NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Tertangkap basah kau!

Lorong lantai tiga jauh berbeda dari lantai di bawahnya. Dindingnya dilapisi batu abu kebiruan yang memantulkan cahaya obor seperti sisik ikan. Jendela-jendela tinggi di sisi kanan memperlihatkan langit malam yang berkabut, sementara lantainya dipenuhi debu tipis yang berbunyi kres… kres… setiap kali diinjak.

Chika berjalan paling depan, baju zirahnya berderit pelan. Princes melangkah di sampingnya sambil menenteng ujung jubah Chika seperti anak kecil takut tersesat. Beatrix berjalan santai di belakang, memutar pistol futuristiknya di jari. Tina memeluk tongkat sihir penyembuhannya, dan Tinasya… ya, Tinasya jalan dengan tangan kosong, tapi otot lengannya tegang seperti siap memukul tembok kalau perlu.

Tiba-tiba—

🎵 Tring-tring~ tring-tring~ 🎵

Suara dering ponsel memantul di lorong kosong, terdengar jauh lebih keras dari seharusnya.

Chika terkejut sampai hampir menjatuhkan perisainya.

“WAH—?!”

Beatrix langsung menoleh dengan senyum jail.

“Hei, Gorila… ternyata seorang knight punya ponsel juga ya? Aku kira kamu pakai merpati pos.”

Chika mengeluarkan ponsel dari balik zirah dengan susah payah.

“Ini… alat ini dikasih penjaga penginapan Havenload… katanya biar aku nggak nyasar ke dapur orang terus.”

Ia menekan tombol dengan jari berlapis sarung besi.

“Iya… halo? Ini siapa ya?”

Suara Lena terdengar dari seberang, agak terdistorsi.

“Chika! Kalian! Aku sudah mencari catatan Lana di lantai tiga dan empat… tapi tidak menemukannya sama sekali!”

Beatrix langsung nimbrung, bersandar ke dinding.

“Oh… kalau begitu biarkan saja gorila baju besi ini membakar perpustakaan. Toh kertasnya tahan api, kan?”

Chika:

“HEI! Aku cuma pernah bakar SATU perpustakaan!”

“DAN ITU MASIH TERLALU BANYAK,” Tina menyela pelan.

Namun suara Lena memotong.

“Tidak! Aku sudah mencari dengan sihir deteksiku. Catatan Lana meninggalkan jejak energi yang sangat kuat… tapi aku tidak merasakan apa pun dari lantai tiga sampai empat.”

Princes mengangkat kepala dengan polos.

“Hm… kamu sekarang di mana, Lena?”

“Aku menuju ruangan kepala sekolah. Beliau memanggilku untuk membicarakan sesuatu yang penting.”

Chika mengangguk, meski Lena tak bisa melihat.

“Kalau begitu… aku dan teman-temanku langsung ke lantai lima.”

“Baik. Hati-hati.”

Klik.

Panggilan terputus.

Chika memasukkan ponselnya kembali ke balik zirah.

“Yuk, teman-teman, kita cari—”

Belum sempat melangkah, Beatrix tiba-tiba berhenti. Ia memegang dahinya dengan dua jari, ekspresinya serius.

Chika menoleh.

“Ada apa lagi? Beatrix? Sakit perut? Masuk angin? Keracunan asap perpustakaan?”

“Bukan, Gorila.”

Beatrix menurunkan suaranya.

“Sihir yang Lena pakai barusan… itu sihir pelacak energi kuno. Diciptakan dua ratus tahun lalu. Sekarang… hampir tidak ada yang bisa memakainya. Bahkan guru-guru hanya tahu teorinya.”

Tina menelan ludah.

“I-iya… aku pernah baca tentang itu di buku sejarah sihir…”

Udara terasa sedikit lebih dingin.

Tinasya tiba-tiba berhenti berjalan. Bahunya menegang. Matanya menyipit ke arah sudut lorong yang gelap, di balik pilar retak.

Ia mengangkat dua jari, memberi isyarat cepat ke Beatrix.

Beatrix langsung mengubah ekspresinya jadi ceria berlebihan.

“BERCANDA!! BERSYANDAAA~”

Chika kaget.

“IH! Jangan tiba-tiba teriak gitu! Jantungku hampir lompat dari helm!”

Beatrix tertawa keras.

“Kamu ketipu, Chika! Sekarang kamu mirip gorila pakai kaleng, hahaha!”

