Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG AMBISI.
Di sebuah ruang keluarga yang megah namun terasa dingin, dua wanita sedang duduk dengan raut wajah yang dipenuhi kegelisahan. Rina dan Lusi tampak tidak tenang. Sejak Erwin tidak kunjung pulang dan justru memilih dirawat di rumah sakit bawah pengawasan Ariya, rencana mereka mulai goyah. Rina berjalan mondar-mandir sambil sesekali melirik ke arah pintu utama yang tetap tertutup rapat.
"Bagaimana ini, Lusi? Kalau Erwin terus bersama mereka, posisi kita terancam. Dia bisa saja mencoret nama kita dari daftar waris sebelum rencanamu berhasil," ujar Rina dengan nada bicara yang penuh penekanan.
Lusi yang sedang duduk di sofa justru tampak melamun. Pikirannya tidak tertuju pada harta Erwin, melainkan pada kemewahan keluarga Ferdiansyah. "Aku tidak peduli dengan Papa, Ma. Aku hanya ingin Mas Ariya kembali padaku. Aku sangat menyesal karena kabur di hari pernikahan itu. Seandainya aku tidak pergi, akulah yang sekarang menikmati status sebagai menantu terkaya di negeri ini, bukan Arumi yang penyakitan itu."
Rina menghentikan langkahnya dan menatap putrinya dengan tajam. "Berhenti menyesal! Penyesalan tidak akan mengubah saldo bank kita. Kalau kamu ingin kembali pada Ariya dan menjadi nyonya muda di sana, hanya ada satu jalan. Kita harus melenyapkan Arumi selamanya."
Lusi menoleh, matanya berbinar mendengar ide jahat ibunya. "Maksud Mama? Menghabisinya?"
"Ingatannya belum pulih sepenuhnya, Lusi. Dia masih lemah dan labil. Kita bisa memanfaatkan celah itu," sahut Rina sambil tersenyum licik. "Cari seseorang yang bisa menculik Arumi. Buat dia menghilang secara permanen agar Ariya tidak punya pilihan lain selain kembali kepadamu untuk mencari penghiburan."
Lusi terdiam sejenak, lalu sebuah nama muncul di benaknya. Nama seorang pria yang pernah ia manfaatkan untuk menyiksa Arumi di masa lalu. "Doni. Aku akan menghubungi Doni. Dia pasti mau melakukannya."
Doni adalah mantan pacar Lusi yang memiliki dendam tersendiri karena dulu gagal mengambil kehormatan Arumi akibat intervensi penjaga rumah. Tanpa membuang waktu, Lusi segera meraih ponselnya dan menghubungi pria tersebut.
"Doni, aku punya tawaran menarik untukmu. Kamu ingat Arumi? Aku ingin kamu mengambilnya dariku. Kamu bisa memiliki dia sepenuhnya, dan aku akan memberimu imbalan miliaran rupiah kalau misi ini berhasil," ujar Lusi dengan nada dingin.
Di seberang telepon, Doni tampak tertarik. "Miliaran? Kamu serius, Lusi? Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?"
Lusi terkekeh pelan. "Begitu Arumi hilang, aku akan kembali ke pelukan Ariya. Uang sebanyak itu hanya recehan bagi keluarga Ferdiansyah. Bagaimana? Kamu setuju?"
"Setuju. Kirimkan lokasi dan jadwal kegiatannya. Aku akan segera bergerak," jawab Doni dengan suara serak yang penuh ancaman.
Lusi menutup telepon dengan senyum kemenangan. Rina mengusap bahu putrinya dengan bangga. Mereka tidak sadar bahwa rencana busuk ini akan menjadi awal dari kehancuran mereka sendiri.
🍃
Sementara itu, di kediaman Ferdiansyah, suasana terasa jauh lebih hangat. Arumi sudah tampak jauh lebih segar. Ia mengenakan pakaian yang rapi dan menghampiri Ferdiansyah di ruang tengah.
"Pa, Arum ingin kembali bekerja di rumah sakit. Arum merasa sudah cukup sehat dan bosan kalau hanya berdiam diri di rumah," ujar Arumi dengan nada memohon.
Ariya yang sedang menyesap kopi di samping ayahnya langsung meletakkan cangkirnya. "Aku tidak setuju, Sayang. Kamu masih butuh istirahat total. Kepalamu baru saja membaik, jangan dipaksa dulu untuk menangani pasien yang berat."
Ferdiansyah mengangguk menyetujui pendapat putranya. "Benar kata Ariya, Arum. Papa tidak mau terjadi apa-apa lagi padamu. Rumah sakit bisa menunggu sampai kamu benar-benar pulih seratus persen."
Namun, di luar dugaan, Kakek dan Nenek yang sedang duduk di sudut ruangan justru membela Arumi. Kakek berdehem pelan sebelum memberikan pendapatnya.
"Maaf kalau kakek ikut campur. Tapi menurut kakek, akan lebih bagus kalau Arumi kembali bekerja. Berada di lingkungan yang familiar dengan profesinya mungkin akan merangsang memorinya kembali secara utuh," ujar Kakek dengan bijak.
