Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pedang yang Akhirnya Tercabut
Matahari perlahan turun ke ufuk barat, mewarnai langit di atas Sekte Awan Hijau dengan warna merah darah.
Sepuluh arena babak penyisihan telah dihancurkan dan digabungkan oleh sihir para Tetua menjadi satu Arena Utama raksasa di tengah alun-alun. Lantai batu hitamnya penuh dengan bekas tebasan pedang, lubang ledakan, dan bercak darah yang mengering.
Ribuan murid menahan napas. Bahkan para Tetua di tribun melayang mencondongkan tubuh mereka ke depan.
"Pertandingan Final!" Diaken wasit berteriak, suaranya bergetar menahan antusiasme. "Tuan Muda Wang Long, melawan... Mu Chen!"
Sorak sorai meledak bagaikan badai.
Dari sisi timur arena, suhu udara melonjak tajam. Wang Long melangkah maju. Tidak seperti murid lain yang berjalan kaki, ia melayang beberapa inci di atas tanah, ditopang oleh pusaran angin panas bercampur debu kombinasi mematikan dari Akar Roh Elemen Api dan Tanah.
Kultivasinya memancar tanpa ditahan-tahan: Setengah Langkah Menuju Pembentukan Dasar (Half-Step Foundation Establishment). Tekanan Qi nya membuat murid-murid di barisan terdepan kesulitan bernapas.
Di sisi barat, Lin Xuan melangkah menaiki tangga batu dengan pelan dan ritmis.
Topi caping bambunya masih menutupi sebagian wajahnya. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin panas dari arah lawannya. Tangan kirinya memegang sarung pedang besi biasa, sementara tangan kanannya menggantung santai di sisinya. Auranya? Tetap ditekan di Qi Condensation Lapisan 4.
Wang Long mendarat di tengah arena. Matanya menatap Lin Xuan dengan kebencian yang menyala-nyala.
"Kau berani naik ke arena ini setelah melumpuhkan anjing-anjingku?" geram Wang Long. "Aku harus memujimu. Kau punya nyali, tapi tidak punya otak."
Lin Xuan berhenti sepuluh langkah dari Wang Long. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Mata hitam legam itu menatap Wang Long seperti menatap sepotong kayu bakar yang siap dibuang ke tungku.
"Mereka menghalangi jalanku. Sama sepertimu," jawab Lin Xuan datar.
Wajah Wang Long memerah. Urat di pelipisnya menonjol. "Sampah! Kau pikir karena kau memiliki sedikit kekuatan fisik murni untuk mengalahkan Tie Shan, kau bisa menantang langit?! Hari ini, akan kutunjukkan padamu apa itu perbedaan antara naga dan cacing tanah!"
Wang Long merentangkan kedua tangannya.
WUUUSH!
Api keemasan meledak dari telapak tangannya, kemudian menyambar ke tanah batu di bawah kakinya. Lantai arena seketika meleleh menjadi magma kental yang mendidih.
Seni Rahasia Klan Wang: Rawa Magma Mendidih!
Suhu arena melesat naik hingga membuat pandangan mengabur karena distorsi panas. Gelombang magma itu melesat ke arah Lin Xuan seperti puluhan ular berbisa, berniat menelannya hidup-hidup.
"Matilah!" teriak Wang Long penuh kemenangan.
Namun, Lin Xuan tidak panik. Ia tidak mengeluarkan perisai Qi, tidak pula mundur.
Langkah Hantu Tanpa Jejak.
Sosok Lin Xuan tiba-tiba memudar, meninggalkan bayangan sisa (afterimage) tepat saat gelombang magma itu menghantam tempatnya berdiri. Ia melesat menembus celah-celah semburan api dengan kecepatan yang tidak masuk akal, ujung jubahnya bahkan tidak terbakar.
"Cepat sekali!" seru seorang Tetua di tribun VIP, matanya membelalak. "Gerakan itu... sama sekali tidak menggunakan Qi angin, murni ledakan tenaga otot dari kaki!"
Wang Long menggertakkan gigi melihat serangannya meleset. "Beraninya kau lari tikus!"
Wang Long mengangkat kedua tangannya ke udara. Magma di lantai arena melesat naik, membentuk tiga buah bola api padat bercampur batu seukuran kereta kuda.
Tumbukan Meteor Emas!
Tiga bola api raksasa itu meluncur ke arah Lin Xuan dari tiga sudut berbeda, mengunci seluruh rute pelariannya. Hawa panasnya bahkan membuat rambut Lin Xuan yang menyembul dari balik topi mulai sedikit hangus.
"Dia terkunci!" teriak Zhao Yun dari bangku penonton, wajahnya pucat pasi.
Di dalam benak Lin Xuan, Gu Tianxie mendengus bosan. "Lambat dan boros energi. Hancurkan dia, Lin Xuan. Jangan buang waktuku."
Lin Xuan berhenti bergerak. Ia berdiri di sudut arena yang perlahan meleleh.
