Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Membakar
Kebenaran tentang asal-usulnya menyelimuti Aira seperti kabut tebal yang tidak membiarkannya melihat jalan keluar. Di dalam kamar besarnya yang kini terasa seperti bagian dari hak miliknya yang sah, Aira duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia bukan lagi Aira Kirana yang tak diinginkan; ia adalah keturunan Sofia Malik. Namun, kenyataan itu bukannya memberinya ketenangan, justru menambah beban berat di pundaknya.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Aristhide masuk tanpa menunggu izin, membawa sebuah kotak kayu kecil yang tampak sangat tua. Pria itu sudah melepaskan jasnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan sisi dirinya yang sedikit lebih santai namun tetap mengintimidasi.
"Ada sesuatu yang tertinggal di studio ibuku," ujar Aristhide. Ia meletakkan kotak itu di atas meja rias Aira. "Aku rasa ini saatnya benda ini kembali ke pemilik aslinya."
Aira membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung emas putih dengan liontin safir biru yang dikelilingi berlian kecil. Permata itu berkilau indah, seolah-olah menyimpan cahaya dari masa lalu.
"Ini milik Sofia," bisik Aira.
"Ayahku memberikannya padanya sebagai janji perlindungan. Janji yang gagal ia tepati," Aristhide berdiri di belakang Aira, menatap pantulan gadis itu di cermin. "Biarkan aku memakaikannya untukmu."
Aira merasakan napasnya tertahan saat jemari Aristhide yang panjang dan hangat menyentuh kulit lehernya yang sensitif. Sentuhan itu tidak kasar, justru sangat hati-hati, seolah-olah Aira adalah porselen langka yang bisa hancur kapan saja. Namun, bagi Aira, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik. Ada hawa panas yang merambat dari lehernya menuju seluruh tubuh.
Aristhide tidak segera menjauh setelah kalung itu terpasang. Tangannya tetap berada di bahu Aira, sementara matanya bertemu dengan mata Aira melalui cermin. Atmosfer di kamar itu berubah seketika; oksigen seolah menipis, digantikan oleh ketegangan yang lebih bersifat fisik daripada mental.
"Selama ini aku menganggapmu sebagai senjata, Aira," suara Aristhide kini lebih rendah, hampir seperti bisikan yang serak. "Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa membawamu ke sini hanyalah bagian dari strategi. Tapi aku salah."
Aira memutar tubuhnya, menghadap Aristhide. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan wangi alkohol mahal. "Apa yang salah, Aristhide? Bukankah semuanya berjalan sesuai rencanamu? Ayahku hancur, Aina ketakutan, dan aku... aku sudah berada di tanganmu."
Aristhide mengulurkan tangannya, membelai pipi Aira dengan ibu jarinya. "Yang salah adalah aku mulai membenci kenyataan bahwa aku harus berbagi dirimu dengan dendam ini. Aku ingin menghancurkan mereka bukan lagi untuk ibuku, tapi karena mereka berani memperlakukanmu seolah kau tidak berharga."
Aira merasakan jantungnya berdegup liar. Selama hidupnya, ia tidak pernah diinginkan. Ia selalu menjadi pilihan kedua, barang sisa, atau beban. Namun, di bawah tatapan Aristhide, ia merasa menjadi pusat dari semesta pria itu.
"Jangan menatapku seperti itu," bisik Aira, suaranya goyah. "Kau membeliku, Aristhide. Kau adalah 'pemilik' kontrakku. Jangan membuat ini menjadi lebih rumit dengan perasaan."
Aristhide menarik napas tajam. Ia mencengkeram pinggang Aira, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. "Kontrak itu bisa kubakar sekarang juga. Aku tidak ingin memilikimu karena uang yang kuberikan pada Bramantyo. Aku ingin memilikimu karena kau adalah satu-satunya cahaya yang masuk ke dalam kegelapanku selama sepuluh tahun terakhir."
Tanpa peringatan, Aristhide menunduk dan menciumnya.
Ciuman itu tidak lembut. Itu adalah ciuman yang penuh dengan rasa lapar, amarah, dan kerinduan yang telah lama ditekan. Aira awalnya tersentak, namun segera ia mendapati dirinya membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. Tangannya merayap ke tengkuk Aristhide, menjambak pelan rambut pria itu seolah takut ia akan menghilang.
Dalam ciuman itu, Aira menumpahkan segala rasa sakitnya—rasa sakit karena dijual, rasa sakit karena ditukar, dan rasa sakit karena kesepian. Aristhide adalah satu-satunya orang yang memahaminya, meskipun pria itu jugalah yang menariknya ke dalam badai ini.
Aristhide melepaskan ciumannya, dahi mereka bersandar satu sama lain. Napas mereka memburu. "Aku akan membunuh siapa pun yang mencoba menyentuhmu lagi, Aira. Termasuk keluarga yang kau sebut orang tua itu."
Aira menatap mata Aristhide yang kini berkilat dengan protektifitas yang berbahaya. "Aina... dia tidak akan tinggal diam. Dia tahu aku kembali ke rumah lama. Dia akan mencari cara untuk menghancurkan momen ini."
"Biarkan dia mencoba," sahut Aristhide dengan senyum dingin yang kembali menghiasi wajahnya. "Dia pikir dia bisa bermain dengan musuh-musuhku. Dia tidak tahu bahwa aku telah memasang jebakan di setiap langkah yang dia ambil."
Tiba-tiba, ponsel Aristhide bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Yudha: “Tuan, Bramantyo baru saja menyatakan bahwa ia memiliki dokumen sah yang membuktikan bahwa Aira adalah anak kandungnya dan ia akan menggugat Anda atas tuduhan penculikan dan perdagangan orang.”
Aristhide tertawa hambar setelah membaca pesan itu. "Lihat? Ayahmu sedang mencoba langkah terakhir yang putus asa. Dia ingin menggunakan hukum untuk mengambilmu kembali, karena dia tahu jika kau tetap di sini, dia akan mati perlahan."
Aira mengepalkan tangannya. "Dia tidak akan pernah bisa mengambilku kembali. Aku lebih baik mati daripada kembali ke rumah itu."
"Kau tidak akan mati, Aira," Aristhide mengecup keningnya dengan lembut, sebuah gestur yang sangat kontras dengan gairah panas beberapa saat lalu. "Mulai besok, dunia akan tahu siapa sebenarnya Aira Kirana. Kita akan mengadakan pesta amal terbesar tahun ini. Dan di sana, kita akan menelanjangi semua kebohongan mereka di depan publik."
Sentuhan Aristhide yang membakar tadi meninggalkan bekas di kulit dan hati Aira. Ia tahu, setelah malam ini, tidak ada jalan kembali. Ia bukan lagi sekadar jaminan. Ia adalah ratu yang sedang bersiap untuk perang terakhirnya, dengan raja yang paling ditakuti di sampingnya.
Namun, di kegelapan luar jendela, sebuah bayangan memperhatikan mereka. Aina berdiri di sana, di balik semak-semak taman dengan kamera di tangannya. Ia berhasil menangkap momen intim itu.
"Kau pikir kau sudah menang, Aira?" bisik Aina dengan wajah yang dipenuhi kebencian murni. "Kau baru saja memberikan peluru yang kubutuhkan untuk menghancurkan reputasi Aristhide Malik selamanya."
Aina segera menghilang ke dalam kegelapan, membawa senjata barunya yang siap diledakkan di pesta amal esok malam.
"Akankah Aina berhasil mengacaukan rencana Aristhide dengan foto-foto tersebut? Mari kita tunggu di bab selanjut nya yah!!"