NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6: mata yang melihat kegelapan

Gerimis tipis yang turun di pinggiran kota Incheon membawa aroma tanah basah dan karat yang menyengat, sebuah kombinasi bau yang seolah merangkum keputusasaan wilayah tersebut. Di sebuah bangunan panti asuhan tua yang dinding-dindingnya sudah ditumbhi lumut kerak dan retakan yang menyerupai pembuluh darah mati, kehidupan seolah-olah berhenti berputar. Panti Asuhan "Cahaya Harapan" hanyalah sebuah nama kosong yang terukir di papan kayu yang telah membusuk; di dalamnya, harapan adalah komoditas yang lebih langka daripada makanan bergizi atau pelukan hangat. Di loteng yang paling atas, tempat udara terasa pengap dan debu-debu menari di bawah sisa cahaya lampu jalan yang masuk dari genting yang bocor, seorang gadis berusia lima belas tahun bernama Elara duduk mematung.

Elara lahir tanpa kemampuan untuk melihat dunia dalam spektrum warna yang indah. Baginya, dunia sejak awal adalah kumpulan suara yang tidak beraturan, getaran lantai yang dingin, dan hembusan angin yang membisikkan rahasia-rahasia sunyi. Namun, sejak Gerbang Abyss pertama kali muncul di dekat desanya bertahun-tahun lalu, kegelapan di matanya yang buta berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyiksa. Ia tidak melihat cahaya fisik, tetapi ia "melihat" aliran energi mana yang kasar, tajam, dan tidak stabil seperti duri-duri mikroskopis yang menusuk otaknya setiap detik tanpa henti. Baginya, setiap langkah manusia di lantai bawah terdengar seperti dentuman drum yang memekakkan, dan setiap emosi negatif—kemarahan, kesedihan, atau kerakusan—di dalam gedung itu terasa seperti kabut tebal yang mencekik lehernya hingga ia sulit bernapas.

Arkan berdiri di dahan pohon ek tua yang besar, yang dahan-dahannya melengkung menaungi jendela loteng tempat Elara dikurung. Jubah Sanguine-nya yang hitam pekat tidak sedikit pun basah oleh air hujan; butiran air seolah-olah segan menyentuh kain yang memancarkan otoritas kuno tersebut, membelok menjauh sebelum sempat menyentuh permukaannya. Di samping Arkan, Hana berdiri dengan kaki yang nyaris tidak menyentuh dahan, tubuhnya seringan bayangan, dan matanya yang berwarna perak menatap tajam ke arah jendela kecil di depan mereka.

"Dia adalah 'Mata' yang kita butuhkan, Tuan?" bisik Hana. Frekuensi suaranya telah ia manipulasi agar terdengar halus dan tidak menyakiti pendengaran sensitif Elara yang berada di dalam ruangan tersebut.

"Dia bukan sekadar mata, Hana. Dia adalah navigasi takdir. Dia mampu melihat apa yang sengaja disembunyikan oleh realitas fisik," jawab Arkan dengan suara rendah yang penuh wibawa. "Tetaplah di sini. Pastikan tidak ada agen pemerintah atau Hunter pengintai yang mendekat dalam radius lima ratus meter. Aku merasakan keberadaan beberapa 'Stalker' militer yang sedang bersembunyi di balik bayangan gedung-gedung tua di sekitar sini. Mereka menganggap gadis ini sebagai properti eksperimen mereka."

"Dimengerti, Tuan. Jika mereka berani melangkah satu inci saja ke area ini, mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi," jawab Hana sebelum menghilang ke dalam bayangan pohon secepat kilat.

Arkan melangkah ke udara kosong. Ia tidak jatuh. Ia berjalan perlahan di atas udara, setiap langkahnya menciptakan riak energi merah transparan yang berfungsi sebagai pijakan instan. Ia menembus kaca jendela loteng tanpa menimbulkan suara sekecil pun; molekul kaca itu dipaksa merenggang oleh kehendak Arkan agar ia bisa lewat tanpa memecahkannya menjadi kepingan.