“UDAH, UDAH, UDAH!!” Chika mengepalkan tangan.

“AYO JALAN!! KAMU NGERESEIN BANGET!!”

Mereka berjalan lagi. Langkah kaki kembali terdengar: tap… tap… kres…

Namun di tengah obrolan ringan itu, Beatrix dan Tinasya saling bertukar pandang.

Tinasya menggerakkan jari telunjuknya pelan:

👉 (Ada yang mengawasi.)

Beatrix membalas dengan gerakan kecil di balik mantel:

✋ (Pura-pura bodoh. Jangan bicara penting.)

Mereka terus berjalan sambil tertawa-tawa palsu.

Beatrix bersuara keras.

“Eh Chika, kalau kita nemu hantu lagi, kamu mau tinju atau bakar dulu?”

Chika mengangkat bahu.

“Tergantung… kalau dia sopan, aku ajak ngobrol.”

Princes tertawa kecil.

“Hantu: ‘permisi’

Chika: ‘baiklah, silakan lewat’.”

Tina ikut tersenyum, meski matanya masih waspada ke sekitar lorong.

Sementara itu, jauh di ujung lorong yang remang…

sesuatu bergerak perlahan di balik bayangan pilar,

mengamati mereka tanpa suara.

...----------------...

Tangga menuju lantai lima terasa seperti tidak ada habisnya.

Langkah mereka sudah tidak serapi tadi—lebih mirip barisan zombie kelelahan.

Chika terengah-engah di depan. Zirahnnya berbunyi krek… krek… setiap kali ia melangkah.

Princes memegangi dinding sambil napasnya naik turun.

Beatrix rambutnya sudah acak-acakan, kacamatanya miring satu sisi.

Tina hampir duduk di anak tangga terakhir, dan Tinasya… masih kuat, tapi wajahnya datar seperti patung yang dipaksa olahraga.

“AKHIRNYA…” Beatrix bersandar ke tembok.

“Kalau ada satu hantu lagi muncul sambil teriak ‘BOO’, aku bakal tembak refleks. Maaf kalau itu guru.”

Princes memeluk lutut.

“Kita… tadi… ngerjain teka-teki… sambil dikejar… sambil ada tangan keluar dari dinding…”

Tina mengangguk lemas.

“Dan obor yang tiba-tiba padam… lalu nyala lagi… lalu padam lagi…”

Chika menepuk dada zirahnya sendiri, duk duk.

“Tenang! Kita sudah di lantai lima! Kita hebat! Kita kuat! Kita… belum mati!”

“Motivasi kamu selalu aneh,” gumam Beatrix.

Mereka mulai berjalan menyusuri lantai lima.

Lorongnya berbeda.

Tidak ada rak buku.

Tidak ada meja baca.

Tidak ada tangga rahasia.

Hanya dinding batu pucat, jendela kecil tinggi, dan lantai kayu tua yang kriiit… kriiit… tiap diinjak.

Princes berhenti tiba-tiba.

“…Eh?”

“Apa?” Chika menoleh.

Princes memegang dadanya.

“Di sini… rasanya… aneh. Kayak… ada ruangan yang disembunyikan.”

Tinasya langsung mendekat ke dinding kayu yang tampak lebih baru dari sekitarnya.

Ia mengetuk pelan.

tok… tok…

Lalu mengetuk lebih keras.

TOK. TOK.

Ia menempelkan telinga.

“…Kosong di belakangnya.”

Beatrix mengangkat alis.

“Rahasia. Klasik. Sekolah sihir selalu punya ruangan ilegal.”

Chika sudah mengangkat tangan.

“Geser.”

“JANGAN LANGSUNG HANCURIN—” Tina belum selesai bicara.

BRAKKK!!

Tangan kosong Chika menghantam tembok kayu.

Kayu pecah seperti biskuit. Debu beterbangan.

Tinasya ikut mendorong dengan satu tangan:

KRAAASSHH!!

Tembok runtuh memperlihatkan ruangan kecil.

Sunyi.

Ruangan itu… sempit, berdebu, dan terlantar.

Dindingnya putih kusam, beda dari lorong luar.

Ada dua pintu kayu kecil berdiri berdampingan.

Beatrix menunjuk Chika dan Tinasya.

“…Kalian berdua itu bukan hero. Kalian itu gorila yang dikasih izin sekolah.”

