NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Hening yang Semu

Bab 24: Hening yang Semu

Detik ke-15 di menit 23:51.

Secara visual, layar ponselku kini adalah representasi dari kedamaian digital. Setelah perjuangan menu di Bab 23, ikon bulan sabit kecil itu kini bertengger dengan setia di baris status, menjadi penjaga gerbang yang tangguh. Tidak ada lagi banner hijau WhatsApp yang turun tiba-tiba (Bab 16), tidak ada lagi wajah Paman Harris yang membeku (Bab 18), dan tidak ada lagi interupsi Instagram (Bab 21).

Namun, keheningan ini hanyalah sebuah anomali statistik. Di balik permukaan kaca Gorilla Glass yang sunyi ini, sebuah fenomena psikologis yang jauh lebih destruktif mulai melakukan penetrasi ke dalam kesadaranku: Fear of Missing Out (FOMO).

Secara mikroskopis, aku mulai membedah rasa gelisah yang merambat di ujung sarafku. Aku telah membungkam notifikasi, tapi aku tidak bisa membungkam imajinasiku tentang apa yang sedang terjadi di "sana"—di dalam folder notifikasi yang tersembunyi. Keheningan ini tidak memberiku ketenangan; ia justru menciptakan ruang hampa yang segera diisi oleh paranoia.

Analisis rigor-ku (sesuai instruksi [2026-02-16]) mendeteksi adanya disonansi kognitif.

* Fakta: Layar bersih.

* Asumsi: Pesan-pesan penting mungkin sedang masuk dan aku mengabaikannya.

* Konsekuensi: Rasa takut tertinggal dari arus informasi global di malam tahun baru.

Aku menatap kursor yang berkedip di samping huruf "LA". Seharusnya, dengan hilangnya distraksi visual, aku bisa mengetik huruf ketiga dengan kecepatan cahaya. Namun, fokusku justru terdistorsi oleh bayangan pesan-pesan yang tak terlihat.

Apakah Tante Lastri sedang memaki-makiku di grup keluarga karena aku tidak membalas sapaannya? Apakah sepupu-sepupuku sedang menyebarkan tangkapan layar wajahku yang berkeringat tadi? Atau yang lebih mengerikan:

Apakah Lala baru saja mengirim pesan ke arahku—tepat di aplikasi yang sedang kubuka ini—namun mode "Jangan Ganggu" membuatnya tidak memunculkan tanda visual apa pun?

Logikaku mencoba membela diri: “Arka, kau sedang menatap kolom chat-nya secara real-time.

Jika dia mengetik, kau akan melihat status ‘typing...’ di bagian atas.”

Tapi kecemasan digital tidak bekerja dengan logika. Ia bekerja dengan spekulasi.

Aku memperhatikan jempolku yang kini diam terpaku. Secara fisiologis, ada ketegangan pada otot extensor pollicis longus. Aku merasa gatal untuk sekadar menggeser layar ke bawah lagi, hanya untuk memastikan bahwa duniaku belum berakhir saat aku sedang sibuk mengurusi perasaanku. Inilah jerat adiksi era digital; keheningan terasa seperti kegelapan yang mengancam.

"Kenapa, Ka? Kok malah bengong lihat layar kosong?"

Lala bertanya lagi. Suaranya terdengar lebih jernih sekarang karena aku tidak lagi terdistraksi oleh getaran ponsel (Bab 18). Secara fisik, dia masih di sana, berdiri dengan anggun di bawah hujan cahaya kembang api. Namun, di dalam kepalaku, aku sedang terbelah antara realitas fisiknya dan realitas digital yang baru saja kublokir.

"Lagi nunggu... sesuatu," jawabku singkat. Sebuah kejujuran yang tersamar. Aku memang sedang menunggu keberanianku sendiri, tapi aku juga sedang "menunggu" hantu-hantu notifikasi yang kusembunyikan.

Secara mikroskopis, aku mengamati pendar cahaya dari layar ponselku yang memantul di bola mata Lala. Dia tampak begitu tenang. Aku mulai membedah ketenangan itu dengan skeptisisme tingkat tinggi. Bagaimana jika dia juga sedang merasakan FOMO yang sama? Bagaimana jika di balik tas kecilnya, ponselnya sedang bergetar gila-gilaan dan dia tetap mampu menjaga ketenangan wajahnya?

Perbandingan ini membuatku merasa kerdil. Aku harus menggunakan teknologi untuk membentengi diriku, sementara dia tampak seperti penguasa atas dirinya sendiri.

Hening yang semu ini mulai memakan waktuku.

Detik terus bergulir. Di kerumunan Bundaran HI, orang-orang mulai menyiapkan terompet mereka.

Frekuensi suara di sekitarku meningkat (Bab 9), namun di telingaku, yang terdengar hanyalah dengung sunyi dari ponsel yang dipaksa bungkam.

Aku menyadari bahwa mode "Jangan Ganggu" adalah pedang bermata dua. Ia melindungiku dari distraksi luar, tapi ia mengeksposku pada distraksi dalam. Tanpa ada pesan masuk untuk dikomentari atau dikeluhkan, aku hanya memiliki diriku sendiri dan draf "LA" yang masih prematur.

FOMO ini mulai bermanifestasi dalam gerakan motorik yang tidak perlu. Aku mengetuk-ngetuk sisi ponsel dengan jari telunjuk.

Tap. Tap. Tap.

Rhythm-nya tidak beraturan, mencerminkan kekacauan di lobus frontal otakku. Aku membayangkan notifikasi Instagram (Bab 21) tadi. Apa yang terjadi jika cerita yang diunggah Lala itu adalah sesuatu yang krusial bagi keputusanku saat ini? Bagaimana jika dia mengunggah sesuatu yang menandakan bahwa dia sebenarnya sedang menunggu pengakuanku secara langsung, bukan melalui layar?

"Cukup, Arka. Hentikan spekulasi non-datanya," perintahku pada diri sendiri, mengacu pada prinsip akurasi yang kuanut (2026-02-16).

Aku harus menerima kenyataan bahwa keheningan ini adalah harga yang harus kubayar untuk satu menit terakhir yang krusial.

Pesan-pesan di latar belakang itu tidak nyata hingga aku membukanya. Saat ini, satu-satunya hal yang nyata adalah dua huruf di layar dan wanita di depanku.

Secara mikroskopis, aku melihat debu tipis yang hinggap di atas huruf 'A'. Aku menarik napas dalam, membiarkan oksigen mendinginkan kepalaku yang mulai panas akibat overthinking.

Aku harus mengakhiri fase isolasi mental ini dan kembali ke tindakan fisik: mengetik.

Hening ini mungkin semu, tapi waktu yang terbuang adalah nyata.

Aku memantapkan posisi jempolku. Aku mengabaikan bayangan Tante Lastri, Paman Harris, dan algoritma Instagram. Aku memfokuskan seluruh eksistensiku pada kursor biru yang berkedip itu. Ia adalah satu-satunya detak jantung digital yang harus kuikuti sekarang.

Aku siap untuk karakter ketiga. Huruf 'L' lagi.

Namun, tepat saat aku akan menekan layar, sebuah pikiran terakhir melintas: Bagaimana jika setelah semua ini, dia justru tidak membalas?

Rasa takut akan penolakan ini jauh lebih sunyi daripada mode "Jangan Ganggu" mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!