Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 : Saat Tahap Pertama Menolak Tunduk.
Udara di Persimpangan Sungai Kelindang mengental bagai jelaga yang membeku. Xue Gou berdiri tak bergerak, tatapannya yang tadi sempat mencair sejenak dalam senyuman tipis, kini membeku kembali. Bekunya bukan seperti es, melainkan seperti mata pisau yang diasah di kegelapan, dingin, tajam, dan sunyi.
“Kebodohan,” ujarnya, suaranya datar bagai batu nisan yang usang. “Selalu meminta tumbal. Dan tumbalnya seringkali adalah nyawa.”
Dia tidak menyergap. Itulah yang membuat nadi di pelipisku berdenyut lebih kencang. Xue Gou berbalik perlahan, sepenuhnya menghadapku.
Cambuk di pinggangnya berayun lembut, ujungnya menyapu debu dan meninggalkan goresan samar di tanah. Gerakannya tenang, terlalu tenang, seperti ular yang mengukur detak jantung mangsanya sebelum menyuntikkan bisa.
“Kau kira dengan memutus satu benang, sangkar itu akan runtuh?” Dia menunjuk ke arah serigala yang terhuyung dalam kurungan terbuka. “Lihat baik-baik. Nafasnya sudah tersendat, matanya mulai memudar. Ia akan mati sebelum senja, meski kau bawa ia kabur sekarang.”
Aku menelan ludah yang tak kunjung basah. Tapi aku tahan pandanganku untuk tidak menoleh. Tak mau memberinya kepuasan melihat retak di ketegaranku.
“Namun kau,” lanjutnya, melangkah mendekat. Satu, dua langkah. Bunyi sepatunya seperti tetesan air di gua yang sunyi. “Kau berbeda. Tubuhmu masih perawan bagi Qi, energimu masih murni. Bahkan setelah memutus sambungan yang mustahil bagimu, kau masih berdiri.”
Sepuluh langkah. Aku bisa menghitung setiap kerut di sudut matanya, bukan kerut usia, tapi bekas dari seringnya memandang sesuatu yang pahit. Sebuah garis pucat di pelipis kirinya, seperti goresan kapur di batu nisan.
“Tawaran terakhir,” katanya, berhenti pada jarak lima langkah, jarak yang cukup bagi cambuknya untuk mencabik wajahku dalam sekejap. “Bergabung, atau mati di sini, dan jadikan tubuhmu pupuk bagi tanah yang sudah kau lukai dengan kehadiranmu.”
Lima langkah.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungku berdegup kencang, namun anehnya, pikiran justru jernih. Seperti kolam keruh yang tiba-tiba tenang.
Aku teringat pesan ayah, saat kami membenahi jembatan bambu yang nyaris rubuh diterjang banjir.
Ling Feng, saat takut, jangan tatap ombak yang datang. Tatap batu di bawah kakimu. Batu itu diam, tapi ia tahu caranya membelah air.
Aku tak punya batu.
Yang kupunya hanyalah tanah.
Kaki telanjangku masih menempel pada tanah Persimpangan Kelindang, tanah yang sakit, terjarah, tapi masih hidup. Masih ada denyut di dalamnya, meski sangat lemah, seperti nadi seorang yang sakarat.
Aku menutup mata.
“Ah,” desis Xue Gou, suaranya mengandung nada mengejek yang tipis. “Bersiap mati dengan tenang? Akhirnya kau belajar sesuatu.”
Aku tak menghiraukannya. Aku fokus pada telapak kaki, pada butiran tanah yang menusuk kulit, pada dingin yang meresap. Dan di balik dingin itu … ada getaran. Halus, lirih, seperti bisikan terakhir.
Energi bumi di tempat ini sedang sekarat. Tapi ia belum mati.
Dan aku … aku anak petani Jinglan. Aku tahu cara mendengarkan tanah, bahkan ketika tanah itu sudah bisu.
Dantian-ku berdenyut. Bukan dalam kepanikan, tapi dengan ritme yang kucari-cari, seperti ketukan pada pintu yang hampir runtuh.
Lalu, tanah merespons.
Bukan aliran, tapi tetesan. Satu, dua … merembes melalui telapak kaki, naik melalui tulang kering, menuju dantian. Tetesan itu pahit, penuh kepedihan, dan kenangan akan segala yang dirampok darinya. Tapi itu tetap energi. Dan aku tak punya pilihan lain.
“Sudah selesai bermeditasi?” Cambuknya bergerak. Bukan serangan cepat, tapi ayunan lambat dan terkendali, seperti tangan pengrajin yang menguji kain.
Cetar.
Ujung cambuk menyambar udara di depan wajahku. Aku menghindar dengan kikuk. Cambuk kedua menyentuh lengan kiriku.
Rasanya bukan seperti cambukan, tapi seperti suntikan logam cair. Sakit itu meresap, menusuk, seperti akar racun yang mencari aliran darah. Di balik kulit, sesuatu bergerak, energi abu-abu Xue Gou, berusaha menyerbu.
