NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: DIBERSIHKAN SENDIRI DI SUMUR

---

Mahesa pulang. Sendirian. Ibu tidak ada di rumah. Di pasar. Jual sayur untuk uang tambahan. Untuk Bima. Untuk rumah. Untuk yang lain.

Ia berjalan ke belakang. Ke sumur. Tempat yang menjadi miliknya. Tempat yang melihatnya tumbuh. Tempat yang tidak pernah menghakimi. Tempat yang menerima air matanya sejak ia bisa menangis.

Sumur itu tua. Batu-batunya berlumut. Airnya dingin—selalu dingin, bahkan di siang terik. Di sini, Mahesa bisa menjadi dirinya sendiri. Di sini, tidak ada yang menutup hidung. Tidak ada yang berteriak "bau". Tidak ada yang lari.

Di sumur. Di tempat teduh. Yang tersembunyi dari jalan. Dari tetangga. Dari mata.

Mahesa melepas celana. Yang basah. Yang bau. Yang memalukan. Yang menjadi saksi bisu kehancuran hari ini.

Kain itu lengket di kulit. Nanah yang sudah mengering menempel di serat. Ia menariknya perlahan. Sakit. Tapi sakit yang sudah biasa. Sakit yang menjadi teman sehari-hari.

Cuci kaki. Sendiri. Dengan air sumur dingin. Yang menyentuh kulit seperti es. Tapi es yang menyenangkan. Es yang menenangkan. Dari nyeri. Dari panas. Dari segalanya.

Nanah hijau keluar dari tempat abses pecah. Dari luka terbuka yang menganga. Yang tadi pagi—rasanya seperti tahun lalu—pecah di depan kelas. Di depan semua. Di depan Rudi yang tertawa. Di depan Bu Kasmi yang pucat. Di depan dunia yang melihatnya sebagai monster.

Darah. Merah segar. Campur nanah. Campur air. Campur segalanya.

Bau. Bau yang tidak bisa dihilangkan. Bau yang menjadi bagian dari dirinya. Bau yang memalukan. Bau yang membuat ibu menyuruhnya tidur di dapur.

Tidur di dapur saja. Bau kakinya.

Kata-kata itu masih terngiang. Lebih sakit dari luka. Lebih dalam dari nanah.

Mahesa menyikat. Dengan sikat baju bekas. Bulunya keras—sengaja dipilih karena bisa membersihkan apa pun. Tangan gemetar. Tapi terus menyikat. Terus membersihkan. Terus... berusaha.

Sampai kulit merah. Sampai tidak ada nanah yang terlihat. Sampai bersih. Sebersih mungkin untuk anak laki-laki sembilan tahun yang tidak punya apa-apa.

Tapi luka terbuka. Besar. Seperti mulut. Seperti mata. Seperti sesuatu yang menatap kembali. Menatapnya dengan tatapan yang sama seperti teman-teman—dengan jijik. Dengan takut. Dengan... "kenapa kamu ada?"

Menangis.

Sendirian. Di sumur. Di tempat teduh. Di tempat tidak ada yang dengar.

Air sumur dingin. Menyentuh kaki. Menyentuh luka. Menyentuh segalanya.

Tapi air mata hangat. Panas. Keluar tanpa izin. Tanpa bisa dihentikan. Seperti banjir setelah kemarau panjang. Seperti semua yang ditahan selama ini—selama berbulan-bulan, selama bertahun-tahun, selama menjadi beban.

Mahesa duduk di batu. Di tepi sumur. Basah. Telanjang bagian bawah. Tidak peduli. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang peduli.

Menatap kaki kanan. Yang hancur. Yang memalukan. Yang membuatnya diusir dari kelas. Yang membuat ibu malu. Yang membuat segalanya.

"Kenapa aku?" tanyanya pada langit. Pada batu. Pada air. Pada siapa pun yang mau mendengar.

Langit tidak menjawab. Hanya terik. Hanya biru. Hanya diam.

Seperti ibu. Seperti ayah. Seperti semua. Yang melihat. Yang diam. Yang pergi.

---

Matahari mulai condong. Mahesa masih di sumur. Kaki sudah dicuci bersih—sebersih mungkin. Luka masih terbuka, tapi setidaknya tidak bernanah lagi. Setidaknya tidak bau—setidaknya tidak terlalu bau.

Ia mendengar langkah kaki. Dari depan rumah. Ibu pulang.

Mahesa cepat-cepat membalut kaki. Dengan kain bekas—yang sudah ia cuci juga. Kain basah, tapi lebih baik daripada terbuka. Lebih baik daripada dilihat ibu dalam keadaan seperti ini.

