Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA DIBALIK TOPENG.
Langkah kaki Ariya bergema di lorong sunyi lantai bawah tanah rumah sakit. Aura kemarahan yang ia bawa mampu membuat siapa pun yang berpapasan dengannya menunduk segan. Begitu pintu besi ruang isolasi terbuka, ia mendapati ayahnya, Ferdiansyah, sudah berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Doni terikat di sebuah kursi besi dengan wajah yang sudah babak belur, hasil dari sambutan tim keamanan sebelumnya.
Ariya tidak bisa lagi menahan diri. Ia merangsek maju dan mengepalkan tangan, siap melumat wajah pria bengis itu. Namun, sebuah tangan kokoh mencekal bahunya dengan kuat.
"Tenang dulu, Ariya. Emosi tidak akan memberikan kita jawaban yang kita butuhkan," ujar Ferdiansyah dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Ariya mendengus kasar, namun ia menurunkan tangannya. Ferdiansyah melangkah maju, menatap Doni dengan tatapan dingin. "Siapa sebenarnya kau? Dan atas perintah siapa kau mengejar menantuku?"
Doni tidak menjawab. Ia justru meludah ke lantai dan membuang muka, mencoba menunjukkan sisa-sisa keberaniannya di depan dua penguasa bisnis tersebut. Ferdiansyah menghela napas pendek, lalu memberikan isyarat kepada asistennya, Yuda.
"Yuda, berikan dia sedikit alasan agar dia mau berbicara," perintah Ferdiansyah singkat.
Yuda, pria bertubuh raksasa yang lebih besar dari Doni, melangkah maju. Ia memberikan tekanan fisik yang sangat presisi pada titik syaraf di bahu Doni. Seketika, teriakan kesakitan yang memilukan memenuhi ruangan kedap suara tersebut.
"Cukup! Hentikan! Aku akan bicara!" teriak Doni dengan napas terengah-engah.
"Bicaralah," sahut Ferdiansyah dingin.
"Aku disuruh oleh Lusi. Dia ingin segera menyingkirkan Arumi agar dia bisa menjadi nyonya muda di keluarga ini. Dia dendam karena Arumi selalu menghalangi jalannya," ungkap Doni jujur.
Ariya maju selangkah, matanya berkilat penuh amarah. "Apa imbalan untukmu sehingga kau mau melakukan hal sehina itu, hah?"
Doni menatap Ariya dengan senyum miring yang menjijikkan. "Imbalannya sangat menggiurkan. Arumi untukku, dan uang miliaran rupiah untuk operasional gengku."
Mendengar nama istrinya dijadikan barang imbalan, pertahanan diri Ariya runtuh. Sebelum ayahnya sempat mencegah, sebuah pukulan keras mendarat di rahang Doni.
"Ini karena kau hampir merenggut kehormatannya!" seru Ariya sambil melayangkan pukulan kedua.
"Ini karena kau membuatnya trauma!" lanjutnya dengan pukulan ketiga yang membuat bibir Doni robek.
"Dan ini karena kau telah berani mengusik ketenangan hidup kami!" teriak Ariya.
Saat kepalan tangan Ariya hendak mendarat untuk keempat kalinya, Ferdiansyah menarik tubuh putranya menjauh. "Sudah cukup, Ariya. Simpan tenagamu."
Ferdiansyah kembali menatap Doni yang kini terkulai lemas. Namun, kali ini senyum Ferdiansyah terlihat jauh lebih kejam dari kemarahan Ariya. "Apakah kau mau bebas dan mendapatkan uang yang kau butuhkan? Aku tidak menjanjikan miliaran, tapi jumlahnya cukup untuk membuatmu memulai hidup baru di luar kota."
Doni mendongak, matanya sedikit berbinar. "Apa syaratnya?"
"Lakukan hal yang sama pada Lusi. Buat dia dipermalukan hingga ibunya menangis darah. Buat dia merasakan kehinaan yang lebih dalam dari yang pernah Arumi rasakan. Apakah kau bersedia?" tanya Ferdiansyah dengan nada yang sangat tenang namun mematikan.
Ariya tersentak kaget mendengarnya. "Pa? Apa maksud Papa? Dia itu mantannya Lusi, kehormatannya mungkin sudah lama diambil olehnya. Apa lagi yang bisa dipermalukan?"
Doni menyambar perkataan Ariya dengan cepat. "Aku menyanggupinya, Tuan. Aku akan mempermalukan Lusi. Dia wanita murahan yang licik, dia pantas mendapatkannya."
"Apa yang hendak kau lakukan pada perempuan tak punya malu itu?" tanya Ferdiansyah penasaran.