"Benar, Den. Waktu di Sumatera dulu, Ayu tanpa sadar bisa menyebutkan berbagai jenis obat dan kegunaannya dengan sangat rinci. Itu artinya kemampuan medisnya masih tersimpan rapat di kepalanya. Mungkin dengan bekerja, kabut di ingatannya akan tersingkap," tambah Nenek meyakinkan.
Ferdiansyah tampak berpikir sejenak. Penjelasan kakek memang masuk akal dalam dunia medis. "Masuk akal juga. Tapi Arum, apa kamu yakin masih ingat cara menangani pasien dengan benar?"
Arumi tersenyum tipis. "Entahlah, Pa. Tapi setiap kali Arum melihat stetoskop, rasanya tangan Arum tahu apa yang harus dilakukan. Arum ingin mencobanya."
"Baiklah," putus Ferdiansyah akhirnya. "Papa izinkan kamu kembali ke rumah sakit besok. Tapi ada satu syarat yang tidak bisa ditawar."
Arumi memiringkan kepalanya. "Apa itu, Pa?"
"Kamu harus selalu didampingi oleh Ariya. Ke mana pun kamu pergi, Ariya harus ada di sampingmu. Kalian harus berangkat dan pulang bersama," tegas Ferdiansyah.
Ariya langsung tersenyum lebar mendengar persyaratan ayahnya. Ia menoleh ke arah Arumi sambil menaik-turunkan alisnya dengan jahil. "Tentu saja, Pa. Ariya akan menjadi pengawal pribadi yang paling setia. Aku akan nempel terus seperti perangko pada Arumi."
Arumi mendengus pelan, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal melihat tingkah suaminya yang terlihat sangat senang itu. "Iya, iya. Arum setuju dengan syarat Papa."
🍃
Keesokan paginya, mereka berangkat menuju rumah sakit menggunakan mobil pribadi. Ariya yang mengemudi, sementara Arumi duduk di sampingnya sambil memandangi jalanan Jakarta yang mulai padat. Namun, setelah beberapa kilometer berlalu, insting Ariya sebagai pria yang waspada mulai terusik.
Ia melirik kaca spion berkali-kali. Sebuah mobil SUV hitam tampak menjaga jarak yang konsisten di belakang mereka sejak keluar dari komplek perumahan. Ariya mencoba berbelok ke jalur yang berbeda, namun mobil itu tetap mengikuti.
"Ada apa, Mas? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Arumi menyadari kegelisahan suaminya.
Ariya berusaha tetap tenang agar tidak membuat Arumi panik. "Bukan apa-apa, Sayang. Hanya jalanan sedikit macet."
Ariya segera meraih ponselnya dan menghubungi ayahnya melalui sambungan nirkabel di mobil. "Pa, ini Ariya. Sepertinya kami diikuti sejak tadi. Ada SUV hitam di belakang kami yang mencurigakan."
Suara Ferdiansyah di seberang telepon langsung berubah serius. "Tetaplah di jalur utama yang ramai, Arya. Jangan berbelok ke jalan kecil. Papa akan segera mengerahkan tim keamanan pribadi Papa untuk mencegat mereka. Lindungi Arumi!"
"Baik, Pa. Ariya akan tetap waspada," jawab Ariya sambil memutus sambungan.
Firasat Ariya mengatakan bahwa ini semua ada hubungannya dengan Rina dan Lusi. Ia menggenggam kemudi dengan erat, matanya menatap tajam ke depan sementara sesekali memantau posisi pengejarnya.
"Rumi, tolong kencangkan sabuk pengamanmu. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari mobil sampai aku mengatakannya," perintah Ariya dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.
Arumi mulai menyadari situasi yang tidak beres. Ia menoleh ke belakang dan melihat mobil hitam itu semakin mendekat. Jantungnya berdegup kencang, memori tentang penculikan dan gudang gelap kembali menghantui pikirannya.
"Siapa mereka, Mas? Apa mereka orang-orang Mama Rina?" tanya Arumi dengan suara gemetar.
"Aku tidak tahu pasti, tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Tidak akan pernah lagi," sahut Ariya mantap.
Ariya menginjak pedal gas lebih dalam, berusaha mencari celah di antara kerumunan kendaraan lain. Ia harus mencapai rumah sakit yang merupakan area publik dan memiliki keamanan ketat sebelum pengejar itu melakukan tindakan nekat. Di belakang mereka, mobil SUV hitam itu tampak mulai melakukan manuver berbahaya, seolah ingin memojokkan mobil Ariya ke tepi jalan.
Permainan kucing dan tikus di jalan raya Jakarta itu pun dimulai. Ariya harus bertarung dengan waktu dan kelicikan lawan demi melindungi wanita yang baru saja kembali ke pelukannya.
🍃🍃🍃
Selagi menunggu Novel ini Update kembali yuk ke kepoin Karya Anak Author, dan jangan lupa berikan dukungannya juga guys Syukron 🙏🏻
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra