NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Lintasan Supersonik Dan Logika Roda Gigi

"Yusuf! Masukkan data sudut elevasi meriam Thorne dan tekanan uap yang terbaca dari sensor tekanan akustik kita!" perintah Jatmika sambil memutar engkol pengatur mesin.

Roda-roda gigi itu berputar cepat, menghitung variabel gravitasi, hambatan udara, dan kecepatan awal proyektil. Jatmika membutuhkan hasil hitungan itu untuk mengaktifkan Meriam Defleksi Magnetik miliknya tepat pada milidetik ke-0,4 setelah peluru melintas di atas gerbang.

"Data masuk! Proyektil kedua meluncur dalam lima... empat... tiga..." Yusuf berteriak sambil menatap jarum galvanometer.

Dhuarrr!

Proyektil kedua melesat. Jatmika tidak mencoba menghancurkan peluru itu dengan ledakan. Ia melepaskan denyut elektromagnetik berkekuatan $20.000 \text{ Gauss}$ dari sepasang menara koil di kiri dan kanan jalur peluru.

Sesuai Gaya Lorentz, proyektil baja yang mengandung feromagnetik itu mendadak "dibelokkan" jalurnya saat melewati medan magnet yang sangat kuat. Peluru yang seharusnya menghantam Balai Kota itu mendadak berbelok tajam di udara, melengkung secara tidak alami, dan jatuh menghantam area rawa kosong di sisi timur kota.

"Sialan! Pelurunya berbelok!" teriak operator meriam Inggris, matanya terbelalak melihat hukum fisika seolah dipermainkan di depan matanya.

Thorne merenggut teleskopnya. "Dia menggunakan magnet! Tingkatkan tekanan uap hingga batas maksimal! Kita akan menembakkan proyektil non-logam! Gunakan blok batu granit yang dilapisi timah!"

Thorne pintar. Timah dan granit memiliki sifat paramagnetik yang sangat lemah, sehingga gaya Lorentz tidak akan cukup kuat untuk membelokkan lintasannya secara drastis.

Jatmika melihat perubahan strategi musuh melalui periskopnya. "Mereka menggunakan massa non-feromagnetik. Magnet kita tidak akan berguna. Kita butuh Intersepsi Kinetik."

Jatmika beralih ke senjata rahasia lainnya: Senapan Centrifugal (Steam-powered Centrifugal Gun). Sebuah piringan baja raksasa yang diputar oleh motor listrik hingga mencapai $10.000 \text{ RPM}$. Di tepi piringan itu, bola-bola baja kecil dilepaskan satu per satu menggunakan gaya sentrifugal, menciptakan rentetan peluru dengan kecepatan luar biasa tanpa menggunakan mesiu sama sekali.

"Suro, gunakan Mesin Diferensial untuk sinkronisasi! Kita akan menembak peluru musuh dengan peluru kita sendiri di udara!"

Ini adalah awal dari sistem CIWS (Close-In Weapon System) pertama di dunia, dikendalikan oleh logika roda gigi mekanik dan uap.

Di tengah dentuman meriam uap Thorne yang mengguncang bumi, Jatmika merasakan getaran yang salah pada lantai ruang bawah tanahnya. Bukan getaran akibat ledakan di luar, melainkan getaran frekuensi tinggi yang berasal dari Poros Turbin Utama.

"Yusuf! Lihat indikator tekanan oli!" teriak Jatmika sambil menunjuk ke arah manometer air raksa yang jarumnya mulai merosot tajam.

"Tekanan turun drastis, Raden! Jika ini terus berlanjut, suhu bantalan (bearing) akan mencapai titik lebur baja dalam hitungan menit!" Yusuf panik, tangannya gemetar saat mencoba memutar katup cadangan yang ternyata macet total.

Jatmika segera menyadari: ini bukan kegagalan mekanis biasa. Seseorang telah menyabotase sistem Pelumasan Hidrostatik. Seseorang yang tahu persis letak katup pembuangan oli utama yang tersembunyi di lorong ventilasi sempit.

"Suro, jaga Mesin Diferensial! Aku harus ke ruang pompa sekarang!" Jatmika menyambar kunci inggris raksasa dan senter elektriknya.

 Di lorong ventilasi yang pengap dan gelap, Jatmika mencium bau tajam: Asam Sulfat. Si penyusup tidak hanya membuang oli, tapi juga menuangkan asam ke dalam tangki cadangan untuk merusak permukaan poros logam yang presisi.

Tiba-tiba, sebuah bayangan meluncur dari balik pipa uap. Sebuah belati baja berkilat mengincar leher Jatmika. Dengan refleks yang terlatih, Jatmika menangkis serangan itu menggunakan kunci inggrisnya.

CLANG!

Penyusup itu mengenakan seragam teknisi Kendal, namun matanya memancarkan tatapan dingin seorang pembunuh profesional Marsose. "Kendal akan runtuh dalam api gesekan, Jatmika," bisik sang penyusup sebelum melemparkan Bom Karbit kecil ke arah Jatmika.

Jatmika berguling menghindari ledakan gas asetilena yang menyembur. Ia tidak punya waktu untuk berduel lama. Di atas sana, suara derit logam yang bergesekan mulai terdengar mengerikan—suara "jeritan" turbin yang mulai kehilangan lapisan olinya. Menurut perhitungan termodinamika, ia hanya punya waktu kurang dari 120 detik sebelum poros itu terkunci (seized) dan menghancurkan seluruh sistem pembangkit.

"Kau meremehkan hukum Viskositas," desis Jatmika.

Ia tidak mengejar sang pembunuh. Sebaliknya, Jatmika memanjat ke arah pipa darurat yang berisi Gliserin Murni—bahan yang sebenarnya disiapkan untuk pembuatan bahan peledak, namun memiliki sifat pelumas sementara yang sangat baik dalam kondisi darurat.

Dengan satu hantaman keras kunci inggrisnya, Jatmika menjebol pipa gliserin tersebut dan mengarahkannya langsung ke saluran masuk turbin. Cairan kental itu mengalir masuk tepat saat suhu poros mencapai $300^\circ\text{C}$. Asap putih mengepul hebat saat gliserin mulai mendidih, namun ia berhasil mencegah kontak logam-ke-logam yang fatal.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!