Di dalam loteng yang sempit itu, Elara tersentak hebat. Ia tidak mendengar suara pintu terbuka atau jendela yang berderit, tapi ia merasakan sebuah kehadiran yang begitu luar biasa—sebuah matahari merah raksasa yang tiba-tiba muncul di tengah kegelapannya. Energi yang dipancarkan sosok di depannya begitu murni, agung, dan tenang, sangat bertolak belakang dengan energi kasar dan kotor dari para Hunter yang terkadang datang untuk menguji kemampuannya.

"Siapa... yang ada di sana?" suara Elara gemetar, namun tidak ada ketakutan yang berlebihan di dalamnya. Penderitaannya selama ini telah membuat rasa takutnya menjadi tawar.

"Aku adalah orang yang akan memberimu penglihatan yang sesungguhnya, Elara," Arkan mendekat, auranya menyelimuti ruangan pengap itu seperti selimut hangat yang seketika meredam semua kebisingan dunia luar yang menyiksanya. "Kau sudah lelah melihat duri-duri mana yang terus menusuk kepalamu, bukan? Kau lelah mendengar detak jantung manusia yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan."

Elara meraba udara dengan tangannya yang kurus, mencoba mencari arah sumber suara agung tersebut. "Semuanya... terlalu berisik. Dunia ini terlalu terang di dalam kegelapanku. Siapa kau? Kenapa kehadiranmu terasa seperti samudera yang dalam dan tenang?"

Arkan berlutut di depan gadis itu, memegang tangannya yang kasar dan penuh bekas luka—luka yang ia dapatkan karena sering menabrak benda tajam di dalam kegelapannya. "Aku adalah Sovereign. Aku datang untuk menawarkan sebuah perjanjian yang adil. Aku akan mengambil kegelapanmu yang menyiksa ini, dan menggantinya dengan 'Oculus Sanguine'. Kau tidak akan lagi melihat cahaya matahari yang menyilaukan mata manusia, tapi kau akan melihat aliran darah di setiap makhluk hidup, kau akan melihat titik mati dari setiap monster Abyss, dan kau akan melihat garis takdir yang belum sempat tertulis di buku sejarah."

Arkan mengeluarkan sebuah kristal merah kecil dari dalam inti energinya—sebuah artefak darah yang ia tempa selama ribuan tahun kesendiriannya. Kristal itu berdenyut selaras dengan detak jantung semesta.

"Tetapi harganya adalah kebebasanmu yang semu ini. Kau akan menjadi 'Seer' di pasukanku. Kau tidak akan lagi menjadi Elara si anak yatim yang buta dan tidak berguna. Kau akan menjadi mata yang mengawasi dunia dari balik bayangan takhtaku," ucap Arkan dengan nada yang mengandung janji mutlak.

Elara terdiam cukup lama. Ia memikirkan hari-harinya yang penuh dengan siksaan di panti asuhan ini, di mana ia sering dijadikan bahan ejekan dan dilempari batu oleh anak-anak lain karena ia dianggap "aneh" dan "cacat". Ia ingat bagaimana pengurus panti secara diam-diam mencoba menjualnya ke laboratorium militer pemerintah karena kemampuan sensoriknya dianggap sebagai aset berharga untuk radar anti-Abyss.

"Jika aku ikut denganmu... apakah dunia akan benar-benar berhenti berteriak di telingaku?" tanya Elara dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya yang kusam.

"Dunia akan tunduk pada kehendakmu untuk diam, atau mereka akan hancur dalam keheningan," jawab Arkan dengan otoritas yang tak terbantahkan.

Elara mengangguk perlahan, menyerahkan seluruh nasibnya pada sosok merah di depannya. "Ambil penglihatanku yang rusak ini, Tuan. Jadikan aku matamu yang setia."

Arkan meletakkan kristal merah itu tepat di antara kedua mata Elara. Seketika, cahaya merah yang sangat terang meledak di dalam loteng tersebut, menelan kegelapan. Elara menjerit tanpa suara saat saraf optiknya yang telah mati dipaksa hidup kembali dan bermutasi secara brutal. Darah Arkan yang murni merembes masuk ke dalam rongga matanya, membangun kembali jaringan saraf baru yang terhubung langsung dengan kesadaran Sovereign.