Ia tidak bisa menghindar lagi. Tiga meteor batu api itu berjarak kurang dari sepuluh meter darinya. Kematian ada di depan mata.
Wang Long tertawa gila. "Terbakar menjadi abu!"
Saat itulah, Lin Xuan menyilangkan tangan kanannya ke depan dada, menggenggam gagang pedang besinya.
Mata Lin Xuan menyipit. Dunia terasa melambat. Suara gemuruh api Wang Long, sorakan penonton, semuanya memudar menjadi kesunyian yang mencekam.
Qi murni dari Lapisan 5 yang ia padatkan dengan darah binatang buas selama sebulan terakhir meledak di dalam Dantian-nya, lalu dialirkan dengan paksa dan brutal ke seluruh meridian lengan kanannya.
KREK!
Urat-urat biru menonjol tebal di punggung tangan kanannya. Kulitnya mulai retak halus menahan tekanan energi yang jauh melampaui batas wajar tubuh manusia. Darah segar merembes dari sela-sela pori-porinya, mewarnai gagang pedangnya menjadi merah.
"Tarik!" batin Lin Xuan.
Seni Pedang Kilat Hantu: Tebasan Pemutus Senja!
SRINGGG!
Sebuah kilatan cahaya perak yang sangat menyilaukan meledak di tengah arena. Suaranya bukan dentingan pedang, melainkan seperti jeritan hantu yang merobek ruang hampa.
Bilah pedang besi biasa itu ditarik dengan kecepatan yang mendobrak batas suara.
Garis perak itu melesat vertikal ke atas, membelah udara, membelah panas... dan membelah ketiga meteor batu api raksasa itu seolah-olah ketiganya hanya terbuat dari tahu yang lembut.
SWOOOSH!
Ketiga meteor itu terbelah menjadi dua tepat di tengah-tengah, terbang melewati sisi kiri dan kanan Lin Xuan, lalu menghantam penghalang Qi arena hingga meledak menjadi ribuan percikan api yang tak berbahaya.
Namun, kilatan perak itu tidak berhenti di sana.
Sisa energi pedang (Sword Qi) yang terbentuk dari kebrutalan tebasan itu terus meluncur lurus ke depan, menebas lautan magma di lantai arena, dan mengarah tepat ke tubuh Wang Long.
Senyum kemenangan di wajah Wang Long membeku.
Otaknya tidak sempat memproses apa yang baru saja terjadi. Ia hanya melihat kilatan cahaya putih, dan tiba-tiba, hawa dingin kematian menyelimuti lehernya.
Wang Long secara refleks menyalurkan seluruh Qi yang tersisa untuk membentuk Perisai Bumi Emas berlapis tiga di depan dadanya.
CRAAAASSH!
Perisai yang dibanggakan sekokoh gunung itu hancur berantakan seperti lembaran kertas basah.
Garis pedang perak itu menghantam bahu kanan Wang Long, merobek jubah sutranya, membelah daging, dan menembus hingga ke tulangnya.
"AAAAAAARGH!"
Wang Long menjerit melengking. Darah muncrat tinggi ke udara. Tubuhnya terlempar ke belakang, berguling-guling di atas lantai batu yang dingin apinya telah padam total.
Arena menjadi hening sedingin kuburan.
Asap tipis mengepul dari belahan lantai arena yang terpotong rapi.
Di ujung sana, Wang Long tergeletak bersimbah darah. Bahu kanannya terpotong sangat dalam, meridian di lengan kanannya hancur total. Ia masih hidup, tapi lengan itu tidak akan pernah bisa digunakan untuk menyalurkan Qi lagi seumur hidupnya. Jenius arogan itu baru saja dijadikan cacat permanen.
Lin Xuan berdiri di posisinya. Napasnya berat. Lengan kanannya yang masih memegang pedang gemetar hebat, berlumuran darahnya sendiri akibat pembuluh darah yang pecah dari dalam.
Pedang Kilat Hantu adalah teknik bunuh diri jika penggunanya tidak memiliki Tulang Asura. Meski tulangnya tak patah, daging dan meridian Lin Xuan menjerit kesakitan.
Perlahan, dengan wajah tanpa ekspresi, Lin Xuan memutar pergelangan tangannya.
Klik.
Pedang besi itu kembali masuk ke sarungnya.
Suara klik pelan itu seolah menjadi palu godam yang menghantam jantung setiap orang yang menonton.
Lin Xuan mengangkat kepalanya. Matanya yang gelap dan tanpa dasar menatap lurus ke arah Diaken wasit yang masih melayang dengan rahang jatuh terbuka.
"Pertandingan selesai," kata Lin Xuan datar, suaranya memecah keheningan. "Mana Pil Pembentuk Dasar milikku?"
Diaken itu tersentak sadar, wajahnya pucat. Ia melirik ke arah tribun VIP, tempat para Tetua Sekte duduk mematung.
Pemuda misterius ini tidak hanya mengalahkan jenius terbaik sekte dengan satu tebasan, ia bahkan berani menuntut hadiahnya sambil berdiri di atas darah lawannya.