Chika mengembang pipi.

“Aku elegan.”

“Elegan pakai tembok,” Beatrix nyengir.

Mereka masuk ke pintu pertama.

kiiiieeet…

Bunyi pintu tua berderit panjang.

Di dalam…

sebuah ruangan kecil.

Kosong.

Hanya ada:

🧙‍♀️ Sebuah topi penyihir tua, lusuh, penuh debu.

🐭 Dua nama terukir di lantai kayu:

Nana

Nina

Debu beterbangan saat Chika melangkah masuk.

Princes berbisik,

“…Ini…”

Tina menutup mulutnya.

“…Ini pasti…”

Tinasya menelan ludah.

“Ruangan Lana.”

Udara terasa lebih dingin.

Beatrix yang biasanya santai…

langsung merapat ke Tina.

“…Oke. Ini bukan lucu. Ini serem.”

Chika pelan-pelan mengangkat topi itu.

Debu beterbangan fuufff…

Topinya ringan. Terasa rapuh.

Chika menelan ludah.

“Dia… nyimpen topinya di sini…”

Princes menunduk.

“…Dan nulis nama tikusnya…”

Tina mengusap mata.

“…Ini bukan ruang belajar… ini ruang sembunyi.”

Tinasya mengepalkan tangan.

“Tempat dia kabur dari orang-orang.”

Sunyi.

Bahkan Beatrix tidak bercanda.

“…Aku…” Beatrix bergumam.

“Aku lebih takut ruangan ini… daripada monster tadi.”

Chika menaruh topi itu kembali pelan-pelan.

“…Kita… nemu tempat dia.”

Lorong di luar berderit pelan, seolah angin lewat.

Obor di dinding berkedip.

Dan di antara debu,

nama Nana dan Nina tetap terlihat jelas

seolah baru ditulis kemarin.

Princes memeluk lengan Chika.

“…Chika…”

Chika mengangguk pelan.

“…Iya.”

Mereka semua merinding.

...----------------...

Chika menarik napas panjang, menepuk-nepuk dadanya sendiri seperti orang mau pidato.

“Oke… tenang semuanya… memang… ini ruangan milik Lana…”

Semua menoleh ke arahnya.

Chika menelan ludah.

Lalu tiba-tiba menunjuk ke belakang dengan mata membelalak.

“DAN AKU TAKUT TIBA-TIBA LANA MUNCUL DI BELAKANG KITA!!”

“KYAAAA—!!”

Empat orang langsung menegang bersamaan.

Tina langsung memeluk lengan Tinasya.

Beatrix refleks mengangkat pistolnya.

Princes hampir jatuh terduduk.

Beatrix bergetar.

“K-kalau… kalau begitu… mari kita jalan mundur ke ruangan sebelah…”

Mereka semua mengangguk serempak, sangat pelan, sangat hati-hati.

Mereka mulai melangkah mundur keluar dari ruangan pertama.

Langkah mereka aneh, kaku, seperti orang joget aneh.

Chika melangkah sambil tetap menghadap ruangan.

“Kenapa kita jadi jalan kayak Michael Jackson sih… au!”

Tinasya mendengus.

“Oi Chika! Jangan bercanda! DAN SIAPA LAGI MICHAEL JACKSON?!”

Mereka akhirnya sampai di depan pintu ruangan kedua.

Princes, yang paling kecil, malah berdiri paling depan.

Sementara Chika, Beatrix, Tina, dan Tinasya… semua ngumpet di belakang tubuh bocah delapan tahun itu.

Princes menoleh ke belakang dengan wajah kesal.

“Kalian ngapain sih! Harusnya aku di tengah-tengah kalian!”

“Cepat buka pintunya,” bisik Chika.

Princes menghela napas, lalu mendorong pintu pelan-pelan.

Kiiiiiiieeet…

Pintu berderit panjang seperti jeritan tua.

Di dalam…

sebuah ruangan sempit.

Lebih gelap.

Lebih dingin.

Ada satu meja kayu usang di tengah.

Di atasnya…

selembar kertas.

Beatrix melangkah maju perlahan.

Tangannya gemetar saat mengambil kertas itu.

“…Teman-teman…” suaranya lirih.

“…Ini lembar selanjutnya.”

Ia menyatukan kertas itu dengan buku catatan Lana.

Buku itu berdenyut samar, lalu menyatu sempurna.