Tubuhku bereaksi. Tetesan energi dari tanah melesat keluar dari dantian, menyapu titik sentuhan itu. Cahaya biru pucat bertemu asap abu-abu.
Asap itu mundur. Tapi cahaya biruku juga lenyap.
“Hmm,” dengus Xue Gou, matanya menyipit. “Bisa memurnikan Qi-ku dengan Qi-mu sendiri. Menarik.”
Dia tak marah. Malah terlihat semakin tertarik, seperti ahli alam yang menemukan spesimen langka.
Cambuknya mengayun lagi. Kali ini ke paha kanan. Sakit yang sama. Dan lagi, energi dari dantian-ku melesat mengusirnya, tapi lebih lambat, lebih lemah.
Aku paham sekarang. Ini bukan pertarungan. Ini pembedahan. Xue Gou mengukur seberapa banyak energi murni yang bisa kuhasilkan, seberapa lama aku bisa bertahan.
Langkahku mulai goyah. Dantian-ku terasa kosong. Tanah memberiku lebih banyak tetesan, tapi terlalu lambat.
“Lemah,” gumamnya.
Blar.
Cambuk ketiga menyasar dada.
Aku mengangkat tangan untuk menangkis. Cambuknya membelit pergelanganku, menarikku hingga terjatuh di depannya. Debu memenuhi mulut dan mata.
“Qi tahap pertama melawan tahap ketiga yang hampir sempurna,” katanya, memandangku dari atas. “Ini bukan pertarungan. Ini seperti bayi mencoba menghentikan roda pedati dengan tangannya.”
Dia menarik cambuk, dan aku terjatuh lagi. Dari sudut mata, kulihat sangkar. Serigala itu sudah berdiri. Goyah. Tapi matanya menatapku. Kuning. Redup.
Dan dalam tatapannya, bukan lagi pengertian.
Tapi kemarahan.
Xue Gou menginjak punggungku. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku tak bisa bangkit.
“Ada cara lain,” bisiknya, suaranya dekat di telingaku. “Aku bisa mengambil Qi-mu tanpa membunuhmu. Membiarkanmu hidup, tapi hampa. Seperti tanah ini. Kau akan bernapas, tapi tak akan pernah lagi mendengar bisikan bumi. Kau akan jadi … biasa.”
Kakinya menekan lebih kuat. Tulang rusukku berderak.
“Atau,” lanjutnya. “Kau bisa bergabung. Dan kau akan merasakan kekuatan sejati, kekuatan untuk mengambil, bukan dimakan.”
Aku mencoba bernapas, tapi berat. Darah terasa di lidah.
Lalu, dari suatu tempat di dalam, bukan dari dantian, muncul ingatan.
Ayah, duduk di tepi sawah, menatap hujan.
Ling Feng, kadang bumi diam bukan karena tak punya jawaban. Tapi karena jawabannya terlalu keras untuk diucapkan dengan lembut.
Dan ibu, memelukku saat guntur pertama.
Dengarkan lebih dekat, Nak. Di balik suara keras, ada irama. Dan irama itu adalah bahasanya yang sebenarnya.
Mereka tak mengajariku bertarung. Mereka mengajariku mendengar.
Dan sekarang, di bawah kaki Xue Gou, dengan tulang yang hampir remuk, aku mencoba mendengar, bukan dengan telinga, tapi dengan tulang belakang yang menempel pada tanah.
Tanah ini sakit. Tapi ia masih hidup. Dan ia marah.
Aku tak mencoba menarik kemarahannya. Itu akan membuatku seperti Xue Gou yang menjarah.
Aku hanya … membuka diri. Membiarkan tanah tahu bahwa aku mendengar sakitnya.
Lalu, sesuatu terjadi.
Tanah bergetar. Halus, nyaris tak terasa.
Xue Gou menggeser kakinya.
“Apa?”
Getaran itu makin kuat. Bukan gempa, tapi denyutan kemarahan.
Dari pinggir lapangan, tanah retak. Akar-akar kering dan hitam muncul, seperti tulang yang terangkat dari kuburan. Mereka bergerak menuju Xue Gou.
Dia memandangnya, mata membelalak. “Apa ini? Kau memanggil—”
“Bukan aku,” bisikku, darah menetes dari bibir. “Dia.”
Tanah. Yang marah.
Akar-akar itu menyambar. Xue Gou memotongnya dengan cambuk, tapi lebih banyak yang muncul. Dari retakan, dari bawah batu, dari mana-mana.
Dia melompat mundur.
“Ka—Kau berkomunikasi dengan roh tanah?!”
Aku tak tahu. Aku hanya mendengar.
Dan membiarkan yang mendengarku, didengarkan.
Aku berdiri, goyah. Darah menetes, tapi aku tegak.
