NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Sisa Waktu di Bali

...GAMON...

...Bab 30: Sisa Waktu di Bali...

...POV Rina & Bima...

---

Selasa – 14.00 WITA

Perjalanan ke Uluwatu

Mobil sewaan melaju pelan di jalan sempit. Di kiri kanan, sawah terbentang hijau. Pohon kelapa menjulang. Sesekali ada kuil kecil dengan kain poleng hitam putih.

Rina duduk di kursi penumpang. Liat ke luar jendela. Tadi pagi dia nangis. Tapi sekarang matanya kering. Bukan karena udah nggak sedih. Tapi karena air matanya abis. Atau mungkin karena dia putusin buat nggak nangis lagi. Setidaknya hari ini.

Bima nyetir. Diam. Matanya lurus ke depan. Tangan di setir—jari-jarinya kadang ngetuk-ngetuk. Gelisah.

"Bim."

"Hmm?"

"Nanti di Uluwatu, kita liat kecak ya. Aku suka kecak. Dari kecil."

Bima lirik sebentar. Senyum tipis.

"Iya. Gue pesen tiket."

Rina balas senyum. Tapi senyumnya nggak sampe mata.

---

16.00 WITA

Pura Uluwatu – Tebing Selatan

Angin kencang. Rambut Rina diterbangkan ke mana-mana. Dia pegangin paksa, tapi tetap aja berantakan. Baju putihnya—yang dia pake khusus—berkibar kayak bendera.

Di bawah, laut biru kehijauan. Ombak pecah di karang. Jauh. Tapi suaranya sampe ke atas.

Monyet-monyet lalu lalang. Turis pada foto-foto. Pasangan-pasangan muda bergandengan.

Rina berdiri di pinggir tebing—agak jauhan dari Bima. Dia liat ke laut. Lama.

Bima dari belakang. Liat Rina. Angin rambutnya berantakan, roknya berkibar. Cantik. Tapi di mata Rina, ada sesuatu yang nggak bisa dia baca.

"Rin."

Rina nggak balik.

"Rin."

Dia balik. Senyum.

"Fotoin aku di sini, Bim. Biar bagus."

Bima ambil ponsel. Foto. Satu. Dua. Tiga.

Rina liat hasilnya. Senyum. "Bagus. Makasih."

Dia jalan mendekat. Pegang tangan Bima.

"Sekarang foto bareng."

Tangan mereka yang lain—merentang. Senyum. Klik.

Rina liat foto itu. Di ponsel, mereka keliatan bahagia. Bima senyum lebar. Dia juga senyum. Tapi di dalem, dia tahu, senyum itu cuma di foto. Di luar foto? Dia nggak tahu lagi.

---

18.00 WITA

Panggung Kecak – Uluwatu

Matahari mulai turun. Jingga. Oranye. Ungu. Laut berwarna emas. Ratusan orang duduk di undakan batu. Di tengah, panggung sederhana. Suara kecak mulai bergema.

Cak cak cak cak cak...

Rina duduk di samping Bima. Bahu nempel. Tangannya di pangkuan.

Dia ingat dulu. Waktu kecil, dia nonton kecak di TV. Ibu di samping. Bilang, "Nanti kalau udah gede, kamu nonton kecak beneran, ya. Sama suami."

Sekarang dia di sini. Sama suami.

Tapi kenapa rasanya... sendirian?

"Rin."

Rina nengok. Bima lagi liat ke panggung. Tapi tangannya—tanpa sadar—nyari tangan Rina.

Rina biarin. Bima pegang. Genggam.

Mereka nonton kecak bareng. Pegang tangan. Kayak pasangan normal.

Tapi di hati Rina, ada yang tanya: Ini beneran? Atau cuma akting?

---

19.30 WITA

Selesai Kecak – Parkiran

Orang-orang pada pulang. Rina dan Bima jalan ke mobil. Langit udah gelap. Bintang mulai keliatan.

"Makan di mana?" tanya Bima.

Rina mikir sebentar.

"Yang biasa aja. Nggak usah mewah."

Bima angguk. Mereka naik mobil.

Sepanjang jalan, Rina liat ke luar jendela. Lampu-lupa. Kafe-kafe. Restoran. Tempat romantis.

Tapi dia nggak mau ke tempat romantis. Tempat romantis malah bikin dia inget pagi tadi.

---

20.30 WITA

Warung Nasi Bali – Dekat Canggu

Warung kecil. Meja kayu. Lampu temaram. Di atas, ada genteng, bukan plafon. Bau ayam betutu dan sate lilit.

Mereka duduk di pojok. Bima pesan ayam betutu, sate lilit, nasi, dan es kelapa.

