Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakrawala yang Sempit
Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang biasanya terasa semangat merayap masuk melalui sela-sela gorden sutra di apartemen Laras. Namun, bagi Laras Maheswari, cahaya itu tidak lebih dari sekadar pengingat bahwa satu hari lagi kebebasannya telah dirampas secara halus. Ia terbangun dengan perasaan kosong yang menganga di dadanya—sebuah kehampaan yang terasa lebih berat daripada kelelahan fisik setelah pementasan semalam.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap kakinya yang putih dan ramping. Sebagai seorang penari, ritual paginya seharusnya adalah peregangan otot, merasakan lantai kayu studio di bawah telapak kakinya, dan membiarkan tubuhnya berdialog dengan musik. Pikirannya terus melayang pada wajah Julian, kurator internasional semalam, dan tawaran magis untuk menari di Sydney Opera House. Itu adalah puncak dari segala peluh yang pernah ia teteskan. Namun, dengan satu kalimat dingin dari Elang, mimpi itu seolah dipeti-eskan dalam ruangan kedap udara.
Laras berjalan gontai menuju ruang tengah. Di sana, Maya sudah duduk dengan raut wajah yang tak kalah muram, namun ekspresinya segera melunak saat melihat sahabatnya keluar dengan mata sembap dan bahu yang layu.
"Ras... kamu sudah bangun?" tanya Maya pelan. Ia bangkit dan mendekati Laras, mencoba memberikan senyuman penghiburan yang paling tulus.
Laras tidak menjawab. Ia hanya duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit. "Aku merasa mati, May," bisiknya lirih. "Seorang penari yang dilarang menari adalah mayat yang masih bernapas. Kenapa dia melakukan ini? Kenapa dia bilang aku butuh istirahat seolah-olah aku ini barang pecah belah?"
Maya menghela napas panjang. Ia duduk di samping Laras, mengusap punggung sahabatnya itu. "Dia tidak menjagamu, Ras. Dia sedang mematikan percikan di matamu agar kamu tidak punya alasan untuk menoleh ke arah lain selain ke arahnya. Elang itu egois. Dia ingin kamu ada, tapi dia tidak ingin kamu bersinar di luar jangkauan cahayanya."
Laras menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya. "Harusnya hari ini aku di studio. Harusnya aku membalas email Julian. Tapi ponselku... Elang memegang kendali atas semua aksesku sekarang."
Maya hanya bisa diam. Ia ingin mengajak Laras kabur saat itu juga, namun ia tahu di depan pintu apartemen ini, dua pria berjas hitam selalu berjaga. Laras bukan lagi sekadar penghuni; ia adalah aset yang diawasi ketat.
*
Keheningan di antara mereka pecah saat pintu depan diketuk dengan ritme yang kaku. Maya membukanya dan menemukan salah satu pengawal kepercayaan Elang berdiri di sana dengan wajah tanpa ekspresi.
"Nona Laras," ucap pengawal itu formal. "Tuan Elang meminta Anda untuk segera bersiap. Beliau akan menjemput Anda dalam tiga puluh menit. Tuan ingin membawa Anda pergi keluar."
Laras mendongak, namun tidak ada binar kegembiraan di matanya. "Pergi ke mana? Ke studio?"
"Tuan hanya berpesan agar Anda mengenakan pakaian santai yang nyaman. Beliau ingin menghabiskan waktu bersama Anda," jawab pengawal itu sebelum membungkuk pamit.
Laras menghela napas pasrah. Ia bangkit dan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Baginya, ajakan jalan-jalan ini bukan sebuah rekreasi, melainkan bentuk lain dari pengawasan yang dikemas dalam bungkus romantis.
Tepat tiga puluh menit kemudian, mobil mewah Elang sudah menunggu di lobi. Elang turun sendiri untuk membukakan pintu, wajahnya tampak segar dan tampan dalam balutan kemeja kasual bermerek. Ia tersenyum tipis saat melihat Laras, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
"Kamu tampak pucat, Sayang. Udara segar akan membuatmu merasa lebih baik," ucap Elang tanpa menyadari bahwa pucatnya wajah Laras adalah karena ulahnya sendiri.