Ibu muncul di belakang rumah. Dengan keranjang anyaman. Kosong. Mungkin sayurnya laku. Mungkin tidak. Wajahnya lelah. Sangat lelah. Lebih lelah dari biasanya.

Melihat Mahesa. Di sumur. Dengan kaki yang baru dibalut. Dengan mata yang masih merah.

Ibu berhenti. Dua langkah dari sumur. Menatap.

Tidak marah. Tidak sedih. Tidak apa-apa.

Hanya lelah. Lelah yang lebih dalam dari biasanya. Lelah yang menyerah.

"Besok tidak usah sekolah," ibu berkata. Bukan tanya. Bukan usul. Perintah. Keputusan final.

Bukan karena kasihan. Mahesa tahu. Tahu dengan cara anak tahu—cara yang tidak diajarkan siapa pun. Tahu dari suara ibu yang datar. Dari mata yang tidak melihatnya. Dari ... segalanya.

Tapi karena malu. Malu punya anak seperti ini. Malu ditatap guru. Malu diomongin tetangga. Malu di dunia.

Mahesa mengangguk. Tidak protes. Tidak bertanya. Tidak berkata, "Tapi aku ingin belajar. Tapi aku ingin jadi pintar. Tapi aku ingin... normal."

Karena ia mengerti. Mengerti malu ibu. Mengerti lelah ibu. Mengerti segalanya.

Tapi tidak mengerti kenapa ia yang harus malu. Kenapa ia yang harus sembunyi. Kenapa ia yang harus tidak ada.

Padahal ia yang sakit. Ia yang menderita. Ia yang tidak minta jadi begini. Ia yang tidak bersalah.

Tapi dunia tidak bekerja seperti itu. Dunia membuat yang sakit malu. Yang menderita sembunyi. Yang berbeda... tidak ada.

---

Malam itu, Mahesa tidak tidur di kamar. Tidak di tikar. Tidak di pojok yang basah.

Ibu berkata, pelan, hampir tidak terdengar: "Tidur di dapur saja. Bau... kakinya."

Bukan karena ibu kejam. Bukan. Mahesa tahu. Tapi karena Bima. Karena takut Bima bangun dan protes. Karena takut ibu tidak bisa tidur. Karena yang lain.

Mahesa mengangkat tikarnya. Selimut tipisnya. Bantal lapuknya. Pindah ke dapur. Ke lantai dingin. Ke tempat yang lebih dekat dengan sumur. Lebih dekat dengan tempatnya.

Tidak ada yang membantu. Tidak ada yang menawari tempat lebih baik. Hanya diam. Hanya pasrah. Hanya... begini.

Lantai dapur keras. Dingin. Tidak ada tikar—tikarnya sudah digelar di kamar untuk ibu dan Bima. Hanya lantai tanah yang dipadatkan. Hanya dingin yang merambat ke tulang.

Mahesa meringkuk. Menarik selimut tipis. Kaki kanan dibalut, tapi masih terasa. Masih nyeri. Masih... mengingatkan.

Ia menatap gelap. Langit-langit dapur dari bambu. Retak di sana-sini. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah. Membuat bayangan aneh di lantai.

Ini tempatku sekarang, pikirnya. Dapur. Dekat sumur. Jauh dari mereka.

Bukan marah. Bukan kecewa. Hanya... menerima. Seperti menerima kakinya yang membesar. Seperti menerima ejekan. Seperti menerima segalanya.

---

Tengah malam. Mahesa tidak tidur. Dingin terlalu menusuk. Luka terlalu sakit. Pikiran terlalu berat.

Tiba-tiba, pintu dapur berderit. Perlahan. Seseorang masuk.

Mahesa membeku. Tidak bergerak. Tidak berani. Siapa? Ibu yang marah? Bima yang terbangun? Tetangga yang...?

Tapi kemudian, bau. Bau yang dikenal. Bau debu tambang. Bau keringat. Bau... ayah.

Ayah pulang. Lebih awal. Dari biasanya. Dari tambang. Dengan langkah yang berbeda. Dengan... sesuatu.

"Mahesa." Ayah berbisik. Tidak ingin membangunkan siapa pun. Tidak ingin ketahuan.

Mahesa tidak menjawab. Tidak bergerak. Tapi matanya terbuka. Melihat. Melihat ayah di lantai dapur. Di tempat yang rendah. Di tempat yang tidak layak untuk anaknya.

Ayah duduk. Di lantai. Di sampingnya. Tidak jauh. Tidak dekat. Tapi ada. Tubuh besar itu meringkuk di ruang sempit. Tangan kasar itu meraih.

