Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena matahari yang terburu-buru naik, bukan juga karena suara aktivitas rumah yang ramai. Tapi karena Yusallia sendiri yang memilih untuk bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya.
Jam di dinding kamarnya bahkan belum menunjukkan pukul enam ketika ia sudah duduk di tepi tempat tidur.
Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, jatuh di bahunya tanpa sempat dirapikan. Matanya belum sepenuhnya segar, tapi pikirannya sudah lebih dulu terbangun.
Sunyi.
Rumah itu masih terlalu sunyi untuk ukuran pagi.
Biasanya, di jam seperti ini, suara langkah asisten rumah tangga sudah mulai terdengar dari bawah. Kadang suara televisi dari ruang keluarga sudah menyala pelan. Tapi hari ini… semuanya terasa lebih lambat.
Yusallia menghela napas pelan.
Tangannya meraih ponsel di samping tempat tidur. Ia hanya menatap layar kosong itu beberapa detik, tanpa benar-benar membuka apa pun.
Pikirannya melayang. Bukan ke rumah sakit. Bukan ke pasien. Tapi ke rumah ini. Ke ruang keluarga. Ke percakapan kemarin pagi.
Ia menutup matanya sebentar. Tidak ingin mengulang itu lagi hari ini.
“Lebih baik pergi lebih awal…” gumamnya pelan.
Dan tanpa berpikir panjang lagi, ia berdiri.
___________________________________________
Beberapa menit kemudian, Yusallia sudah siap.
Pakaiannya rapi seperti biasa. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia profesional. Rambutnya diikat sederhana kali ini, tidak dibiarkan terurai seperti biasanya.
Tas kerjanya sudah berada di tangannya.
Ia berdiri sebentar di depan pintu kamar. Seolah memastikan sesuatu.
Lalu membuka pintu.
Langkahnya pelan saat menyusuri tangga menuju lantai bawah.
Setiap anak tangga yang ia pijak terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena ada perasaan waspada yang tidak ia sadari.
Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Terutama… kedua orang tuanya.
Namun, begitu ia sampai di ruang keluarga, langkahnya terhenti.
Seseorang sudah ada di sana.
Duduk santai di sofa, satu kaki naik ke atas, dengan hoodie hitam dan rambut yang sedikit berantakan seperti baru bangun tidur.
Damian.
Yusallia menghela napas kecil.
“Pagi.”
Damian menoleh, alisnya langsung terangkat begitu melihat Yusallia sudah rapi sepagi itu.
“Pagi,” jawabnya santai.
Tapi tatapannya masih menelusuri kakaknya dari atas sampai bawah.
Beberapa detik hening.
Lalu Damian berkata sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. “Tumben banget, lo berangkat sepagi ini?”
Yusallia berjalan mendekat, tapi tidak duduk.
“Iya.”
Damian menyipitkan mata.
“Shift lo bukannya jam delapan?”
“Iya.”
“Terus?”
Yusallia diam sebentar.
Lalu menghela napas pelan.
“Gue nggak mau ribut lagi pagi-pagi.” Jawab Yusallia jujur. Tidak dibuat-buat.
Damian langsung mengerti. Ia tertawa kecil. “Serius lo?”
Yusallia menatapnya datar.
“Gue capek.” Kalimat itu singkat. Tapi cukup menggambarkan keadaan Yusallia secara jelas.
Damian tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan wajah kakaknya beberapa detik. Lalu mengangkat bahu santai.
“Lo santai aja kali.”
Yusallia mengernyit sedikit. “Santai gimana?”
Damian menatapnya dengan ekspresi yang agak heran. “Lo belum tau?”
“Tau apa?” tanya Yusallia bingung.
Damian menyeringai kecil sambil menjawab “Nyokap sama bokap lagi ke luar kota.”
Yusallia terdiam.
“Hah?”
Damian mengangguk santai.
“Dua bulan.” jelas Damian singkat.
Beberapa detik… benar-benar hening.
Yusallia berkedip pelan. “Dua bulan?”
“Iya.”
“Sejak kapan?” tanya Yusallia lagi.
“Semalem.” Jawab Damian.
Yusallia menghela napas panjang tanpa sadar. Ada sesuatu yang… terlepas begitu saja dari dadanya. Ringan. Sangat ringan.
Seolah beban yang selama ini ia tahan tiba-tiba hilang begitu saja tanpa peringatan.
“Kenapa gue nggak tau?” gumamnya pelan.
Damian mengangkat bahu.
“Ya mungkin karena lo ketiduran.”
Dan saat itu, satu ingatan langsung muncul.
Ponselnya.
Panggilan tak terjawab.
Yusallia langsung sedikit mengernyit. “Bengkel…”
Damian langsung menunjuknya. “Nah, itu.”
Yusallia menatapnya. “Maksud lo?”
Damian berdiri dari sofa, berjalan santai mendekat sambil berkata. “Semalem bengkel langganan kita nelpon lo.”