Beatrix mulai membaca dengan suara pelan, tapi setiap kata terasa berat.

“Di sini… setelah para murid membunuh dua tikus Lana… Lana menangis sangat keras…”

Tina menutup mulutnya.

“…dan karena tangisannya mengganggu… teman sekelasnya memukulnya.”

Chika mengepalkan tangan.

“…saat seorang gadis menampar Lana dengan keras… Lana langsung pingsan… dan mereka membuangnya ke… lantai lima.”

Chika menelan ludah.

“J-jadi… ini… tempat… Lana dibuang…?”

Beatrix mengangguk pelan, wajahnya semakin pucat.

Ia melanjutkan membaca, suaranya mulai bergetar.

“Lana bangun… dalam keadaan sendirian… menangis sampai… yang keluar… bukan lagi air mata…”

Ruangan terasa lebih dingin.

“…melainkan… air mata darah.”

Princes memegang dada.

“…dia tidak mau orang tuanya tahu… walau dia disiksa…”

Tiba-tiba suara angin menderu di lorong.

Huuuuuu…

Obor di dinding bergetar.

“…saat Lana ingin menggantung dirinya…”

Semua menahan napas.

“…muncul seorang pria… memakai topeng putih berbentuk paruh burung… topi hitam… bulu ungu… dan jubah ungu-hitam…”

Bayangan di dinding seperti bergerak.

“…ia berkata… akan memberi Lana kekuatan… untuk membalas dendam…”

Beatrix berhenti membaca.

Tangannya gemetar hebat.

“Dan… Lana menerima… sihir terlarang…”

Ia menelan ludah keras.

“…yaitu…”

Wajah Beatrix membeku.

Tina panik.

“B-Beatrix…?”

Beatrix menoleh perlahan.

“Kalian masih ingat… monster yang mengejar kita saat lilin mati?”

Chika mengangguk pelan.

“Masih…”

Beatrix membuka halaman berikutnya dengan mata membelalak.

“Sihir terlarang itu… memanggil makhluk kegelapan… bermata merah…”

Tinasya mengingat lorong sempit itu.

“…yang hampir memakan kita…”

Beatrix melanjutkan dengan suara patah-patah.

“Lana kembali ke kelasnya… di lantai empat… dan monster itu… membunuh semua murid…”

Sunyi.

“…tidak hanya kelasnya… tapi… seluruh murid dari lantai empat… sampai lantai dua…”

Obor berkedip.

Fssh… fssh…

“…setelah itu… Lana ditemukan mati…”

Tina menutup mata.

“…matanya terbuka lebar… mulutnya menganga…”

Beatrix menutup buku dengan suara thump.

Tinasya berbisik.

“Pantas… lantai dua sampai lima… dilarang dilewati…”

Mereka saling menatap.

Wajah mereka pucat.

Keringat dingin mengalir.

Chika berbisik,

“Jadi… monster tadi… sihir Lana…?”

Beatrix mengangguk pelan.

“…sepertinya iya…”

Ia menatap buku itu lagi.

“…dan… masih ada satu bagian sobek…”

Suara langkah pelan terdengar di lorong luar.

tap… tap… tap…

Angin dingin menyapu celah pintu.

Di luar…

seolah…

ada sesuatu…

yang mendengarkan.

...----------------...

Sunyi.

Sunyi yang berat, seperti udara ikut menekan dada mereka.

Tiba-tiba—

TRIINNG—TRIINNG—TRIINNG!!

Nada dering ponsel Chika meledak di ruangan sempit itu.

“WAHHH!!”

Princes melompat sampai topinya hampir jatuh.

Tina menjerit kecil dan langsung memeluk Tinasya.

Beatrix hampir menjatuhkan pistolnya.

“OI GORILA!!” Beatrix menjerit sambil menunjuk Chika.

“MATIKAN NADA DERINGNYA!! JANTUNG KU HAMPIR COPOT!!”

Chika panik, tangannya gemetar saat merogoh saku baju besinya.

“H-heh?! I-ini bukan salahku!!”

Ia mengangkat ponsel.

“I… iya…?”

Suara Lena terdengar, terengah-engah tapi tegang.

“Kalian semua! Aku menemukan ruangan rahasia di lantai empat! Tepat di dalam perpustakaan lantai empat! Cepat ke sini! Aku menunggu kalian di sini!”

Wajah Chika langsung pucat.