Makanan dateng. Rina lahap. Sampai belepotan sambal di bibir.

Bima liat. Senyum.

"Lo belepotan."

Dia ambil tisu. Usap bibir Rina. Pelan.

Rina diam. Liat Bima.

"Bim."

"Hmm?"

"Kenapa lo baik banget sama aku?"

Bima kaget. "Karena lo istri gue."

Rina diem. Lalu lanjut makan.

Tapi di dalem, dia nanya: Lo baik karena aku istri lo, atau karena lo merasa bersalah?

---

22.00 WITA

Villa – Kamar Tidur

Rina udah mandi. Wangi sabun. Rambut masih agak basah. Dia duduk di tepi ranjang, handuk di pundak.

Bima masuk dari kamar mandi. Kaos oblong, rambut acak-acakan.

Mereka duduk berhadapan. Jarak satu meter.

"Rin."

Rina angkat muka.

"Gue... gue minta maaf."

"Udah." Rina potong. "Aku nggak butuh maaf. Aku butuh lo yakin."

Bima diem.

"Besok kita pulang. Dan aku masih nunggu jawaban lo." Rina tatap dia. "Lo yakin sama aku? Yakin milih aku? Yakin bisa lupain masa lalu? Atau... lo cuma takut sendiri?"

Bima nggak bisa jawab.

Rina berdiri. Jalan ke ranjang. Rebahan. Nempel di pinggir.

Bima masih duduk. Liat punggung Rina. Kecil. Kurus. Dulu, punggung itu selalu hangat pas nyender di dadanya.

Sekarang, ada jarak.

---

03.00 WITA

Tengah Malam

Bima nggak tidur. Rina juga. Mereka sama-sama buka mata. Tapi nggak saling tegur.

Di antara mereka, ada ruang kosong. Cukup buat satu orang. Tapi rasanya cukup buat lautan.

Rina pejam mata. Bayangin Jakarta. Bayangin rumah. Bayangin hari pertama pulang.

Apa yang akan terjadi?

Bima liat langit-langit. Di kepala, bayangan Keana masih ada. Tapi kali ini, ada juga bayangan lain. Rina. Menangis. Di toilet. Di mobil. Di warung makan.

Gue nyakitin dia. Lagi.

Dia balik badan. Hadap punggung Rina.

"Rin."

Rina nggak gerak. Tapi napasnya berubah. Bima tahu dia nggak tidur.

"Gue nggak akan janji gue bisa lupain dia dalam sehari. Tapi gue janji... gue akan usaha."

Rina masih diem.

"Dan gue nggak akan nyimpen fotonya lagi. Gue nggak akan buka chat lamanya lagi. Gue... gue akan coba jadi suami yang lo butuh."

Rina balik badan. Hadap Bima. Gelap. Tapi mereka bisa liat garis wajah masing-masing.

"Lo janji?" Suara Rina serak.

"Gue janji."

Rina diem. Lalu dia bergerak. Deket. Sampai kepalanya di dada Bima.

"Aku capek, Bim."

Bima elus rambutnya.

"Gue tahu."

"Tapi aku masih sayang lo."

Bima nggak jawab. Cuma peluk erat.

Di pelukan itu, Rina nangis. Lagi. Tapi kali ini, dia nggak sendiri.

---

Rabu – 08.00 WITA

Villa – Pagi Terakhir

Koper udah siap. Baju-baju udah di packing. Rina bersihin dapur kecil. Bima ngecek tiket.

Mereka sarapan terakhir di teras. Nasi goreng, telur, kopi. Sederhana.

Rina liat sawah. Hijau. Damai.

"Bim."

"Hmm?"

"Aku mau minta satu hal."

"Apa?"

Rina tatap dia.

"Pas kita pulang nanti, aku nggak mau lo jadi suami yang sempurna. Aku cuma mau lo jadi suami yang nyata. Yang ada di sini. Bukan yang di masa lalu."

Bima diem. Lalu pegang tangannya.

"Gue akan coba."

Rina senyum. Tipis. Tapi kali ini, senyumnya sampe mata.

"Cukup."

---

Bersambung ke Bab 31: Rumah Baru, Luka Lama

---

...📝 Preview Bab 31:...

Mereka pulang ke Jakarta. Rumah baru udah siap. Rina excited ngatur dekorasi. Bima ikut, tapi matanya masih sering kosong.

Ibu Bima datang. Liat mereka berdua. Diem. Tapi matanya—matanya waspada.

Rina mulai bikin jurnal. Nulis semua yang dia rasain. Rahasia. Nggak ada yang tahu.

Bab 31: Rumah Baru, Luka Lama—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!