Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Keluar Bioskop
## Bab 30: Keluar Bioskop
Cahaya lampu neon koridor lantai dua Irian Kisaran mendadak terasa lima kali lipat lebih terang saat Rafi dan Nisa melangkah keluar dari kegelapan studio 5D Cinema. Sensor penglihatan Rafi butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri; pupil matanya mengecil, sementara sensasi guncangan hidrolik dari Bab 29 seolah masih tertinggal di otot kakinya, membuatnya berjalan sedikit limbung.
Rafi melirik ke arah Nisa. Gadis itu sedang tertawa kecil sambil mengelap butiran uap air yang masih menempel di pipinya menggunakan ujung jilbab. Wajah Nisa yang biasanya tenang kini tampak bersemu merah, matanya berbinar jenaka, memancarkan sisa adrenalin yang belum habis terbakar.
"Ya ampun, Fi! Kamu lihat nggak tadi pas setannya muncul dari kiri?" Nisa bertanya sambil menoleh ke arah Rafi, suaranya naik satu oktav karena antusiasme. "Aku benar-benar pikir itu tangan beneran yang mau narik kaki aku. Sumpah, seram kali!"
Rafi terkekeh, sebuah tawa yang lahir dari rasa lega karena misi "menghibur" kali ini berhasil seratus persen. "Aku malah salfok sama teriakan kamu, Nis. Kayaknya suara kamu lebih kencang daripada *sound system* di dalam tadi."
"Ih, bohong! Kamu juga tadi sempat loncat, kan? Jangan sok berani ya!" balas Nisa sambil menyenggol lengan Rafi dengan akrab.
Senggolan itu terasa seperti sengatan listrik statis bagi Rafi, namun kali ini ia tidak merasa kaku. Ia merasa diterima. Secara emosional, penghalang tak kasat mata yang sempat membuat mereka canggung di Terminal Tanjungbalai (Bab 16) kini telah hancur bersama jeritan mereka di dalam ruang gelap tadi.
Mereka berjalan pelan menyusuri koridor, menjauh dari pintu keluar bioskop agar tidak menghalangi penonton lain. Rafi melihat sebuah bangku panjang kosong di dekat pagar pembatas lantai dua yang menghadap ke atrium mall.
"Duduk sebentar yuk, Nis. Tenangin jantung dulu," ajak Rafi.
Nisa mengangguk setuju. Mereka duduk di bangku kayu yang dipoles mengkilap itu. Dari posisi ini, mereka bisa melihat ke bawah, ke arah kerumunan orang yang terlihat seperti semut-semut sibuk di lantai dasar. Suara musik latar mall yang bernuansa pop instrumen terdengar samar di bawah riuh rendah suara pengunjung.
Nisa masih tidak bisa berhenti membahas film tadi. "Terus ya, pas adegan di jembatan itu, gila... kursinya miring banget. Aku udah hampir mau pegangan ke kursi depan, tapi takut dibilang norak."
"Nggak apa-apa norak, Nis. Namanya juga pengalaman pertama," sahut Rafi.
Ia memandangi Nisa yang sedang asyik bercerita dengan gerakan tangan yang ekspresif. Pada detik itu, sebuah kalkulasi logis melintas di kepala Rafi. Ia teringat akan penderitaan selama sebulan terakhir. Ia teringat aroma pengap nasi garam yang ia telan cepat-cepat di pojok kelas agar tidak terlihat teman-temannya (Bab 2). Ia teringat bagaimana jempolnya berdenyut karena mengetik laporan praktikum milik anak kelas sebelah demi upah sepuluh ribu rupiah (Bab 4).
Secara ekonomi, delapan puluh ribu rupiah untuk sepuluh menit adalah sebuah kegilaan bagi seorang pelajar dengan saldo pas-pasan. Itu adalah pemborosan yang tidak bisa dibenarkan oleh buku teks ekonomi manapun. Namun, melihat Nisa tertawa lepas—tertawa yang begitu jujur hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit—Rafi merasa telah melakukan transaksi paling jenius dalam hidupnya.
*Tawa itu,* batin Rafi skeptis pada kemiskinannya sendiri, *adalah bayaran yang jauh lebih mahal daripada uang delapan puluh ribu ini.*
Rafi merasa seluruh rasa lelah dan minder yang ia panggul sejak berangkat dari Tanjungbalai menguap begitu saja. Kebahagiaan Nisa adalah validasi atas martabatnya sebagai pria. Ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu memberikan sesuatu yang berharga, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harga murah di pinggiran rel Tanjungbalai.
"Fi, makasih ya," ujar Nisa tiba-tiba, memutus lamunan Rafi. Ia menatap Rafi dengan tatapan yang lebih lembut. "Udah mau nemenin aku ke sini. Aku tahu kamu pasti capek banget harus nunggu antre panjang tadi."
Rafi tersenyum tipis, mencoba tetap terlihat *cool* di depan "investasi" emosionalnya. "Ah, santai aja, Nis. Aku juga senang kok. Jarang-jarang kan kita bisa jalan sejauh ini ke Kisaran."
"Iya sih. Biasanya kalau nggak sekolah ya di rumah bantu Mama," Nisa menghela napas pendek, namun senyumnya tidak hilang. "Hari ini benar-benar spesial buat aku."
Kata 'spesial' itu berdenting di telinga Rafi seperti bunyi koin jatuh di kaleng celengannya. Itu adalah kata kunci yang ia tunggu-tunggu. Secara sosiologis, statusnya di mata Nisa kini telah naik satu tingkat dari sekadar teman sekelas menjadi 'teman jalan'.
Rafi meraba saku belakangnya, memastikan dompetnya tidak terjepit di sela bangku. Masih ada. Masih aman. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 11.40 WIB.
"Habis ini, kita jalan-jalan sebentar lihat-lihat ke bawah, ya? Baru setelah itu kita cari makan siang," kata Rafi, menyusun rencana tahap berikutnya (Sub-Blok D: Bab 31-35).
"Boleh. Aku pengen lihat konter sepatu di bawah, cuma mau lihat model terbaru aja sih buat referensi kalau nanti punya uang," jawab Nisa sambil berdiri.
Rafi ikut berdiri. Ia merasa energinya pulih seratus persen. Kegembiraan Nisa bertindak sebagai katalisator bagi semangatnya. Meskipun ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang dan dompetnya akan semakin menipis di gerai McD nanti, Rafi tidak peduli.
Saat mereka berjalan menuju eskalator untuk turun, Rafi sempat mencuri pandang ke arah bayangan mereka di kaca etalase sebuah toko jam tangan mewah. Mereka terlihat seperti pasangan remaja yang bahagia. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kemeja flanel yang rapi itu, ada seorang pemuda yang harus menabung seribu demi seribu setiap harinya.
Langkah mantap Rafi di samping Nisa. Tawa Nisa masih terngiang di telinganya, memberikan rasa hangat yang lebih nyaman daripada hembusan AC mall mana pun. Bagi Rafi, kencan ini baru saja dimulai, dan ia siap menghadapi tantangan ekonomi berikutnya dengan kepala tegak.
---