Transformasi Elara adalah yang paling estetis di antara yang lain. Matanya yang tadinya putih keruh perlahan-lahan berubah menjadi merah delima yang jernih, dengan pupil berbentuk tanda silang emas yang bersinar redup. Ia tidak lagi buta dalam kegelapan. Ia melihat Arkan, bukan lagi sebagai manusia biasa, melainkan sebagai entitas energi yang sangat agung dan melampaui segala sesuatu. Ia bisa melihat dinding panti asuhan itu menjadi tembus pandang, ia bisa melihat Hana yang sedang bertarung dengan tiga agen militer di luar sana dengan gerakan yang melengkungkan ruang, dan ia melihat sebuah retakan dimensi raksasa yang sedang mulai terbentuk di pusat Seoul—lima puluh kilometer jauhnya dari tempatnya berdiri.

"Aku... aku bisa melihat segalanya," bisik Elara, terpana pada detail dunia yang kini ia pahami dalam hitungan detik. "Tuan... ada sesuatu yang sangat mengerikan sedang terjadi di kota. Langit di Seoul... sedang berdarah dan robek."

"Aku tahu," jawab Arkan sambil membantu Elara berdiri. Tubuh gadis itu kini terasa lebih ringan namun dipenuhi energi. "Itulah sebabnya aku menjemputmu sekarang. Kau adalah kepingan terakhir yang kubutuhkan sebelum badai ini pecah. Julian akan menjemputmu di bawah sebentar lagi. Hana sudah membereskan gangguan di luar."

Pusat Kota Seoul – Pukul 09.00 Pagi.

Kehidupan di SMA Gwangyang seharusnya berjalan seperti hari-hari biasa yang membosankan. Namun, pagi itu, langit di atas Distrik Gangnam mendadak berubah warna menjadi ungu gelap yang tidak wajar, menyerupai luka lebam yang sangat besar di cakrawala. Sebuah lubang hitam raksasa terbuka di ketinggian seribu meter, memancarkan gelombang kejut yang begitu dahsyat hingga memecahkan seluruh kaca gedung pencakar langit dalam radius dua kilometer dalam satu dentuman yang memekakkan telinga.

Sirine darurat nasional meraung di setiap penjuru kota, suaranya bersahutan dengan jerit ketakutan warga. Di dalam kelas 1-A, kepanikan pecah dalam sekejap. Semua siswa berlarian menuju jendela, mencoba melihat apa yang terjadi di langit yang seolah-olah sedang runtuh. Liora berdiri di barisan depan, wajahnya pucat pasi dan tangannya gemetar hebat saat memegang pinggiran meja.

"Itu... itu Gerbang Abyss tingkat SSS! Gerbang Kiamat!" teriak salah satu siswa dengan suara yang pecah karena teror. "Belum pernah ada gerbang sebesar itu muncul di tengah pusat pemukiman manusia!"

Arkan tetap duduk diam di bangkunya, wajahnya tertutup bayangan saat ia menunduk dalam-dalam. Di telinganya, sebuah perangkat komunikasi mikroskopis yang terhubung langsung dengan Julian di markas bawah tanah berbunyi dengan frekuensi yang hanya bisa ia dengar.

Ayah, ini Julian. Seer sudah memberikan koordinat presisi hingga ke tingkat mikron. Gerbang itu adalah 'The Great Collapse'. Jika tidak dihentikan dalam waktu tiga puluh menit, seluruh kota Seoul akan tersedot masuk ke dimensi Abyss tanpa sisa, suara Julian terdengar tenang namun mengandung urgensi yang mendalam.

Dimana Vanguard dan Phantom?'balas Arkan secara telepatis melalui jaringan Blood-Link yang kini telah lengkap.

'Vanguard sudah berada di posisi tepat di bawah gerbang untuk menahan gaya gravitasi yang jatuh. Phantom sedang membersihkan monster-monster pengintai yang mulai merangkak keluar dari celah. Plague sedang menyiapkan zona isolasi udara di permukaan agar racun Abyss tidak menyebar ke warga sipil. Tapi... Tuan, gerbang ini memiliki 'Core' yang terlindungi oleh perisai dimensi yang hanya bisa dihancurkan oleh kekuatan Sovereign murni.'