“B-b-baik… k-kami segera ke sana…”

Klik.

Telepon mati.

Ruangan kembali sunyi.

Tinasya berbisik,

“…aku tidak suka cara dia bicara.”

Beatrix mengatupkan rahang.

“…kita jalan. Sekarang.”

Perpustakaan Lantai Empat

Rak-rak tinggi berdiri seperti nisan raksasa.

Debu beterbangan setiap kali mereka melangkah.

Lampu sihir di langit-langit redup, berdenyut seperti jantung yang lelah.

Di antara bayangan rak buku, berdiri Lena.

“Kalian… syukurlah…” katanya sambil tersenyum tipis.

Tina berlari kecil ke arahnya.

“Kak Lena… kami menemukan empat lembar catatan Lana!”

Lena membuka mata lebih lebar.

“Iya? Bagus sekali…”

Beatrix menyela, suaranya dingin.

“Masih ada satu lembar tersisa.”

Lena mengangguk pelan.

“Kalau begitu… kalian datang di waktu yang tepat.”

Ia berjalan ke arah sebuah lemari buku besar yang menempel ke dinding.

“Aku baru sadar… ada sihir yang sangat kompleks di balik sini…”

Chika menggaruk helmnya.

“Pasti ada tombol rahasia lagi…”

Jari Lena terangkat.

Gerakannya halus… terlalu halus.

Ia menyentuh udara.

Klik.

Lemari buku itu bergeser sendiri.

KRRRRAAAKKK…

Debu turun seperti hujan abu.

Di baliknya…

ruangan luas.

Di tengah ruangan itu:

karpet merah berbentuk lingkaran besar.

Warnanya pudar, seperti bekas darah lama.

Dan di depan karpet itu…

sebuah pintu hitam.

Princes berbisik,

“…ruangan rahasia… lagi…”

Mereka berenam melangkah masuk.

Setiap langkah terdengar menggema.

tok… tok… tok…

Namun Beatrix tidak langsung masuk.

Ia berjalan paling belakang, tepat di belakang Lena.

Matanya menatap rambut Lena.

Hitam… diikat panjang.

Ia menelan ludah.

Ia teringat lukisan tua yang pernah ia tunjukkan pada guru:

gadis dengan rambut hitam terikat,

mata biru,

dan satu tahi lalat kecil di bawah hidung.

Beatrix menatap wajah Lena dari samping.

…sama…

Langkah Beatrix melambat.

Tangannya mulai gemetar.

Dalam pikirannya:

“Tidak mungkin…

Lana mati 134 tahun lalu…”

Ia menatap punggung Lena.

…tapi sihirnya… kuno…

cara dia membaca energi… itu sihir zaman lama…

Jantung Beatrix berdetak keras.

DUK—DUK—DUK—

Ia berbisik dalam hati:

“Jadi… yang berjalan di depan aku sekarang…”

Lena berhenti melangkah.

Beatrix membeku.

“…adalah Lana…”

Obor di dinding tiba-tiba berkedip.

fssh… fssh…

Beatrix mengepalkan tangan.

“…aku… harus melakukan sesuatu…”

Pintu hitam itu terbuka perlahan.

Kreeeeek…

Engselnya menjerit seperti sesuatu yang dipaksa bangun dari tidur panjang.

Di dalam ruangan itu hanya ada satu meja kecil dari kayu rapuh, berdiri sendirian di tengah lantai. Debu menumpuk seperti abu kuburan. Di atas meja itu… selembar kertas.

Chika melangkah masuk lebih dulu, diikuti Princes, Tina, dan Tinasya.

Di luar ruangan, Lena tetap berdiri di ambang pintu, tubuhnya separuh tertutup bayangan.

“Beatrix?” tanya Lena dengan suara ringan. “Kamu tidak masuk?”

Beatrix yang berdiri agak jauh di lorong menjawab datar,

“Malas ah…”

Namun kakinya justru mundur setapak. Tangannya meraih pistol futuristik di pinggangnya. Bola sihir biru di badan senjata itu mulai berdenyut pelan, wuuum… wuuum…, seperti jantung buatan.

Di dalam ruangan, Chika mengambil kertas itu.

Matanya menyipit membaca.

“Eh… ini cuma nulis…” Chika mengernyit. “Di belakang.”

Ia refleks menoleh.

“Lena! Ini cuma bertuliskan ‘di belakang’!”

Lena tersenyum.

