Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Jebakan Di Tengah Malam
Malam itu, kediaman Jerome yang biasanya sunyi menjadi sangat mencekam. Kabut tipis menyelimuti halaman mansion, menyembunyikan siluet enam bayangan hitam yang bergerak dengan presisi militer. Mereka adalah pembunuh bayaran kelas atas yang dikirim oleh Silas Renfred dengan satu instruksi singkat: Pastikan Valerie Vaughn tidak bernapas lagi sebelum fajar.
Di dalam kamar utama yang remang-remang, Jerome dan Valerie tidak sedang tertidur. Mereka berdiri di balik tirai jendela yang gelap, memantau monitor CCTV yang dialihkan ke tablet di tangan Jerome.
"Mereka sudah melewati sensor laser di gerbang barat," bisik Jerome, suaranya sedingin es. "Silas benar-benar tidak sabar. Dia lebih memilih membunuhmu daripada menghadapi kenyataan bahwa kekuasaannya sedang runtuh."
Valerie menatap layar itu dengan tenang. Tidak ada lagi ketakutan yang membuat jemarinya bergetar. "Dia pikir dia bisa menghentikan takdir dengan peluru. Dia tidak tahu bahwa kita sudah melihat kematian jauh sebelum mereka tiba di sini."
Jerome mengusap cincin obsidian di jarinya. "Tetaplah di sini, Val. Jangan keluar dari lingkaran pengamanan Hugo."
"Tidak, Jerome," Valerie memegang tangan suaminya. "Aku ingin mereka melihatku. Aku ingin mereka melaporkan pada Silas bahwa mangsanya masih sangat segar."
Pertempuran itu berlangsung singkat namun mematikan. Saat para pembunuh itu berhasil menembus balkon kamar, mereka tidak menemukan target yang sedang tidur. Sebaliknya, mereka disambut oleh rentetan tembakan presisi dari tim Ares Security yang sudah bersiaga di setiap sudut gelap.
Jerome sendiri bergerak seperti bayangan maut. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, ia melumpuhkan tiga orang sekaligus hanya dengan tangan kosong dan pisau taktis. Suasana kamar dipenuhi aroma mesiu dan erangan kesakitan.
"Hentikan! Sisakan satu!" teriak Jerome saat Hugo hendak melepaskan tembakan terakhir pada pembunuh yang tersisa.
Pembunuh terakhir itu terpojok di sudut balkon, kakinya tertembak, dan wajahnya pucat pasi melihat rekan-rekannya tewas dalam hitungan menit. Jerome melangkah mendekat, auranya begitu menekan hingga pria itu sulit bernapas.
"Siapa namamu?" tanya Jerome dengan nada rendah yang mengerikan.
"T-tak punya nama... kami hanya menjalankan perintah..." jawab pria itu terbata-bata.
Jerome berjongkok, menarik rambut pria itu hingga ia mendongak. "Dengarkan aku baik-baik. Aku akan membiarkanmu hidup. Kau akan kembali pada Silas dan katakan padanya: 'Misi berhasil. Valerie Vaughn sudah dilenyapkan'. Kau mengerti?"
Pembunuh itu terbelalak. "T-tapi... dia..." ia menoleh ke arah Valerie yang berdiri dengan anggun di ambang pintu, tampak sangat hidup dan berbahaya.
"Lakukan saja!" bentak Jerome. "Jika kau mengatakan yang sebenarnya, aku sendiri yang akan memburumu sampai ke ujung dunia. Biarkan Silas merayakan kemenangannya malam ini. Biarkan dia percaya bahwa jalannya sudah bersih."
Setelah pembunuh itu diseret keluar untuk dilepaskan, Valerie mendekati Jerome. Ia membersihkan noda darah di pipi suaminya dengan sapu tangan sutra.
"Kau sedang memberinya harapan palsu, Jerome," ucap Valerie dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Harapan adalah jatuh yang paling menyakitkan, Val," jawab Jerome sembari memeluk pinggang istrinya. "Besok, saat Silas berdiri di podium dengan kepala tegak, merasa telah memenangkan segalanya... kita akan masuk ke sana. Aku ingin melihat wajahnya hancur saat melihat 'mayat' yang dia pesan datang untuk mengambil mahkotanya."
Valerie menyandarkan kepalanya di dada Jerome. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang kini tenang berkat cincin obsidian, namun penuh dengan hasrat pembalasan dendam yang membara.
"Besok malam, duniaku dan duniamu akan bersatu untuk menghancurkan mereka semua," bisik Valerie.
Malam itu, Silas Renfred menerima pesan singkat di ponsel rahasianya: Target dilenyapkan. Konfirmasi kematian positif. Di ruang kerjanya, Silas tertawa puas sembari menyesap wiskinya, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menggali liang lahatnya sendiri.
Momen epik sedang disiapkan. Sang Iblis dan Ratunya tidak akan hanya datang ke pesta itu—mereka akan datang untuk membakarnya habis.