"Ayah dengar," ayah berkata pelan. "Dari tetangga. Hari ini. Di sekolah."

Mahesa tetap diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa menjelaskan. Tidak bisa apa-apa.

Ayah tidak bertanya. Tidak meminta penjelasan. Hanya duduk. Hanya ada.

Kemudian, ayah mengulurkan tangan. Ke kaki Mahesa. Ke kaki kanan yang terbungkus kain basah. Ke tempat yang paling sakit.

Mahesa menarik. Refleks. Malu. Sangat malu. Tidak mau dilihat. Tidak mau disentuh. Tidak mau...

Tapi ayah menahan. Lembut. Tapi menahan. "Biar," ayah berkata. "Biar Ayah lihat."

Lihat. Melihat luka. Melihat balutan basah. Melihat yang selama ini ia sembunyikan.

Perlahan, ayah membuka kain. Luka terbuka terlihat di cahaya bulan. Merah. Basah. Tidak sedap dipandang.

Tapi ayah tidak mual. Tidak menjauh. Tidak apa-apa.

Hanya melihat. Hanya menerima.

Tangan kasar itu menyentuh kulit di sekitar luka. Hati-hati. Seperti menyentuh benda paling berharga di dunia. Seperti takut menambah sakit.

"Ini harus ke dokter," ayah berkata. Suara berat. "Bukan dukun. Bukan herbal. Dokter beneran."

Mahesa hanya diam. Menikmati sentuhan itu. Sentuhan yang tidak menolak. Tidak menjauh.

"Besok," ayah melanjutkan. "Besok Ayah bawa ke kota. Ke klinik. Sudah cari info. Ada dokter yang bisa. Gratis untuk orang miskin."

Kota. Klinik. Dokter. Kata-kata yang pernah diucapkan. Yang belum terwujud. Yang mungkin tidak akan pernah.

Tapi malam ini, di lantai dapur, dengan luka terbuka, dengan bau yang masih ada, dengan... segalanya, kata-kata itu terdengar berbeda.

Terdengar lebih nyata. Lebih dekat. Lebih mungkin.

Mahesa mengangguk. Kecil. Hampir tidak terlihat di gelap.

Ayah mengangguk balik. Lalu membalut kaki Mahesa lagi. Dengan kain baru—kain yang ia bawa. Bersih. Kering. Lembut.

Bukan kain bekas. Bukan kain sisa. Tapi kain baru. Yang mungkin ayah beli. Yang mungkin...

Mahesa tidak tahu. Tapi ia merasakannya. Merasakan kelembutan itu. Merasakan perhatian itu.

---

Ayah berdiri. Perlahan. Dari lantai dapur. Dari tempat yang rendah.

Tapi sebelum pergi, ia menunduk. Menatap Mahesa. Lama.

"Mahesa." Suara ayah bergetar. "Kamu anak Ayah. Jangan malu. Jangan sembunyi. Ini bukan salah kamu."

Air mata Mahesa keluar lagi. Yang tadi habis. Yang tadi kering. Keluar lagi.

"Tapi Bu... Bu bilang tidur di dapur. Soalnya bau." Suaranya pecah.

Ayah diam. Menarik napas panjang. Lalu berkata: "Ibu... ibu capek. Ibu takut. Tapi bukan berarti dia tidak sayang. Hanya... kadang orang takut sama yang tidak mereka mengerti."

Mahesa tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi kata-kata ayah seperti salep. Seperti obat. Seperti... kehangatan.

"Besok," ayah berkata lagi. "Besok kita ke kota. Ayah janji. Sekarang tidur."

Ayah pergi. Ke kamar. Ke istirahat singkat sebelum subuh.

Mahesa berbaring. Kaki terbalut kain baru. Luka masih sakit. Tapi ada yang berbeda.

Ia memegang kain itu. Kain baru. Bersih. Yang ayah berikan.

Bukan hanya kain. Tapi pesan. Tanda. Bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ada yang percaya. Bahwa ada yang tidak menyerah.

Malam masih dingin. Lantai masih keras. Tapi Mahesa merasa hangat.

Karena di luar sana, ayah akan bangun subuh. Bekerja. Lalu menjemputnya. Ke kota. Ke dokter. Ke... mungkin.

Dan itu cukup. Untuk malam ini. Untuk luka yang terbuka. Untuk dapur yang dingin. Untuk... besok yang mungkin.

Itu cukup.

Karena ada yang tidak malu. Ada yang tidak menjauh. Ada yang tetap ada.

Malam ini, itu cukup.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!