Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan di Balik Kabut
Kabut pagi turun lebih tebal dari biasanya di lereng timur Sekte Awan Giok.
Wilayah itu jarang digunakan untuk latihan resmi. Jalurnya sempit, batu-batunya licin oleh embun, dan pepohonan tinggi menahan cahaya matahari hingga siang hampir tiba.
Namun justru karena itulah Qiu Liong memilih tempat itu.
Ia berdiri diam di tengah kabut, napasnya terlihat samar di udara dingin.
Di kejauhan, suara lonceng pagi sekte terdengar redup, seolah berasal dari dunia lain.
Di tempat ini, ia bisa berlatih tanpa tatapan.
Tanpa bisik-bisik.
Tanpa bayangan reputasi.
Ia memejamkan mata.
Inti Kekosongan berputar pelan di ruang batinnya.
Tenang.
Terkendali.
Namun ia tahu ketenangan itu rapuh.
Jika ia lengah, arusnya bisa kembali meninggalkan jejak.
Ia menarik pedangnya perlahan.
Bilahnya menangkap sedikit cahaya yang berhasil menembus kabut.
Getaran halus terasa di telapak tangannya.
“Bukan hanya kuat,” gumamnya pelan. “Aku harus bersih.”
Ia mulai bergerak.
Langkahnya ringan di atas batu basah.
Setiap ayunan pedang diiringi aliran qi yang ia jaga ketat agar tidak menyebar liar.
Ia membayangkan kabut sebagai ujian.
Jika energinya terlalu kasar, kabut itu akan terbelah.
Jika terlalu liar, batu-batu di sekitarnya akan retak.
Namun jika ia benar-benar menguasainya
kabut itu tidak akan terusik.
Satu tebasan.
Dua langkah.
Putaran pergelangan tangan.
Qi gelap tipis menyelimuti bilah pedang, namun tidak meledak keluar.
Kabut di depannya hanya beriak halus.
Qiu Liong mengatur napasnya.
Ia merasakan tekanan di dalam dada.
Menahan arus sebesar itu bukan hal mudah.
Keringat mulai mengalir di pelipisnya meski udara dingin.
Di tengah gerakan, bayangan masa lalu muncul tanpa diundang.
Tangga batu yang berlumur darah.
Tawa di Aula Luar.
Tatapan curiga para tetua.
Ia merasakan emosinya mulai bergejolak.
Dan seketika
qi di pedangnya bergetar lebih keras.
Kabut di depannya terbelah tajam.
Batu di sampingnya retak tipis.
Ia berhenti.
Napasnya memburu.
“Masih belum cukup,” bisiknya.
Ia menyadari sesuatu yang pahit.
Mengendalikan kekuatan bukan hanya soal teknik.
Namun soal hati.
Selama emosinya masih goyah, arus itu akan ikut goyah.
Ia menancapkan pedangnya ke tanah dan duduk bersila di atas batu.
Kabut perlahan kembali menyelimuti sekelilingnya.
Ia menutup mata.
Tidak untuk melatih qi.
Namun untuk menghadapi dirinya sendiri.
Ia membiarkan ingatan itu datang.
Rasa malu.
Rasa sakit.
Rasa ingin membalas.
Namun kali ini, ia tidak melawannya.
Ia mengamatinya.
Seperti kabut yang hanya lewat jika tidak digenggam.
Perlahan, napasnya stabil kembali.
Di dalam ruang batinnya, Inti Kekosongan berputar tanpa gejolak.
Ia membuka mata.
Kabut masih tebal.
Namun hatinya lebih jernih.
Ia berdiri lagi.
Mengangkat pedang.
Kali ini, saat ia mengayunkan bilahnya
tidak ada ledakan.
Tidak ada retakan.
Hanya aliran yang halus.
Pedang bergerak seperti bayangan di dalam kabut.
Tidak meninggalkan jejak.
Tidak memaksa ruang untuk mengakuinya.
Beberapa saat kemudian, suara langkah terdengar samar.
Seseorang berdiri di balik kabut.
“Latihan yang menarik.”
Suara itu tenang.
Liang Zhen muncul perlahan, wajahnya setengah tersembunyi kabut.
Qiu Liong tidak terkejut.
“Apa kau mengikutiku?”
Liang Zhen tersenyum tipis. “Kabut ini tidak hanya milikmu.”
Tatapan mereka bertemu.
Di antara putihnya udara pagi, dua murid berdiri dengan ketenangan berbeda.
“Apa yang kau latih?” tanya Liang Zhen.
Qiu Liong menatap pedangnya.
“Menghilangkan jejak.”
Liang Zhen mengangkat alis tipis.
“Itu lebih sulit daripada meninggalkan bekas.”
Qiu Liong mengangguk.
“Karena dunia lebih mudah melihat bekas daripada memahami ketenangan.”
Kabut perlahan mulai menipis saat matahari naik.
Namun sesuatu telah menguat di dalam dirinya.
Latihan hari ini bukan tentang menjadi lebih kuat.
Melainkan menjadi lebih dalam.
Dan di balik kabut yang menyembunyikan segalanya
Qiu Liong mulai memahami satu hal.
Jika ia ingin melangkah lebih jauh dari sekadar kemenangan,
ia harus menjadi seperti kabut itu sendiri.
Ada.
Namun tak mudah ditangkap.
Dan ketika waktunya tiba
muncul tanpa peringatan.
jangan bikin kecewa ya🙏💪