“Grrrrhhh,” Serigala itu menggeram. Suaranya rendah, penuh sakit, tapi juga pengakuan.
Xue Gou memandangku, lalu ke akar-akar yang mendekat, lalu kembali padaku. Ekspresinya berubah: dari dingin, jadi tertarik.
“Bukan cuma Qi murni,” gumamnya. “Kau bisa berkomunikasi dengan elemen. Di tahap pertama. Ini… langka.”
Dia mengayunkan cambuk, memotong akar-akar itu. Tapi tanah terus bergerak, menggeliat seperti makhluk yang terbangun dari mimpi buruk.
“Aku tak bisa melepasmu,” katanya, suaranya kini serius. “Kau terlalu berharga. Baik sebagai sekutu… atau sebagai bahan.”
Dia mengangkat tangan kiri. Asap abu-abu berkumpul, makin tebal, menutupi area sekeliling. Akar-akar yang menyentuhnya layu, menjadi debu.
“Kau lihat?” teriaknya dari balik asap. “Inilah bedanya! Kau minta bantuan pada tanah sekarat! Aku MEMILIKI kekuatan untuk menghancurkan!”
Asap itu merayap ke arahku. Pelan. Pasti.
Aku mundur. Di belakangku hanya sangkar dan tebing sungai.
Lalu, sesuatu hangat menyentuh kakiku.
Serigala itu. Ia sudah keluar dari sangkar. Berdiri di sampingku, tubuhnya goyah, tapi tegar. Matanya menatapku, lalu ke arah asap.
Dia melangkah maju, menghadang di antara aku dan awan abu-abu.
“Jangan—” suaraku tercekat.
“Rrraaaauhhh!” Serigala itu melolong. Bukan lolongan sakit, tapi tantangan. Dari mulutnya, keluar cahaya perak redup, seperti bulan sabit di balik awan.
Cahaya itu menembus asap, membuat lubang kecil, lalu padam.
Serigala itu terhuyung, hampir jatuh. Ia telah menggunakan sisa terakhir kekuatannya.
Xue Gou tertawa.
“Binatang bodoh! Kau hanya mempercepat ajalmu!”
Asap itu kini hanya tiga langkah lagi. Aku bisa merasakan dinginnya, dingin yang berasal dari ketiadaan.
Aku melihat serigala. Tatapannya seolah berkata. Lari.
Tapi aku tak bisa.
Aku menatap asap itu, menatap maut yang mendekat. Dan di saat terakhir, yang muncul bukan ketakutan.
Tapi pertanyaan. Untuk apa hidup dijalani?
Mungkin jawabannya bukan untuk ditemukan, tapi memang untuk dijalani saja
Aku meremas manik batu biru di leherku, peninggalan ibu. Dingin, tapi akrab.
Lalu, dari manik itu, mengalir kenangan.
Gambar-gambar berkilat, ibu, ayah, Jinglan … dan sebuah simbol. Pola anyaman emas.
Pola itu terpatri di benakku.
Tanpa berpikir, tanganku bergerak, menggambar di udara. Garis-garis cahaya biru terang muncul dari ujung jari, membentuk anyaman di udara, sebuah perisai transparan yang berkilauan.
Asap abu-abu Xue Gou menyentuh pola itu.
Dan terpental.
Xue Gou terdorong mundur, matanya membelalak. “Itu … Pola Pertahanan Lanjutan! Hanya kultivator tahap ketiga ke atas yang bisa—”
Dia terhenti.
Dari kejauhan, teriakan panik membahana.
“KETUA! KERETA BENDERA TERBAKAR! SEGALANYA—”
Xue Gou memandang ke arah suara, lalu kembali padaku. Wajahnya keruh, marah, bingung, takut.
“Ini belum selesai, anak desa,” geramnya. “Aku akan menemukan kalian lagi.”
Dia berbalik, dan menghilang ke arah perkemahan.
Aku terjatuh, kehabisan tenaga. Pola cahaya biru di udara memudar perlahan.
Serigala itu mendekat, menjilat tanganku yang berdarah. Lalu menatapku.
Dari perkemahan, asap hitam membubung. Teriakan dan keriuhan terdengar.
Sesuatu, atau seseorang, telah menyerang saat Xue Gou sibuk denganku.
Tak ada waktu untuk berpikir.
“Kita harus pergi,” bisikku pada serigala. “Sekarang.”
Dia mengangguk, seolah paham.
Dan kami pergi, menyusuri tebing sungai, menjauh dari Persimpangan Kelindang. Menjauh dari Xue Gou.
Tapi pertanyaanku tetap bergaung.
Untuk apa hidup dijalani?
Mungkin … untuk melindungi. Untuk bertahan. Untuk menemukan jawaban dengan cara menjalaninya.
Dan langkah pertama adalah, bertahan dulu.
Cari tempat aman.
Sembuhkan luka.
Dan selidiki … siapa sebenarnya orang tuaku? Serta apa makna pola yang baru saja kugambar?