Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Spidol dan Pipi yang Merah
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil Rolls-Royce yang mewah, Sheena merasa heran. Sopir pribadi Matthias berkali-kali meliriknya lewat spion tengah sambil menahan batuk—atau tawa. Bahkan saat mereka turun di lobi mansion, para pelayan yang biasanya membungkuk hormat, kini mendadak menunduk sangat dalam sambil menutupi mulut mereka dengan tangan.
Matthias berjalan di belakangnya, langkahnya tenang, wajahnya sekaku papan pengumuman kantor, tapi tangannya dimasukkan ke saku celana untuk menyembunyikan jemarinya yang sedikit gemetar karena menahan tawa.
"Kenapa semua orang hari ini aneh sekali?" gerutu Sheena sambil menaiki tangga. "Apa dandananku terlalu berantakan karena tidur tadi?"
"Mungkin," jawab Matthias singkat, suaranya terdengar berat dan mencurigakan. "Cepat bersihkan dirimu. Bau dimsum menempel di bajumu."
Sheena mendengus. "Dasar Tiang Gapura tidak tahu diri! Sudah diberi makan, malah menghina!"
Sheena membanting pintu kamarnya di sayap kiri. Ia melempar tas ranselnya ke kasur dan berjalan menuju meja rias untuk melepas ikat rambutnya. Namun, begitu ia berdiri di depan cermin besar itu...
"................"
Sunyi.
Dunia Sheena seolah berhenti berputar selama tiga detik.
Di cermin, ia melihat seorang gadis dengan kacamata bulat asli, tapi ditambah bingkai kacamata hitam tebal dari spidol di sekeliling matanya. Tak hanya itu, ada tiga garis kumis kucing di pipi kiri dan kanannya yang gembul, lengkap dengan titik hitam besar di ujung hidung button-nya.
"MATTHIAS SMITH!!!!!!"
Teriakan Sheena menggelegar di lorong sayap kiri, namun tentu saja tidak akan menembus ruang kerja Matthias yang berlapis peredam suara kelas atas.
Di dalam kamarnya, Sheena berdiri mematung di depan cermin. Nafasnya naik turun menahan amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Tangannya gemetar memegang kapas. Sebagai mahasiswi kedokteran yang paham betul kesehatan kulit, Sheena sangat teliti merawat wajahnya. Double cleansing adalah ritual sucinya. Dan sekarang? Wajahnya dicemari tinta hitam pekat.
"Tiga lapis cleansing balm pun belum tentu langsung hilang! Dia pikir wajahku ini papan tulis universitas?!" Gerutu Sheena sambil menggosok pipinya dengan pelan.
Ia menuangkan micellar oil ke kapas sampai tumpah-tumpah. Matanya yang sleepy eyes kini melotot tajam ke arah pantulan dirinya sendiri. Kumis kucing itu memudar menjadi noda abu-abu yang jelek, membuat Sheena semakin ingin melempar botol skincare-nya ke kepala Matthias.
"Awas kau, Matthias. Jangan harap ada dimsum lagi. Jangan harap ada sapaan pagi. Akan kubuat kau merasa tinggal di kuburan!"
Setelah hampir tiga puluh menit berkutat di kamar mandi hingga kulit pipinya sedikit kemerahan karena gesekan kapas, akhirnya wajah Sheena bersih kembali. Ia menatap pantulannya dengan sengit. "Sombong sekali. Hanya karena dia punya gedung pencakar langit, dia pikir dia bisa menghina aset masa depanku?"
Sementara itu, di sisi lain mansion...
Di dalam ruang kerjanya yang kedap suara, Matthias duduk bersandar di kursi kebesarannya. Buku laporan keuangan SM Corp yang ada di tangannya sama sekali tidak dibaca.
Bahu pria jangkung itu berguncang hebat. Ia menunduk, menutupi mulutnya dengan satu tangan, mencoba meredam tawa yang meledak di dadanya. Bayangan wajah Sheena yang bangun tidur dengan kumis kucing dan kacamata spidol itu benar-benar mengocok perutnya.
"Babi kecil itu... ekspresinya saat sadar pasti sangat luar biasa," gumam Matthias di sela tawanya yang tertahan.
Ini adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun Matthias merasakan kegembiraan yang begitu konyol. Biasanya hidupnya hanya tentang angka, saham, dan tekanan dari dewan direksi. Tapi hari ini, mengerjai gadis mungil bermulut pedas itu memberinya kepuasan yang aneh.
Matthias merapikan setelannya, berusaha kembali ke mode dingin. Ia merogoh saku jasnya, menyentuh sapu tangan SK4 yang selalu menemaninya.
"Kau pasti tidak akan seberisik dia kalau aku jahili," bisik Matthias pada sapu tangan itu, matanya melembut sesaat.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota Makati. Pikirannya kembali ke Sheena. Meski ia tertawa, ada sedikit rasa penasaran yang mengganjal: Apakah dia sedang menangis sekarang? Ataukah dia sedang menyusun rencana untuk meracuniku?
Matthias tersenyum miring. "Mari kita lihat, seberapa pedas mulutmu besok pagi, Nyonya Smith."
Malam itu, mereka makan malam secara terpisah—lagi. Sheena sengaja mengurung diri di kamar, memesan makanan lewat aplikasi hanya karena tidak sudi melihat wajah Matthias di meja makan.
Sedangkan Matthias, ia makan sendirian di meja panjang yang megah itu. Rasanya hambar. Padahal koki pribadinya memasak menu kelas dunia, tapi entah kenapa, lidahnya merindukan rasa saus mentai dari dimsum buatan "si babi kecil" tadi sore.