seneng ada dirumah"
"Nanti kapan-kapan Mama akan jalan-jalan ke toko kamu" Ujar Cynthia dan itu membuat Raina tersenyum "Oh iya, kamu kesananya dianterin kan sama Kevin?"
Raina melirik sang suami "Raina bisa pake taksi"
"Kok pake taksi?"
"Untuk sementara Pah, nanti juga Rain akan kerumah ayah untuk ambil mobil" Raina berusaha untuk tidak membuat kedua mertuanya khawatir
"Ya udah, hari ini biar dianterin sama Kevin dulu!" Kata Renaldi
"Iya, hari ini biar aku anterin!" Raina setuju saja, terlebih sang suami telah mengatakannya
Setelah sarapan, mobil mewah milik Kevin meninggalkan rumah. Tujuan utama mereka adalah toko milik Raina
Setelah empat puluh menit, mobil telah terparkir didepan sebuah toko yang menjual pakaian muslim
"Tokonya bagus"
"Mau masuk dulu?" Raina menawarkan
"Aku langsung aja, pagi ini ada meeting soalnya" Mungkin lain kali Kevin akan mengunjungi toko milik istrinya ini
"Ya udah, makasih ya mas udah nganterin" Raina keluar setelah menyalami sang suami
Mobil melaju lagi, Kevin menuju perusahaan Argantara. Setelah itu ia disibukkan dengan berbagai macam pekerjaannya
"Bagaimana keadaan tuan sekarang?"
"Lebih baik, Raina adalah wanita yang pengertian. Dia mau membantu saya dan Alanna agar bisa bersama" Kevin tersenyum
Dirinya sedikit beruntung karena memiliki istri seperti Raina "Nyonya Raina tidak cemburu?" Tanya Evan
"Sepertinya tidak, dia terlihat baik-baik saja"
"Itu artinya nyonya tidak mencintai tuan Kevin" Evan mengutarakan pendapatnya
Kevin terlihat berpikir, kenapa hatinya sedikit terluka mendengar jika istrinya tidak mencintainya
"Harusnya memang seperti itu kan? Raina berhak jatuh cinta pada laki-laki yang tepat" Kata Kevin "Dia wanita yang sempurna Evan, dia tidak pantas bersama pria seperti saya"
Evan mengangguk, tak lama ponsel milik atasannya itu berdering "Halo sayang"
"Kamu dimana? Kamu pulangnya kesini kan?" Terdengar suara Alanna dari seberang telepon
"Iya sayang! Setelah selesai aku pasti kesana"
Setelah selesai pekerjaan barulah Kevin kembali ke penthouse. Masih ada beberapa jam sebelum ia kembali kerumah
Ia akan coba bersikap adil pada istri serta kekasihnya. Sesampainya disana ia langsung masuk dan mendapati Alanna yang tengah berkutat didapur
Wanita cantik itu terlonjak saat tiba-tiba sepasang tangan kokoh melingkar diperutnya
"Kevin"
"Kamu masak apa?"
"Makanan kesukaan kamu" Kevin mengecup sebelah pipi sang kekasih lalu beralih duduk dimeja makan
Setelah selesai, Alanna menata hasil masakannya diatas meja dihadapan Kevin. Alanna lalu melayani sang kekasih dan keduanya makan bersama
Kevin menikmati hasil masakan kekasihnya, ia diam beberapa saat membandingkan masakan Alanna dan Raina yang berbeda
"Otak aku pasti udah gak waras!" Gumamnya
"Kamu bicara sesuatu?"
"Huh?" Kevin menatap kekasihnya itu "Enggak sayang, masakan kamu enak, seperti biasa"
"Apa istri kamu bisa masak?"
"Ya, Raina suka masak"
"Kamu lebih suka masakan aku atau istri kamu?"
Kevin tidak suka ini, harusnya ia tidak perlu direpotkan dengan pertanyaan seperti ini karena hanya akan membuat pusing
"Semuanya enak"
"Kamu harus bisa milih Kevin! Mana yang paling?"
"Tentu saja masakan kamu" Kevin menggenggam tangan kekasihnya lalu mengecupnya
"Aku ngerasa kamu lagi bohong!" Alanna terlihat kesal membuat Kevin kehabisan kata
Setelah makan malam, keduanya bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi. Kevin melirik jam tangannya lalu berdiri membuat Alanna terkejut
"Ada apa?"
"Aku harus pulang sekarang!" Kevin meraih jas yang ia lampirkan di sofa
"Memangnya ada apa? Kamu nggak nginep disini?" Alanna terlihat kesal, terlebih wajah panik kekasihnya
"Aku gak mau sampai Mama nanya-nanya dan itu bikin pusing!" Kevin mengecup kening kekasihnya lalu keluar dari penthouse
"Aku ragu Kevin, sepertinya kamu tidak butuh waktu satu tahun untuk jatuh cinta pada istri mu" Alanna hanya menatap sendu punggung sang kekasih yang menghilang dibalik pintu
Kevin begitu khawatir, ia tahu jika Raina tidak akan makan jika dirinya belum kembali. Semoga saja istrinya itu melanggar aturan itu hari ini