Yusallia menghela napas. “Gue nggak angkat…”
“Makanya,” lanjut Damian, “mereka nelpon gue.”
Yusallia menatapnya sedikit lebih fokus sekarang. “Terus?”
“Mobil lo udah selesai.” jawab Damian saat sudah berdiri di depan Yusallia.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Dan Yusallia langsung menepuk pelan dahinya sendiri.
“Ya ampun…” Ia benar-benar lupa.
Damian tertawa kecil melihat reaksinya. “Parah lo.”
“Gue capek semalem…” bela Yusallia pelan.
“Ya gue tau,” jawab Damian santai. “Makanya gue kasih tau sekarang.”
Yusallia mengangguk pelan.
“Thanks ya.” Nada suaranya tulus.
Damian hanya mengangkat bahu. “Ambil aja nanti.”
“Iya,” jawab Yusallia. “Pulang kerja gue ke bengkel.”
Damian kembali ke sofa, duduk santai seperti sebelumnya. “Good.”
Beberapa detik hening.
Lalu Damian kembali melirik Yusallia. “Lo mau berangkat sekarang?”
“Iya.” jawab Yusallia singkat.
“Pakai mobil yang mana?”
Yusallia terdiam sebentar. Lalu menggeleng pelan. “Gue nggak bawa mobil.” jawabnya jujur.
Damian mengernyit. “Kenapa?”
“Gue mau naik taxi online aja.” jelas Yusallia.
Damian mengangkat alis. “Serius lo?”
Yusallia mengangguk.
“Lebih praktis. Lagian gue cuma ke cafe dulu.”
“Cafe?” tanya Damian sambil mengernyitkan dahi.
“Iya. Sarapan dulu sebelum ke rumah sakit.” Jelas Yusallia.
Damian menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. “Tumben.”
Yusallia hanya mengangkat bahu.
“Gue butuh waktu sebentar buat diri gue sendiri.” jawab Yusallia jujur.
Dan Damian tidak mengejek kali ini.
Ia hanya mengangguk kecil. “Yaudah.”
Yusallia menarik napas pelan. Lalu berjalan menuju pintu.
Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sebentar. “Damian.” panggilnya.
“Hm?” Damian balas berdeham.
Yusallia menoleh sedikit. “Thanks ya.”
Damian menatapnya. Tidak langsung menjawab. Lalu tersenyum kecil. “Iya.”
Tidak banyak kata. Tapi cukup.
___________________________________________
Udara pagi menyambut Yusallia begitu ia keluar rumah. Dingin dan segar. Dan entah kenapa… terasa lebih ringan dari biasanya.
Ia berdiri sebentar di depan rumah besar itu. Menatap halaman. Menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia tidak merasa tertekan berada di rumah itu.
Tanpa orang tuanya. Tanpa tekanan. Tanpa perbandingan. Hanya… dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan ponsel. Memesan taxi online.
Tidak butuh waktu lama sampai pengemudi datang.
___________________________________________
Perjalanan menuju cafe terasa tenang. Angin pagi menerpa wajahnya dengan lembut.
Jalanan belum terlalu ramai. Beberapa orang baru memulai aktivitas.
Dan Yusallia… duduk diam di belakang, memegang tasnya dengan santai.
Pikirannya tidak penuh seperti kemarin.
Tidak sesak. Tidak berat. Justru… kosong. Dengan cara yang menyenangkan.
Sesekali ia menatap ke luar. Melihat kota yang perlahan terbangun.
Dan entah kenapa… Ia teringat sesuatu satu nama kembali.
Rionegro.
Ia tidak tahu kenapa. Tidak ada alasan khusus. Hanya… muncul begitu saja.
Ia menggeleng kecil. “Fokus…” gumamnya pelan.
___________________________________________
Beberapa menit kemudian, motor itu berhenti di depan sebuah cafe kecil yang tidak jauh dari rumah sakit.
Cafe itu tidak terlalu besar. Tapi hangat. Kaca depannya sedikit berembun. Aroma kopi bahkan sudah tercium dari luar.
Yusallia turun, membayar, lalu berjalan masuk.
Suasana di dalam masih sepi. Hanya beberapa orang yang duduk dengan laptop atau secangkir kopi di tangan.
Ia memilih duduk di dekat jendela. Menaruh tasnya. Lalu menghela napas panjang.
Dan kemudian duduk. Tanpa terburu-buru. Tanpa tekanan. Tanpa suara yang menghakimi. Hanya… dirinya sendiri.
Seorang pelayan datang.
“Pagi, kak. Mau pesan apa?”
Yusallia tersenyum tipis.
“Coffee latte sama… sandwich aja.”
“Baik.”
Pelayan itu pergi.
Dan Yusallia kembali sendiri. Dan kemudian tersenyum kecil. Sangat kecil.
Hari ini… baru dimulai.
Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu—Ia merasa… damai dan santai.