NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Suara Luminar dan Penemuan Teknik Kompresi Energi

Heras bersembunyi di balik tumpukan puing-puing bangunan yang hancur, tubuhnya meringkuk sekuat tenaga agar tidak terlihat. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara langkah kaki berat dan suara radio komunikasi dari pasukan pemusnah monster yang mulai berdatangan untuk membersihkan lokasi. Ia menahan napas, membiarkan kesunyian menyelimutinya, dan perlahan menutup matanya. Kelelahan yang luar biasa akhirnya menguasai dirinya, dan ia pun terlelap di antara reruntuhan itu, tidur sampai malam perlahan menghampiri dan menutupi langit dengan selubung gelapnya.

Ketika ia terbangun, dunia di sekitarnya sudah sunyi senyap. Hanya ada puing-puing bangunan yang berantakan di mana-mana, sisa-sisa kekacauan pertarungan semalam. Heras berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangun, namun matanya tertuju pada satu titik—tempat di mana ia meninggalkan kursi rodanya sebelumnya. Kini, tempat itu tertutup rapat oleh tumpukan beton dan balok kayu yang besar. Kursi rodanya telah hancur lebur, tak berbentuk lagi. Harapannya untuk bisa pulang dengan cara biasa seketika runtuh. Ia tidak bisa lagi kembali seperti semula.

Tiba-tiba, terdengar sepintas suara yang sangat familiar di telinganya—suara Luminar. Suara itu lembut namun tegas, seolah berbisik dari dalam kesadarannya: "Monster akan menjadi semakin kuat seiring berjalannya waktu, Heras. Kau harus menjadi lebih kuat sebelum mereka mendahuluimu."

Mendengar suara itu lagi, air mata Heras tak tertahankan. Ia menangis, air mata itu mengalir membasahi pipinya yang kotor oleh debu. "Luminar..." serunya, memanggil nama itu dengan suara parau dan bergetar. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan malam yang menjawab panggilannya.

Heras menyadari satu hal yang pahit: dirinya masih belum cukup kuat. Ia menangis tersedu-sedu, namun di tengah isak tangisnya, ia menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang penuh tekad. "Baiklah," ucapnya pelan namun mantap, "Aku akan menjadi lebih kuat. Aku janji."

Tak selang lama kemudian, seolah merespons tekadnya, sebuah jendela cahaya biru transparan muncul melayang di hadapannya, menampilkan statusnya saat ini:

[Jendela Status Luminar - Level 4]

Penyatu: -

Exp: 3/40

Energi: 580/1009

Daya Hidup: 1599/2009

Kekuatan Fisik: 19 + 5

Kecepatan: 19 + 15

Mental: - + 20

Pertahanan: 19 + 3

Kemampuan:

- Transformasi Ukuran: Penyatu sampai 20 meter (Aktif)

- Meta Field: Radius 1 km (Aktif)

Heras menatap layar status itu dengan saksama. Pikirannya mulai bekerja. Jika ia memiliki lebih banyak skill menyerang selain kekuatan fisik biasa, pastinya ia akan menjadi jauh lebih kuat, batinnya. Ia mulai memikirkan cara untuk mendapatkan skill baru, menyusuri setiap sudut pikirannya, mencoba mencari jawaban.

Terpintas di benaknya ucapan Luminar tentang energi mentah. Energi mentah... gumamnya dalam hati. Ia mulai bertanya-tanya: Bagaimana jika aku mengolahnya? Bagaimana cara mengolahnya? Dan seperti apa bentuknya nanti setelah diolah?

Tanpa berpikir lama, Heras memutuskan untuk mencoba. Ia memusatkan pikirannya, mencoba mengalirkan energi dari dadanya. Ia merasakan aliran hangat itu bergerak, dan seketika muncul notifikasi kecil: [-50 Energi]. Energi itu ia alirkan terus ke bawah, menuju kakinya yang selama ini lumpuh.

Seketika, ia merasakan kakinya terasa penuh energi, hangat dan berdenyut kuat. Dengan hati-hati, ia mencoba menggerakkannya. Lalu, ia mencoba berdiri. Dan benar saja—ia bisa berdiri tegak tanpa paksaan, tanpa rasa sakit yang menyiksa seperti dulu. Ia mencoba melangkah, satu langkah, dua langkah... ia bisa berjalan! Namun, kakinya belum terbiasa menahan beban tubuhnya dalam waktu lama, dan tak lama kemudian, ia terjatuh kembali ke tanah.

Heras tidak menyerah. Ia bangkit lagi, mencoba berdiri, mencoba berjalan. Terjatuh, bangkit lagi. Ia terus menerus melakukannya, berulang-ulang, sampai energinya menipis dan napasnya sudah terengah-engah luar biasa.

Saat ia sedang mencoba sekali lagi, dengan napas yang sudah memburu, ia tak sengaja menekan aliran energi itu ke dalam kakinya dengan kompres yang kuat, menahannya di sana sejenak. Ketika ia melepaskan kompres itu secara tiba-tiba, energi yang terperangkap di dalamnya bertabrakan satu sama lain, menciptakan dorongan kuat yang meledak keluar.

Wush!

Dorongan itu begitu kuat hingga membuat tubuh Heras meluncur ke atas, membuatnya bisa melompat sangat tinggi ke udara. Karena tidak siap dengan kejadian itu, ia jatuh kembali dengan posisi tidak seimbang dan mendarat tepat dengan wajahnya menyentuh tanah. Untungnya, ia tidak terluka parah berkat status pertahanan bawaan sebagai penyatu yang melindunginya.

Heras mengusap debu di wajahnya, lalu tersenyum lebar. Ia menyadari sesuatu yang penting: Energi ini bisa ditekan dan dikompres ke dalam bagian tubuh tertentu, lalu diledakkan dalam satu gerakan untuk menciptakan serangan yang mematikan! Itu adalah kuncinya!

Melihat status energinya yang kini tinggal 300/1009, Heras tidak menyia-nyiakannya. Ia menggunakan sisa energinya itu untuk terus berlatih mengompres energi, mencoba mengendalikan ledakan itu, menyempurnakan tekniknya agar bisa menjadi skill yang kuat.

Ia berlatih tanpa henti. Kegelapan malam perlahan bergeser, digantikan oleh cahaya samar fajar yang mulai menyelinap di ufuk timur, namun Heras masih terus berlatih, tenggelam dalam usahanya untuk menjadi lebih kuat.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!