*
Elang membawa Laras menyusuri jalanan kota yang cukup lengang karena ini adalah hari libur. Ia membawanya ke sebuah taman pribadi yang asri, jauh dari keramaian publik. Di sana, Elang membelikan Laras es krim rasa vanila kesukaannya. Mereka berjalan bergandengan tangan di bawah naungan pohon-pohon rindang.
"Enak?" tanya Elang, memperhatikan Laras yang hanya menjilat es krimnya dengan malas.
"Iya, enak," jawab Laras singkat, matanya menatap kosong ke arah danau buatan di depan mereka.
Elang mengerutkan kening. Ia merasa ada yang salah. Biasanya Laras akan bercerita banyak hal, namun hari ini wanita itu seperti robot yang hanya bergerak jika diperintah. Berusaha mencairkan suasana, Elang kemudian membawanya ke pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta.
Mereka memasuki butik-butik kelas dunia. Elang menunjuk tas tangan kulit buaya, sepatu-sepatu desainer ternama, hingga perhiasan yang harganya bisa membiayai pementasan tari selama satu tahun penuh.
"Pilihlah apa pun yang kamu mau, Laras. Gaun ini akan cantik sekali di tubuhmu," kata Elang sambil menyodorkan sebuah gaun sutra berwarna peach.
"Aku tidak butuh baju baru, Elang. Aku punya cukup banyak baju di apartemen," sahut Laras pelan.
"Kalau begitu perhiasan? Kalung berlian ini?"
Laras menoleh ke arah Elang, matanya berkaca-kaca. "Elang... aku tidak butuh berlian. Aku hanya ingin menari. Aku ingin latihan. Aku ingin membalas tawaran Julian. Bisakah kita bicara soal itu saja?"
Wajah Elang yang tadinya cerah seketika berubah menjadi dingin. Ia meletakkan kembali kalung itu ke atas bantal beludru dengan gerakan yang tegas. "Aku sudah bilang, kamu butuh istirahat. Jangan bahas Sydney lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana hanya untuk menjadi tontonan pria-pria asing yang tidak tahu cara menghargai wanita."
"Tapi itu karirku!" suara Laras sedikit meninggi, memicu perhatian beberapa pelayan butik.
Elang segera merangkul pundak Laras, menariknya mendekat dengan posesifitas yang mengintimidasi. "Karirmu adalah di bawah naunganku, Laras. Kamu akan menari saat aku katakan kamu boleh menari. Dan kamu akan istirahat saat aku katakan kamu butuh itu. Jangan membantahku jika kamu ingin hari ini berakhir dengan menyenangkan."
Laras terdiam. Ia merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Sepanjang sisa hari itu, Elang terus mencoba "menyenangkan" Laras dengan berbagai kemewahan materi. Mereka makan siang di restoran berbintang yang menghadap ke kota, Elang membelikannya bunga mawar besar, bahkan ia memanjakan Laras dengan perawatan spa pribadi.
Namun, di setiap foto yang diambil Elang melalui ponselnya, wajah Laras tetap muram. Tidak ada senyum, tidak ada binar di matanya. Ia seperti boneka porselen yang mahal; indah dipandang, namun retak di dalamnya.
Elang mulai merasa frustrasi. Ia memberikan segalanya—uang, waktu, perlindungan, dan kasih sayang yang intens. Namun, ia tidak mengerti bahwa bagi seorang seniman seperti Laras, kebebasan untuk berkarya adalah oksigen. Dan saat ini, Elang sedang menyedot seluruh oksigen di ruangan itu, membiarkan Laras terengah-engah dalam kemewahan yang mencekik.
Malam mulai turun saat mereka kembali ke mobil. Elang menggenggam tangan Laras yang terasa dingin. "Kenapa kamu masih begini, Laras? Apa yang kurang?"
Laras menoleh ke arah jendela, air matanya jatuh tanpa suara. "Semuanya ada, Elang. Tapi aku sendiri tidak ada di sini. Kamu hanya membawa ragaku jalan-jalan, tapi jiwaku masih tertinggal di panggung semalam... panggung yang ingin kamu tutup selamanya."
Elang terdiam, cengkeramannya pada tangan Laras mengeras. Ia tidak suka dengan kenyataan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa ia beli untuk Laras: kebahagiaan yang murni. Dan baginya, jika ia tidak bisa membuat Laras bahagia dengan cara memberikan kemewahan, maka ia akan memastikan Laras tetap bersamanya, meskipun dalam kesedihan yang paling dalam