Senyumnya… terlalu lebar. Terlalu tenang.

Di lorong, Beatrix sudah mengangkat pistolnya. Bola sihir biru di senjata itu bersinar terang, dan dari moncongnya keluar cahaya kuning yang bergetar, seolah-olah ingin meledak.

Beatrix berteriak dengan suara pecah oleh ketegangan,

“TINASYA!! SEKARANG!!”

Tinasya langsung bergerak.

Dengan satu gerakan cepat, ia mencengkeram Chika, Princes, dan Tina, lalu melompat ke samping.

“HEYY—?!”

Tubuh mereka terlempar keluar ruangan kecil itu.

Lena tersentak, menoleh ke belakang.

“Apa—”

“TERTANGKAP BASAH KAU!! LANA!!!” teriak Beatrix.

BWOOOOOOOM—!!

Plasma hologram kuning sebesar roda gerobak meledak dari pistol Beatrix. Cahaya menyilaukan memenuhi lorong. Udara bergetar. Dinding retak halus.

Teriakan melengking pecah di udara.

“AAAAAAARRRGHHH!!!”

Tubuh Lena terpental, menghantam dinding dan melayang ke udara seperti boneka rusak.

Chika bangkit dengan panik.

“BEATRIX!! KENAPA KAU MENYERANG LENA?!”

Cahaya plasma meredup.

Debu turun perlahan.

Beatrix menurunkan sedikit senjatanya dan berkata dingin,

“Hei… kau pikir aku tidak tahu?”

Ia menatap sosok di dinding.

“Kau sedang berurusan dengan siapa? Lana?”

Chika, Tina, dan Princes menatap sosok itu.

Tubuh Lena perlahan turun… namun kakinya tidak menyentuh lantai.

Ia melayang.

Kepalanya terangkat perlahan.

Dan ia tertawa.

“Hihihihi… hihihihi…”

Lalu tawanya pecah menjadi jeritan gila.

“HAHAHAHAHAHA!!! HAHAHAHAHAHA!!!”

Chika membelalak.

“D-dia…!”

Tina berbisik dengan suara gemetar,

“Itu… Lana…”

Wajah Lena berubah.

Bayangannya memanjang di dinding, membentuk siluet bertanduk dan berleher panjang. Matanya menyala merah gelap.

“Kau pintar sekali…” katanya dengan suara berlapis, seperti dua orang berbicara bersamaan.

“Gadis kecil…”

Chika spontan mengeluarkan Pedang Lumina dan Perisai Lumina.

KRRRZZZTT—!!

Petir biru mengalir di sepanjang bilah pedang.

Tinasya mengaktifkan sihir penguat di tangannya, ototnya menegang. Tina berdiri kaku sambil memeluk tongkat penyembuhannya seperti pelampung.

Lena—atau Lana—melayang turun, kakinya menyentuh lantai tanpa suara.

“Aku…” katanya pelan,

“adalah Lana.”

Udara di ruangan itu menjadi dingin.

“Orang yang kalian cari misterinya.”

Ia membuka tangan.

“Bagaimana?”

Chika menggeram,

“Jadi kau mempermainkan kami selama ini… PENYIHIR!!”

Princes bersembunyi di balik punggung Chika, mencengkeram baju zirahnya.

“Chika…” bisiknya. “Matanya… serem…”

Tinasya melangkah maju setengah langkah.

“Apa tujuanmu? Dan kenapa sekolah ini masih dipenuhi arwah murid?!”

Lana tersenyum miring.

“Kalian tahu jawabannya…”

Ia mengangkat tangan.

Dan selembar kertas terakhir muncul dari udara, berputar pelan di jari-jarinya.

“Dan kalian mau tahu…” katanya lirih,

“apa isi catatan terakhirku?”

Ia membaca dengan suara penuh racun.

“Lana bangkit dari kematiannya…”

Lalu matanya menatap mereka satu per satu.

“Dan tujuannya adalah…”

Udara di sekitar mereka bergetar. Obor di dinding menyala dengan api hitam.

“…MENGHANCURKAN SEKOLAH SIHIR INI…”

Bayangan di lantai berubah menjadi bentuk monster bermata merah.

“BERSERTA ISINYA.”

BUUMM—!!

Suara sesuatu bergerak di dalam dinding.

Dan di luar ruangan, terdengar jeritan hantu serempak.

Babak baru dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!