Doni menyeringai, memperlihatkan giginya yang berlumur darah. "Aku akan membuat siaran langsung yang akan ditonton ribuan orang. Aku akan mempermalukan bukan hanya diriku, tapi seluruh anak buahku akan memberikan kesaksian tentang siapa sebenarnya Lusi. Dia tidak akan punya muka lagi untuk keluar rumah selamanya."
Ferdiansyah mengangguk puas. "Kesepakatan dibuat. Yuda, lepaskan dia. Tapi ingat, Doni, jika kau mencoba melarikan diri, anak buah Yuda akan mengawasimu dua puluh empat jam. Kau tidak akan pernah aman jika mengkhianatiku."
Setelah kesepakatan tercapai, Doni dilepaskan di bawah pengawasan ketat. Ferdiansyah kemudian memanggil Yuda ke hadapannya dan Ariya.
"Mulai hari ini, Yuda, kau akan menjadi asisten pribadi Ariya. Umur kalian tidak jauh berbeda, dan kalian tumbuh bersama. Aku lebih percaya padamu daripada orang lain untuk menjaga keselamatan putraku dan istrinya," ujar Ferdiansyah.
Yuda menunduk hormat. "Saya akan melaksanakan tugas dengan nyawa saya, Tuan Besar."
Yuda memang bukan orang asing. Ia adalah anak dari sopir kepercayaan Ferdiansyah yang telah meninggal dunia. Sejak kecil, Yuda disekolahkan dan dilatih oleh Ferdiansyah untuk menjadi tameng keluarga mereka. Ariya menerima kehadiran Yuda dengan senang hati.
"Ayo, Yuda. Kita harus kembali ke rumah sekarang," ajak Ariya.
Kelihaian Yuda di balik kemudi memang luar biasa. Perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam, berhasil ditempuh hanya dalam tiga puluh menit melalui jalur-jalur pintas yang ia kuasai. Begitu sampai di rumah, Ariya langsung berlari masuk.
"Ma, bagaimana keadaan Arumi?" tanya Ariya terengah-engah saat mendapati Heni di ruang tengah.
"Dia masih tidur, Arya. Sepertinya dia benar-benar kelelahan secara mental," jawab Heni dengan wajah prihatin.
Ariya bernapas lega. Ia segera melangkah menuju kamar mereka di lantai atas. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara. Arumi memang masih tertidur, namun pemandangan itu membuat hati Ariya tersayat.
Meskipun pendingin ruangan di kamar mereka bekerja dengan maksimal, dahi Arumi dipenuhi keringat dingin. Tubuhnya bergetar di balik selimut tebal. Tiba-tiba, bibir Arumi mulai meracau dengan suara parau yang penuh ketakutan.
"Jangan... jangan sentuh aku! Pergi! Tolong... tolong aku!" teriak Arumi tiba-tiba sambil menggerakkan tangannya seolah menangkis sesuatu di udara.
Ariya segera menghambur ke sisi ranjang dan memegang kedua tangan Arumi. "Arum! Bangun, Sayang! Ini aku, Ariya! Bangun!"
Arumi tersentak bangun dengan mata terbelalak lebar. Napasnya tersengal-sengal, air mata mengalir deras membasahi bantalnya. Begitu menyadari sosok di depannya adalah Ariya, ia langsung menghambur ke pelukan suaminya dan menangis sejadi-jadinya.
Ariya memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat. Rasa bersalah menghujam jantungnya berkali-kali. Ia teringat selama lima tahun ini ia selalu melihat Arumi sebagai wanita yang dingin, tegar, dan jutek. Ia mengira Arumi adalah wanita kuat yang tidak butuh perlindungan.
"Maafkan aku, Rumi. Maafkan aku," bisik Ariya berkali-kali di telinga istrinya.
Ia kini menyadari bahwa semua ketegaran Arumi selama ini hanyalah topeng yang ia pakai untuk menyembunyikan trauma mengerikan yang ia tanggung sendirian. Ketegarannya adalah tembok yang ia bangun agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya. Dan ironisnya, Ariya justru menjadi orang yang paling sering meruntuhkan tembok itu dengan kebenciannya dulu.
"Tidurlah lagi, aku tidak akan pergi. Aku akan menjaga setiap napasmu," gumam Ariya sambil terus mengusap punggung Arumi yang masih gemetar.
Dalam diamnya, Ariya bersumpah. Jika Doni melakukan tugasnya besok, itu baru permulaan. Ia akan memastikan Rina dan Lusi membayar setiap tetes air mata yang jatuh dari mata istrinya malam ini.