Arkan menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping, menatap Liora yang sedang menatap langit dengan tatapan putus asa. Gadis itu menoleh ke arah Arkan, mencari sedikit saja rasa aman di mata pemuda yang selama ini selalu ia bela dari perundungan.

"Arkan... kita harus segera lari ke bunker sekolah! Ayo cepat, jangan hanya diam di sana!" Liora menarik lengan Arkan dengan paksa.

Arkan berdiri perlahan, namun ia tidak mengikuti langkah Liora menuju pintu keluar yang sesak oleh siswa lain. Ia menatap mata Liora dengan tatapan yang begitu dalam dan tenang, sesuatu yang seketika membuat Liora terpaku di tempatnya, seolah-olah waktu di sekitarnya mendadak melambat.

"Liora, pergilah ke bunker bersama siswa yang lain. Kau akan aman di sana," ucap Arkan pelan, namun nadanya memiliki otoritas absolut yang membuat Liora secara tidak sadar melepaskan cengkeramannya dan mengangguk patuh, seperti seorang rakyat yang menerima perintah dari rajanya. "Aku ada urusan yang tertinggal di atap gedung ini."

"Tapi... atap itu tempat paling berbahaya sekarang! Arkan!" teriak Liora, namun Arkan sudah melangkah pergi dengan ketenangan yang tidak masuk akal di tengah badai kiamat ini.

Arkan melangkah keluar kelas saat semua orang sedang sibuk menyelamatkan diri. Ia menaiki tangga menuju atap sekolah yang kini sudah sepi dan mencekam. Di atas sana, angin menderu dengan kekuatan badai, membawa aroma belerang dan kematian dari langit yang robek. Arkan melepas kacamata tebalnya, membiarkan mata merah delimanya menyala dengan aura kemarahan yang murni menantang lubang hitam di atas sana.

Ia mengangkat tangan kanannya ke arah langit yang kelam. Di sekelilingnya, dalam hitungan detik, empat bayangan muncul secara bersamaan dari udara kosong. Bastian mendarat dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gedung, Hana muncul dari dalam bayangan Arkan sendiri, Rehan keluar dari gumpalan kabut ungu yang pekat, dan Elara berdiri tegak dengan mata merah silangnya yang seolah-olah menembus lapisan dimensi.

"Anak-anakku," suara Arkan bergema di seluruh puncak gedung, mengalahkan deru angin badai. "Dunia ingin melihat sebuah keajaiban di tengah keputusasaan. Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang sebenarnya harus mereka takuti."

"Segala kemuliaan bagi Sang Sovereign!" teriak kelima bawahannya serempak, suara mereka menggetarkan atmosfer kota.

Julian muncul dalam bentuk proyeksi hologram yang sangat nyata di samping Arkan. "Target Core terkunci sempurna, Ayah. Protokol 'Crimson Rain' siap dilaksanakan dalam hitungan mundur tiga detik."

Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman predator yang telah menunggu lama untuk dilepaskan. Jubah Sanguine-nya muncul secara otomatis, membungkus tubuhnya dengan megah, memancarkan cahaya merah yang membelah kegelapan ungu di langit. Di bawah sana, jutaan warga Seoul menatap ke atas dengan mata terbelalak, melihat lima sosok misterius berdiri menantang maut di puncak gedung sekolah.

Hari itu, sejarah manusia akan mencatat kemunculan resmi organisasi 'Crimson Eclipse'. Dan di tengah badai kiamat tersebut, sang Master yang selama ini bersembunyi di balik kacamata dan meja sekolah, mulai menarik tuas penghakiman bagi monster-monster Abyss.

"Makanlah esensi darahku, dan hancurkan segala yang mencoba merampas kedamaian ini," bisik Arkan saat ia melepaskan gelombang energi merah raksasa dari telapak tangannya yang langsung menghantam jantung gerbang di langit, mengubah siang yang gelap menjadi gerhana merah yang abadi dan mematikan bagi penghuni Abyss.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!