NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kanker Stadium Tiga

Tiga hari kemudian, akhirnya Yasmine meneleponnya pada malam hari.

“Halo, ini gue.”

“Lo di mana? Ada apa? Kenapa lo enggak angkat telepon gue sama sekali?” tanya Onad.

“Maaf. Beberapa hari ini kacau banget. Gue enggak sempat jelasin apa-apa,” jawab Yasmine.

“Sekarang jelasin yang sebenarnya terjadi. Gue pantas tahu, kan?” ujar Onad.

“Ini tentang bokap gue. Dia … dia .…” Suara Yasmine mendadak terputus, digantikan isak tangis.

“Lo bisa cerita ke gue. Gue selalu ada buat lo,” kata Onad dengan tulus.

“Papa didiagnosis kanker stadium tiga. Kami baru tahu. Dia enggak bilang ke gue dan nyokap karena enggak mau bikin kami khawatir. Dan kami juga enggak punya cukup uang buat pengobatan. Makanya dia sembunyiin penyakitnya.”

Tangis Yasmine semakin keras.

“Gue enggak tahu harus gimana, Onad. Bokap gue sekarat dan gue enggak bisa ngapa-ngapain. Gue enggak punya uang, enggak punya asuransi, enggak punya apa-apa.”

Di ujung telepon, Onad merasa seakan yang sedang sekarat adalah ayahnya sendiri. Karena perasaannya pada Yasmine, ia ikut merasakan kepedihannya.

“Lo butuh berapa?” tanya Onad cepat.

“Maksud lo?”

“Biaya pengobatannya berapa? Gue bisa bantu. Gue akuntan, ingat?”

“Sekitar lima ratus juta.”

“Jangan khawatir. Gue punya tabungan. Gue bisa bantu,” kata Onad mantap.

“Nggak, gue enggak bisa minta lo bantu. Kita belum lama kenal. Keluarga aja belum tentu mau minjemin sebanyak itu walaupun kita mohon-mohon. Dan gue enggak mungkin bisa balikin dalam beberapa tahun ke depan,” kata Yasmine terburu-buru.

“Nggak apa-apa. Jujur aja, gue beneran suka sama lo. Gue tahu ini tiba-tiba dan waktunya enggak tepat, tapi dengerin gue. Gue percaya sama lo. Gue yakin lo enggak bakal nipu gue. Dan gue enggak bakal bisa tidur kalau tahu lo lagi ngalamin ini padahal gue bisa bantu. Jadi tolong jangan nolak,” ucap Onad lembut.

Beberapa saat hening.

“Onad … makasih. Beneran makasih. Gue enggak tahu harus gimana lagi. Gue memang tahu lo punya perasaan sama gue. Sebenernya gue juga suka sama lo. Cuma gue enggak pernah nyangka kita bakal ngomongin ini dalam situasi kayak gini.”

“Nanti kita bahas lagi soal itu kalau keadaan lo udah lebih baik. Sekarang kirim nomor rekening lo. Gue transfer uangnya.”

Onad bukan orang bodoh dalam urusan uang.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari, sewa, dan pajak, ia jarang mengeluarkan banyak biaya. Selama dua tahun terakhir ia menabung cukup banyak, bahkan mengambil beberapa pekerjaan sampingan untuk klien pribadi.

Jika ini menyangkut orang lain, biasanya ia akan menyelidiki dulu ke mana uangnya akan pergi.

Namun untuk Yasmine, perasaannya sudah menutup logika. Ia merasa hanya gadis itu satu-satunya orang yang benar-benar terhubung dengannya setelah sekian lama. Ia tidak berpikir panjang dan hanya ingin membantunya di saat terburuk.

Lagipula, jika suatu hari ia bertemu orang tua Yasmine, tampil sebagai sosok yang menyelamatkan keluarga mereka tentu akan meninggalkan kesan mendalam.

Yasmine mengirim nomor rekening atas namanya sendiri. Tanpa ragu, Onad langsung mentransfer uang itu.

Selama seminggu berikutnya, tidak ada kabar dari Yasmine. Onad mengira tidak baik mengganggunya di situasi seperti itu.

Pada hari kesembilan, ia akhirnya mencoba menelepon untuk menanyakan kabar Yasmine dan ayahnya.

“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar.”

Suara operator terdengar setelah ia mencoba menelepon. Onad mengernyit dan mencoba lagi. Hasilnya sama. Ia lalu memakai nomor lain yang jarang ia gunakan, nomor yang hampir tidak diketahui siapa pun. Namun jawabannya tetap sama.

Ia tidak tahu rumah sakit mana yang dimaksud, jadi ia hanya bisa mendatangi apartemen yang pernah ia kunjungi.

Setelah berbicara dengan pemilik bangunan dan para penghuni lain, ia mendapat kenyataan pahit.

Sehari setelah ia mentransfer uang, Yasmine kembali ke apartemen, melunasi tunggakan sewa tiga bulan, membereskan semua barangnya, lalu pergi tanpa jejak.

Onad tidak mau percaya lagi.

Ia telah ditipu.

Ia meminta alamat yang pernah didaftarkan Yasmine kepada pemilik apartemen. Ketika ia mencarinya di peta, alamat itu ternyata tidak ada.

Informasi lain tentang dirinya pun samar. Bahkan para penghuni yang ia kira teman kuliahnya ternyata hanya orang-orang yang bertemu lewat aplikasi pencari kos. Tidak ada lagi cara untuk melacaknya.

Onad segera naik taksi menuju kedai kopi langganannya. Pemilik kedai yang sudah mengenalnya pun memberikan semua informasi yang mereka miliki tentang Yasmine. Namun itu pun tidak membantu. Data yang diberikan ternyata palsu.

“Dia ke mana sebenarnyaaaa?” teriak Onad.

Sulit dipercaya bahwa ia benar-benar tertipu.

Andaikata Yasmine kabur karena takut tidak mampu mengembalikan uang, mungkin ia masih bisa memahami. Tetapi semua yang ia ketahui tentang dirinya ternyata kebohongan.

Mungkin Yasmine bukan nama aslinya. Mungkin tak pernah ada ayah yang mengidap kanker. Cara kerjanya bahkan terlihat seperti seorang profesional. Ia hanyalah target.

Setelah seharian mencoba mencari petunjuk, Onad pulang dalam keadaan lelah luar dan dalam. Ia lapar, tetapi tidak punya tenaga untuk makan. Ia masih syok. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki hubungan dengan seseorang. Ia bahkan berani mengakui bahwa ia sudah jatuh cinta. Namun dalam sekejap, semua itu runtuh.

Sejak awal, semuanya adalah kebohongan.

Ia akhirnya tertidur karena kelelahan.

1
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!