Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kehendak
Monster yang bangkit dari kumpulan asap hitam itu menyerupai laba-laba raksasa dengan kaki-kaki dari duri pohon Abyss. Matanya yang berjumlah delapan berpijar merah tua, menatap lapar ke arah tiga remaja di hadapannya. Tekanan sihir yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa berat untuk dihirup.
"Itu... bukan monster level rendah," bisik Vivienne, tangannya bersiap merapal mantra angin. "Bagaimana bisa ada Abyss Stalker di zona luar?"
"Mungkin hutan ini memang ingin membunuh kita hari ini," sahut Daefiel. Ia mencoba memanggil api oranyenya kembali, namun tangannya bergetar hebat. Penggunaan sihir murni secara bertubi-tubi tadi telah menguras cadangan mananya lebih cepat dari yang ia perkirakan. "Vivienne, kau masih punya tenaga?"
"Jangan tanya hal bodoh, Daefiel! Fokus saja pada targetmu!" Vivienne berteriak, lalu mengayunkan tangannya ke depan. "Ventus Hastam!" Tombak angin tajam meluncur deras, namun monster itu hanya menggerakkan salah satu kaki durinya dan mematahkan serangan Vivienne dengan mudah.
Lucien maju ke depan, memposisikan dirinya sebagai tameng. "Kalian berdua, serang sendinya saat aku mengalihkan perhatiannya. Ingat, gunakan sihir akademi!"
Lucien melesat dengan kecepatan luar biasa, pedangnya yang dialiri listrik biru muda beradu dengan kaki monster tersebut. Percikan api dan listrik meledak, namun monster itu terlalu tangguh. Dengan satu kibasan kuat, Lucien terpental hingga menghantam batang pohon besar.
"Lucien!" seru Vivienne.
Monster itu kini beralih ke arah Vivienne. Ia bergerak sangat cepat, lebih cepat dari yang bisa diantisipasi oleh sihir angin dasarnya. Saat kaki tajam monster itu terangkat untuk menghujam, Vivienne terpaku. Ia bisa merasakan denyutan di bawah tulang selangkanya semakin menggila, seolah Iblis Bayangan di dalam dirinya tertawa, menawarkan kekuatan tanpa batas untuk menghancurkan makhluk di depannya.
"Gunakan aku..." suara parau seolah berbisik di benaknya.
"Tidak!" Vivienne berteriak, mencoba menepis godaan itu. Ia memaksakan diri mengeluarkan ledakan udara untuk menghindar, namun ujung duri monster itu masih sempat menyayat bahunya.
"Kau terluka, Vivienne!" Daefiel berlari mendekat, wajah jahilnya kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh kecemasan yang nyata. "Sialan! Aku akan membakar benda ini sampai menjadi debu!"
Daefiel mengangkat tangan kanannya. Cahaya merah oranye muncul, namun perlahan mulai menggelap menjadi merah darah yang pekat. Tanda di pergelangan tangannya bersinar terang. Keinginan untuk melindungi teman-temannya mulai mengalahkan akal sehatnya untuk tetap menggunakan sihir biasa.
Udara di sekitar mereka seolah tersedot masuk ke dalam pusaran energi yang keluar dari tubuh Daefiel. Warna api yang semula oranye terang kini mulai terkontaminasi oleh garis-garis hitam pekat yang menjalar seperti pembuluh darah. Vivienne, yang masih memegangi bahunya yang terluka, menatap Daefiel dengan ngeri. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi; Daefiel sedang membiarkan kemarahannya membuka pintu bagi kekuatan Iblis Api.
"Daefiel, jangan! Kau sudah berjanji!" teriak Vivienne, suaranya parau karena debu dan kelelahan.
Namun, Daefiel seolah tidak mendengar. Matanya yang biasanya penuh kilat jahil kini meredup, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan asing. "Benda ini sudah menyentuhmu, Vivienne," desis Daefiel. "Aku tidak peduli pada janji jika itu berarti membiarkan kita mati di tempat sampah ini."
Abyss Stalker itu merasakan ancaman yang lebih besar. Ia mengangkat semua kaki durinya tinggi-tinggi, lalu menghentakkannya ke tanah. Gelombang getaran hebat membuat tanah di bawah kaki mereka retak, namun Daefiel tetap berdiri kokoh. Ia mengacungkan telapak tangannya ke arah monster itu, dan seketika, api hitam-merah menyembur keluar dengan raungan yang menyerupai suara tangisan ribuan jiwa.
"Mati kau! Ignis Diabolus!"
Ledakan api itu menghantam telak tubuh monster laba-laba tersebut. Raungan monster itu memekakkan telinga saat tubuhnya mulai terbakar hebat. Namun, pemandangan itu sungguh mengerikan—monster itu tidak hanya terbakar, ia seolah meleleh di bawah tekanan sihir kutukan tersebut. Tubuh raksasa itu menghilang perlahan, hancur menjadi serpihan kegelapan, dan mengeluarkan asap hitam yang sangat tebal sebelum akhirnya sirna dengan cepat ditelan atmosfer hutan yang lapar.
Begitu monster itu lenyap, Daefiel langsung jatuh berlutut. Ia mengerang keras, mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang kini tampak memar kebiruan di sekitar simbol retakan merah tersebut. Napasnya tersengal, dan wajahnya sepucat mayat. Rasa sakit yang ia terima sebagai harga dari kekuatan itu jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Lucien, yang baru saja berhasil bangkit dengan menyeret pedangnya, berjalan mendekat dengan langkah tertatih. Ia menatap Daefiel dengan tatapan yang sulit diartikan—antara amarah dan simpati.
"Kau melanggarnya," ucap Lucien pendek, suaranya terdengar sangat lelah.
"Aku... menyelamatkan kita," sahut Daefiel di sela rintihannya. Ia menatap Vivienne yang kini berada di sampingnya, mencoba menggunakan sihir air dasar untuk membasuh luka di bahunya. "Kau tidak apa-apa, kan, Vivi?"
Vivienne terdiam sejenak. Ia merasa kesal karena Daefiel keras kepala, namun ia juga tidak bisa menampik bahwa tanpa api hitam itu, mereka mungkin sudah hancur. "Aku tidak apa-apa. Tapi lihat dirimu. Kau hampir menghancurkan tanganmu sendiri hanya untuk satu monster."
Lucien melihat ke sekeliling. Meskipun monster itu sudah menghilang, dinding-dinding akar di sekitar mereka tidak terbuka. Sebaliknya, hutan itu mulai bergeser lagi. Pepohonan yang tadinya berada di sebelah kiri kini berpindah ke belakang mereka, mengubah peta jalan secara total.
"Hutan ini belum selesai dengan kita," Lucien memperingatkan, matanya menatap tajam ke arah kegelapan yang lebih dalam. "Kekuatan Daefiel barusan mungkin menarik perhatian sesuatu yang lebih besar. Kita tidak boleh berlama-lama di sini."
Vivienne membantu Daefiel berdiri. Meskipun mereka sombong dan penuh percaya diri, kini mereka sadar bahwa di dalam Hutan Abyss, status mereka sebagai siswa terbaik tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan beban kutukan yang mereka pikul.